25 Desember 2005

Radio Show pada Suatu Pagi

Oleh Andy Rustam

Pagi itu ada rapat diluar kantor. Saya segera bergegas duduk dibelakang kemudi, teman saya yang juga harus hadir pada rapat itu, duduk disebelah saya. Begitu mobil mulai meluncur tangannya langsung menyalakan radio. Terdengarlah suara 2 orang penyiar sedang berceloteh dan tertawa-tawa dengan nada suara yang agak berteriak. Setelah mencoba mengikuti percakapan di radio tersebut selama beberapa detik, teman saya kemudian memindahkan gelombang. Lagi-lagi terdengar suara 2 orang penyiar kali ini yang disiarkan adalah percakapan mereka yang lagi menerima telpon dari seorang pendengar.

Kemudian terdengar suara tertawa-tawa diantara mereka. Tapi anehnya kami berdua yang mendengarkan percakapan itu tidak tertawa sama sekali, karena tidak dapat merasakan dimana lucunya. Beberapa channel lain juga menampilkan 2 orang penyiar pada Morning Show.

Teman saya itu kemudian mematikan radio lalu menyalakan CD Player di mobil saya kebetulan yang keluar terdengar adalah Deodato, salah satu pemusik Jazz Fusion dari Brazil yang ngetop di tahun 70-an tapi sampai sekarang masih terus produktif. Kelihatannya teman saya suka dengan musik ini.

Beberapa saat kemudian ia bertanya: " Kenapa radio jaman sekarang kalau morning show isinya cuma ngobrol "Talk Show" saja ya, dan rata-rata penyiarnya 2 atau lebih, sehingga berisik banget". Saya kemudian berpikir: " Sebenarnya yang dikomplain teman saya itu apa-nya ? berisiknya ? Siaran dua - banyak penyiar ? atau pagi-pagi kenapa talk show bukannya musik begitu?".

Asumsi sepihak orang radio

Apa yang banyak terjadi pada radio siaran kita dewasa ini, ketika seorang kepala bagian siaran memutuskan untuk meletakkan acara Talk Show (atau acara apapun) di pagi hari (atau kapanpun). Keputusan ini diambil berdasarkan asumsi-asumsi tertentu (bahkan ada yang masih berdasarkan feeling). Misalnya, ketika ia memutuskan untuk mengisi acara pagi selama 3 jam dengan berita-berita headlines surat-kabar, asumsinya adalah orang di mobil yang harus berangkat pagi-pagi tidak sempat membaca koran.

Berasumsi tentunya boleh-boleh saja sepanjang hal itu berdasarkan observasi yang cermat. Ambillah mengacu ke pemisalan diatas, asumsi orang tidak sempat membaca koran dipagi hari itu benar, masalahnya apakah harapan pendengar tersebut akan terpenuhi dengan dibacakannya berbagai headlines dari surat kabar ? Mungkin ketika di mobil ia harus menyetir menerobos kemacetan kota besar yang membuat stress, justru ia tidak ingin mendengar berita-berita (yang umumnya buruk terus), barangkali justru ia ingin mendengar musik yang bisa menurunkan tekanan darahnya. Sayangnya riset yang bersifat psikologis seperti ini jarang dilakukan oleh biro survey macam Nielsen.

Ini yang menjadi persoalan.

Radio bukan Koran

Apapun yang dijadikan sebuah acara siaran di radio, tidak begitu saja secara mentah bisa langsung diudarakan tanpa diolah dulu agar fit (nge-pas) dengan karakter dari media radio itu sendiri. Membacakan isi koran atau majalah dan menyiarkannya diudara akan membuat kalimat-kalimat dan kata-kata yang diucapkan si penyiar terdengar aneh di telinga pendengar.

Penyebabnya karena susunan kalimat dan kata-kata di surat kabar adalah susunan kalimat-kalimat untuk di baca (oleh mata) dan bukan untuk di dengar (oleh telinga). Sebuah siaran radio apabila tidak mengikuti prinsip ini, yaitu harus sesuai dengan karakteristik media radio, maka acara apapun yang diudarakannya akan terdengar tidak enak di telinga pendengar.

Ekspektasi Pendengar

Kembali pada omelan teman saya yang memilih mematikan radio-nya gara-gara talk-show oleh 2 penyiar hampir melanda semua channel dipagi itu, sayapun menjelaskan padanya bahwa semua itu terpulang pada pemahaman karakteristik media radio. Setelah itu bagaimana caranya berkreasi membuat acara siaran (dari jenis apapun: Talkshow, Musicshow, Monolog, Berita, Features dsb) yang bertumpu pada kemampuan optimum karakteristik media radio, sehingga pendengar memperoleh kenikmatan mendengar yang sebenarnya merupakan ekspektasi umum tersembunyi pada diri semua pendengar.

Sesungguhnya seorang pendengar radio ketika ia baru tune-in pada satu channel, ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk berhenti (adjustment seconds) sebelum akhirnya ia memutuskan untuk terus manteng pada channel tersebut atau meneruskan pencarian ekspektasinya pada channel lain. Oleh karena itu seorang konseptor (dan Director) acara radio yang baik selalu pandai mengatur alur jalannya acara sedemikian rupa, sehingga kapanpun ada pendengar yang baru tune-in, dibahagian manapun dari jalannya acara, si pendengar akan dengan mudah menangkap maksud dari acara.

Seorang pendengar radio itu ibarat seorang penumpang "jet coaster" yang tidak tahu apa yang bakal terjadi beberapa detik kedepan dalam perjalanan menelusuri jalur rel, sehingga penuh dengan kejutan, namun ia tahu bila perjalanan jet coaster ini berakhir, bahkan ia dapat merasakan bahwa perjalanan ini sebentar lagi berakhir.

Track (jalur rel) dari jet coaster bisa bervariasi, bentuk-bentuk gerbongnya pun bisa bermacam-macam, bisa untuk sendiri, berdua atau bertiga tetapi semuanya memiliki satu kegairahan yang sama.

Begitu pula acara radio, apapun jenis acaranya (musik, informasi atau berita), berapapun jumlah pembawa acaranya (satu, dua atau tiga), buatlah alur perjalanannya seperti jalur rel jet-coaster, dimana terkadang meluncur kencang, melambat ketika mendaki, membelok miring, berputar salto dsb. Ini kunci keberhasilan sebuah acara radio.

Topik/Content

Semua radio broadcaster tahu benar peran topik atau pilihan isi acara dalam sebuah acara radio. Kalau pemisalan jet-coaster tadi lebih kepada context, maka topik adalah content-nya. Content bagus tanpa context yang bagus maka acara tersebut akan tak berkesan. Tapi bukan sebaliknya. Content yang biasa-biasa saja akan tetap menarik apabila penyajiannya sesuai pola jet-coaster. Walau begitu, alangkah sempurnanya suatu acara apabila contentnyapun bagus. Hampir semua orang radio tahu bahwa hal-hal yang aktual selalu akan menarik perhatian apabila dijadikan topik. Ini suatu pendapat yang benar. Namun saya ingin mengajak anda berpikir sejenak: 'mengapa ketika teman saya yang orang Aceh bercerita bagaimana saudaranya yang tinggal di Sigli bisa selamat dari Tsunami, saya bisa merasakan apa yang dirasakannya, tetapi ketika seorang reporter radio menceritakan tentang apa yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, saya tidak merasakan apa-apa...datar saja perasaan saya ini ?". Jadi gaya bercerita teman saya itu jauh lebih menyentuh hati ketimbang laporan reporter radio tersebut. Sebagai penyampai pesan, reporter tersebut bisa saya katakan telah gagal walau topiknya sangat aktual dan menarik perhatian.

Ketika akhirnya kita sampai di tempat rapat di kawasan CBD, teman saya kemudian baru mematikan CD Deodato 2, keluaran CTI Record pas pada track lagu terakhir. (arm)

Tidak ada komentar: