15 Januari 2006

Kesalahan Menjadi Kelaziman (II)

Oleh Andy Rustam


Sebetulnya judul tulisan diatas adalah Kesalahan yang sudah menjadi Kelaziman dianggap sebagai suatu Kebenaran. Bahasa lainnya adalah "salah kaprah". Di Indonesia hal ini banyak sekali. Misalnya, kalau para penyanyi rap di Amerika memakai topi kupluk musim dingin dan nge-rap ditepi jalan di kota New York seperti yang banyak kita lihat di video clip, maka hampir semua penyanyi Jakarta yang nge-rap juga memakai topi kupluk musim dingin dengan wajah keringetan karena panasnya udara Jakarta.

Contoh lain, ada sebuah acara interview (wawancara) televisi di Amerika yang cukup beken, bernama "Cross Fire". Acara wawancara ini oleh sutradara/konseptornya memang mengambil format sebuah perdebatan ala Debat Kusir, dimana sebuah kalimat atau penjelasan belum selesai langsung sudah dipotong oleh si penanya. Di Indonesia, acara wawancara dengan gaya seperti ini dianggapnya seperti memang harus begitulah satu-satunya cara berwawancara. Maka lihatlah acara-acara berita yang berisi wawancara di negeri ini, pastilah seperti debat kusir. Akhirnya karena hanya cara begini yang disiarkan setiaphari maka seluruh masyarakat kita menyangka cara yang benar untuk bertanya, berdiskusi dan bertukar-pikiran adalah dengan Debat Kusir. Maka di kampus, di DPR, di Rapat-Rapat yang terjadi adalah Debat Kusir yang menyedot banyak tenaga tapi kecil manfaatnya.

Posisi Tangan Presenter

Perhatikan semua pengantar acara (presenter) di televisi kita khususnya acara-acara gosip yang menampilkan potongan-potongan aktifitas orang beken/celeb. Presenter yang menjadi jembatan antara satu potongan dengan potongan lain, pasti berdiri dengan posisi tangan seperti posisi tangan anggota paduan suara, sebatas pinggang. Akhirnya karena setiap hari kita lihat seperti itu, masyarakat berpikir harus begitulah posisi berdiri yang benar didepan kamera. Gaya seperti itu mungkin awalnya para presenter kita ketika masih di SMA sering menonton MTV lalu cara berdiri didepan kamera ala presenter-presenter MTV itulah yang ditirunya.

Salah satu yang sering membuat salah tingkah ketika berdiri didepan kamera adalah posisi tangan. Bagaimana sebaiknya tangan itu, apakah dibiarkan tergantung, atau bersila melipat atau seperti presenter sekarang yang seolah-olah salah kalau tangannya diangkat melewati batas pinggang.

Sebenarnya tidak ada yang pantang dalam mendudukan posisi tangan selama anda memahami angle kamera. Tangan adalah salah satu alat expresi anda dalam berbicara, seperti juga tarikan muka. Sehingga sebenarnya gerakan dan posisi tangan secara normal mengikuti apa yang ingin anda expresi-kan. Tetapi anda harus memahami bagaimana angle kamera men-shoot anda. Kalau kamera menggunakan angle "medium shot" maka bagi penonton TV itu rasanya bagaikan anda sedang berhadapan dengannya face-to-face dalam jarak kurang lebih 1.5 meter. Maka dalam jarak berhadapan sedekat itu apabila tangan anda bergerak naik lebih tinggi dari batas pinggang, oleh penonton dirasakan bagaikan tangan anda sedang sedang berlalu-lalang di depan wajahnya. Sehingga kalau anda ingin mengangkat tangan anda lebih tinggi dari pinggang maka usahakanlah sambil memegang sesuatu (misal: kertas/microphone).

Jadi lainkali anda sebagai presenter harus berdiri shooting didepan kamera, bukanlah suatu yang haram menggerakkan atau memposisikan tangan anda lebih tinggi dari pinggang.

MTV - CNN - ESPN

Seorang konglomerat (pedagang/trader) kebetulan juga pemilik salah satu Televisi Swasta. Ia pernah mengatakan bahwa Stasiun Televisi-nya pasti akan jadi stasiun paling sukses. Caranya dengan membagi pola programming atas acara Musik - Berita - Olahraga. Kenapa begitu ? Barulah ia menerangkan idee "cemerlangnya", bahwa ia akan menggabungkan sukses MTV (Musik) + sukses CNN (berita) + sukses ESPN (olahraga).

Tentu saja bagi yang tahu akan terperangah, karena ketiga stasiun televisi dunia itu semuanya beroperasi secara Kabel atau Satelit, sedangkan stasiun televisi yang dimilikinya adalah terrestrial.

Pemikiran seperti ini juga melanda hampir semua stasiun televisi di Indonesia, bahkan MTV Indonesia sendiri melakukan format siaran kabel-nya melalui stasiun televisi Global yang terrestrial, lalu berhasilkah? Bisa dilihat juga apakah Metro TV yang terrestrial mengambil pola CNN yang televisi kabel bisa berhasil?

Televisi kabel/satelit prinsip bisnisnya mendapat uang dari langganan (subscription) sedangkan televisi terrestrial mencari uang dari para pemasang iklan (advertisement). Maka jelaslah pola pemrogramannya harus berbeda. Dalam ilmu broadcasting, ada pelajarannya masing-masing untuk terrestrial programming dan cable programming.

Cable programming format bisa ditujukan kepada segmen audience yang sangat sempit , namun terrestrial programming format selalu harus dengan tujuan menjangkau audience yang lebih lebar walaupun masih bisa melaklukan segmentasi pemirsa.

Tentu saja ketika saya jelaskan kepada para boss itu bahwa hal tersebut merupakan suatu Kesalahan yang sudah menjadi Kelaziman dan dianggap sebagai Kebenaran, maka jawab mereka bahwa saya bodoh. Terpaksalah saya hanya menarik nafas panjang. (arm)

Tidak ada komentar: