oleh Andy Rustam
Seorang teman saya, seorang pengusaha yang sukses, berniat membangun sebuah stasiun televisi bernuansa Islam. Niatnya ini didorong oleh kekecewaannya terhadap siaran televisi yang ada sekarang ini, yang dianggapnya hanya akan membawa bangsa ini semakin lama semakin rusak saja cara berpikir dan akhlaknya. Teman saya itu berniat membangun TV dakwah yang diyakininya juga menguntungkan secara bisnis, karena mayoritas populasi Indonesia adalah muslim.
Ia datang kepada saya menginginkan pendapat dan advis tentang bagaimana caranya, strategi, dan kiat-kiat. Menanggapi permintaannya ini saya tersenyum, karena dalam pelatihan-pelatihan, saya sering memakai kasus ini sebagai bahan yang saya buat khusus untuk studi kasus, tapi eh.. ternyata, sekarang kasus itu benar-benar terjadi.
Buat Apa Mempunyai Stasiun TV?
Pertanyaan ini seringkali tidak bisa dijawab dengan mantap oleh orang yang berniat memiliki stasiun TV. Secara umum niat mereka yang sesungguhnya adalah agar apa yang ia pikirkan atau ia senangi dapat disebar-luaskan (disiarkan) sehingga juga akan disenangi oleh orang banyak (masyarakat), dan itu akan membuat stasiun TV dan dirinya menjadi populer sehingga akan banyak mendatangkan bisnis dan pengaruh. Saya sendiri tidak tahu apa niat sesungguhnya dari teman saya itu.
Pada prinsipnya sebelum mendirikan stasiun TV, tanyakan dulu pada diri anda, apakah anda ingin stasiun TV anda itu sebagai bisnis, sebagai saluran keinginan pribadi, ataukah sebagai media dakwah agama/sosial? Pilih SATU saja. Sebab begitu anda mencoba meng-kombinasikannya, dan hal itu tentu boleh-boleh saja, anda harus siap menyediakan dana yang cukup besar, yang bahkan konglomerat sebesar Bakrie Group atau Kompas/Gramedia Group-pun kini sudah mengibarkan bendera putih.
Mengenai pendapatnya bahwa siaran agama Islam akan populer, saya jelaskan kepada teman saya bahwa walau saya orang Islam, belum tentu saya mau mendengar/menonton siaran agama Islam. Lihatlah rating acara siaran agama Islam di stasiun televisi yang ada, apakah banyak pemirsanya? Bahkan saya sendiri kalaupun mau mendengar khotbah agama Islam pun, saya belum pasti mau mendengar khotbah dari Kyai & Ustad yang walau populer dan sering muncul di TV tapi pandangan dan tafsirnya menurut saya terlalu picik. Kalau yang memberi khotbah adalah orang yang berkualitas seperti Prof. Quraish Shihab pasti saya "tune-in". Artinya, asumsi teman saya bahwa kalau membuat TV Islam sudah pasti banyak penontonnya, sudah jelas salah! Karena saat inipun orang Islam tidak terlalu menaruh perhatian pada siaran-siaran agama Islam. Orang Islam pun bukanlah segmen pasar yang seragam.
Tetapi lain soalnya kalau ia mau mendirikan TV Islam yang akan terus-menerus siaran dengan acara-acara siarannya, tak peduli apakah orang mau menonton atau tidak, maka saya katakan padanya hal itu sangat dimungkinkan, asalkan kantongnya cukup kuat membiayai. Tapi bisakah hidup dari sumbangan masyarakat? (misalnya).
TV yang Hidup dari Donasi
Teman saya itu memang sudah memikirkan gagasan alternatif pembiayaannya dari sumbangan masyarakat (Islam). Ideenya seperti saluran TV evangelis (penginjil) yang banyak di saluran kabel di Amerika Serikat. Saya katakan bahwa hal itu dimungkinkan juga, namun tetap saja pada intinya apakah acara-acara siaran agama yang akan disiarkan nantinya itu sangat disukai oleh masyarakat kalangan Islam yang menjadi sasarannya. Kita sendiri bisa melihat betapa banyaknya mesjid dan yayasan yatim piatu Islam yang sangat sulit kehidupannya, kekurangan biaya karena sangat sedikit orang yang mengalirkan sumbangan kepada mereka. Padahal populasi Islam di Indonesia adalah mayoritas. Artinya, manusia pada umumnya tetap saja seperti manusia kebanyakan dengan sifatnya yaitu: "kalau ia merasa tak ada untung/manfaat bagi diri sendiri maka ia tidak akan mau mengeluarkan uang apapun".
Oleh karena itu, kalaupun anda merencanakan mendirikan stasiun TV yang mengandalkan hidupnya dari sumbangan/donasi maka pastikanlah dulu bahwa acara-acara siaran anda begitu menariknya sehingga para pemirsa tidak merasa sayang untuk memberikan iuran setiap bulan agar bisa terus menyaksikan acara-acara yang ditayangkan oleh TV anda.
Lalu mengapa kalau TV-TV Saluran Evangelis di Amerika itu kok bisa hidup, bukankah mereka hidup dari sumbangan? Itu karena mereka mendapat modal awal berupa dana abadi pusat gereja (misalnya dari Vatican). Dana abadi itu diinvestasikan secara bisnis normal di perusahaan-perusahaan profesional dan juga di-depositokan pada bank-bank Internasional, sehingga hasil perputaran uang itu cukup untuk keperluan TV-TV tersebut. Lalu sumbangan dari pemirsa TV yang menjadi jemaah dari para evangelis/penginjil dikumpulkan lagi untuk "tambahan" penyelenggaraan siaran. Jadi akan sangat sulitlah kalau sebuah TV penginjil hanya sepenuhnya bergantung dari sumbangan para pemirsanya saja.
Teman saya itu untuk sementara sepertinya bisa memahami penjelasan saya, tapi saya yakin ia masih belum puas. Makanya kita berjanji untuk melanjutkan pembicaraan pada kesempatan berikut. Saya sebenarnya sudah tahu bagaimana seharusnya, satu syarat saja: bahwa apapun gagasannya ikutilah Nature Of The Business-nya. (arm)
Seorang teman saya, seorang pengusaha yang sukses, berniat membangun sebuah stasiun televisi bernuansa Islam. Niatnya ini didorong oleh kekecewaannya terhadap siaran televisi yang ada sekarang ini, yang dianggapnya hanya akan membawa bangsa ini semakin lama semakin rusak saja cara berpikir dan akhlaknya. Teman saya itu berniat membangun TV dakwah yang diyakininya juga menguntungkan secara bisnis, karena mayoritas populasi Indonesia adalah muslim.
Ia datang kepada saya menginginkan pendapat dan advis tentang bagaimana caranya, strategi, dan kiat-kiat. Menanggapi permintaannya ini saya tersenyum, karena dalam pelatihan-pelatihan, saya sering memakai kasus ini sebagai bahan yang saya buat khusus untuk studi kasus, tapi eh.. ternyata, sekarang kasus itu benar-benar terjadi.
Buat Apa Mempunyai Stasiun TV?
Pertanyaan ini seringkali tidak bisa dijawab dengan mantap oleh orang yang berniat memiliki stasiun TV. Secara umum niat mereka yang sesungguhnya adalah agar apa yang ia pikirkan atau ia senangi dapat disebar-luaskan (disiarkan) sehingga juga akan disenangi oleh orang banyak (masyarakat), dan itu akan membuat stasiun TV dan dirinya menjadi populer sehingga akan banyak mendatangkan bisnis dan pengaruh. Saya sendiri tidak tahu apa niat sesungguhnya dari teman saya itu.
Pada prinsipnya sebelum mendirikan stasiun TV, tanyakan dulu pada diri anda, apakah anda ingin stasiun TV anda itu sebagai bisnis, sebagai saluran keinginan pribadi, ataukah sebagai media dakwah agama/sosial? Pilih SATU saja. Sebab begitu anda mencoba meng-kombinasikannya, dan hal itu tentu boleh-boleh saja, anda harus siap menyediakan dana yang cukup besar, yang bahkan konglomerat sebesar Bakrie Group atau Kompas/Gramedia Group-pun kini sudah mengibarkan bendera putih.
Mengenai pendapatnya bahwa siaran agama Islam akan populer, saya jelaskan kepada teman saya bahwa walau saya orang Islam, belum tentu saya mau mendengar/menonton siaran agama Islam. Lihatlah rating acara siaran agama Islam di stasiun televisi yang ada, apakah banyak pemirsanya? Bahkan saya sendiri kalaupun mau mendengar khotbah agama Islam pun, saya belum pasti mau mendengar khotbah dari Kyai & Ustad yang walau populer dan sering muncul di TV tapi pandangan dan tafsirnya menurut saya terlalu picik. Kalau yang memberi khotbah adalah orang yang berkualitas seperti Prof. Quraish Shihab pasti saya "tune-in". Artinya, asumsi teman saya bahwa kalau membuat TV Islam sudah pasti banyak penontonnya, sudah jelas salah! Karena saat inipun orang Islam tidak terlalu menaruh perhatian pada siaran-siaran agama Islam. Orang Islam pun bukanlah segmen pasar yang seragam.
Tetapi lain soalnya kalau ia mau mendirikan TV Islam yang akan terus-menerus siaran dengan acara-acara siarannya, tak peduli apakah orang mau menonton atau tidak, maka saya katakan padanya hal itu sangat dimungkinkan, asalkan kantongnya cukup kuat membiayai. Tapi bisakah hidup dari sumbangan masyarakat? (misalnya).
TV yang Hidup dari Donasi
Teman saya itu memang sudah memikirkan gagasan alternatif pembiayaannya dari sumbangan masyarakat (Islam). Ideenya seperti saluran TV evangelis (penginjil) yang banyak di saluran kabel di Amerika Serikat. Saya katakan bahwa hal itu dimungkinkan juga, namun tetap saja pada intinya apakah acara-acara siaran agama yang akan disiarkan nantinya itu sangat disukai oleh masyarakat kalangan Islam yang menjadi sasarannya. Kita sendiri bisa melihat betapa banyaknya mesjid dan yayasan yatim piatu Islam yang sangat sulit kehidupannya, kekurangan biaya karena sangat sedikit orang yang mengalirkan sumbangan kepada mereka. Padahal populasi Islam di Indonesia adalah mayoritas. Artinya, manusia pada umumnya tetap saja seperti manusia kebanyakan dengan sifatnya yaitu: "kalau ia merasa tak ada untung/manfaat bagi diri sendiri maka ia tidak akan mau mengeluarkan uang apapun".
Oleh karena itu, kalaupun anda merencanakan mendirikan stasiun TV yang mengandalkan hidupnya dari sumbangan/donasi maka pastikanlah dulu bahwa acara-acara siaran anda begitu menariknya sehingga para pemirsa tidak merasa sayang untuk memberikan iuran setiap bulan agar bisa terus menyaksikan acara-acara yang ditayangkan oleh TV anda.
Lalu mengapa kalau TV-TV Saluran Evangelis di Amerika itu kok bisa hidup, bukankah mereka hidup dari sumbangan? Itu karena mereka mendapat modal awal berupa dana abadi pusat gereja (misalnya dari Vatican). Dana abadi itu diinvestasikan secara bisnis normal di perusahaan-perusahaan profesional dan juga di-depositokan pada bank-bank Internasional, sehingga hasil perputaran uang itu cukup untuk keperluan TV-TV tersebut. Lalu sumbangan dari pemirsa TV yang menjadi jemaah dari para evangelis/penginjil dikumpulkan lagi untuk "tambahan" penyelenggaraan siaran. Jadi akan sangat sulitlah kalau sebuah TV penginjil hanya sepenuhnya bergantung dari sumbangan para pemirsanya saja.
Teman saya itu untuk sementara sepertinya bisa memahami penjelasan saya, tapi saya yakin ia masih belum puas. Makanya kita berjanji untuk melanjutkan pembicaraan pada kesempatan berikut. Saya sebenarnya sudah tahu bagaimana seharusnya, satu syarat saja: bahwa apapun gagasannya ikutilah Nature Of The Business-nya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar