05 Maret 2006

Siaran Berita Jadi Membosankan (Karena Wartawan Tidak Kritis)

Oleh Andy Rustam

Contoh 1

Sesaat setelah menara kembar WTC - New York diserang oleh teroris pada tanggal 11 September 2001, presiden George W Bush mengatakan bahwa pemerintahnya kecolongan dan tidak mengetahui apa-apa. Namun hanya beberapa jam kemudian, sungguh ajaib, ia bisa mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh Al Qaeda, dan 2 hari kemudian ditunjukkanlah oleh Televisi diseluruh dunia 19 terroris berwajah Timur Tengah. Tayangan dan berita media bagaikan paduan suara semua menyiarkan hal yang sama. Tak ada satupun wartawan media-media tersebut yang mempertanyakan bukti, atau melontarkan pertanyaan mengenai dari sesuatu yang katanya tidak diketahui tiba-tiba bisa menunjuk Al Qaeda dalam waktu singkat, darimana gambar 19 orang tertuduh itu diperoleh, bagaimana bisa menarik kesimpulan tersebut, siapa sesungguhnya pemilik gedung menara kembar, dsb. dsb. Demikian ditulis oleh Mathias Brockers dalam bukunya "Konspirasi Rahasia" yang diterbitkan di Jerman tahun 2002.

Tidak adanya wartawan yang kritis dan mempertanyakan, maka sampai sekarang masyarakat terus saja terbodohi. Disisi lain kita semua bisa belajar betapa dahsyatnya kekuatan media dalam mencuci otak pendapat umum.

Contoh 2

Baru saja 3 hari yang lalu kita mendengar bahwa mesjid Imam Ali berkubah emas di Iraq diledakkan orang. Maka semua media seperti paduan suara merujuk pada pertikaian Islam Syiah dan Sunni. Lalu tanggal 25 Februari 2006 harian Kompas menulis bahwa gara-gara pertikaian Syiah & Sunni maka rencana penarikan pasukan AS akhir tahun ini dari Iraq menjadi kacau.

Kalau saja para wartawan mau berpikir, maka logikanya sang wartawan harus menyelidiki kemungkinan lain, yaitu bahwa bisa saja peledakan mesjid tersebut merupakan provokasi agar pasukan AS memiliki alasan untuk terus tinggal di Iraq sampai kepentingan pemerintah George W Bush selesai.

Sayangnya sampai hari ini tidak ada wartawan yang cukup kritis dan jeli melihat permasalahan.

Contoh 3

Masalah mogok makan sebagai protes terhadap pembangunan SUTET PLN, juga isi beritanya sangat membosankan, karena semua televisi menampilkan gambar bahkan angle yang sama, yaitu tentang menderitanya si demonstran, dan kesewenang-wenangan Pemerintah/PLN. Padahal wartawan bisa saja menggali dari sisi lain, misalnya mengajukan pertanyaan kepada pemrotes yang menjahit mulut, "Pak, sementara Bapak ber-demo berhari-hari sampai sakit, bagaimana caranya anak dan isteri bapak memperoleh nafkah? Sampai dimana tanggung jawab Bapak mengurus keluarga?"

Sudah menjadi rahasia umum, para pemukim liar yang menyerobot tanah jalur hijau menjadi objek pajak resmi dan tak resmi dari para oknum petugas yang berwenang, maka tak heran si penyerobot merasa menjadi orang yang sah untuk tinggal di areal tersebut. Maka ketika jalur hijau akan dipergunakan dan kemudian mereka harus pindah tergusur tentu saja protes dan demonstrasi berlangsung.

Pernahkan ada wartawan yang mengangkat persoalan ini dari sisi bobroknya mental oknum kotapraja? Tidak ada tentu saja!

Contoh 4

Masalah kartun yang merupakan pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw oleh koran Denmark, terus saja oleh media-media diberitakan gelombang demontrasi yang semakin merangsang kelompok Islam lainnya meramaikan demonstrasi, dan semakin rusuh semakin seru pula isi pemberitaan. Arahan isi beritanyapun sama, yaitu mengarah pada konfrontasi umat Islam dan Kristen (karena Denmark adalah negara Eropa yang mayoritas penduduknya Nasrani dan kebetulan pula benderanyapun berlambang salib). Paduan suara seperti ini yang melanda pemberitaan media-media di Indonesia.

Tidak ada satu wartawan pun di Indonesia yang melihat dari sisi lain sehingga memberitakannyapun dari sisi lain, misalnya: Tidakkah ada wartawan kita yang bisa melihat bahwa dengan adanya issue gambar kartun pelecehan kepada Nabi Muhammad saw sebenarnya kemarahan umat Islam sedang diarahkan kepada Eropa, sehingga umat Islam terlupakan akan konsentrasi kemarahannya kepada Amerika Serikat. Padahal sebagaimana diketahui negara-negara Eropa kebanyakan tidak setuju dengan politik Amerika Serikat, baik dalam soal Irak, Iran, dan Palestina.

Kesimpulan

Kalau ingin siaran berita stasiun televisi atau radio anda menarik untuk diikuti, cobalah menampilkan berita yang sama dari sisi pandang yang lain. (arm)

Tidak ada komentar: