oleh Andy Rustam
Ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, siaran televisi dan radio penuh dengan liputan penderitaan rakyat yang tertimpa bencana, dan ini berlangsung selama 6 bulan terus menerus. Sekarang ketika bencana Gempa Bumi melanda Yogyakarta dan sekitarnya, kembali siaran televisi dan radio meng-ekspoitasi penderitaan rakyat dan mungkin juga akan memakan waktu berbulan-bulan lagi.
Komentar orang-orang dilingkungan saya pada umumnya muak dengan siaran-siaran parade penderitaan terus menerus. Tak kurang Wapres Yusuf Kalla pernah berkomentar bahwa siaran-siaran yang terus menerus menunjukkan kekerasan (dan juga penderitaan -pen) akan membawa dampak buruk pada kesehatan sosial masyarakat kita.
Tak urung saya, sebagai orang yang berpendidikan broadcasting dengan pengalaman selama 26 tahun dalam bidang siaran radio dan televisi, merasa terenyuh dengan perkembangan dunia penyiaran kita khususnya dalam bidang pemberitaan. Karena broadcasting adalah sebuah jenis media yang sangat ampuh tapi digunakan oleh orang yang tak memahami dengan benar. Ibarat sebuah pistol yang berada di tangan anak kecil, yang menarik pelatuknya seenaknya sambil tertawa gembira tanpa mengetahui bahaya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang disekitarnya.
Pemberitaan adalah Komunikasi Massa
Para wartawan dan crew pemberitaan kita umumnya tumbuh dengan cara learning by doing dan bukan dengan belajar formal dari Broadcast Journalism College. Maka sudut pandang mereka adalah semata-mata dari sisi apa yang mereka kira bagus. Alat ukurnya tentu saja "rating". Padahal seperti apa yang utarakan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini, bahwa struktur sosial masyarakat kita adalah "berat dibahagian bawah". Artinya kelompok masyarakat terbesar adalah mereka yang kurang pendidikan, kurang secara ekonomi dan banyak pada usia muda. Maka tentu saja acara yang akan menghasilkan rating tinggi (menarik banyak penonton/pendengar) yaitu apabila acara tersebut ditujukan untuk orang muda, miskin dan bodoh (maaf atas keterusterangan ini -pen). Jadi selama sasarannya adalah rating, maka semua siaran acara televisi termasuk pemberitaan haruslah disajikan dengan selera "bawah". Maka dari sudut pandang itu, maka apa yang disajikan/diliput oleh wartawan-wartawan elekronik kita, adalah benar adanya.
Namun sebagai orang media komunikasi massa, para awak pemberitaan tersebut tidak sadar bahwa fungsi media massa bukanlah hanya mengejar rating, karena ia seharusnya dapat menjadi agent of change (agen perubahan) yang dapat membawa kemajuan bagi bangsa. Dari sisi ini, hasil karya wartawan elektronik kita boleh dikatakan gagal. Buktinya, lihatlah apakah tata-krama, sopan-santun, disiplin masyarakat, kehidupan kebersamaan dalam suatu masyarakat bangsa menjadi lebih buruk atau menjadi lebih baik setelah "media menjadi begitu bebasnya" di era reformasi? Secara jujur, setelah era kebebasan media, semua interaksi sosial yang disebut itu justru menjadi lebih buruk. Penyebabnya adalah karena siaran pemberitaan tidak melakukan tugasnya yaitu berkomunikasi secara utuh.
Berkomunikasi Secara Utuh
Siapapun orang yang ingin berbicara pada seseorang (komunikator) tentulah mempunyai tujuan. Ia menyampaikan pesannya dalam gaya bicara, sopan-santun dan bahasa yang cocok dengan komunikan, agar tanggapan si komunikan akan sesuai seperti yang diharapkannya (tujuannya tercapai).
Tetapi cobalah anda bertanya kepada para reporter, penulis berita yang isi liputannya akan disiarkan (radio / TV), "Apa tujuan anda meliput dan menayangkan gambar atau kalimat-kalimat tersebut?". Jawabannya pasti, "Wah ini berita seru nih", atau, "yah ini yang menarik bagi orang-orang". Ini menunjukkan "tujuan" yang ingin dicapai sangat skin deep (hanya menyentuh permukaan saja, atau sangat dangkal).
Padahal sebagai media komunikasi massa Indonesia yang seyogyanya mempunyai "misi memperbaiki kualitas bangsa", setiap materi komunikasi pemberitaan yang disiarkan haruslah memiliki tujuan akhir kesana. Artinya, setiap pesan gambar, tulisan dan suara yang dipancarkan harus merupakan langkah kecil yang bermuara kepada tujuan besar.
Sebagai contoh mari kita bicarakan kasus Gempa Bumi Yogyakarta, sebagai berikut:
- Tujuan Pemberitaan pada hari-hari Pertama adalah agar seluruh rakyat Indonesia tergugah dan bersimpati dengan warga yang menjadi korban, dan tergerak untuk segera menolong.
- Tujuan Pemberitaan pada Minggu Kedua adalah agar seluruh rakyat terinspirasi bagaimana cara terbaik menolong para korban dengan segala daya yang material maupun non material.
- Tujuan pemberitaan pada Minggu Ketiga adalah agar seluruh rakyat dan khususnya warga Yogya semakin bersemangat untuk mulai membangun Yogya kembali. dst.
Barulah dengan pola seperti ini siaran pemberitaan stasiun-stasiun televisi dan radio akan bermutu dan mampu menjadi dinaminisator untuk perbaikan sosial & budaya masyarakat. Berkomunikasi yang utuh adalah berkomunikasi yang menghasilkan respons positif. (arm)
Ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, siaran televisi dan radio penuh dengan liputan penderitaan rakyat yang tertimpa bencana, dan ini berlangsung selama 6 bulan terus menerus. Sekarang ketika bencana Gempa Bumi melanda Yogyakarta dan sekitarnya, kembali siaran televisi dan radio meng-ekspoitasi penderitaan rakyat dan mungkin juga akan memakan waktu berbulan-bulan lagi.
Komentar orang-orang dilingkungan saya pada umumnya muak dengan siaran-siaran parade penderitaan terus menerus. Tak kurang Wapres Yusuf Kalla pernah berkomentar bahwa siaran-siaran yang terus menerus menunjukkan kekerasan (dan juga penderitaan -pen) akan membawa dampak buruk pada kesehatan sosial masyarakat kita.
Tak urung saya, sebagai orang yang berpendidikan broadcasting dengan pengalaman selama 26 tahun dalam bidang siaran radio dan televisi, merasa terenyuh dengan perkembangan dunia penyiaran kita khususnya dalam bidang pemberitaan. Karena broadcasting adalah sebuah jenis media yang sangat ampuh tapi digunakan oleh orang yang tak memahami dengan benar. Ibarat sebuah pistol yang berada di tangan anak kecil, yang menarik pelatuknya seenaknya sambil tertawa gembira tanpa mengetahui bahaya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang disekitarnya.
Pemberitaan adalah Komunikasi Massa
Para wartawan dan crew pemberitaan kita umumnya tumbuh dengan cara learning by doing dan bukan dengan belajar formal dari Broadcast Journalism College. Maka sudut pandang mereka adalah semata-mata dari sisi apa yang mereka kira bagus. Alat ukurnya tentu saja "rating". Padahal seperti apa yang utarakan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini, bahwa struktur sosial masyarakat kita adalah "berat dibahagian bawah". Artinya kelompok masyarakat terbesar adalah mereka yang kurang pendidikan, kurang secara ekonomi dan banyak pada usia muda. Maka tentu saja acara yang akan menghasilkan rating tinggi (menarik banyak penonton/pendengar) yaitu apabila acara tersebut ditujukan untuk orang muda, miskin dan bodoh (maaf atas keterusterangan ini -pen). Jadi selama sasarannya adalah rating, maka semua siaran acara televisi termasuk pemberitaan haruslah disajikan dengan selera "bawah". Maka dari sudut pandang itu, maka apa yang disajikan/diliput oleh wartawan-wartawan elekronik kita, adalah benar adanya.
Namun sebagai orang media komunikasi massa, para awak pemberitaan tersebut tidak sadar bahwa fungsi media massa bukanlah hanya mengejar rating, karena ia seharusnya dapat menjadi agent of change (agen perubahan) yang dapat membawa kemajuan bagi bangsa. Dari sisi ini, hasil karya wartawan elektronik kita boleh dikatakan gagal. Buktinya, lihatlah apakah tata-krama, sopan-santun, disiplin masyarakat, kehidupan kebersamaan dalam suatu masyarakat bangsa menjadi lebih buruk atau menjadi lebih baik setelah "media menjadi begitu bebasnya" di era reformasi? Secara jujur, setelah era kebebasan media, semua interaksi sosial yang disebut itu justru menjadi lebih buruk. Penyebabnya adalah karena siaran pemberitaan tidak melakukan tugasnya yaitu berkomunikasi secara utuh.
Berkomunikasi Secara Utuh
Siapapun orang yang ingin berbicara pada seseorang (komunikator) tentulah mempunyai tujuan. Ia menyampaikan pesannya dalam gaya bicara, sopan-santun dan bahasa yang cocok dengan komunikan, agar tanggapan si komunikan akan sesuai seperti yang diharapkannya (tujuannya tercapai).
Tetapi cobalah anda bertanya kepada para reporter, penulis berita yang isi liputannya akan disiarkan (radio / TV), "Apa tujuan anda meliput dan menayangkan gambar atau kalimat-kalimat tersebut?". Jawabannya pasti, "Wah ini berita seru nih", atau, "yah ini yang menarik bagi orang-orang". Ini menunjukkan "tujuan" yang ingin dicapai sangat skin deep (hanya menyentuh permukaan saja, atau sangat dangkal).
Padahal sebagai media komunikasi massa Indonesia yang seyogyanya mempunyai "misi memperbaiki kualitas bangsa", setiap materi komunikasi pemberitaan yang disiarkan haruslah memiliki tujuan akhir kesana. Artinya, setiap pesan gambar, tulisan dan suara yang dipancarkan harus merupakan langkah kecil yang bermuara kepada tujuan besar.
Sebagai contoh mari kita bicarakan kasus Gempa Bumi Yogyakarta, sebagai berikut:
- Tujuan Pemberitaan pada hari-hari Pertama adalah agar seluruh rakyat Indonesia tergugah dan bersimpati dengan warga yang menjadi korban, dan tergerak untuk segera menolong.
- Tujuan Pemberitaan pada Minggu Kedua adalah agar seluruh rakyat terinspirasi bagaimana cara terbaik menolong para korban dengan segala daya yang material maupun non material.
- Tujuan pemberitaan pada Minggu Ketiga adalah agar seluruh rakyat dan khususnya warga Yogya semakin bersemangat untuk mulai membangun Yogya kembali. dst.
Barulah dengan pola seperti ini siaran pemberitaan stasiun-stasiun televisi dan radio akan bermutu dan mampu menjadi dinaminisator untuk perbaikan sosial & budaya masyarakat. Berkomunikasi yang utuh adalah berkomunikasi yang menghasilkan respons positif. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar