02 September 2008

Di Radio: Dulu Surat Sekarang SMS

oleh Andy Rustam

Jaman dulu di tahun-tahun akhir 60-an dan 70-an, para penyiar radio amatir, (pen: istilah jadul untuk radio siaran swasta adalah radio amatir, sebuah istilah salah kaprah yang diberikan oleh masyarakat), kalau sedang siaran isinya cuma membacakan surat atau kartu pos dari pendengar. Kalau ada 2 atau lebih orang yang duduk bersama penyiar yang siaran, maka biasanya orang-orang itu ikut ngobrol-ngobrol bersama di udara mengomentari surat yang sedang dibacakan atau bahkan ikut membacakan surat. Ikut tertawa bersama di studio (sementara pendengar sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka tertawa), kalau sudah capek (lelah) karena ngomong dan ketawa melulu, barulah sebuah lagu dipasang. Kalau tukang pos datang, semua pada berhamburan menyambut. Rasanya bangga dan senang sekali kalau banyak yang mengirim surat atau kartu pos. Kebanyakan surat sih isinya hanya meminta lagu untuk diputarkan, biasanya untuk didengar sendiri oleh si penulis surat atau untuk dikirimkan ke pacar maupun teman-temannya.

Kini Tahun 2008

Nah, coba anda yang sekarang sedang menjadi penyiar radio, membandingkan cerita saya yang terjadi pada kira-kira 30 tahun yang lalu. Anda yang biasa menggeser-geser frekuensi radio, juga boleh membandingkan cerita saya di jaman "radio amatir" tadi dengan siaran radio-radio swasta jaman sekarang. Ternyata... nggak beda-beda amat.

Hampir di semua radio siaran swasta sekarang ini ada acara (kalau tidak di semua acara) yang isinya membacakan sms. Kata-kata penyiarnya selalu, "Silahkan kirim pendapat Anda atau komentar melalui sms ke nomer sekian-sekian". Begitu juga di semua radio siaran swasta, banyak acara yang diisi oleh penyiar berdua atau bertiga yang mengobrol dan tertawa-tawa, bahkan terkadang terlalu berisik karena masing-masing berbicara saling menimpa sebelum yang lain menyelesaikan kalimatnya, sampai-sampai pendengar sulit memahami apa yang dikatakan.

Tak Tahu Musti Bicara Apa

Kelemahan terbesar dari kebanyakan penyiar-penyiar kita adalah; kalau tidak ada partner, atau kalau tidak ada sms atau tidak ada surat (bagi penyiar angkatan jadul) umumnya mereka tidak tahu harus bicara apa. Biasanya sekedar "cuap" sih semua bisa, tapi omongan bisa jadi ngelantur kemana-mana nggak jelas atau malah otaknya blank (au..ah..gelap!) sehingga nanti kalau udah mulai gagu atau gagap, barulah sebuah lagu dipasang.

Itu sebabnya banyak pula penyiar radio yang membolak-balik majalah atau koran ketika sedang siaran, lalu membacakan berita dari koran/majalah itu kepada pendengar (asumsinya pasti naif: ... pendengar radio itu kebanyakan tidak sempat baca koran atau majalah). Yang seperti ini juga sama terjadi pada penyiar-penyiar radio jadul dan juga penyiar-penyiar radio jarang (jaman sekarang). Bedanya hanya ada ketambahan buka-buka internet/website dan mengudarakan percakapan handphone.

Naif-nya Bagian Sales dan Pemasang Iklan

Dulu ketika saya masih jadi account executive/salesman radio (tahun 1977), sering saya berkunjung ke Advertising Agency menemui Media Manager. Setiap kali saya menawarkan untuk memasang iklan di salah satu acara radio kami itu, pertanyaannya selalu sama, "berapa banyak SURAT yang masuk di acara itu?". Lucunya, kebanyakan salesman radio selalu menjawab dengan menyebutkan jumlah tertentu (seringnya dilebih-lebihkan!). Nah, silahkan bandingkan pula dengan salesman radio jaman sekarang dan juga Media Manager dari Advertising Agency-nya. Perbedaannya sekarang cuma satu kata pada pertanyaannya, "berapa banyak SMS yang masuk di acara itu?".

Maka jumlah surat (jadul) dan jumlah sms (jaman sekarang) menjadi tolok ukur jumlah/banyaknya pendengar radio itu. Cara berpikir dengan asumsi yang "sederhana" ini ternyata tidak berubah walau sudah 30 tahun!! Asumsinya: Kalau sms-nya sedikit, berarti pendengar acara radio ini sedikit. Tetap sama!!! baik pada pihak salesman radio maupun pada pihak Media Manager Advertising Agency dan juga para client-nya.

Surat Pembaca dan SMS

Saya sering tak habis pikir mengapa pandangan seperti ini terjadinya justru di media radio? Padahal mereka-mereka 'kan bisa secara logika menganalogikannya dengan rubrik "surat pembaca" di Koran/Majalah?

Seperti kita semua ketahui, jumlah surat kepada redaksi (surat pembaca) di surat-kabar setiap harinya tidaklah selalu sama banyaknya. Tetapi bukankah tidak ada satu Media Manager atau Account Executive-pun yang mempunyai anggapan bahwa, kalau jumlah surat pembacanya lagi sedikit itu berarti jumlah pembaca surat kabar tersebut menurun atau oplag surat kabarnya menciut. Tidak ada yang berpikir seperti itu, bukan ?? Cara pikir mereka sangat benar untuk surat-kabar dan majalah, bahwa tidak ada hubungan langsung antara jumlah surat yang dilayangkan ke meja redaksi dengan jumlah pembaca koran itu.

Yang bikin saya tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa menggunakan cara berpikir yang sama untuk radio siaran, bahwa tidak ada hubungan langsung antara jumlah sms yang dilayangkan kepada penyiar di suatu acara radio dengan jumlah pendengar radio itu. Kok susah bener sih?! (arm)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah, artikel Oom Andy ini selalu menggelitik.
Saya sependapat dengan apa yang Oom tulis bahwa jumlah sms atau penelpon tidak bisa dijadikan ukuran banyak tidaknya pendengar acara yang sedang ditayangkan, seperti juga halnya surat kabar dengan surat pembacanya yang tidak bisa dijadikan patokan banyak tidaknya pembacanya.
Cuma masalahnya, bagaimana cara mengetahui atau mengukur berhasil tidaknya sebuah program ?
Maksudnya, adakah metode yang "paling sederhana" - kalau memang ada-, untuk mengukur sukses tidaknya suatu program, terlebih lagi di kota di mana badan survey semacam AC Nielsen tidak melakukan survey ?
Memang sangatlah tidak fair menilai berhasil tidaknya suatu program radio hanya dari jumlah penelpon atu sms yang masuk. Tapi sepertinya itu cara yang termudah dan termurah, walaupun tidak terakurat (bahkan bisa sangat tidak akurat sama sekali).
Kayaknya, saya (atau kita) perlu bertanya dan semakin banyak belajar dari "Suhu'nya langsung nih ....
Bagaimana menurut Suhu...eh...Oom Andy ?

Anonim mengatakan...

Hallo Zoel,

Memang tidak ada cara untuk mengetahui berapa pendengar Radio (atau bisa juga acara) kita, selain cara survey. Tetapi metode survey-nya mau tidak mau harus memakai metode survey yang sah atau diakui benar secara ilmu statistik. Karena kalau metodenya tidak sah maka hasilnya juga tak bisa dipertanggungjawabkan. Cara survey yang paling mudah dan murah tetapi diakui keabsahannya adalah dengan methode survey yang lazim untuk survey pemasaran: random sampling, menggunakan rumus:
n = N / (1 + N e^2)
dimana n=jumlah; N=jumlah populasi; dan e=error.

Sulit saya menjelaskan disini secara lengkap, karena detilnya banyak sekali sehingga lebih baik kalau dikerjakan bersama-sama. Tetapi untuk bisa mengerti, saya coba jelaskan sejelas mungkin di sini, yang penting pokok prinsipnya ada 4 langkah:

a. Kalau populasi Target Audience (TA) sudah diketahui, ini artinya "N". Maka tetapkanlah tingkat kesalahan error "e" yang anda inginkan dalam batasan yang diperkenankan secara ilmu, biasanya nilai antara 3% - 6%. Setelah dihitung dgn rumus itu, maka tahulah berapa jumlah responden "n" yang dibutuhkan.

b. Perkirakan berapa banyak dari responden akan menjawab. Kalau 50% yang akan menjawab, maka pertanyaan (survey form) harus disebarkan kepada "2 kali n".

c. Dari jawaban yang masuk, misal 13% menjawab "ya". Maka harus dicari lagi, dgn menggunakan rumus diatas, berapakah standard error-nya "se". Tujuannya adalah utk mengetahui nilai varian dari jawaban "ya", yang biasa disebut dengan Confidence Interval (CI). Utk CI 95% mempunyai nilai koefisien +1.96 yang biasa disebut Z Score. (Untuk CI 90% nilai koefisiennya lebih kecil lagi).

d. Setelah dihitung maka bisa diketahui berapa persen-kah minimal yang menjawab "ya" dan berapa persen-kah maksimalnya. Artinya yang bisa disimpulkan adalah bahwa angka persentase itu bisa diperhitungkan dengan jumlah populasi untuk menjadi nilai absolut jumlah pendengar minimal dan maksimal. Kalau kemudian dipertanyakan: Berapa besar kebenaran angka ini? 95% benar! (karena CI yang dipilih adalah 95%).

Mudah-mudahan penjelasan singkat ini cukup jelas ya.

Salam,
Andy Rustam

ary bangli mengatakan...

pak andy selama ini saya berpikir bagaimana menambah jumlah pendengar. sebab, terkadang pengirim sms yang masuk ke suatu acara hanya itu - itu saja. bahkan, satu nomor untuk lebih dari satu nama. atau pake banyak nomor dan banyak nama.
selama ini, sms dan telephone memang jadi salah tolak ukur [yang lain belum tahu kali ya..]untuk mengetahui respon pendengar.
pendengar pasiv yang tidak telphone atau sms gak bisa terlacak.
oh ya pak andy, biasanya rumusan seperti yang disampaikan tersebut dilakukan via telephone / telepolling atau melalui kuisener ya ?

Anonim mengatakan...

Hallo Ariyanto,

Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan pertama mengenai survey, ya betul penyebaran kuesioner dengan formulir disebar merata lokasinya secara acak kepada sample yang tepat (sesuai target audience radio anda).

Pertanyaan kedua. Kalau boleh saya simpulkan bahwa anda ingin tahu bagaimana caranya agar sms yang datang bukan dari orang yang itu-itu saja, bukan? Asumsi yang kita ambil disini bahwa pendengar kita cukup banyak, misal ada 50.000 orang, tetapi yang mengirimkan sms selalu hanya "sekitar 4 orang yang itu-itu" saja. Lalu bagaimana caranya supaya lebih banyak yang mau mengirim sms? Begitu kira-kira maksud pertanyaan anda.
Jawab: Kalau memang pendengarnya sudah banyak, maka cara supaya lebih banyak orang yang mau aktif mengirim sms adalah dengan memperkuat dorongan motivasi untuk mengirim. Untuk memperkuat dorongan motivasi, yang paling umum dilakukan adalah dengan memberi hadiah. Ini cara gampangan orang tak kreatif yang akibatnya makan ongkos. Mirip seperti menghadiahi permen kepada anak kecil supaya ia berhenti menangis. Kalau permen habis si anak menangis minta lagi. Cara lain yang lebih kreatif adalah dengan "menantang" pendengar. Misal kalau segmen radio anda adalah wanita, maka anda penyiar bisa berkata bahwa, "menurut saya Nicholas Saputra lebih keren dari Tora Sudiro. Silahkan anda setuju atau tidak, kirim sms dengan menyertakan alasan anda". Kalau segmen radio atau pendengar radio anda kebanyakan pria bisa anda "tantang" dengan, "Menurut saya Dian Sastro lebih cantik dari Sandra Dewi... dst." Silahkan anda coba resep ini di siaran anda, saya jamin akan lebih banyak sms yang masuk.

Salam,
Andy Rustam