02 Juli 2006

Salah Kaprah Pemahaman Fungsi Media Broadcasting

oleh Andy Rustam

Pada era Orde Baru, fungsi media penyiaran sering disebutkan sebagai "Media Hiburan, Pendidikan, dan Informasi". Bahkan hal ini tercantum pula dalam UU Penyiaran pada era Departemen Penerangan RI, dimana tertera jumlah komposisi dalam presentase tertentu untuk masing-masing aspek dikaitkan dengan jumlah jam siaran per hari bagi setiap stasiun radio dan televisi. Maka terbagilah acara-acara siaran stasiun televisi dan radio dalam katagori: Siaran Pendidikan, misalnya acara Kuliah Subuh, dilanjutkan dengan Siaran Informasi, misalnya acara berita Seputar Indonesia, lalu masuk ke acara kategori berikutnya yaitu Siaran Hiburan, misalnya Sinetron/Film. Ketika era orde baru jatuh, pemahaman ini sudah tertanam jauh dalam benak para broadcaster kita dan juga masyarakat kita.

Kalau Anda kebetulan seorang pelanggan saluran televisi berlangganan, Anda bisa melihat adanya saluran National Geographic yang isinya antara lain film dokumenter kehidupan binatang-binatang di alam benua Afrika. Jelas acara itu sepenuhnya masuk dalam kategori siaran Pendidikan, tetapi penyajiannya sangat enak dinikmati, gambar-gambar dan suara yang ditampilkan sangat unik dan spektakuler, sungguh membangkitkan minat untuk ditonton. Sehingga siaran "Pendidikan" dari saluran National Geographic itu merupakan "Hiburan" bagi penontonnya. Mengapa bisa film dokumenter katagori pendidikan seperti itu mampu membuat penonton terhibur? Ini muncul sebagai akibat ilmu pengetahuan serta kehandalan yang dimiliki oleh team produksi dalam menyusun "Informasi" berupa rangkaian gambar-gambar, bunyi-bunyian dan narasi sedemikian rupa sehingga penonton merasa puas.

Hiburan, Pendidikan, dan Informasi

Kita semua pernah merasakan mengantuk di kelas karena si Ibu Guru dalam menyampaikan materi pendidikannya sangat membosankan, sebaliknya si Pak Guru yang juga bertugas memberi pelajaran ternyata menjadi favorit murid-murid karena cara-caranya menarik dengan mengambil contoh hal-hal yang populer di kalangan murid dan kalimat-kalimat pak Guru pun tersusun baik dan mudah dicerna. Dengan contoh ini jelas dapat kita ambil kesimpulan bahwa bagi dunia broadcasting sebenarnya fungsi Hiburan, Pendidikan dan Informasi tidak boleh dikotak-kotakan. Sebuah acara di radio/televisi yang disiarkan kepada pendengar/penontonnya adalah seharusnya ibarat Pak Guru yang berhasil menarik minat murid-murid di kelasnya, karena ia pandai meramu transformasi ilmu melalui cara penyampaian pesan/informasi yang membangun minat murid (dan karenanya murid menganggapnya bagaikan sebuah acara pertunjukan/hiburan). Acara ceramah agama oleh AA Gym yang disampaikan dengan teduh dan jenakapun dapat dianggap sebagai hiburan walaupun sarat dengan unsur pendidikan masyarakat, dan karenanya itu pula berhasil menyedot penonton yang banyak (rating tinggi).

Sebaliknya acara warta berita yang isinya terus menerus berita yang buruk (penderitaan, perampokan, prostitusi, judi, narkoba, dsb.) disiarkan setiap hari selama minimal 30 menit pada jam yang sama, semakin hari semakin kehilangan penonton (rating terus menurun) walaupun para awak pemberitaan menganggap informasi inilah yang diinginkan masyarakat. Sebab bagi masyarakat, siaran Pesan Informasi tadi sudah tidak lagi "menghibur" dirinya.

Contoh lain lagi misalnya acara "idola", baik pop, dangdut, tari, dsb. dll. Acara hiburan ini awalnya sempat membuat heboh dan menarik banyak penonton, tetapi setelah sekian lama penonton pun mulai bosan. Sehingga sekarang, anak saya dirumah justru memindahkan saluran apabila ada acara sejenis itu disebuah stasiun. Baginya acara tersebut bukanlah lagi merupakan Hiburan. Sesuatu siaran yang tidak dapat menghibur diri sang penonton akan membuat seorang penonton/pendengar kehilangan minat untuk menikmati siaran pada saluran stasiun itu.

Menghibur, dalam Bentuk Apapun Materi yang Disiarkan

Jadi "menghibur" adalah hal yang utama kalau acara siaran Anda ingin meraih pendengar/penonton. Apapun yang Anda lakukan haruslah "menghibur" dalam arti membangkitkan minat untuk diikuti dan minat untuk terus diikuti. Seringkali apabila penonton merasa mendapat jalan keluar atas masalahnya karena memperoleh pengetahuan baru dari suatu acara siaran, ia akan menganggap bahwa adanya "nilai tambah" itulah yang menyebabkan minat bertambah untuk menyaksikan/mendengarkan acara tersebut. Dengan demikian "mendidik" juga bisa dilihat sebagai sebuah hiburan bagi publik.

Oleh karena itu, tahulah kita sekarang bahwa Menghibur-Mendidik-Menginformasi-kan seluruhnya bermuara pada kata "Menghibur". Pemahaman inilah yang mendasari pendapat bahwa sesungguhnya Broadcasting adalah Media Hiburan, karena bertambahnya pengetahuan (edukasi) yang dicapai melalui penyampaian pesan (informasi) baru akan berhasil apabila publik memiliki minat atas siaran acara-acara kita (hiburan). Makanya untuk suksesnya siaran-siaran stasiun Anda, caranya: Siaran informasi/warta berita Anda haruslah menghibur, siaran agama Anda haruslah menghibur, siaran sinetron Anda haruslah menghibur, siaran musik Anda haruslah menghibur, siaran talk-show Anda haruslah menghibur, siaran acara quiz Anda haruslah menghibur, acara reality-show Anda haruslah menghibur, acara infotaintment Anda haruslah menghibur, acara film Anda haruslah menghibur dst. (arm)

Tidak ada komentar: