14 September 2008

Mantra Ajaib Bernama Terobosan; Inovasi; Perubahan

oleh Andy Rustam

Coba anda hitung berapa kali sehari anda mendengar kata-kata mantra ajaib yang menjadi judul di atas? Berapa banyak ahli ceramah/motivator/pakar yang sering mengutipnya, mengambil contoh sederet orang terkenal seperti Bill Gates, Jack Welsch, Morita, dsb., mencocokkan dengan teori-teori baru dari buku-buku yang telah dibacanya, kemudian menceramahkannya kepada kita semua melalui seminar yang kita biayai? Saya sendiri tak menghitungnya, tetapi yang jelas, kalau anda setiap hari mau mencari pada koran/majalah yang anda baca, pasti anda akan bertemu dengan kata terobosan; inovasi; perubahan. Fenomena bibit mantra ini memang sudah marak sejak 10 tahun yang lalu di awal reformasi. Masalahnya buat kita, mengapa hasilnya tak terasa...?

Siaran televisi kita tetap jauh mutunya dibanding standar siaran televisi tingkat ASEAN, cara siaran radio kita hanya bergeser sedikit lebih baik dari cara-cara siaran jaman radio "amatir" tahun '60 - '70-an. Bahkan cara berbisnis para pebisnis kita cenderung semakin "merusak", dan karakter masyarakat pun cenderung semakin egois, tak peduli. Kalau jaman orba sikap yang berkembang mentang-mentang pejabat, sekarang di jaman reformasi bertambah dengan sikap: mentang-mentang "orang kecil" harap dimaklumi kalaupun melanggar hukum.

Terobosan PSSI

Alkisah, seorang yang doyan memimpin PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), Nurdin Halid, berhasil mendapat persetujuan dari seorang bandar uang pengusaha kondang Nirwan Bakrie untuk membiayai kontrak kerja bagi Guus Hiddink yang akan menjadi pelatih PSSI selama tiga tahun. Guus Hiddink pun tertarik untuk melatih PSSI karena bayarannya 3x lebih besar dari kontraknya ketika melatih timnas sepakbola Russia, atau 5x lebih besar dari kontraknya ketika menangani timnas Australia, atau 10x lebih besar dari kontraknya ketika sukses menjadi pelatih timnas Korea Selatan.

Masyarakat Indonesia gembira sekali melihat "terobosan" PSSI ini, yang merupakan sebuah "inovasi", sebagai suatu wujud konkrit "perubahan", mengingat selama ini PSSI selalu hanya menggunakan "cara lama" yaitu membawa anak asuhan berikut pengurusnya ke manca negara untuk berlatih. Secara logika, sebagaimana track record suksesnya, Guus Hiddink pasti akan berhasil pula mendudukan PSSI sebagai kesebelasan yang setidak-tidaknya masuk dalam babak seperempat final Piala Dunia.

Pengandai-andaian ini saya ceritakan pada teman-teman di kantor. Tapi anehnya, dari 9 orang penggila bola di kantor saya, 8 orang sangat yakin mengatakan bahwa terobosan itu tidak akan berhasil mengangkat timnas PSSI berbicara ditingkat dunia, dan hanya 1 orang yang mengatakan tidak tahu. Malah mereka mengatakan bahwa terobosan seperti itu hanya akan membuang-buang uang saja. Waktu saya tanya kenapa begitu? "Ini Guus Hiddink lho", kata saya meyakinkan. Jawaban mereka, "Soalnya... bukan Guuss Hiddink-nya... tapi PSSI-nya...!!!"

Perlu Prasyarat

Pelajaran apa yang bisa kita simpulkan dari contoh terobosan diatas? Bahwa sebuah terobosan; sebuah inovasi; sebuah perubahan, semuanya itu memerlukan prasyarat kalau ingin setelah diimplementasikan nanti bisa sukses, yaitu:

  1. Sebelum berpikir tentang terobosan, pembaharuan, dan perubahan, maka yang harus dipastikan lebih dulu, apakah cara kerja dalam keadaan normal (tanpa terobosan) sudah berjalan baik dan benar sebagaimana seharusnya ataukah kita sendiri bahkan belum tahu yang baik dan benar itu yang bagaimana? Kalau yang "basic" ini saja belum benar, maka ini yang harus dimantapkan dulu, sebelum mulai berpikir melakukan terobosan, inovasi, dan perubahan. Perkuat dulu cara bekerja/berproduksi dengan benar, ciptakan sistem standar, sebelum melakukan pembaharuan-pembaharuan. Karena setiap perubahan mengandung risiko, yang terkadang bisa berakibat fatal.
  2. Keinginan/motivasi/semangat untuk melakukan perubahan, inovasi, dan terobosan, harus merasuki setiap jiwa orang yang terlibat didalamnya. Kalau "semangat" ini hanya baru berada pada tingkat pimpinan saja, maka tugas pertama pimpinan adalah menularkan semangat perubahan ini secara merata kepada seluruh karyawan terlebih dahulu. Para orang yang terlibat harus percaya akan perubahan ini, percaya pula kepada lembaganya, percaya kepada jajaran pimpinannya dan percaya pula akan harapan hasilnya.
  3. Perubahan adalah keniscayaan. Tetapi tidak berarti semua perubahan harus merupakan terobosan bersifat segera. Perubahan bisa juga dilakukan dalam tahapan, bahkan beberapa bidang usaha justru menuntut pembaharuan yang terus menerus namun skalanya dilakukan kecil-kecil, agar pasar (existing market) tidak terlalu terkejut yang dapat berbuntut bubarnya loyalitas pasar. Pertimbangan dan pikirkan cara yang paling tepat (sesuai dengan situasi bisnis anda) untuk berubah dan melakukan inovasi, dan jangan sekedar berubah karena ikut-ikutan. Jangan takut kalau anda dibilang sebagai kuno/jadul dsb. Anda hanya akan berubah kalau anda sudah memikirkan cara yang paling tepat. Bukankah anda yang harus menanggung risikonya?!
Contoh Gampangannya

Sekarang coba anda lihat di perusahaan tempat anda bekerja, apakah ada ketetapan perusahaan, tentang job description, kriteria, definisi, atau indikator pencapaian suatu kinerja karyawan? Misal, kalau salesman jelas punya target penjualan rata-rata Rp 10 juta perbulan. Kalau penjualan si salesman A rata-rata hanya Rp 5 juta perbulan jauh di bawah rata-rata salesman lainnya, artinya pencapaian kinerja dia hanya 50%. Tetapi bagaimana patokan pencapaian kerja seorang sekertaris, teknisi, office boy, penyiar, music director, bagian kreatif, bagian keuangan, supir, dsb. dsb.?

Kalau belum ada, maka inilah suatu "basic" yang harus ada terlebih dahulu. Karena tanpa ini, maka sulit bagi anda memotivasi semangat "perubahan" dan mengajak tim anda membuat "inovasi" serta "terobosan". Jadi, Terobosan; Inovasi; Perubahan memerlukan suasana kerja yang kondusif. Ibarat fenomena sebahagian masyarakat kita yang katanya modern tapi percaya ilmu gaib, maka "mantra itu perlu kemenyan". (arm)

Tidak ada komentar: