06 Agustus 2007

Ada Orang Kaya yang Tidak Ingin TV-nya Laba

oleh Andy Rustam

Ketika saya melahirkan ANTEVE tahun 1992 - 1993 saya bermimpi untuk menjadikannya menjadi stasiun televisi yang paling ideal di Indonesia. Seluruh strategi dan rencana pengembangannya saya buat sesuai dengan ilmu broadcasting yang benar yang bisa anda temui kalau anda sekolah di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Tetapi baru saja saya mengawalinya di tahun pertama, pemilik stasiun langsung mengambil alih kendali dan meminta para eksekutif untuk melaksanakan apa-apa yang menjadi kemauannya walaupun tak sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu broadcasting. Bos pemilik menetapkan strategi programming, jadilah Anteve ketika itu stasiun yang hanya berorientasi pada olah raga (sport), berita, dan musik. Berbagai eksekutif digonta-ganti dengan tujuan agar maunya si Bos bisa terlaksana, sukses melalui tiga inti acara tersebut. Tetapi tentu saja selalu gagal. ANTEVE terus merugi dan terlibat hutang. Demikian seterusnya dan akhirnya pada tahun 2005, saham ANTEVE mulai dilepas dan kini tahun 2007 sudah sepenuhnya beralih menjadi miliknya group media orang asing. Walau tentu saja, pemilik lama memperoleh keuntungan juga dari penjualan saham tersebut, namun patut disayangkan karena hal itu (terlepasnya aset strategis bangsa ke tangan asing) sebenarnya bisa dicegah apabila pemilik mengikuti nasehat saya yang ketika itu sebagai satu-satunya orang di group perusahaan mereka, yang memiliki pengalaman dan pendidikan sekolah broadcasting.

Apa yang Salah?

Sebagai sebuah kasus, ANTEVE sangat menarik untuk dipelajari. Disini terlihat jelas bahwa bagaimana sebuah televisi dijalankan dengan cara yang tak sesuai dengan karakteristik media televisi. Terbukti bahwa memaksakan strategi siaran sport, berita, dan musik yang menurut Bos (pemilik) adalah gabungan dari ide ESPN+CNN+MTV, adalah strategi orang pandir yang tak mengerti televisi tapi mengandalkan kekayaan dan power, tidak berhasil membawa ANTEVE pada kesuksesan. Bagaimana mungkin strategi programming untuk TV kabel digabung menjadi satu untuk TV terrestrial? Tetapi itulah kenyataannya. Dengan uangnya ia mencari orang yang dianggap mampu dan mau melaksanakan keinginannya itu. Baik dari Malaysia, Australia, Filipina, dan terakhir Hongkong. Tentu saja orang-orang silih berganti "memasang badan" sekedar untuk mendapatkan bayaran tinggi darinya.

Kesalahan lainnya adalah hampir seluruh manajemen di ANTEVE ketika itu mengeluarkan pendapat yang "salah" namun sudah menjadi hal yang umum di Indonesia, yaitu, kalau mau meningkatkan penonton (rating) buatlah acara yang baru, dengan bintang yang top yang cantik-cantik, dan buat seheboh mungkin, promosi dan hadiah harus yang hebat-hebat. Lalu kalau mau merubah "citra ANTEVE yang sudah terlanjur buruk" ganti logo-nya. (Itu sebabnya logo Anteve terus berganti-ganti).

Pendapat seperti ini kalau sampai terdengar oleh Philip Kotler ia pasti akan dapat "heart attack", karena tidak akan pernah menyangka ada perusahaan terkemuka memiliki pandangan seperti itu. Kini ANTEVE sepenuhnya sudah berpindah tangan kepada pemilik baru yang orang asing.

Memiliki TV Baru

Tapi si pemilik lama tidak bangkrut malah dengan kekayaannya yang berlimpah maka kini group perusahaan tersebut membeli sebuah stasiun TV yang juga sudah hampir kembang-kempis mati segan hidup tak bisa. Perusahaan itu kini menjadi miliknya, berpatungan dengan beberapa group lain. Banyak teman-teman disana memberi informasi kepada saya bahwa si Bos sekarang sudah berubah dan telah belajar banyak dari apa yang terjadi dengan TV-nya yang terdahulu, ANTEVE.

Tentu saja mendengar itu saya turut gembira. Mengapa gembira? Karena tentu saja pertama, itu merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa apa yang telah saya katakan pada tahun 1993 kepadanya dulu tentang bagaimana seharusnya ANTEVE dijalankan, terbukti benar. Kedua, setidak-tidaknya dengan TV barunya ini harapan saya akan lahir stasiun TV baru yang jauh berbeda dari TV-TV yang ada sekarang ini, mengingat ia tentu sudah mau membuat TV sebagaimana TV seharusnya.

Sama Saja?

Bukannya hendak mendahului Tuhan, tetapi kelihatannya akan terjadi ANTEVE seri II. Menurut teman-teman disana, TV baru ini nanti akan berorientasi hanya pada acara berita dan sport saja (jadi persis ANTEVE awal dulu tapi minus musik). Lalu pada akhir tahun ini nanti, nama dan logo stasiun akan dirubah (persis seperti ANTEVE yang berubah menjadi ANTV dengan logo yang berubah juga berkali-kali). Selalu begitulah langkahnya. Sebenarnya hal seperti itu tentulah wajar saja, kalau "alasan"-nya tepat.

Tetapi ketika saya tanya para eksekutif disana, apa alasannya memilih strategi seperti itu untuk stasiun TV barunya. Mereka menjawab dengan berbagai jawaban namun tidak ada satupun yang terdengar sesuai dengan prinsip ilmu broadcasting business. Barangkali mereka sungkan menjawab kepada saya dengan sejujur-nya, "Itu maunya si Bos".

Mungkin saya salah, tapi kok feeling saya mengatakan bahwa sejarah akan berulang. Kenyataan bangkrutnya ANTV tak cukup ampuh memadamkan keinginan si Bos untuk tetap membuat TV sport dan berita sebagai cara berbisnis untuk media televisi dalam rangka mencari laba. Apakah barangkali ia sudah begitu kaya-nya sampai tak perlu lagi untuk mencari laba dari bisnis ini. Jadi rugi terus tak apa, atau barangkali "laba"-nya justru bukan langsung dari bisnis TV-nya ya? Wah, Philip Kotler bakal "heart attack" yang kedua kalinya dong kalau mendengar ini. (arm)

Tidak ada komentar: