17 Agustus 2008

Radio Tak Disinggung AC Nielsen

Oleh Andy Rustam

Belanja iklan semester I tahun 2008 (Januari - Juni), untuk seluruh katagori produk, total belanja iklan media cetak dan televisi tumbuh 24%, naik dari Rp 15,8 triliun menjadi Rp 19,5 triliun. Anggaran iklan yang dihabiskan untuk televisi tumbuh 17% dan untuk surat kabar tumbuh 38%. Beginilah bunyi berita harian Kompas terbitan Selasa, 12 Agustus 2008, mengutip apa yang dikatakan oleh Maika Randini, Senior Manager Business Development AC Nielsen pada hari Senin, 11 Agustus 2008 yang lalu. Dijelaskan pula bahwa belanja iklan ini belum memasukkan belanja iklan di media internet dan radio.

Pertanyaan saya kepada para radiowan, apakah anda tidak merasa semakin kerdil? AC Nielsen berbisnis dengan menjual data hasil survey media. Itu sebabnya dia mengadakan konferensi pers. Masalahnya, dia hanya menonjolkan media cetak dan televisi saja sebagai "daya tarik" untuk jualannya. Artinya AC Nielsen tahu bahwa calon pembelinya hanya tertarik pada media cetak dan televisi, dan bukan kepada internet dan radio.

Sediiiih Banget

Kalau saja saya masih duduk di kepengurusan PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia) seperti 18 tahun yang lalu, pastilah saya sudah malu sekali. Bagaimana tidak, bayangkan saja dunia bisnis hanya memandang sebelah mata kepada industri radio siaran??? Bayangkan, radio swasta yang di Indonesia lahir pada akhir tahun 1960-an kini sudah disejajarkan dengan media internet yang baru lahir disini paling-paling 10-12 tahun yang lalu. Pesawat penerima radio yang hadir sejak zaman jauh sebelum lahirnya Republik Indonesia, dan kini selalu ada di hampir semua rumah tangga, bahkan sudah terpasang di semua mobil sedan baru, tetapi nasibnya sekarang dalam hal keefektifannya sebagai media promosi sudah disejajarkan dengan internet yang penetrasinya hanya 4% saja dari rumah tangga di Indonesia. Mana radio yang menjadi andalan pegangan masyarakat ketika kerusuhan Mei 1998? Mana radio yang begitu ditakuti oleh rezim orde baru sampai dilarang menyiarkan berita sendiri? Mana radio yang menjadi teman belajar saya ketika masih kuliah yang kalau tanpa radio rasanya sepi sekali walau sudah ada TV dan video ketika itu? Tapi sekarang 30 tahun kemudian, semakin lama rasanya semakin Radio Siaran tidak diperlukan lagi oleh masyarakatnya, dan oleh para pengiklan, radio bahkan tak lagi menjadi bahan pertimbangan utama kalau mau beriklan. Sedih ngga tuh?!

Di Mana Salahnya?

Menurut saya, kebanyakan radio-radio siaran, termasuk radio-radio yang cukup populer, dalam siaran-siaran acaranya tidak lagi berhasil membangun komunikasi yang sebenarnya dengan pendengarnya. Cobalah anda bertanya kepada penyiar radio mengapa ia membicarakan tentang, misalnya "A". Jawaban dari mereka biasanya ada dua tipe. Yang pertama adalah, karena tentang "A" itu lagi hangat atau lagi seru-serunya. Yang kedua adalah, kita mengangkat tentang "A" supaya pendengar tahu atas masalah itu. Padahal karakter media radio, bukan berfungsi sebagaimana layaknya koran/media cetak dimana memang cocok untuk "pembahasan analitis" (membahas yang lagi seru-serunya, atau apa permasalahan detilnya). Juga media radio bukanlah seperti media televisi yang dengan kekuatan visual dan audio mampu "memberitahu" publik secara lebih jelas dan sangat rinci. Artinya, kalaulah alasan anda siaran mengangkat topik "A" supaya pendengar tahu dan atau karena sedang seru-serunya, maka siaran radio anda tidak akan bisa optimal. Karena Publik akan memperoleh hal ini dengan lebih baik melalui media surat kabar dan televisi. Itu sebabnya radio seolah-olah menjadi "tidak dibutuhkan".

Belum lagi kalau dilihat dari sisi penyajian pembahasannya sebahagian besar siaran radio swasta menggunakan cara ngobrol-ngobrol atau sharing, melalui sms atau telpon (karena memang hanya itu yang bisa dilakukan si penyiar). Sebuah cara penyajian yang "orang biasa" sekalipun bisa. Bukankah kalau cuma ngobrol-ngobrol semua orang bisa melakukannya dan sama sekali bukanlah hal yang istimewa? Padahal sosok yang diharapkan oleh pendengar radio terhadap penyiarnya, bahwa selalulah penyiar radio itu "bukan orang biasa", ia harus agak sedikit "lebih" dari pendengarnya (tetapi belum sampai pada tingkat celeb). Maka cara berbicara, cara membahas, cara bertanya, cara menyapa, cara mempresentasikannya, dalam ekspektasi pendengar harus lebih bagus dari orang biasa (dalam hal ini pendengarnya), itulah sebenarnya yang diinginkan pendengar walaupun mereka tidak atau sulit mengungkapkannya kepada para penyiar. Apabila ekspektasi yang ada dibenak pendengar itu tidak dapat dipenuhi oleh si penyiar, karena apa yang dilakukan penyiar tak membuat "kagum" pendengarnya, otomatis minat si pendengar untuk mendengarkan siaran radio itupun akan menurun dan hilang.

Bagian Utama Program Kerja Para Radiowan dan PRSSNI

Nah sekarang kita sudah tahu masalahnya. Kata Einstein, kalau sudah mengetahui duduk permasalahan berarti 50% persoalan sudah selesai. 50% lagi, seyogyanya para radiowan secara bersama atau melalui PRSSNI di seluruh Indonesia harus sudah mulai menyusun dan melakukan program kerja intensif di bidang pendidikan pengetahuan dan ketrampilan Radio Broadcasting secara menyeluruh dan berkesinambungan. Menurut saya, titik lemah yang utamalah yang harus jadi prioritas. Yaitu: yang paling terpenting adalah dibangun dahulu pemahaman yang merata pada para radiowan (bukan cuma penyiar, tetapi juga para teknisi, para sales person, para jurnalis/reporter, bahkan para pemilik) tentang apa itu media radio itu sendiri, baik tentang karakter maupun tentang konsep sebuah radio siaran serta siklus bisnisnya. Sebab ketrampilan dan kepandaian lain seperti: jurnalistik, disc-jockey, programming & production, hanya akan sukses apabila dalam implementasinya tidak menyimpang dari karakteristik dan nature of the business sebuah radio siaran komersil.

Kalaupun PRSSNI masih belum juga sadar untuk melakukan ini, maka masing-masing pimpinan stasiun harus ambil insiatif untuk memiliki program kerja seperti ini di stasiun masing-masing (in-house training) secara berkesinambungan. Kalau ini dilakukan mulai sekarang juga, maka dapatlah kita katakan bahwa masa depan industri radio siaran swasta di Indonesia sangat cerah. (arm)

Tidak ada komentar: