11 Oktober 2008

Beda Uraian Media Cetak dan Uraian Melalui Radio

oleh Andy Rustam

Cobalah Anda baca untuk diri Anda sendiri tulisan yang saya kutip dari media cetak berikut ini:

"Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mendapat kado ulang tahun ke-56 yang cukup istimewa. Suatu hadiah yang mengejutkan. Pasalnya, ia sendiri tak menyangka akan memperoleh salah satu binatang langka, yaitu seekor anak harimau. Hari Ulang tahun ke-56-nya tersebut, yang jatuh Selasa minggu lalu (7/10), dirayakan di rumahnya di pinggiran kota Moskwa. Anak harimau berusia dua bulan tersebut merupakan jenis langka, yaitu harimau Ussuri yang tinggal di wilayah Siberia."

Tetapi cobalah sekarang membaca tulisan tersebut di atas sambil Anda rekam suara Anda dan kemudian coba Anda dengarkan kembali (playback). Pasti akan Anda rasakan adanya "kejanggalan". Janggal terdengar di telinga. Mengapa demikian?

Rahasia Penyiar

Nah, bayangkan berapa banyak penyiar-penyiar radio yang masuk ke ruang siaran dengan membawa majalah atau koran. Lalu mengambil salah satu artikelnya dan dibacakan kepada para pendengar sebagai salah satu materi siaran. Untungnya karena kebanyakan penyiar melakukan hal seperti itu, maka pendengar tak dapat membedakan mana yang lebih enak didengar. Tetapi kalau misalnya satu saja penyiar merubah dulu artikel bacaan dari media cetak itu menjadi artikel dengan susunan bahasa yang untuk dibacakan, pastilah penyiar itu akan lebih didengarkan uraiannya oleh pendengar alias dia akan lebih disukai.

Jadi kalau Anda mampu menulis "untuk telinga" bukan "untuk mata", kemudian tulisan itulah yang Anda bacakan kepada pendengar, maka pastilah pendengar akan lebih betah mendengar suara Anda. Ini salah satu rahasia mengapa ada penyiar yang walau ia cukup panjang durasi bicaranya, tetapi tetap saja pendengar tidak bosan. Sebaliknya ada penyiar yang baru sebentar ia bicara, pendengar merasa seperti penyiar itu kebanyakan ngomong.

Menulis Kata-Kata untuk Telinga

Perhatikan lagi uraian kutipan dari media cetak tersebut diawal tulisan ini. Di situ ada beberapa kata yang tidak lazim dipakai apabila kita sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Misal kata "pasalnya". Kata ini memang bagus untuk media cetak, tetapi untuk media radio harus digunakan kata lain yang lebih lazim untuk telinga. Contoh: "Pasalnya ia sendiri tak menyangka akan..." diganti dengan kalimat "Masalahnya ia sendiri tidak sangka akan ...."

Silahkan Anda perhatikan, adakah kata-kata lainnya yang tak lazim untuk telinga tapi lumrah saja untuk mata pada kutipan berita media cetak di atas? Bisakah Anda menemukannya? Baiklah, bagaimana dengan kata "memperoleh"?

Coba kita ganti kalimat tersebut dengan kata "mendapat atau dapat". Sehingga kalimat lengkapnya menjadi "Masalahnya ia sendiri tidak sangka bisa dapat binatang langka " dan bukannya "Pasalnya ia sendiri tak menyangka akan memperoleh binatang langka".

Struktur Alur untuk Artikel Radio

Selain kata-kata yang digunakan berbeda, agar tulisan Anda juga enak untuk siaran radio maka struktur alurnya pun harus dirubah sesuai karakter radio. Sebagaimana diketahui, kalau Anda membaca sebuah artikel di koran, lalu ada kalimat atau penjelasan yang kurang dapat Anda pahami maka Anda bisa mengulanginya lagi membaca dari alinea permulaan lagi. Sehingga cara penyusunan urutan alur dalam artikel untuk media cetak, dapat saja melompat ke depan dulu atau mundur ke belakang dahulu baru kemudian kembali ke pokok cerita. Tetapi hal seperti itu tak dapat dilakukan apabila Anda menulis untuk siaran radio. Pertama, pokok cerita (fokus topik) harus dijaga sejak kalimat pertama dan seterusnya diuraikan secara runtut tak melompat-lompat.

Sebagai contoh mari kita kembali dan memperhatikan artikel berita kutipan dari media cetak pada awal tulisan ini. Di artikel media-cetak tersebut jelas sekali fokus topiknya bercabang hampir sama kuat (ini tidak apa-apa bagi media cetak). Artikel berita ini menyampaikan bahwa Vladimir Puttin berulang-tahun (ini fokus I) dan hadiah ulang-tahunnya adalah binatang langka (ini fokus II). Kedua fokus ditampilkan berselang-seling. Mari kita lihat lagi kalimat per kalimat.
Kalimat pertama menampilkan fokus I dan II. Kalimat kedua dan ketiga menampilkan fokus II. Kalimat keempat menampilkan fokus I. Kalimat kelima menampilkan fokus II lagi.

Pada artikel untuk media radio maka topik dan struktur susunannya harus runtut tak melompat-lompat. Sehingga bentuk alurnya menjadi seperti ini:

"Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, pada hari Selasa 7 Oktober yang lalu, berulang tahun yang ke 56. Perayaannya dilakukan di rumah tempat tinggal Putin yang terletak di pinggiran kota Moskwa. Pada hari itu ia mendapat "surprise", hadiah ulang tahun yang sangat istimewa. Kadonya, ...seekor anak harimau berusia 2 bulan. Anak harimau ini bukan harimau sembarangan, tapi dari jenis harimau Ussuri. Harimau yang hidupnya hanya di wilayah Siberia ini, termasuk jenis binatang langka."

Coba sekarang Anda baca (sambil direkam) artikel media cetak yang telah dirubah menjadi artikel untuk media radio ini. Kemudian Anda playback kembali. Pasti sekarang akan terdengar lebih enak dan pemahaman ceritanya lebih mudah ditangkap pendengar. Paham? Jadi mulai sekarang, buanglah kebiasaan Anda siaran dengan membacakan artikel dari media cetak tanpa dirubah lebih dahulu. Ngga enak di telinga lho! (arm)

2 komentar:

cenil... mengatakan...

mas / kak / om / pak Andy :) //
Terimakasih atas reply / dari comment saya di artikel sebelumnya... //

sebelumnya mohon maaf / artikel Uraian Media Cetak vs Media Radio / saya pake buat contoh training perbedaan dalam penulisan ke Script Siar..... // Maap lho ijinnya belakangan mas //

Artikel mas Andy lebih jelas di bagian contoh / antara Fokus I & II bareng sama kalimat2-nya //

Kebetulan 1 bulan terakhir ini / saya lagi melatih teman2 calon penyiar radio komunitas Univ. Brawijaya // Selama saya dulu siaran-pun ngerti sebenernya perbedaan antara writing for the eyes & for the ears / cuma kadang nemu redaksional untuk menjelaskannya yang susah... // Mungkin itu susahnya belajar dari praktek :D //

memang di malang / baru ada sebagian kecil penyiar (radio swasta-pun) yg bisa menyampaikan script siar mereka dg semestinya / sebagian besar masih hanya fokus di APA yg mereka coba sampaikan... / BAGAIMANA-nya masih nanggung //
*script mode*


thx for the time...

Regards,
Wawing Sasongko

Andy Rustam mengatakan...

Hai Wawing,

Tentu saja boleh mengutip artikel Beda Uraian Media Cetak dan Uraian Melalui Radio" tulisan saya untuk dipakai lagi mengajar kepada siapapun.

Kalau mau menggunakan artikel-artikel lainpun boleh-boleh saja.
Memang maksud saya membuat blog ini adalah untuk bagi-bagi ilmu dan pengalaman. Pastilah saya sangat senang kalau memang bermanfaat bagi orang banyak. Selain itu saya salut dan merasa dihormati sama Wawing yang mau menginformasikan kepada saya bahwa artikel saya akan dipakai buat mengajar mahasiswa2 di Unbra dan anak-anak di Malang. Karena ada beberapa orang dan beberapa web-site yang saya tahu mengutip & me-link tanpa sepengetahuan saya atau administrator blog ini. Walaupun saya tentu tak akan menuntut apa-apa, tetapi norma, etika dan sopan-santun, tentulah harus selalu sama-sama kita junjung tinggi.

Terima kasih, ya Wawing...dan salam saya untuk teman-teman disana.

Andy RM