21 September 2008

Gaya Wawancara Penyiar Berita TV Swasta

oleh Andy Rustam

Ibu saya tahu betul bahwa sejak tahun 1989 saya sudah sering menjadi pelatih penyiar. Makanya kemarin dia bertanya kepada saya, kenapa penyiar-penyiar siaran berita sekarang ini di semua televisi Indonesia (kecuali TVRI) kalau sedang mewawancarai tamu, cara bertanyanya membuat penonton seperti dikejar-kejar (nggak tenang = bahasa belandanya, zeneuwachtig. Maklum ibu saya memang Indo-Belanda). Selain itu para penyiar pewawancara itu terkesan "sok mau terlihat pintar". Akibatnya kita, penonton TV, tidak nyaman mengikuti isi pembicaraan, malah terkadang penyiar-penyiar itu sering membuat penonton tv kesal dari cara bertanyanya . Lalu ibu menegur saya, "Kamu ngajarnya bagaimana sih? Coba kamu lihatlah televisi negara lain, penyiarnya enak sekali, cara bertanyanya sopan, tenang dan kelihatan tulus memantulkan rasa ingin tahu yang besar (encouraging)". Saya jawab, "Wah..itu bukan murid saya. Jangan-jangan mereka merasa sendiri dirinya sudah hebat, makanya nggak merasa perlu belajar lagi. Buat apa belajar? Dengan gaya siaran begini saja saya sudah terkenal dan tiap malam selalu muncul dilayar kaca, kok? Bosnya aja malah bangga dengan dia".

Gaya Wawancara Penyiar Berita TV Swasta Indonesia

Silahkan anda bandingkan sendiri gaya wawancara penyiar berita televisi swasta Indonesia dengan penyiar berita televisi negara lain (misal: antara penyiar Metro TV dengan Al Jazeera, atau TV One/Lativi/Antv dengan Fox TV, atau RCTI/Sindo/SCTV dgn CNN atau dengan BBC maupun TV Asia lainnya). Sudahkah anda bandingkan? Kalau melihat dari gaya pakaian, hair style, make-up, wajah, set dekor, bahkan dari sisi teknologi dan effect... sudah pasti nggak kalah. Tetapi begitu dilihat dari sisi cara bicara, warna suara, cara bertanya, pronounciation, susunan kalimat, gesture, dsb... dibandingkan dengan penyiar TV negara lain... masih jauuuuuh banget.

Justru dalam hal "teknik" ini penyiar TVRI malah lebih baik. Jadi singkatnya, penyiar berita televisi swasta Indonesia sudah sangat cukuplah dalam soal penampilan, tetapi di sisi teknik masih sangat lemah. Namun begitu kelihatannya mereka sudah puas. Terbukti tidak pernah ada perbaikan dari hari ke hari sama. Makanya tidak ada kemajuan yang berarti dalam dunia televisi swasta sejak kelahirannya, terutama dari sisi produksi siaran.

Etika dan Teknik Berwawancara

Perhatian buat para penyiar berita/news producer televisi swasta Indonesia. Pertama kali yang harus disadari oleh para penyiar/pewawancara bahwa si tamu yang telah dihubunginya atau bahkan datang ke studio untuk diwawancarai, sudah bersedia meluangkan waktu demi kepentingan si pewawancara/media/stasiun itu. Artinya, ia yang telah diminta kesediaannya oleh pewawancara guna melengkapi informasi yang mungkin hanya baru sebahagian saja dimiliki oleh si pewawancara, dan untuk itu si tamu menyatakan kesediaannya diwawancarai guna melengkapi info yang dibutuhkan. Oleh karena itulah, pewawancara harus menghargainya, bersikap sopan kepadanya, dan tak boleh meremehkan!

Tapi apa yang tercermin/terlihat pada semua penyiar berita televisi swasta pada umumnya dewasa ini dalam meng-interview narasumbernya? TIDAK ADA RESPEK! Contoh untuk hal ini bisa anda saksikan setiap hari terutama di TV One. Disini pewawancara bertanya kepada si tamu, tetapi ketika si tamu baru mulai menjawab (dan pemirsa sedang mulai menyimak jawaban si tamu agar memahami persoalan) eh, tahu-tahu sudah dipotong oleh si pewawancara (yang notabene justru yang bertanya), sehingga penjelasan tak tuntas (pemirsapun kesal dengan ulah si pewawancara ini). Lucunya, bagian pemberitaannya justru merasa hebat dengan ulah bertanya seperti ini, sementara bagaimana pemirsa tak menjadi soal bagi mereka. Dari penilaian saya, TVRI yang paling baik dalam cara bertanya, dilanjutkan dengan Metro TV (walau belum sebaik cara bertanyanya TVRI).

Adakalanya memang si tamu tak mengeluarkan jawaban yang berisi informasi yang ingin di ketahui oleh si pewawancara. Kemungkinan besar ada dua penyebabnya: 1) Cara anda bertanya tidak bagus, sehingga ia tak mengerti maksudnya atau 2) Memang ia tidak ingin menjawab karena faktor-faktor tertentu. Kalau ini terjadi maka metode tekniknya bukanlah menginterogasi atau memojokkan atau bahkan mengolok-olokan narasumber/tamu kita, melainkan secara profesional anda bisa melakukan dua hal, tergantung apa masalahnya: 1) Ulangi dan perbaiki pertanyaan anda dengan susunan kalimat yang lebih sistematis sehingga jelas apa sebenarnya yang ingin anda ketahui dari si narasumber. 2) Buatlah pertanyaan tak langsung, yang dari jawabannya nanti secara tak langsung pula bisa ditarik kesimpulan yang akhirnya menjawab informasi yang anda butuhkan, tanpa si tamu harus mengatakannya secara langsung. Tentu saja teknik ini memerlukan tingkat kreatifitas dan tingkat kematangan tertentu.

Pikirkan Kalimat Tanya Anda dengan Benar

Pada beberapa waktu yang lalu, penyiar berita sebuah stasiun TV mengundang salah seorang Ketua Komisi di DPR. Penyiar (wanita) kemudian mewawancarainya dengan melontarkan pertanyaan dengan cara bertanya yang sangat menyebalkan, (saya yakin dengan cara penyiar ini berwawancara, bisa-bisa menyebabkan penonton untuk pindah channel), kira-kira berbunyi sebagai berikut, "Ah masa' Bapak selaku Ketua Komisi tak bisa meminta tandatangan dari 18 anggotanya? Cuma 18 orang lho Pak! Itu kan mudah sekali... kenapa kok sih begitu sulitnya?"

Ini cara bertanya yang sangat dilarang dalam teknik berwawancara kalau anda belajar di sekolah-sekolah broadcasting di luar negeri khususnya News, baik untuk standar pemberitaan gaya Inggris (British News Style) maupun gaya Amerika. Makanya gaya bertanya seperti tidak akan pernah keluar dari seorang penyiar CNN, Al Jazeera, BBC, atau TV-TV kelas dunia lain. Tapi untuk televisi kelas Indonesia gaya penyiar seperti ini justru dianggap sebagai suatu yang hebat.

Cara bertanya mereka seperti contoh di atas sangat meremehkan si tamu dan menunjukkan arogansi bahkan bernada tendensius. Masalahnya, penyiar TV kita itu cenderung mau memberi kesan tampil pintar dengan cara begitu. Padahal bukannya kekaguman yang didapat, tetapi kesebalan penonton melihat penyiar yang sok pintar.

Perlu diketahui: banyak penonton TV tidak tahu, bahwa penyiar yang anda lihat di layar kaca itu seolah-olah pintar melontarkan pertanyaan. Tapi itu sebenarnya karena dibantu oleh talk-back monitor yang terpasang ditelinganya, dimana melalui alat itu dia mendapat "bisikan" dari News Director/News Team lainnya tentang apa-apa yang harus ditanyakan. Jadi kelihatannya si penyiar yang pintar padahal pertanyaan-pertanyaan itu bukan keluar dari otaknya sendiri.

Coba sadari lagi, wahai penyiar, bukankah Anda yang memerlukan informasi, dan Anda pula yang mengundang si tamu, dan si tamu sudah bersedia meluangkan waktu untuk Anda. Lalu pantaskah Anda remehkan dia? Kalau saya jadi si tamu stasiun TV tersebut pada sore itu, langsung akan saya tinggalkan si penyiar. Kita saja tahu bahwa, betapa susahnya minta tandatangan satu orang lurah untuk urusan KTP kita, apalagi 18 orang anggota DPR.

Seharusnya si penyiar bisa lebih sopan dan tak terkesan sombong serta meremehkan, dengan menggunakan teknik/cara bertanya seperti ini, "Bisakah Bapak selaku Ketua Komisi menjelaskan kepada kami, bagaimana prosesnya, karena kelihatannya cukup sulit bagi Bapak untuk bisa mengumpulkan 18 tandatangan anggota?" Dengan kalimat bertanya seperti ini, si tamu dirangsang untuk bercerita/menjelaskan, sehingga apa penyebab macetnya pengumpulan tandatangan 18 anggota dapat diketahui oleh para penonton di rumah.

Bukankah teknik bertanya seperti itu jauh lebih simpatik, lebih tenang bagi penonton/tidak terasa dikejar-kejar, tidak ngeselin, tidak memojokkan, sehingga bagi penonton TV, penjelasan/pesan itu akan masuk ke benak mereka dengan cukup jelas dan pasti akan menghasilkan pemahaman yang berdampak positif. Masih banyak sekali teknik-teknik wawancara lainnya yang bisa dipelajari. Sekarang tinggal soal mau memperbaiki diri atau tidak, atau sudah merasa diri hebat?! (arm)

2 komentar:

ary bangli mengatakan...

pak andy, saya juga sering merasa jengkel ama presenter tv nasional yang berlabel news itu. kayaknya mereka paling mengetahui persoalan dan gampang sekali menilai...
kadang saya juga merasa narasumber datang kesitu hanya untuk 'dibantai' oleh pewawancara yang kadang hanya tahu dari baca internet.
[masih untung, nara sumber masih berbaik hati hingga tidak 'menjatuhkan' mereka saat diudara, saya masih ingat saat , suatu di sebuah siaran televisi seorang narasumber balik 'membantai ' hingga pewawancara gelagapan....]
mungkin itu juga yang meyebabkan narasumber jadi kadang kurang bervariasi. yang datang cuma itu - itu saja.
[wah kalo si narsum langganan, si presenter tampak akrab lalu berbicara sambil 'tembak' sana - 'tembak sini', seolah tanpa dosa menilai berbagai kebijakan yang dianggap mereka salah]
mereka, menurut saya, tidak mengetahui hakekat wawancara yang itu adalah tanya - jawab, dan bukannya berdebat....
ary - pekerja radio di solo
http://cahradio.multiply.com

Anonim mengatakan...

Terima kasih Ary di Solo atas komentarnya.

Betul sekali, bahwa sebenarnya kalau penyiar-penyiar TV tersebut ingin “berdebat dengan narasumber”, buatlah acara tersendiri yang memang dirancang khusus dan disiarkan pada waktu khusus pula (seperti acara Crossfire di CNN atau Firing Line di PBS).

Walaupun begitu perlu diingat juga oleh para penyiar itu, bahwa dalam acara debat sekalipun tetap harus terjaga etika dan tingkat kesopanan, mengingat adanya faktor publik (penonton/pendengar). Cerminan dari etika dan kesopanan itu ada pada “penyusunan kalimat dan penggunaan kata” oleh si penyiar disertai pula kecepatan, irama (pace), intonasi serta timing-nya dalam pengucapan kata/kalimat tersebut. Biasanya justru keterampilan ini yang masih terasa sulit bagi mereka.

Salam,
Andy Rustam