02 Juli 2006

Apa yang Membuat Sebuah Acara Enak Diikuti?

oleh Andy Rustam

Kalau anda salah satu dari ratusan penonton yang selama 3 hari berturut-turut memadati pementasan opera (tari & musik) "I La Galigo" karya Robert Wilson pada akhir tahun 2005 yang lalu, lalu kemudian Anda juga sempat menonton pementasan opera "Kupu-Kupu" menampilkan sederetan lagu-lagu hits dari penyanyi dan pencipta lagu legendaris Titik Puspa pada bulan April 2006 yang lalu, maka anda tentu bisa menceritakan bagaimana perbandingan tingkat kenikmatan anda menyaksikan kedua pementasan tersebut.

Menyaksikan empat jam pementasan tari & musik karya Robert Wilson yang dimainkan oleh 50 seniman penari dan pemusik Indonesia yang berkisah tentang masyarakat Bugis pada abad pertengahan, angan, dan emosi kita terbawa bagaikan sedang bertamasya dalam petualangan, sedangkan menonton pentas tari dan musik karya Titik Puspa yang juga dipentaskan oleh para seniman musik & tari Indonesia dengan sederatan artis beken terasa datar-datar saja. Padahal justru lagu-lagu Titik Puspa seharusnya cukup akrab bagi telinga penonton. Apa penyebabnya? Mengapa hanya tambahan seorang bule (yang memang maestro theatre kelas dunia) dapat membawa perbedaan kualitas yang begitu besar, sampai-sampai kota-kota besar seperti Singapore, New York, Amsterdam dan Paris berdecak kagum?

Mekanisme Kejiwaan Penonton

Ketika masih duduk sebagai Direktur Operasi Anteve, saya banyak membaca naskah/skenario sebagai bagian dari proses rencana produksi. Dari pengalaman ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa, penyebab utama mengapa acara-acara hasil produksi kita tak dapat menimba kepuasan penonton adalah karena para sutradara, penulis pementasan/penulis skenario kita tidak pernah mempelajari bagaimana proses mekanisme kejiwaan pada diri seseorang penonton ketika ia mulai menonton.

Kebanyakan penulis pentas (writer for play) adalah juga penulis buku atau novel, sehingga dengan sendirinya alur cerita dan penggambaran sequence selalu ala penggambaran dalam sebuah buku. Gaya bertutur dan dramaturgie yang dibangun menjadi ala novel, sehingga sungguh tidak cocok untuk sebuah pentas/theatre apalagi untuk sebuah opera (tari & nyanyi) dan acara televisi. Karena kesiapan psikologis antara seseorang yang akan membaca buku dan yang akan menonton theatre akan sangat berbeda.

Jadi bukanlah sebuah pertunjungan itu menjadi menarik apabila artis-artisnya ngetop dan bagus, tata cahaya bagus, camera movement dan editing-nya baik ataupun tata dekor dan kostum-nya mahal-mahal. Karena itu semua sebenarnya hanyalah penopang dari script/naskah/skenario. Langkah pertama, script-nya harus benar dulu, dalam arti sesuai dengan situasi psikologis penonton.

Tahapan-Tahapan yang Benar

1. Penulis naskah dalam bertutur menuliskan alur cerita (jalannya acara) haruslah membuat terlebih dahulu garis lintasan emosi penonton yang akan dibangunnya.

2. Setiap titik-titik emosi (emotion point) yang akan dibentuk dalam garis lintasan, apakah menanjak atau mendatar atau menurun, haruslah dapat dibentuk dalam sebuah "plot" dengan berbagai pemakaian teknik antara lain: (a) Kata-kata ; (b) Acting ; (c) Camera ; (d) Lighting ; (e) Decor/Surroundings ; (f) Costume ; (g) Editing dll.

3. Dalam penggunaannya, teknik-teknik tersebut haruslah dipakai secara pas. Artinya, kalau memakai beberapa teknik sekaligus masing-masing harus saling mendukung terbentuknya plot (emotion point) yang direncanakan dalam garis lintasan. Tetapi adakalanya penggunaan teknik tersebut tidak sekaligus, melainkan satu persatu dalam rangkaian atau dapat pula memang hanya menggunakan satu teknik saja (misalnya: hanya melalui acting saja) namun itu memerlukan kapabilitas yang tinggi. Penggunaan teknik yang berlebihan justru membuat penonton kesal atau bosan atau tak logis sehingga tingkat emosi mereka justru dapat berbalik ke arah berlawanan dari yang direncanakan dalam garis lintasan.

4. Emotion point tertinggi haruslah dicapai pada bahagian akhir dari acara, dengan perkataan lain titik-titik emosi (emotion points) sebelumnya merupakan pondasi bertingkat yang menggiring penonton kearah climax.

5. Climax bukanlah "ending" dari acara. Karena ketika emosi penonton sudah mencapai puncak tertinggi, penonton masih membutuhkan "sesuatu" agar tingkat emosinya kembali ke-arah normal.

Begitulah tahapan emotional psychology dari penonton yang seyogyanya diikuti oleh para penulis, sutradara dan siapapun yang terlibat dalam pembuatan suatu produksi acara. Kalau Anda lakukan tahapan ini, walau theme/topik/isi acara yang akan akan diproduksi hanyalah tentang hal-hal yang sederhana (misalnya tentang "bagaimana membuat nasi goreng"), saya yakin kepuasan penonton pasti akan tercapai. (arm)

Tidak ada komentar: