19 Oktober 2008

Bagaimana Kreatif

oleh Andy Rustam

Tidak ada kata lain yang paling dibutuhkan oleh kita yang bekerja di dunia broadcasting selain kata "kreatif". Karena audience tentu bosan kalau cara siaran atau acara yang kita udarakan begitu-begitu saja setiap harinya. Belum lagi kalau kita tidak kreatif tentu siaran kita tak akan ada bedanya dengan siaran stasiun pesaing kita. Apalagi kalau pesaing kita justru sangat kreatif, selalu tampil dengan hal-hal baru yang menarik bagi audience dan juga pemasang iklan, maka habislah sudah riwayat stasiun sumber periuk nasi istri dan anak kita. Masyarakat di luar stasiun kita berubah tapi kita yang menyelenggarakan siaran justru seperti katak dalam tempurung.

Ini sering terjadi pada para broadcaster di banyak stasiun. Saya yakin kalau anda perhatikan siaran radio di kota anda, barangkali ada radio yang sudah lebih dari sepuluh tahun cara siarannya (bahkan nama acaranya) tidak pernah ada perubahan sama sekali. Lucunya, buat si crew atau si pemilik stasiun, hal itu biasa-biasa saja bukan masalah dan apalagi pendengarnya malah tidak menurun kok, katanya lagi.

Tidak Melihat Masalah

Kreatif sebenarnya suatu proses berpikir untuk memecahkan masalah yang tentu saja tujuannya adalah memberi kepuasan kepada si pemikir itu sendiri ketika masalah terpecahkan. Solusi sebagai hasil akibat proses berpikir kreatif inilah yang apabila nantinya juga memberi manfaat dan nilai tambah bagi orang banyak, maka si pemikir akan disebut sebagai seorang yang kreatif.

Maka kata kuncinya adalah "melihat masalah".

Kebanyakan dari kita dalam bekerja sudah seperti robot, terjebak dalam rutinitas sehingga tak pernah bisa melihat masalah karena memang tak pernah berpikir kesana. Misalnya, anda seorang penyiar radio yang setiap hari siaran pada pukul 9.00 pagi. Maka setiap hari anda masuk ke ruang studio jam 8.55, lalu merapikan alat-alat dan tepat pukul 9 mulai menyapa pendengar, menyebut jam siaran tugas anda lalu memasang lagu. Begitulah yang dikerjakan setiap hari.

Apa ada masalah disini? Tentu saja tidak, karena anda sudah terjebak dalam rutinitas dan tidak berpikir untuk melihat masalah. Tetapi kalau anda mau berpikir, sesungguhnya ada masalah disini. Bisakah anda perhatikan lagi rutinitas anda itu? Berpikirlah! Sudahkah anda melihat masalahnya? OK... masalahnya adalah rutinitas anda dalam "kalimat" menyapa pendengar ketika membuka siaran. Sadarkah anda bahwa, kalimat pembukaan/opening yang anda ucapkan setiap hari itu sama persis sampai ke titik komanya. Makanya saya bilang tadi, persis seperti robot.

Jelas bukan? Bahwa anda menjadi tak kreatif karena anda tak mampu lagi melihat masalah disebabkan anda sudah tidak lagi mau berpikir akibat rutinitas. Pendengar yang disapa oleh "robot" setiap harinya tentunya akan merasa bosan dan kehilangan personal relationship dengan si penyiar. Suatu hal yang sangat merugikan baik bagi si penyiar maupun stasiunnya.

Kurang Waktu

Ada rekan kerja saya ketika dulu sama-sama di radio, namanya M. Setiap kali diberitahu oleh atasannya bahwa dia harus begini atau begitu supaya siarannya tidak membosankan setiap hari begitu-begitu saja, ia biasanya menjawab bahwa sebenarnya kalau "ada waktu" ia juga akan terpikir ke sana. Apa yang dikatakan M ini, walau cuma cenderung sebagai alasan saja atas kemalasannya sendiri, tetapi sebetulnya ada benarnya. Kalau ingin kreatif, menemukan hal-hal baru, anda harus meluangkan waktu, menyediakan waktu khusus untuk memperhatikan dan berpikir.

Contoh: Luangkan waktu, perhatikanlah sesuatu yang biasa dan rutin anda kerjakan, lalu pikirkan apakah ada masalah? Lalu luangkan lagi waktu, lihat, dan perhatikan lingkungan di sekitar masalah yang anda temui ketika anda berpikir tadi. Berangkat dari apa yang anda lihat, pikirkanlah solusinya.

Nah, memang diperlukan waktu untuk mengkonsentrasikan pikiran, baik untuk melihat masalah maupun menemukan solusinya. Lalu bagaimana kalau solusinya tidak ditemukan, padahal anda sudah letih berpikir. Maka tinggalkanlah, biarkan alam bawah sadar anda bekerja.

Pikiran Bawah Sadar

Alam bawah sadar sebenarnya adalah suatu tahapan integral dalam proses berpikir. Ketika secara sadar kita berpikir, sebenarnya lama-kelamaan kita menjadi tegang (dan akhirnya letih). Ketika kita istirahat, pikiran sadar kita bisa saja berhenti, tetapi sebenarnya persoalan sedang diambil alih oleh alam bawah sadar. Demikian menurut psikolog C.J Martindale dalam tulisannya "Creative People".

Itu sebabnya seringkali ketika kita sukar mengingat sebuah nama, tiba-tiba ketika kita bangun tidur pada keesokan harinya kita bisa langsung ingat nama tersebut. Seolah-olah muncul ilham begitu saja. Jadi kalau anda sudah mulai "memikirkannya" maka jangan kaget kalau tiba-tiba nanti ketika baru bangun tidur atau anda sedang berada di kamar mandi, mendadak anda mendapat gagasan baru.

Kesimpulan

Kreatif diawali dengan menyediakan waktu untuk berpikir di alam sadar dan dilanjutkan dengan berpikir di alam bawah sadar sebagai proses akhir untuk mendapatkan gagasan baru yang akan muncul seperti tiba-tiba saja. Kreatif tak bisa dipaksakan, karena prosesnya selalu butuh waktu. Tetapi kalau sering dilatih, proses ini akan semakin singkat.

Jadi pada uraian pembukaan tadi dikatakan bahwa ada radio walaupun siaran cuma begitu-begitu aja (kirim-kiriman lagu terus sudah 10 tahun), tapi radio itu malah masih tetap nomer satu di kotanya. Tetapi itu tidak bisa dijadikan statement bahwa tanpa berubah (tidak perlu kreatif) justru membuat radio itu tetap nomer satu. Itu sih... lebih dikarenakan kebetulan saja para pesaingnya (radio-radio lain) di kota itu tidak ada yang benar-benar bagus dan benar-benar kreatif, sehingga buat masyarakat di kota itu pilihannya, mendingan dengar siaran kirim-kiriman lagu aja... deeech. (arm)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum wr.wr
Sebelumnya perkenalkan nama saya emry sagita, Saya sangat tertarik dengan tulisan Pak Andy karena seperti ada "ruh" yang menempel ditulisan anda sehingga tidak ada niat saya untuk berhenti membaca hingga huruf terakhir artikel bapak.
Ada satu pertanyaan yang selalu 'iseng' membisiki telinga sehingga mengganggu pikiran saya:
1.yang benar itu Pendengar radio lebih tertarik dengan lagu-lagu atau penyiarnya?
karna setahu saya ada 3 'komponen' penting dalam program VO,LAGU DAN IKLAN

mohon maaf apabila ada kata-kata saya menyinggung perasaan bapak

Anonim mengatakan...

Hai Emry Sagita,

Terima kasih sudah mampir ke blog Broadcast Sukses dan mengirimkan tanggapan.

Menjawab pertanyaan Emry, sayang sekali saya tidak memiliki data survey bagaimana perilaku pendengar radio di Indonesia. Tetapi kalau menurut survey di Inggris tahun 2005, kedudukan "lagu" sedikit lebih tinggi dari kedudukan "penyiar" dalam hal membuat pendengar betah, yaitu:
Lagu 51%; Penyiar 48%.

Karena perbedaannya tidak begitu besar, saya pikir pilihan dan susunan lagu yang baik dikombinasikan dengan penyiar yang "enak" di telinga, pastilah akan mampu membuat pendengar betah dan "keep coming back" ke frekuensi anda.

Salam,
Andy Rustam

cenil... mengatakan...

selamat siang om Andy [mo manggil mas Andy sungkan :)]

secara garis besar saya memang merasa di indonesia, listeners memang memiliki kecenderungan untuk lebih memilih menikmati lagu daripada penyiarnya..

tapi terkadang di beberapa station radio besar, di beberapa acara (pagi / sore)

prosentasenya bisa jadi (dibuat) terbalik...
contoh di HRFM surabaya & jakarta, saya secara pribadi ga' terlalu concern soal lagu yang diputer, malah setiap lagu saya nunggu kapan penyiarnya ngomong (entah informasi / bercanda / dsb)

saya sadar "kelas" dari sang penyiar2 yang hadir pada jam2 tersebut adalah penyiar yang ber-grade A+
dimana pengalaman, wawasan, kemampuan mereka sangat jauh melebihi yang lain...
dan yang membuat saya sangat takjub adalah kemampuan mereka untuk menjadikan acara tersebut semenarik mungkin dengan value Theatre of Mind yang sedemikian rupa :)


sementara itu yang ada dikepala, lain kali saya comment

thx

Andy Rustam mengatakan...

Hallo Wawing,

Ha..ha..ha mau manggil Oom, Mas, Kak atau nama saja juga boleh. Malah ada salah peserta pelatihan dimana saya jadi pengajar memanggil saya dengan "dik" ..ha..ha..ha (padahal usia saya sudah pertengahan kepala 5).

Ok Wawing, terima kasih atas komentar dan menyempatkan mampir di broadcastsukses. Memang benar Wing, cukup banyak orang yang senang mendengarkan radio karena ingin mendengar "suara penyiar-nya". Beberapa pendengar bahkan ada yang sampai merasa seolah-olah penyiar itu berbicaranya hanya ditujukan bagi dia seorang. Fenomena ini muncul karena salah satu karakteristik media radio adalah "personal". Survey pendengar mengatakan bahwa pada umumnya orang yang mendengarkan siaran radio selalu sedang "sendiri beraktivitas" (tidak ada orang lain bersamanya). Oleh karena itu, bagi dirinya, radio merupakan medium "untuk menemani". Tentu saja rasa ditemani ini akan lebih muncul kalau ada suara penyiar yang berbicara kepadanya, bukan? Itu sebabnya memang ada kebutuhan untuk mendengarkan siaran radio dengan suara penyiar. Nah, penyiar yang bisa mengoptimalkan dirinya dengan kreatifitas dan tehnik yang handal sesuai karakteristik media radio, dilihat dari sisi si pendengar, akan membuat ia terkesan menonjol (lebih enak didengar daripada penyiar lainnya).

Mudah-mudahan, tanggapan saya diatas akan semakin menguatkan pendapat Wawing. Sekali lagi terima kasih.

Salam,
Andy RM