05 Februari 2006

TV Lokal: Bisakah Hidup?

Oleh Andy Rustam

O-Channel, Jak TV, Bandung TV, Riau TV, dll., stasiun televisi lokal lahir pada era reformasi. Sudah memasuki tahun ke 3, belum juga terlihat tanda-tanda mampu meraih penonton, dan tentu saja apalagi meraih laba. Para pemiliknya sudah mulai kebingungan apa yang salah? Apa yang harus dilakukan?

Konsep bisnis mereka ketika merencanakan mendirikan stasiun televisi kelihatannya cukup matang. Lihat saja Jak TV yang ingin memfokuskan diri pada permasalahan warga Jakarta atau O-Channel yang mau meraih pangsa warga Jakarta yang menaruh perhatian pada gaya hidup.

Kenyataan dilapangan menunjukkan, ternyata sebahagian besar warga Jakarta kurang berminat menyaksikan program yang disiarkan oleh stasiun televisi yang katanya khusus didirikan bagi mereka. Warga Jakarta yang concern pada life style-pun lebih suka melihat acara-acara yang disiarkan oleh TV Nasional daripada stasiun televisi khusus life-style. Hal yang sama terjadi di Bandung, Riau, Yogya dan lain-lain tempat dimana ada siaran stasiun TV lokal.

Konsep Bisnis TV Lokal Tidak Matang

Sejak awalnya, para pengusaha yang ingin terjun ke dunia televisi, memang tidak pernah memiliki konsep bisnis yang matang. Tujuan mereka mempunyai stasiun televisi lebih banyak terdorong oleh motivasi "glamour", "beken", "gengsi". Jadi, konsep diadakan demi memperoleh izin, setelah stasiun televisi sudah siaran, barulah pada titik ini mereka mulai mencari konsep (sambil jalan). Umumnya stasiun tv lokal mem-positioning-kan dirinya sebagai alternatif TV. Sedangkan yang dimaksudkan sebagai alternatif itu yang bagaiamana, sungguh masih tidak jelas. Maka tidak heran semua berjalan bagaikan trial & error yang sangat memakan tenaga dan biaya dan terus menggerogoti modal. Sementara persaingan yang harus dihadapi adalah bukan hanya televisi nasional tetapi juga media cetak, radio, dan media promosi lain. Jangankan stasiun televisi lokal, sedangkan stasiun televisi nasional macam Lativi atau yang lebih tua lagi Anteve-pun sampai sekarang masih terus tergrogoti modalnya. Berbagai cara meminjam dan mendatangkan uang sudah ditempuh untuk memperbaiki kualitas, pembiayaan program sudah di-sharing, program acara sudah yang baru, tetap saja tidak berhasil menciptakan laba. Bisnis semakin merosot, dan ujung-ujungnya melepas saham mencari investor lagi.

Kunci Konsep Bisnis TV

Secara sederhana, kalau mau membuat produk apapun agar diminati atau agar terjual kepada masyarakat (termasuk membuat stasiun televisi) seyogyanya sesorang itu harus berpikir dulu tentang bagaimana dan untuk keperluan apa orang/pasar memakai produk itu dalam memenuhi kebutuhannya. Jadi kalau pemilik Nokia, yang orang Finlandia, mau memproduksi handphone maka ia memperhatikan bahwa seseorang kalau menerima panggilan telpon, yang pertama dilakukannya bukanlah mengangkat telpon, tapi mengetahui terlebih dahulu siapa yang menelpon sebelum diangkat/diterima. Maka dari situlah ia membuat feature dimana orang sudah bisa tahu siapa yang menelpon hanya dengan membedakan bunyi deringnya. Otomatis ketika Nokia mengeluarkan feature itu, maka handphone-nya laku bagai kacang goreng.

Tapi cobalah tanyakan seandainya pemilik Nokia adalah orang Indonesia, maka jawabannya pasti: "saya akan memproduksi handphone yang harganya murah, sehingga seluruh masyarakat Indonesia bisa pakai handphone". Pola pikir si pengusaha Indonesia khas sekali yaitu hanya berpikir agar handphone-ku terjual sebanyak-banyaknya, dan karena masyarakat kita berdaya beli rendah maka buatlah yang harganya murah". Maka dibuatlah semua produk dengan cara murah, maka yang muncul adalah produk murahan.

Itu pula yang terjadi pada pengusaha Indonesia yang membuka bisnis televisi, jawabannya pasti hanyalah ingin stasiun televisi saya ditonton oleh banyak orang, dengan cara yang murah. Padahal seharusnya yang ia pikirkan pertama kali adalah memperhatikan bagaimana dan untuk keperluan apakah sesorang itu menonton televisi. Baru kemudian berangkat dari situ ia mulai mengembangkan konsep bisnisnya, untuk memberikan kemudahan atau solusi. Dan bahwa soal harganya murah atau tidak itu tergantung keberimbangan dengan solusi/kemudahan yang diberikan.

Sebab kalau si pengusaha stasiun televisi konsepnya hanya agar stasiun televisi-nya ditonton orang banyak maka dalam implementasi-nya akan terjadi "kekacauan arah programming". Karena, kalau kita perhatikan di seluruh dunia, semua stasiun televisi yang sukses pasti memiliki konsep programming yang jelas tapi teridentifikasi oleh penonton sebagai unik (berbeda).

Hal ini yang sering salah di-interpretasikan oleh si pengusaha, yang akhirnya dalam menyusun program atau dalam memproduksi acara bagi stasiun televisinya hanyalah merupakan rangkaian cuplikan acara-acara yang sudah ada dan pernah nge-top di stasiun televisi lain ataupun mirip/sejenis dengan itu. Harapannya penonton akan datang. Ternyata tidak.

Cara lain lagi adalah dengan menampilkan acara-acara yang katanya berbeda, tidak ada di stasiun TV lain (misalnya dengan menyiarkan film seri TV yang pernah beken). Maksudnya supaya penonton TV nasional didaerahnya pindah menjadi penonton TV lokal. Ternyata yang terjadi tak sesuai harapan. Kesalahan umum dengan pola pikir seperti ini-lah sesungguhnya yang menyebabkan stasiun televisi lokal sulit bangkit dan meraih penonton.

Konsep TV Alternatif Tepatkah?

Konsep alternatif ini banyak dianut oleh TV lokal karena menyadari bahwa ia tidak mungkin bersaing head-on langsung dengan TV Nasional. Tapi kalau implementasinya seperti contoh yang disebutkan diatas, maka itu bukanlah yang dimaksud dengan alternatif yang tepat, karena baru sekedar mencoba berbeda saja. Maka seperti Bali TV yang memfokuskan diri sebagai TV Budaya Bali adalah juga merupakan perwujudan sebagai konsep TV alternatif tadi.

Namun masalah yang sebenarnya tidak akan selesai, karena pada dasarnya penonton TV itu adalah penonton yang itu-itu juga. Artinya penonton Bali TV adalah penonton RCTI juga. Penonton Jak TV adalah penonton SCTV juga dsb. Sehingga bagi para pemasang iklan, merasa tidak perlu beriklan melalui Bali TV atau TV lokal lain karena mereka merasa sudah memasang iklan di RCTI, publik yang ingin dijangkau sudah terjangkau melalui salah satu TV nasional. Akibatnya tetap saja TV Lokal tidak memperoleh pemasukan dari iklan.

Sebenarnya konsep alternatif sendiri sudah benar. Tetapi alternatif yang tepat bukanlah dengan menjadikannya sangat "menyendiri", melainkan menjadikannya sebagai pelengkap dari apa yang sudah ada. Karena bagaimanapun hebatnya siaran TV Nasional pastilah mereka memiliki kekurangan yang selalu dapat diisi oleh TV Lokal, begitu pula dari sisi pemasaran iklannya kelak. (arm)

Tidak ada komentar: