25 Desember 2005

Kamera

Oleh Andy Rustam


Ketika saya diminta berceramah di sebuah bagian pemberitaan stasiun televisi siaran, saya bertanya kepada salah seorang peserta, seorang kamerawan: "Apa bedanya ketika anda men-shoot api yang menyala di sebuah bak sampah, dengan kebakaran yang melanda pertokoan di Pasar Senen, karena toch gambar api yang muncul pada layar televisi akan sama saja besarnya tergantung ukuran pesawat TV di rumah?".

Kamerawan tersebut tersipu tak bisa menjawab, dan kamerawan lain yang hadir ketika itu tak satupun yang bisa menjawab dengan tepat. Pada umumnya mereka menjawab dari sisi teknis, seperti: "Pada waktu kebakaran kita tak bisa mendekati api, sehingga kita harus menggunakan tele-lens 150 mm". Ada lagi yang menjawab: "Panas api ataupun percikan air maupun semprotan bahan kimia dari pemadam kebakaran dapat merusak gambar dan kamera" dsb.

Tentu saja semua jawaban itu benar, namun itu mencerminkan bagaimana pola pikir para kamerawan kita pada umumnya yang menganggap sebuah kamera adalah hanya sebuah alat teknologi perekam, hanya sebuah alat dokumentasi. Padahal kamera mempunyai fungsi yang jauh lebih penting daripada sekedar alat perekam. Kamera adalah sebuah alat untuk berkomunikasi!

Bukankah hasil shooting dari kamera itu nantinya akan ditonton oleh para pemirsa televisi? Bagaimana kalau gambar-gambar kumpulan rekaman kamera tersebut tak mampu berkomunikasi dengan penontonnya?

Saya anjurkan kepada para kamerawan, mulai sekarang berpikirlah bahwa kamera ditangan anda itu adalah alat komunikasi dan bukan sekedar alat perekam. Gambar & suara hasil rekaman kamera tersebut nantinya harus mampu bercerita kepada penonton. Melalui rangkaian gambar hasil shooting anda nanti, penonton bisa turut merasakan betapa dahsyatnya peristiwa itu, atau penonton bisa memahami situasinya, atau penonton dapat melihat betapa cara berpikir pendek-lah yang menyebabkan tindak kriminal tersebut dlsb.

Kamerawan Produksi dan Kamerawan Liputan Berita

Apakah pola berpikir seperti tersebut diatas hanya buat kamerawan Liputan Berita atau juga untuk kamerawan produksi?

Tentu saja untuk semua kamerawan. Tetapi memang kamerawan produksi umumnya harus bekerja menurut skenario ataupun arahan dari sutradara, sedangkan kamerawan liputan agak lebih bebas. Menurut teman saya, seorang kamerawan terbaik Indonesia (peraih 6 piala Citra), George Kamarullah: '' Walaupun seorang kamerawan produksi harus bekerja menurut skenario dan arahan dari sutradara, namun tidak berarti bahwa ia tidak boleh berkreasi sama sekali. Bahkan dalam pengalamannya, banyak shot hasil kreasi si kamerawan, yang tidak ada dalam skenario maupun tidak ditetapkan oleh sutradara sebelumnya, kemudian justru di-aksep dan diambil oleh Sutradara".

Apa yang dimaksud oleh George dengan berkreasi tentu bukan bertindak men-shoot semaunya melainkan berkreasi untuk "menguatkan" apa yang ingin dicapai oleh Sutradara. Sedangkan apa yang diinginkan oleh Sutradara tentunya agar gambar / shot tersebut dapat meng-komunikasi-kan pesan ataupun perasaan agar sampai dan dipahami oleh penonton.

Disini terlihat kesamaan antara kamerawan produksi dan kamerawan liputan berita, bahwa keduanya dapat dikatakan berhasil apabila gambar-gambar yang direkamnya dapat berkomunikasi secara sempurna dengan penontonnya. Banyak kamerawan yang belum menyadari hal ini.

Proses Komunikasi dalam Kamera

Proses komunikasi menurut Carl Hovland: adalah "Transmisi pesan (atau stimulan) dari komunikator kepada komunikan dengan maksud memodifikasi si komunikan". Dari definisi ini kita ketahui bahwa rangkaian gambar hasil shooting seorang kamerawan nantinya harus mampu "memodifikasi" si komunikan. Artinya, si komunikan yang tadinya dalam posisi netral (yaitu keadaan sebelum menyaksikan gambar-gambar shot si kamerawan), ketika kemudian ditransmisikan rangkaian gambar kepadanya maka si komunikan tadi posisinya menjadi berubah, bisa ke arah negatif atau positif. Tetapi tentunya, keinginan si komunikator agar perubahan / modifikasi si komunikan adalah ke arah yang sesuai dengan kemauan si komunikator. Dalam hal ini, kamerawan adalah seorang komunikator.

Dengan demikian, maka seorang kamerawan sebelum melakukan shooting, dirinya sudah harus memiliki semacam "prinsip/pendirian/nilai-nilai kebajikan" terlebih dahulu sebagai falsafah hidupnya,.sebagai dasar untuk meng-interpretasikan masukan dari lingkungannya (atau apapun yang ditangkap oleh pancainderanya).

Hasil interpretasi tadi lalu diolah dalam dirinya dan diekspresikan lagi dalam perwujudan rekaman rangkaian gambar-gambar. Jadi rekaman gambar ini merupakan "pesan hasil ekspresi rasa & pikiran si kamerawan" yang ditansmisikan kepada penonton, dan penonton harus bisa menangkap pesan tersebut sehingga terjadi modifikasi dalam dirinya. (sebagaimana dimaksud oleh teori proses komunikasi Carl Hovlan).

Saya yakin semua kamerawan mengerti apa itu pergerakan dasar kamera seperti: Tilt, Pan, Follow dsb, begitu pula dengan angle, seperti: Extreme Close Up, Medium Close, Full Shot dsb. (Bagi yang belum mengerti akan saya jelaskan dalam artikel yang lain). Tetapi banyak kamerawan yang belum memahami apa peran semua itu dalam proses komunikasi.

Sasaran Akhir dari Hasil Kerja Seorang Kamerawan

Kita ambil contoh peristiwa kebakaran di Pertokoan Pasar Senen. Ketika seorang kamerawan melihat peristiwa itu, iapun langsung meng-interpretasikan terlebih dahulu dengan dasar prinsip-prinsip yang ada dalam dirinya. Seandainya ia sudah memiliki pendapat dalam dirinya selama ini bahwa pedagang kaki lima disekitar tempat itu memang menyebalkan, maka mungkin gambar yang akan ia rekam adalah gambar bagaimana sulitnya mobil pemadam kebakaran untuk masuk mencapai lokasi, sementara api berkobar semakin besar. Sebaliknya kalau ia bersimpati dengan si pedagang kaki lima, maka kemungkinan gambar yang akan direkamnya adalah bagaimana si pedagang kaki lima barangnya berantakan sedang dikemas terburu-buru dengan wajah sedih sambil menangis ketakutan, memandangi kios-nya yang sedang turut terbakar.

Semua ilmu teknis yang dimiliki kamerawan, seperti: Basic Movement & Angle itu tadi dipakainya untuk meng-ekspresikan interpretasinya terhadap peristiwa kebakaran tersebut. Sasarannya tentu agar penonton termodifikasi sesuai keinginannya, yaitu interpretasinya pada peristiwa kebakaran Pasar Senen.

Hal yang sama pula harus dilakukan oleh kamerawan produksi. Apabila sutradara menginginkan agar penonton merasakan keindahan sebuah danau, maka otomatis kamerawan paham apabila sutradara kemudian menginstruksikan untuk mengambil angle: long-shot & gerakan: panning. Keindahan sebuah danau tentu saja tidak dapat dilihat apabila kamerawan banyak memakai angle: big close & gerakan: tilt up/down.

Keberhasilan karya seorang kamerawan dapat diukur dari seberapa jauh atau seberapa besar rangkaian rekaman gambar-gambar tersebut dapat membuat penonton termodifikasi (dari posisi awal sebelum ia menyaksikannya).

Semakin besar dampak modifikasinya bergerak ke arah yang dimaksud oleh si kamerawan semakin berhasil pula ia berkarya. Sebab, walau bagaimanapun bagusnya teknik kamera tetapi apabila hasil rangkaian gambar yang direkamnya tersebut tidak berhasil membuat penonton termodifikasi, maka artinya ia telah gagal ber-komunikasi dengan penonton. (arm)

Tidak ada komentar: