oleh Andy Rustam
Sejak minggu lalu media-media kita tengah ramai meng-expose kasus "Penjagal dari Jombang (Ryan)" dan bahkan menurut AC Nielsen rating pemirsa siaran berita di beberapa stasiun televisi (dan rasanya juga jumlah pendengar di beberapa stasiun radio) meningkat dikarenakan oleh ulasan tentang kasus ini. Pada bulan April tahun 2006 saya telah menulis di broadcastsukses dengan judul "Tsunami Pemberitaan", dan ternyata kegemaran para televisiwan dan radiowan masih tetap sama dengan dua tahun yang lalu. Harian Kompas pun memberitakan dan mengulas pula topik ini, tetapi caranya tidak seperti media televisi dan radio yang kebetulan saya tonton dan saya dengarkan. Harian Kompas mempunyai hasil pesan final yang jelas dalam tulisannya.
Hasil Monitoring Ulasan
Saya memonitor dua stasiun TV dan dua stasiun radio yang kebetulan mengulas topik Ryan melalui talk-show (ada pula yang menampilkan dalam bentuk editorial). Kesan saya, tidak satupun dari media tersebut berhasil memberikan suatu nilai tambah bagi audience-nya. Mereka semua hanya meng-ekspose "unsur seru-nya" saja, persis seperti obrolan iseng supir-supir bis di terminal. Tidak ada pesan positif yang betul-betul bisa dipahami pada akhir siaran acara tersebut. Bahkan lebih parah lagi malah final-response yang tercipta adalah "kegalauan", antara lain: ada yang kesannya mendiskreditkan kaum homoseks, ada juga kesannya biarkanlah homoseks berkembang luas karena itu pilihan hidup mereka, ada juga terkesan kekejaman terkait dengan orientasi seksual. Menurut saya semua itu menunjukkan bahwa para pekerja pemberitaan di televisi dan radio yang saya monitor, benar-benar tak menguasai (mungkin tahu tapi tidak melakukannya karena terbuai sisi sensasional materi berita). Tiga hal yang paling pokok dari tanggung jawab media, dalam operasionalnya, yaitu: (1) Menciptakan respons positif yang membawa kemajuan dan kebaikan bagi tatanan masyarakat, (2) Mengetahui materi lebih mendalam sebelum diangkat ke siaran, dan (3) Mengkalkulasi prakiraan dalam membuat rancangan suatu siaran bagaimana dampak positif/negatifnya terhadap masyarakat, sebelum penyiaran materi dilakukan.
Penjelasan
Saya ambil saja contoh, stasiun radio sebuah jaringan radio terkemuka di Jakarta, pada siaran jam 7.00 malam tgl 1 Agustus 2008 menampilkan acara diskusi radio, dengan tamu seorang homoseksual pria (gay) dan seorang psikolog. Hasil pesan final terkesan kira-kira sebagai berikut, "Hai masyarakat, homoseks adalah suatu pilihan-hidup, bukan penyakit, tidak menular. Jadi terimalah dengan besar hati. Kalau anak anda dan cucu anda menjadi "gay", biarkanlah mereka dengan perilakunya itu, sebagai preferensi mereka."
Hasil pesan final ini jelas salah. Seorang yang homoseksual pun dalam batinnya tak menginginkan anak atau cucunya menjadi seorang gay/lesbian. Mereka tahu betul bahwa perilaku seks mereka memang menyimpang, tetapi mereka suka alias doyan. "Abis enak sih", kata seorang teman saya, pria, yang dulunya heteroseksual kemudian setelah menjadi seorang penari kini "tertular" menjadi seorang homoseksual. Memang betul homoseksual bukanlah sebuah penyakit yang menurut istilah medis biasanya disebabkan oleh bakteri/kuman, jamur, virus sejenisnya dan memang ini biasanya bisa menular akibat perpindahan si penyebab-sakit (penyakit). Di sini manipulasi persepsi terjadi! Seorang pecandu narkoba, bukanlah tergolong orang penyakitan seperti itu, namun tetap harus sembuh dan disembuhkan, bukan?
Penelitian Mutakhir
Kaum homoseks suka mencari-cari alasan pembenaran untuk perilakunya, padahal alasan sesungguhnya adalah mereka sudah senang dengan keadaan ini (comfort zone) alias sudah keenakan, sehingga tidak punya keinginan lagi untuk berubah. Kalaupun ada pihak-pihak yang berusaha menasihati untuk keluar dari comfort zone, kelompok homoseksual langsung akan menuding, "Lihatlah dunia heteroseks yang tak toleran dengan kelompok yang berbeda". Mereka lalu ada yang menunjukan bahwa "gen (chromosome)" dalam sel tubuh merekalah yang membuat mereka menjadi homoseksual, dan itu bukan atas kehendak mereka alias takdir.
Dalam buku berjudul "My Genes Made Me Do It" (1999), peneliti Dr. Neil Whitehead menemukan bahwa memang betul ada kaum homoseks hasil bawaan dari lahir dengan ditandai struktur chromosome yang berbeda dengan kaum heteroseks, tetapi gen/chromosome itu bisa juga terbentuk akibat aktivitas fisik. Artinya walau kita heteroseksual tetapi mencoba-coba melakukan/mengalami perbuatan homoseksual dan itu terjadi berulang-ulang, maka lama kelamaan struktur chromosome sel kita akan berubah menjadi struktur chromosome seorang yang homoseks, begitu pula sebaliknya. Disini terbukti struktur gen merupakan akibat dan bukan sebab. Juga bahwa soal struktur gen/chromosome pun bukanlah takdir karena bisa berubah, yang terpenting adalah kemauan si gay untuk merubah dirinya. (lihat: www.mygenes.co.nz).
Tentu saja secara sosial, masyarakat tak boleh melecehkan kaum homoseksual namun sebaliknya juga kalau masyarakat tidak memperoleh informasi secara benar mereka akan berpendapat bahwa menjadi gay bukanlah sebuah perilaku yang harus dirubah (disembuhkan), gay adalah takdir, atau pilihan yang wajar sesuai HAM.
Ibarat pecandu narkoba, yang apabila sedang kecanduan sudah pasti tak ada keinginan berubah, ketambahan lagi, bukankah mengkonsumsi narkoba adalah pilihan sendiri, bagi diri sendiri, dengan kerugian-pun ada pada diri sendiri. Lalu apakah kita yang bukan pecandu tak boleh berupaya menyembuhkan si pecandu, karena tak sesuai HAM, dengan alasan itu sudah merupakan pilihan hidupnya???
Ibarat bayi yang terlahir bibirnya sumbing, apakah lalu sebagai orang tua kita harus membiarkan saja bayi kita tersebut karena alasan sudah takdir terlahir begitu??? Tentu tidak! Sebaliknya kita harus terus berupaya memperbaikinya.
Rancangan Hasil Final
Kalau kita orang media sudah sepakat bahwa kita akan menggalakkan upaya mencegah anak-anak kita, keluarga kita, dan masyarakat kita supaya jangan menjadi "gay" atau "lesbian", selain itu bagi saudara-saudara kita yang sudah terlanjur menjadi homoseksual bisa oleh kita dibangkitkan motivasinya dan dikobarkan semangatnya untuk menjadi heteroseksual, maka seyogyanya ulasan-ulasan mengenai kasus Ryan si Penjagal dari Jombang ini dirancang sedemikian rupa agar hasil akhirnya ke arah dampak positif bagi masyarakat sebagaimana yang kita kehendaki bersama.
Lalu kenapa kita harus repot-repot melakukan ini? Apakah betul tudingan kaum homoseks bahwa kaum heteroseks ini sangat tak adil? Saya melihatnya begini, kalau seluruh orang di dunia ini hidup ber-homoseks-ria pastilah tak lama kemudian species manusia akan semakin berkurang dan bahkan bisa punah seperti punahnya dinosaurus. Jangan berpikir bahwa bayi tabung merupakan solusi bagi pengembangbiakan manusia, karena probabilita suksesnya proses bayi tabung jauh-jauh-jauh lebih kecil daripada cara-cara natural. Nah, baru terbuka mata, bahwa ternyata perilaku menyimpang ini bisa berakibat lebih parah bagi species umat manusia daripada meledaknya sebuah bom nuklir. (arm)
Sejak minggu lalu media-media kita tengah ramai meng-expose kasus "Penjagal dari Jombang (Ryan)" dan bahkan menurut AC Nielsen rating pemirsa siaran berita di beberapa stasiun televisi (dan rasanya juga jumlah pendengar di beberapa stasiun radio) meningkat dikarenakan oleh ulasan tentang kasus ini. Pada bulan April tahun 2006 saya telah menulis di broadcastsukses dengan judul "Tsunami Pemberitaan", dan ternyata kegemaran para televisiwan dan radiowan masih tetap sama dengan dua tahun yang lalu. Harian Kompas pun memberitakan dan mengulas pula topik ini, tetapi caranya tidak seperti media televisi dan radio yang kebetulan saya tonton dan saya dengarkan. Harian Kompas mempunyai hasil pesan final yang jelas dalam tulisannya.
Hasil Monitoring Ulasan
Saya memonitor dua stasiun TV dan dua stasiun radio yang kebetulan mengulas topik Ryan melalui talk-show (ada pula yang menampilkan dalam bentuk editorial). Kesan saya, tidak satupun dari media tersebut berhasil memberikan suatu nilai tambah bagi audience-nya. Mereka semua hanya meng-ekspose "unsur seru-nya" saja, persis seperti obrolan iseng supir-supir bis di terminal. Tidak ada pesan positif yang betul-betul bisa dipahami pada akhir siaran acara tersebut. Bahkan lebih parah lagi malah final-response yang tercipta adalah "kegalauan", antara lain: ada yang kesannya mendiskreditkan kaum homoseks, ada juga kesannya biarkanlah homoseks berkembang luas karena itu pilihan hidup mereka, ada juga terkesan kekejaman terkait dengan orientasi seksual. Menurut saya semua itu menunjukkan bahwa para pekerja pemberitaan di televisi dan radio yang saya monitor, benar-benar tak menguasai (mungkin tahu tapi tidak melakukannya karena terbuai sisi sensasional materi berita). Tiga hal yang paling pokok dari tanggung jawab media, dalam operasionalnya, yaitu: (1) Menciptakan respons positif yang membawa kemajuan dan kebaikan bagi tatanan masyarakat, (2) Mengetahui materi lebih mendalam sebelum diangkat ke siaran, dan (3) Mengkalkulasi prakiraan dalam membuat rancangan suatu siaran bagaimana dampak positif/negatifnya terhadap masyarakat, sebelum penyiaran materi dilakukan.
Penjelasan
Saya ambil saja contoh, stasiun radio sebuah jaringan radio terkemuka di Jakarta, pada siaran jam 7.00 malam tgl 1 Agustus 2008 menampilkan acara diskusi radio, dengan tamu seorang homoseksual pria (gay) dan seorang psikolog. Hasil pesan final terkesan kira-kira sebagai berikut, "Hai masyarakat, homoseks adalah suatu pilihan-hidup, bukan penyakit, tidak menular. Jadi terimalah dengan besar hati. Kalau anak anda dan cucu anda menjadi "gay", biarkanlah mereka dengan perilakunya itu, sebagai preferensi mereka."
Hasil pesan final ini jelas salah. Seorang yang homoseksual pun dalam batinnya tak menginginkan anak atau cucunya menjadi seorang gay/lesbian. Mereka tahu betul bahwa perilaku seks mereka memang menyimpang, tetapi mereka suka alias doyan. "Abis enak sih", kata seorang teman saya, pria, yang dulunya heteroseksual kemudian setelah menjadi seorang penari kini "tertular" menjadi seorang homoseksual. Memang betul homoseksual bukanlah sebuah penyakit yang menurut istilah medis biasanya disebabkan oleh bakteri/kuman, jamur, virus sejenisnya dan memang ini biasanya bisa menular akibat perpindahan si penyebab-sakit (penyakit). Di sini manipulasi persepsi terjadi! Seorang pecandu narkoba, bukanlah tergolong orang penyakitan seperti itu, namun tetap harus sembuh dan disembuhkan, bukan?
Penelitian Mutakhir
Kaum homoseks suka mencari-cari alasan pembenaran untuk perilakunya, padahal alasan sesungguhnya adalah mereka sudah senang dengan keadaan ini (comfort zone) alias sudah keenakan, sehingga tidak punya keinginan lagi untuk berubah. Kalaupun ada pihak-pihak yang berusaha menasihati untuk keluar dari comfort zone, kelompok homoseksual langsung akan menuding, "Lihatlah dunia heteroseks yang tak toleran dengan kelompok yang berbeda". Mereka lalu ada yang menunjukan bahwa "gen (chromosome)" dalam sel tubuh merekalah yang membuat mereka menjadi homoseksual, dan itu bukan atas kehendak mereka alias takdir.
Dalam buku berjudul "My Genes Made Me Do It" (1999), peneliti Dr. Neil Whitehead menemukan bahwa memang betul ada kaum homoseks hasil bawaan dari lahir dengan ditandai struktur chromosome yang berbeda dengan kaum heteroseks, tetapi gen/chromosome itu bisa juga terbentuk akibat aktivitas fisik. Artinya walau kita heteroseksual tetapi mencoba-coba melakukan/mengalami perbuatan homoseksual dan itu terjadi berulang-ulang, maka lama kelamaan struktur chromosome sel kita akan berubah menjadi struktur chromosome seorang yang homoseks, begitu pula sebaliknya. Disini terbukti struktur gen merupakan akibat dan bukan sebab. Juga bahwa soal struktur gen/chromosome pun bukanlah takdir karena bisa berubah, yang terpenting adalah kemauan si gay untuk merubah dirinya. (lihat: www.mygenes.co.nz).
Tentu saja secara sosial, masyarakat tak boleh melecehkan kaum homoseksual namun sebaliknya juga kalau masyarakat tidak memperoleh informasi secara benar mereka akan berpendapat bahwa menjadi gay bukanlah sebuah perilaku yang harus dirubah (disembuhkan), gay adalah takdir, atau pilihan yang wajar sesuai HAM.
Ibarat pecandu narkoba, yang apabila sedang kecanduan sudah pasti tak ada keinginan berubah, ketambahan lagi, bukankah mengkonsumsi narkoba adalah pilihan sendiri, bagi diri sendiri, dengan kerugian-pun ada pada diri sendiri. Lalu apakah kita yang bukan pecandu tak boleh berupaya menyembuhkan si pecandu, karena tak sesuai HAM, dengan alasan itu sudah merupakan pilihan hidupnya???
Ibarat bayi yang terlahir bibirnya sumbing, apakah lalu sebagai orang tua kita harus membiarkan saja bayi kita tersebut karena alasan sudah takdir terlahir begitu??? Tentu tidak! Sebaliknya kita harus terus berupaya memperbaikinya.
Rancangan Hasil Final
Kalau kita orang media sudah sepakat bahwa kita akan menggalakkan upaya mencegah anak-anak kita, keluarga kita, dan masyarakat kita supaya jangan menjadi "gay" atau "lesbian", selain itu bagi saudara-saudara kita yang sudah terlanjur menjadi homoseksual bisa oleh kita dibangkitkan motivasinya dan dikobarkan semangatnya untuk menjadi heteroseksual, maka seyogyanya ulasan-ulasan mengenai kasus Ryan si Penjagal dari Jombang ini dirancang sedemikian rupa agar hasil akhirnya ke arah dampak positif bagi masyarakat sebagaimana yang kita kehendaki bersama.
Lalu kenapa kita harus repot-repot melakukan ini? Apakah betul tudingan kaum homoseks bahwa kaum heteroseks ini sangat tak adil? Saya melihatnya begini, kalau seluruh orang di dunia ini hidup ber-homoseks-ria pastilah tak lama kemudian species manusia akan semakin berkurang dan bahkan bisa punah seperti punahnya dinosaurus. Jangan berpikir bahwa bayi tabung merupakan solusi bagi pengembangbiakan manusia, karena probabilita suksesnya proses bayi tabung jauh-jauh-jauh lebih kecil daripada cara-cara natural. Nah, baru terbuka mata, bahwa ternyata perilaku menyimpang ini bisa berakibat lebih parah bagi species umat manusia daripada meledaknya sebuah bom nuklir. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar