oleh Andy Rustam
Pimpinan sebuah stasiun radio meminta saya untuk melatih para penyiarnya. Menurutnya, siaran para penyiar itu tidak bagus sehingga menyebabkan stasiun radionya tak sukses. Sebuah stasiun televisi lokal yang sudah mulai megap-megap mengatakan bahwa ia tidak mungkin survive kecuali acaranya dibenahi, sementara untuk mengadakan acara-acara bagus yang menurut dia digemari oleh masyarakat, ia tidak punya dana.
Hal seperti ini sangat sering saya alami, yaitu: stasiunnya bermasalah secara komersil, dan si pimpinan sudah menetapkan terlebih dahulu sebuah faktor atau sebuah hal penyebab timbulnya masalah, lalu saya diminta advis-nya tentang cara mengatasi faktor penyebab itu (yang telah ditetapkan menurut diagnose si pimpinan).
Dokter dan Pasien
Ini ibaratnya seorang pasien pergi ke dokter, lalu si pasien yang menetapkan terlebih dahulu apa penyakitnya, kemudian meminta dokter itu menghilangkan si penyakit menurut diagnose si pasien. Walaaah..ya kan repoot.
Kalau dokternya menginginkan ia yang men-diagnose dulu dengan testing laboratorium ini-itu, si pasien marah karena makan waktu dan makan biaya. Tetapi kalau mengikuti saja maunya si pasien, kalau penyakitnya tak kunjung sembuh, maka dokternya yang disalahkan. Kemungkinan lainnya bisa saja si pasien pergi ke dokter lain yang memberi obat penghilang keluhan/rasa sakit, biayanya murah dan si pasien pun happy. Tetapi efeknya dalam beberapa waktu kemungkinan besar malah si pasien bisa mati karena keracunan.
Kesadaran yang Dibutuhkan
Paling penting untuk disadari oleh siapa saja yang menekuni bidang broadcasting bahwa keberhasilan sebuah stasiun (TV & radio) bukanlah disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan disebabkan oleh banyak faktor yang bekerja saling berinteraksi secara harmonis. Maka tak bisalah salah satu bagian menuding bagian lain sebagai penyebab. Dulu, pada dekade 90-an, semua stasiun TV dilarang menyiarkan berita sendiri. Semua stasiun hanya boleh dan wajib me-relay siaran warta berita dari TVRI. Jadi jelas, di semua stasiun TV pada jam itu menyiarkan acara yang sama. Tapi kalau diamati, jumlah penonton di area yang sama, maka bisa kita lihat sesuai survey SRI-Nielsen bahwa jumlah penonton berbeda-beda pada masing-masing stasiun. Artinya, walau acaranya sama sekalipun, tetap saja tidak menghasilkan jumlah penonton yang sama.
Contoh lain lagi. Ada sebuah stasiun radio, dikota P, memiliki acara di pagi hari yang sangat populer dibawakan oleh penyiar XY. Lalu ada sebuah stasiun baru yang bermodal kuat, membajak penyiar XY. Maka XY pindah siaran ke stasiun baru itu, dan melakukan siaran yang sama pada jam yang sama di kota yang sama. Herannya, hasil akhir menunjukkan bahwa popularitas XY dan acara itu justru tak muncul di stasiun radio baru alias jauh menurun dibandingkan dengan ketika ia masih siaran di stasiun radio lama. Terbukti lagi, acara sama, isi acara sama, penyiarnya sama, area cakupan sama, hanya stasiun radionya berbeda.... hasil akhir pada jumlah pendengarnya tetap juga berbeda.
Symphony Orchestra
Memimpin sebuah stasiun (TV & radio) ibarat seperti seorang dirigen orkes simfoni. Seorang dirigen mungkin saja bukan seorang pemain biola yang hebat, tetapi dia mengerti apa musik itu, dan bagaimana memainkan musik yang benar. Ia tahu pemain biola seperti apa yang harus ia miliki bagi orkes simfoninya agar lagu dan suara musik yang dihasilkan bisa harmonis. Ketika Bob James (seorang music arranger dan conductor ternama) datang ke Indonesia (tahun 1985/1986? Saya agak lupa), Bob memberikan sedikit klinik musik dan ia menggunakan pemain dan alat musik orkes simfoni RRI Studio V, tetapi kali ini orkes yang sama dengan pemusik yang sama dipimpin oleh Bob James. Hasilnya mencengangkan!!!
Orang adalah Issue Terpenting
Hampir di semua industri, masalah sumber daya manusia (SDM) merupakan persoalan yang selalu paling menonjol. Tetapi interpretasi umum kalau bicara kurangnya SDM selalulah seolah-olah itu diartikan sebagai karyawannya yang tak cukup memiliki kualitas fisik dan mental. Padahal arti SDM justru harus diartikan sebagai seluruh karyawan dan terutama pimpinannya (termasuk pemilik). Kalau pimpinannya bagus, karyawannya pasti akan lebih cenderung untuk juga bagus.
Cobalah anda amati perkembangan atau keadaan stasiun TV dan atau stasiun radio di daerah Anda. Pastilah kalau stasiun itu tidak maju-maju, walau peralatannya bagus dan modalnya besar, umumnya itu disebabkan karena problem pada tingkat pimpinan. Bukankah tadi sudah dicontohkan, bahwa hanya karena dirigennya seorang Bob James, orkes simfoni studio V RRI bisa berubah ke arah menjadi seperti New York Philharmonic Orchestra?!
Pimpinan sering mengeluh bahwa anak-buahnya ngga beres. Padahal duduk persoalan sebenarnya adalah dia selaku pimpinan tak mampu membereskan anak buahnya. Bukankah kalau anak buahnya tak beres, si pimpinan bisa memberhentikannya dan mengganti dengan orang yang lebih bagus? Si pimpinan barangkali khawatir kalau-kalau tidak bisa memperoleh pengganti yang lebih baik. Nah, dari sini jelas bahwa kalau si pimpinan cukup percaya diri, seharusnya ia tak perlu khawatir karena ia tahu bahwa ia mampu mencari karyawan dengan sifat yang baik meskipun pengetahuan/keterampilannya agak kurang. Karena hal-hal seperti keterampilan dan ilmu selalu bisa diajarkan, tetapi kalau urusan mental itu sudah merupakan bawaan alias karakter pribadi.
Tulisan ini dibuka dengan pentingnya diagnose yang tepat kalau ingin mengatasi masalah. Kesuksesan sebuah stasiun tergantung dari hubungan kerja yang harmonis antar bagian. Semua bagian dalam organisasi sebuah stasiun mempunyai “orang” di dalamnya. Orang-orang inilah yang dibenahi dulu, baik pengetahuan maupun keterampilannya. Membenahi orang hanya bisa berhasil kalau orang itu sendiri memiliki “kemauan yang sangat besar sehingga mau berusaha keras” untuk membenahi dirinya. Sifat seperti ini hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Kebanyakan pegawai bermental, “Ngapain susah-susah, yang penting kerjaan selesai lalu kita pulang“. Kebanyakan pemilik perusahaan hanya mengutamakan bagaimana secepatnya uang masuk sekarang atau hanya mengutamakan kesenangannya sendiri, sedangkan urusan masa depan stasiunnya: “terserah gimana nanti deh“.
Selama puluhan tahun menangani dan membantu berbagai stasiun di seluruh Indonesia untuk mengatasi permasalahan mereka, umumnya semua berhasil dengan baik. Walaupun problem-nya berat asalkan masih pada tingkat karyawan, pasti masih bisa diatasi. Cerita sukses saya menjadi pengajar dan konsultan mempunyai dua catatan kegagalan, yaitu pada dua stasiun di kota yang berbeda. Apa penyebabnya? Masalah orang? Yes, the owner! (arm)
Pimpinan sebuah stasiun radio meminta saya untuk melatih para penyiarnya. Menurutnya, siaran para penyiar itu tidak bagus sehingga menyebabkan stasiun radionya tak sukses. Sebuah stasiun televisi lokal yang sudah mulai megap-megap mengatakan bahwa ia tidak mungkin survive kecuali acaranya dibenahi, sementara untuk mengadakan acara-acara bagus yang menurut dia digemari oleh masyarakat, ia tidak punya dana.
Hal seperti ini sangat sering saya alami, yaitu: stasiunnya bermasalah secara komersil, dan si pimpinan sudah menetapkan terlebih dahulu sebuah faktor atau sebuah hal penyebab timbulnya masalah, lalu saya diminta advis-nya tentang cara mengatasi faktor penyebab itu (yang telah ditetapkan menurut diagnose si pimpinan).
Dokter dan Pasien
Ini ibaratnya seorang pasien pergi ke dokter, lalu si pasien yang menetapkan terlebih dahulu apa penyakitnya, kemudian meminta dokter itu menghilangkan si penyakit menurut diagnose si pasien. Walaaah..ya kan repoot.
Kalau dokternya menginginkan ia yang men-diagnose dulu dengan testing laboratorium ini-itu, si pasien marah karena makan waktu dan makan biaya. Tetapi kalau mengikuti saja maunya si pasien, kalau penyakitnya tak kunjung sembuh, maka dokternya yang disalahkan. Kemungkinan lainnya bisa saja si pasien pergi ke dokter lain yang memberi obat penghilang keluhan/rasa sakit, biayanya murah dan si pasien pun happy. Tetapi efeknya dalam beberapa waktu kemungkinan besar malah si pasien bisa mati karena keracunan.
Kesadaran yang Dibutuhkan
Paling penting untuk disadari oleh siapa saja yang menekuni bidang broadcasting bahwa keberhasilan sebuah stasiun (TV & radio) bukanlah disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan disebabkan oleh banyak faktor yang bekerja saling berinteraksi secara harmonis. Maka tak bisalah salah satu bagian menuding bagian lain sebagai penyebab. Dulu, pada dekade 90-an, semua stasiun TV dilarang menyiarkan berita sendiri. Semua stasiun hanya boleh dan wajib me-relay siaran warta berita dari TVRI. Jadi jelas, di semua stasiun TV pada jam itu menyiarkan acara yang sama. Tapi kalau diamati, jumlah penonton di area yang sama, maka bisa kita lihat sesuai survey SRI-Nielsen bahwa jumlah penonton berbeda-beda pada masing-masing stasiun. Artinya, walau acaranya sama sekalipun, tetap saja tidak menghasilkan jumlah penonton yang sama.
Contoh lain lagi. Ada sebuah stasiun radio, dikota P, memiliki acara di pagi hari yang sangat populer dibawakan oleh penyiar XY. Lalu ada sebuah stasiun baru yang bermodal kuat, membajak penyiar XY. Maka XY pindah siaran ke stasiun baru itu, dan melakukan siaran yang sama pada jam yang sama di kota yang sama. Herannya, hasil akhir menunjukkan bahwa popularitas XY dan acara itu justru tak muncul di stasiun radio baru alias jauh menurun dibandingkan dengan ketika ia masih siaran di stasiun radio lama. Terbukti lagi, acara sama, isi acara sama, penyiarnya sama, area cakupan sama, hanya stasiun radionya berbeda.... hasil akhir pada jumlah pendengarnya tetap juga berbeda.
Symphony Orchestra
Memimpin sebuah stasiun (TV & radio) ibarat seperti seorang dirigen orkes simfoni. Seorang dirigen mungkin saja bukan seorang pemain biola yang hebat, tetapi dia mengerti apa musik itu, dan bagaimana memainkan musik yang benar. Ia tahu pemain biola seperti apa yang harus ia miliki bagi orkes simfoninya agar lagu dan suara musik yang dihasilkan bisa harmonis. Ketika Bob James (seorang music arranger dan conductor ternama) datang ke Indonesia (tahun 1985/1986? Saya agak lupa), Bob memberikan sedikit klinik musik dan ia menggunakan pemain dan alat musik orkes simfoni RRI Studio V, tetapi kali ini orkes yang sama dengan pemusik yang sama dipimpin oleh Bob James. Hasilnya mencengangkan!!!
Orang adalah Issue Terpenting
Hampir di semua industri, masalah sumber daya manusia (SDM) merupakan persoalan yang selalu paling menonjol. Tetapi interpretasi umum kalau bicara kurangnya SDM selalulah seolah-olah itu diartikan sebagai karyawannya yang tak cukup memiliki kualitas fisik dan mental. Padahal arti SDM justru harus diartikan sebagai seluruh karyawan dan terutama pimpinannya (termasuk pemilik). Kalau pimpinannya bagus, karyawannya pasti akan lebih cenderung untuk juga bagus.
Cobalah anda amati perkembangan atau keadaan stasiun TV dan atau stasiun radio di daerah Anda. Pastilah kalau stasiun itu tidak maju-maju, walau peralatannya bagus dan modalnya besar, umumnya itu disebabkan karena problem pada tingkat pimpinan. Bukankah tadi sudah dicontohkan, bahwa hanya karena dirigennya seorang Bob James, orkes simfoni studio V RRI bisa berubah ke arah menjadi seperti New York Philharmonic Orchestra?!
Pimpinan sering mengeluh bahwa anak-buahnya ngga beres. Padahal duduk persoalan sebenarnya adalah dia selaku pimpinan tak mampu membereskan anak buahnya. Bukankah kalau anak buahnya tak beres, si pimpinan bisa memberhentikannya dan mengganti dengan orang yang lebih bagus? Si pimpinan barangkali khawatir kalau-kalau tidak bisa memperoleh pengganti yang lebih baik. Nah, dari sini jelas bahwa kalau si pimpinan cukup percaya diri, seharusnya ia tak perlu khawatir karena ia tahu bahwa ia mampu mencari karyawan dengan sifat yang baik meskipun pengetahuan/keterampilannya agak kurang. Karena hal-hal seperti keterampilan dan ilmu selalu bisa diajarkan, tetapi kalau urusan mental itu sudah merupakan bawaan alias karakter pribadi.
Tulisan ini dibuka dengan pentingnya diagnose yang tepat kalau ingin mengatasi masalah. Kesuksesan sebuah stasiun tergantung dari hubungan kerja yang harmonis antar bagian. Semua bagian dalam organisasi sebuah stasiun mempunyai “orang” di dalamnya. Orang-orang inilah yang dibenahi dulu, baik pengetahuan maupun keterampilannya. Membenahi orang hanya bisa berhasil kalau orang itu sendiri memiliki “kemauan yang sangat besar sehingga mau berusaha keras” untuk membenahi dirinya. Sifat seperti ini hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Kebanyakan pegawai bermental, “Ngapain susah-susah, yang penting kerjaan selesai lalu kita pulang“. Kebanyakan pemilik perusahaan hanya mengutamakan bagaimana secepatnya uang masuk sekarang atau hanya mengutamakan kesenangannya sendiri, sedangkan urusan masa depan stasiunnya: “terserah gimana nanti deh“.
Selama puluhan tahun menangani dan membantu berbagai stasiun di seluruh Indonesia untuk mengatasi permasalahan mereka, umumnya semua berhasil dengan baik. Walaupun problem-nya berat asalkan masih pada tingkat karyawan, pasti masih bisa diatasi. Cerita sukses saya menjadi pengajar dan konsultan mempunyai dua catatan kegagalan, yaitu pada dua stasiun di kota yang berbeda. Apa penyebabnya? Masalah orang? Yes, the owner! (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar