03 April 2006

Komunikasi Bertujuan Memperoleh Respons

Oleh Andy Rustam

Reaksi umat Islam yang marah terhadap pemuatan dan penyebaran kartun Nabi Muhammad SAW, yang diawali penerbitannya oleh media cetak Denmark, kemudian diikuti oleh media-media lain di benua Eropa, bukanlah hal yang di luar perkiraan dari "siapapun si Komunikator"-nya. Negara-negara Uni Eropa yang dipelopori oleh Jerman & Perancis semula berhasil mendapat simpati umat Islam karena tidak mau mengirim pasukan ke Irak menuruti Amerika & Inggris. Bahkan hubungan Eropa dan Amerika agak renggang belakangan ini. Tetapi apa yang terjadi sekarang adalah bangkitnya kemarahan umat Islam kepada Eropa sehingga melupakan Amerika yang kini tentu saja gembira melihat berubahnya situasi. Itu merupakan contoh hebatnya peran komunikasi yang diciptakan dalam menghasilkan respon.

Menciptakan Respon Searah Komunikator

Berapa banyak para broadcaster kita menyadari ini? Berapa banyak para produser sinetron, pembuat film dan pembuat show/pertunjukan berpikir dari sisi ini?

Kiranya sangat sedikit. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, dimana show business adalah the way of life, hampir seluruh reaksi penonton sudah diperhitungkan terlebih dahulu sebelumnya. Lihatlah bagaimana pertunjukkan Wrestling (gulat) begitu hebat scenario-nya sehingga ketika dikomunikasikan tayangan tersebut kepada penonton TV hasilnya sebuah tontonan yang mengasyikkan sampai-sampai penonton terkecoh mengira bahwa Wrestling Show adalah pertandingan betulan. Lihatlah bagaimana reaksi emosional penonton bioskop dipermainkan oleh film-film buatan Hollywood, semua itu sesuai rencana si komunikator penulis cerita, sutradara dan para crew studio.

Hal-hal seperti ini sudah menjadi budaya mereka, budaya di semua media mereka. Lihatlah bagaimana CNN menggabungkan 2 gambar berbeda dalam sequence yang berurutan ketika terjadi serangan terror WTC, dan tentunya sudah dirancang oleh mereka bagaimana dan apa reaksi penonton yang melihatnya.

Semua komunikasi media massa mereka begitu hebat dan terencana dalam menciptakan respons sesuai kemauan si komunikator.

Mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu tayangan berita sebuah TV Swasta menayangkan gambar seorang tukang baso yang mengaku menggunakan daging tikus sebagai bahan baku pembuatan bakso-nya. Akibatnya reaksi masyarakat tidak lagi mau memakan bakso, dan akibatnya lagi para pedagang bakso kehilangan penghasilannya. Ujung-ujungnya stasiun TV tersebut di-demonstrasi oleh para pedagang bakso.

Menurut anda apakah semua reaksi dan akibat seperti yang terjadi itu sudah dipikirkan dan diperhitungkan oleh para awak pemberitaan stasiun televisi tersebut sebelum berita tersebut ditayangkan? Jawabannya sudah pasti, "Tidak !!".

Di Solo pernah oleh sebuah stasiun radio diadakan suatu acara yang sedianya merupakan dialog antar agama. Kebetulan para tamu pembicara yang diundang hampir seluruhnya tidak bisa hadir, dan hanya satu tamu mewakili agama tertentu yang hadir. Entah bagaimana radio tersebut tetap melaksanakan acara tersebut yang tentu saja menjadi amat sepihak karena tidak ada counter part. Kalimat-kalimat yang diucapkan si pembicara kebetulan dianggap sangat menyinggung perasaan umat beragama sekitar yang mayoritas. Maka dalam waktu singkat stasiun radio tersebut diserbu massa yang marah.

Menurut anda, apakah reaksi kemarahan pendengar sebagai akibat dari proses komunikasi yang dilakukan oleh radio itu telah dipekirakan atau dihitung sebelumnya oleh para komunikator di stasiun radio tersebut? Tentu saja jawabannya, "Tidak !!".

Azas Komunikasi Terbalik

Kalau saja para broadcaster dan para komunikator menggunakan taktik azas komunikasi terbalik seperti yang sering dilakukan oleh Hollywood pada penonton film, atau dilakukan CNN untuk membentuk reaksi yang diinginkan Amerika, alangkah besarnya reaksi positif pada masyarakat yang dapat di picu dan di stimulasi secara terencana oleh siaran TV & Radio yang banyak bertebaran di Indonesia.

Rumusnya sebenarnya mudah sekali, yaitu:

  1. Pertama, Lihat pesan apa yang ingin anda sampaikan.
  2. Kedua, Rencanakan reaksi/respons seperti apa yang anda inginkan kalau publik mendengar/melihat informasi yang akan anda sampaikan ini.
  3. Ketiga, Pikirkan dengan cara bagaimana, melalui acara apa, pada jam berapa, dengan gaya penyampaian seperti apa, tambahan informasi apa yang dibutuhkan agar reaksi penonton/pendengar tercipta persis seperti yang anda inginkan nanti apabila informasi ini diudarakan dan diterima oleh mereka.

Mudah bukan? Anda tak perlu menjadi CIA untuk menjadi ahli komunikasi.

Jadi:

Maka mulai sekarang kalau bangsa Indonesia di serbu oleh suatu informasi dari manapun, respon-lah dengan cara bereaksi yang diluar perkiraan si komunikator.

Contoh:

Coba seandainya sebagai respon atas diberikannya visa oleh Australia kepada warga Indonesia (kebetulan dari suku bangsa papua) yang lari setelah membunuh anggota kepolisian RI, kita bereaksi dengan tersenyum dan menawarkan pengiriman semua narapidana pembunuh ke Australia untuk menjadi warga negara Australia. Pastilah hal ini tidak diduga oleh orang-orang "red neck" yang diwakili Howard. Tetapi kalau kita bersikap marah dan ber-demo, itu mah sikap yang sudah dibaca oleh mereka, dan bahkan mereka sengaja melakukannya agar reaksi kita seperti yang diinginkannya itu. Maksudnya supaya mereka punya alasan untuk mendapat bisnis/bantuan/perlindungan dari Inggris dan Amerika karena ada tetangga yaitu Indonesia yang bersikap memusuhi. Apalagi PM Inggris Blair akan berkunjung kesana. Sebab kalau tanpa ada alasan yang kuat mana mungkin Inggris dan Amerika mau memperhatikan Australia, negara terpencil orang-orang buangan dipojok sana. (arm)

Tidak ada komentar: