06 Februari 2009

Rubah Komunikasi-nya

oleh Andy Rustam

Pernah suatu hari saya sedang sakit, membutuhkan beberapa lembar daun sirih sebagai obat. Kira-kira beberapa ratus meter dari rumah saya, ada tetangga (pak ST) yang memiliki pohon sirih. Saya suruh pembantu ke sana untuk meminta 10 lembar saja. Tetapi si pembantu kembali dan melaporkan bahwa pak ST tak mau memberikan. Aneh sekali. Karena saya tahu pak ST itu orangnya baik hati. Lalu saya minta pembantu saya mendemonstrasikan, bagaimana cara ia meminta, kalimat demi kalimat. Inilah kalimatnya, “Pak, saya mau minta daun sirihnya, boleh apa nggak?” Pak ST menjawab, “Nggak boleh”.

Mendengar hal ini, saya menyuruh lagi pembantu saya untuk pergi menemui pak ST. Tetapi kali ini dengan membawa sepucuk surat dari saya. Pada prinsipnya isi surat itu tetap sama, yaitu: “Saya ingin 10 lembar daun sirih yang pak ST miliki”. Namun, saya mengungkapkan keinginan itu dengan cara yang sama sekali berbeda.

Interpretasi atas Feed-back

Ketika pembantu saya melaporkan bahwa pak ST tak mau memberikan, kira-kira apa akan dilakukan oleh demonstran penuntut pemekaran Propinsi Tapanuli (ProTap) kepada pak ST? ..he..he..he. Barangkali penolakan pak ST akan diartikan sebagai pak ST berhati jahat, tak mau menolong. Lalu pak ST dikeroyok dan digebukin, seperti peristiwa yang menimpa Ketua DPRD Sumut.

Masalahnya, kalau saya melakukan hal itu, apakah pak ST kemudian akan memberikan daun sirih yang saya butuhkan? Saya pastikan bahwa justru pak ST semakin tidak mau memberikan, dan sakit saya pun bakalan tak kunjung sembuh. Begitulah yang akan terjadi.

Sebagai penyiar radio (juga TV) kita juga sering sekali salah mengartikan feed-back yang kita peroleh dari pendengar. Misal, kita menerima 200 SMS (atau surat/email) dalam satu jam siaran kita. Lalu kita merasa khawatir, kalau kita tidak membacakan SMS tersebut, maka pendengar akan kecewa. Kita menginterpretasikan bahwa si pengirim SMS menyukai siaran kita. Lalu kita khawatir pendengar akan berkurang kalau tidak kita sebut-sebut namanya. Padahal apa yang sungguh terjadi justru kebalikannya. Kalau anda membacakan semua sms itu, maka kemungkinan besar 200 orang pengirim sms akan senang. Tetapi mungkin ada sekitar puluhan ribu atau ratusan ribu pendengar lain yang lari, karena disuguhi suara penyiar yang cuap-cuap membacakan sms. Apalagi sudah pasti isinya tak terkait samasekali dengan kepentingan mereka.

Seandainya satu sms yang dibacakan menghabiskan waktu sesingkat-singkatnya 7 detik, maka anda akan menghabiskan waktu sebanyak 23 menit dari 60 menit siaran anda, hanya untuk memuaskan 200 orang!! Belum lagi ditambah iklan dan Adlibs untuk memuaskan pengiklan. Lalu tinggal berapa menit tersisa yang masih bisa anda berikan bagi kepuasan puluhan/ratusan ribu pendengar??? Sementara radio pesaing anda begitu banyak memiliki keleluasaan waktu bagi memuaskan puluhan/ratusan ribu pendengarnya.

Sering sekali maksud seorang komunikator tak tercapai gara-gara salah mengartikan feed-back dari komunikannya. Lebih fatal lagi, salah interpretasi ini justru membuahkan tindakan yang keliru. Hal ini bahkan menjauhkan tercapainya maksud awal dari si komunikator kepada si komunikan.

Kemampuan Mendengar

Dalam masa kampanye pemilu sekarang ini, barangkali kita semua sudah sangat lelah melihat tingkah para kandidat yang kerjanya hanya ngomong melulu. Padahal kunci keberhasilan sebuah komunikasi adalah karena si komunikatornya mempunyai kemampuan “mendengar”.

Maksudnya, apa yang ia katakan haruslah merupakan olahan pikiran dan perasaan dari hasil mendengarkan. Waktu komunikasi manusia dewasa secara rata-rata dipenuhi dengan aktivitas “mendengar”, yaitu sebanyak 45% dan hanya 30% waktu digunakan untuk berbicara (menurut: Edwards L. Baker, Journal of Applied Communication Research vol 8 – 1980).

Oleh karena itulah seorang penyiar juga harus membuka telinganya lebar-lebar terlebih dahulu bagi pendengar, sebelum ia melakukan siaran. Seorang penyiar yang hanya dipenuhi pemikiran bersumber dari perasaan dan pemikirannya sendiri, kemudian menuju meja siar, sudah pasti tak ‘kan berhasil merebut hati pendengar. Artinya, seorang penyiar harus memahami betul aspirasi pendengarnya. Aspirasi pendengar dapat diperoleh apabila kita secara benar pula menginterpretasikan feed back yang kita terima.

Lanjutan Kisah Daun Sirih

Sebelum saya tutup, tentu anda penasaran pada cara meminta daun sirih yang saya tulis dalam surat kepada tetangga saya pak ST, sbb:

"Pak ST yth., saya dalam keadaan sakit dan hanya bapaklah yang dapat menolong saya. Karena hanya bapak tetangga terdekat saya yang memiliki obat yang saya butuhkan, yaitu 10 lembar daun sirih segar. Kalaulah saya mampu, saya sendiri yang akan datang meminta ke rumah bapak. Oleh karena itulah, saya menyuruh pembantu saya untuk menyampaikan surat ini, dengan harapan bapak bersedia menitipkan padanya 10 lembar daun sirih dari bapak untuk kesembuhan saya. Terima kasih banyak sebelumnya... dst."

Ajaib! Pak ST bukan hanya memberikan 10 lembar, tetapi satu kantong penuh daun sirih segar, disertai pesan kepada pembantu saya, “Kalau masih kurang, ambil kesini saja lagi”. Awalnya seperti seolah-olah pak ST orang yang pelit (kikir). Tapi saya menginterpretasikan feed-back tersebut berbeda dari apa yang tersirat. Lalu saya ulangi komunikasi kepada pak ST dengan cara yang berbeda pula. Hasilnya, saya memperoleh apa yang saya inginkan. Komunikasi saya berhasil. (arm)

Tidak ada komentar: