23 Februari 2009

Client Mintanya Begitu!

oleh Andy Rustam

Nenek saya cerita, kalau jaman dulu (ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda) sering ada delman/sado/andong dihias dengan gambar-gambar, yang berkeliling kampung. Di samping Pak Kusir duduk orang (tukang teriak) yang berteriak-teriak mengumumkan sesuatu. Bisa itu tentang adanya ketentuan baru pemerintah, bisa juga tentang adanya pasar malam, atau adanya pertemuan.

Saya kira ini tak ada bedanya dengan jaman sekarang. Masih sering kita jumpai mobil atau becak keliling dimana dari speaker-nya terdengar pengumuman adanya pasar malam, dangdut orgen tunggal, ataupun film layar tancep.

Juga Ada di Siaran Televisi Sekarang

Tadi malam saya juga masih mendengar sebuah iklan melalui siaran televisi, (iklan sebuah supermarket) yang gayanya juga seperti speaker mobil keliling tadi. Bedanya mungkin iklan (di televisi) ini pakai gambar bergerak. Apa yang saya maksudkan dengan iklan ala mobil/becak keliling adalah: semua hal ingin disampaikan dalam satu kali penampilan dengan cara teriak-teriak pula. Lucunya, karena spot iklan di televisi harganya mahal, maka si pembaca iklan berusaha dengan membaca secepat mungkin agar seluruh pesan itu bisa masuk dalam jangka waktu sekian detik. Akibatnya seluruh pesan yang diucapkan sukar dipahami. Saya perlu konsentrasi penuh untuk mengerti apa maksud pesan.

The Client is Always Right?

Silahkan anda tanyakan, bahkan kepada advertising agency-nya sekalipun, mengapa membuat spot iklan seperti itu? Jawabannya sudah pasti, “Klien mintanya begitu. Ini sudah di-approved lho”. Dalam pemikiran mereka, karena kita ini cuma penjual jasa saja, maka apa yang diinginkan client (klien) harus dituruti. Maka akan heranlah kita, kalau ternyata pada periode promosi berikutnya si klien cabut dari mereka. Padahal service menuruti semua kemauan klien sudah pol-polan 1000%. Oleh karena itu jangan salah memahami prinsip “the client is always right”. Prinsip ini harus dibaca: “the client is always right about his business only!”. Tetapi kalau bicara tentang periklanan dan media, anda sebagai orang media dan atau orang periklanan seharusnyalah jauh lebih menguasai, sehingga “the client is not always right if it is regarding media and advertising business”.

Oleh karena itu kalau kebetulan profesi Anda adalah seorang salesman media ataupun seorang account executive dari advertising agency, back-up pengetahuan yang harus Anda miliki untuk mampu berinteraksi dengan client tidaklah cukup kalau hanya berkutat dengan pengetahuan dari sisi pandang bidang Anda semata. Karena iklan yang nantinya dibuat merupakan gabungan kombinasi dua sisi pandang, yaitu sisi pandang Anda dan sisi pandang client.

Tujuan Client/Advertiser Beriklan

Ketika client/advertiser memutuskan untuk memasang iklan, tentu saja dalam pikirannya bukanlah dengan maksud membagi-bagi uang kepada media. Kalaupun ada saja client yang memasang iklan di suatu media dikarenakan si pemilik media masih punya hubungan dekat, tetapi mungkin hal seperti ini persentase-nya sangat kecil. Pada umumnya client beriklan pasti memiliki tujuan-tujuan marketing (misal: untuk meningkatkan pangsa pasarnya). Maka tugas kita atau jasa yang kita tawarkan adalah bagaimana caranya agar tujuan pemasaran (marketing objective) bisa kita bantu pencapaiannya, dimana media kita itu bisa banyak berperan.

Jadi, salah pemahaman, kalau kita berpikir bahwa jasa yang kita jual adalah melayani client dengan menuruti semua kemauannya (“itu sih, maaf... pelacur”). Dengan keahlian, pengalaman, dan pengetahuan kita di bidang media dan periklanan, kita bisa berperan membantu client (atau calon client) untuk bisa secara lebih efisien dan efektif mencapai tujuan-tujuan pemasarannya.

Sebab kalau Anda hanya menuruti saja kemauan client, lalu kemudian terbukti nanti tujuan-tujuan pemasaran si client tidak tercapai, jangan berharap si client akan berkata, “Aduuh.. saya salah sih cara menyampaikan pesan iklannya”. Justru sebaliknya yang terjadi. Si client akan menyalahkan Anda. Ia akan berkata, “Wah jangan pasang iklan disitu lagi deh.. tidak ada manfaatnya!”.

Ingat motto “The client is always right”. Dalam hal ini artinya, dikarenakan mereka merasa sebagai yang membayar, maka mereka tentu saja tak mau mengaku salah, meskipun Anda telah menuruti segala kemauannya. Capek deee..... (arm)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

setelah sekian lama...
akhirnya beta dapat jawaban soal iklan, kita dan client.
Soalnya ada yang pernah sangat mengagungkan client sampai2 koreksi owner pun dilawan hehehehehe

Salam dari kupang...
mksh untuk blog bagus ini :)