07 Oktober 2007

Racikan Nasi Goreng Istimewa

oleh Andy Rustam

Dari sejak zaman saya mahasiswa di tahun 70-an, kota Bandung terkenal dengan jajanan macam-macam yang rata-rata sangat khas dan enak. Salah satu yang sampai sekarang masih enak dan kalau mau beli masih harus mengantri adalah Nasi Goreng PR. Kalau anda mau coba maka anda harus mencari gerobak yang mangkalnya pas di depan kantor harian Pikiran Rakyat (PR) di jalan Asia Afrika, dan baru bukanya diatas jam 20.00 ke atas sampai pukul 02.00 dini hari. Tetapi saya bukan bermaksud bicara tentang makanan melainkan tentang produksi suatu acara siaran, yang saya ibaratkan seperti membuat masakan nasi goreng yang enak.

Apa yang Membuat Nasi Goreng PR Itu Enak?
  1. Kebanyakan pelanggan NasGor PR yang ditanya apa penyebab Anda bilang enak, akan menjawab bahwa "rasanya pas". Jadi Anda sekarang sudah punya rumus pertama agar produksi acara anda disukai orang. Kalau anda mau memproduksi sebuah acara siaran yang diharapkan akan disukai maka "rasanya" haruslah pas.

    Darimana sebuah "rasa enak yang pas" diperoleh? Kebanyakan orang yang bisa memasak, tapi ia bukan yang benar-benar tukang masak, akan menjawab bahwa "rasa" itu diperoleh dari pilihan "bumbu-bumbu" serta komposisi campurannya. Tentu saja hal ini betul, tetapi ini hanyalah akan menjadi konsiderasi terakhir dalam prioritas memasak makanan yang enak. Tukang masak yang ahli masak nomer satu akan menempatkan prioritas pertama pada kualitas bahan utama. Artinya kalau anda mau masak nasi goreng yang enak maka nasinya haruslah memenuhi syarat terlebih dahulu (misalnya nasi haruslah nasi yang tak lengket, harus hambar, pera, dan sudah didiamkan semalam), bukan bumbunya dulu yang diutamakan.

    Jadi kalau anda misalnya akan memproduksi acara sinetron maka yang pertama jalan cerita/skenario haruslah memenuhi syarat dulu, jadi bukanlah artis cantik, sexy, adegan vulgar, dan efek visual-lah yang menjadi utama, karena ini semua hanyalah bumbu saja

    Prioritas kedua bagi tukang masak yang jago adalah cara memasak. Artinya apa dulu yang harus digoreng dan berapa lama harus digongseng sebelum telur mulai digoreng dan kapan akhirnya nasi boleh dimasukkan ke dalam penggorengan dsb.

    Artinya begitu juga Anda membuat sinetron atau acara siaran. Misalnya urutan sequence Anda harus membukanya dengan hal sepele dulu, bumbu-bumbu dulu dengan dialog sederhana dan kamera angle yang medium shot baru kemudian bahan pendukung yang penting dimasukkan dengan dialog yang lebih terarah dan banyak angle close-up sebelum akhirnya plot dan bintang utama ditampilkan dengan angle low dengan dialog berwibawa.

    Prioritas ketiga bagi tukang masak adalah penyajian. Menjelang disajikan si tukang masak biasanya akan mencicipi sedikit masakannya. Disaat inilah ia akan menambahkan sedikit bumbu untuk penyempurnaaan "rasa", misalnya kecap atau merica. Baru kemudian dia akan menuangkannya dari penggorengan ke piring, lalu ia hias dengan potongan mentimun asinan atau tomat serta bawang goreng dan sambal. Sehingga warna-warna hijau, oranye, dan merah di atas dasar warna nasi goreng yang kuning kecoklatan, sangat serasi dipandang mata.

    Begitu pula sinetron anda, sebelum siap disajikan, haruslah anda edit, atau tambahkan selingan atau bumbu-bumbu sekedar penyedap. Ingat, penyedap hanya diberikan kalau makanannya sendiri memang sudah enak, mereka hanyalah bumbu, jadi jangan terlalu banyak dan jangan pula terlalu sedikit. Selain itu bumbu tidak boleh dijadikan melebihi bahan utamanya. Menjadi sangat tidak enaklah NasGor PR kalau bawang gorengnya lebih banyak dari nasinya bukan?

  2. Ketika ditanya, apakah setelah makan satu porsi sepiring NasGor PR masih ingin tambah lagi? Mereka umumnya menjawab, walau sebenarnya masih bisa ingin tambah lagi tapi lebih nyaman di perut kalau tidak tambah. Pas satu piring saja.

    Nah, sekarang anda tahu rumus kedua untuk membuat acara siaran yang disukai, bahwa volume, durasi, dan frekuensi acara tersebut haruslah pas; masih membuat orang berkeinginan untuk menonton lagi. Jangan sampai terlalu lama atau terlalu sering sehingga membuat orang jenuh (mual/eneg kalau makanan), dan juga jangan terlalu pendek atau terlalu sebentar sampai orang merasa dipermainkan (tak diutamakan).

    Ini pula yang menjadi rumus andalan para tukang masak profesional turun-temurun. Mereka semua pandai memperkirakan berapa besar porsi yang pas bagi konsumennya, berapa banyak appetizer (makanan pembuka) sebelum datangnya menu utama.

    Justru hal ini menjadi kelemahan para pembuat acara di negri ini. Lihat saja bagaimana jenuhnya kita melihat gaya Tukul dengan kalimat "kembali ke laptop", yang pada awalnya memang lucu dan menarik. Namun para tukang racik acara tidak pandai memperkirakan porsi. Begitu pula melihat cewek berpakaian ketat di sinetron mungkin akan menjadi bumbu yang menyegarkan, tetapi kalau sepanjang sinetron yang terlihat hanya cewek-cewek seperti itu lalu kemudian begitu pula pada episode berikutnya maka yang terjadi "mual" di pihak penonton.
Kiranya para produser dan pembuat acara-acara siaran harus lebih banyak belajar kepada tukang-tukang masak internasional, atau tak usah jauh-jauh pergilah ke Bandung dan perhatikan bagaimana mereka meracik dan memasak Nasi Goreng PR.... nikmaat. (arm)

Tidak ada komentar: