oleh Andy Rustam
Sebuah stasiun televisi swasta nasional, semenjak kelahirannya hingga saat ini telah mengganti logonya sebanyak empat kali. Kata gosip, rencananya pada pertengahan tahun 2009 ini mereka akan mengganti lagi logonya untuk ke lima kalinya! Gara-gara adanya gosip saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan ini. Memang dalam perjalanan hidupnya selama belasan tahun, stasiun TV ini tidak pernah berhasil menjadi stasiun televisi utama. Dalam jumlah penonton rata-rata, stasiun ini selalu termasuk dalam urutan terbawah. Tarif iklannya pun sekarang sudah dibanting sangat-sangat murah. Bolak-balik setiap tahun selalu merugi. Akan tetapi dengan keahlian financial engineering, beberapa kali berhasil mendapat pendanaan baru.
Dengan pendanaan baru tentunya mereka membuat lagi program-program/acara baru. Seperti biasa, nanti akan dilakukan kampanye promosi besar-besaran, tentunya disertai dengan logo baru! Begitulah yang terjadi pada tahun-tahun yang silam dan begitu pula yang akan terjadi nanti. Menurut mereka, logo baru itu diterbitkan dalam rangka image baru. Harapannya tentu dengan logo baru dan acara baru, yang dipromosikan secara besar-besaran, akan dapat menarik perhatian pemirsa dan tentu saja pemasang iklan.
Logo
Kalau Anda melihat perusahaan-perusahaan ternama didunia, yang usianya sudah puluhan atau ratusan tahun seperti misalnya Coca Cola, IBM, atau Honda, tidak ada yang pernah mengganti logonya sesering ini. Karena buat perusahaan ini, logo adalah “ruh”-nya perusahaan. Logo perusahaan lahir dari sebuah filosofi yang melatarbelakangi berdirinya sebuah perusahaan. Dilihat dari sisi marketing, logo merupakan salah satu “identitas” perusahaan. Ketika perusahaan ini berkembang menjadi besar, dimana kualitas dan reputasinya telah begitu dikenal oleh pelanggannya diseluruh dunia, maka tentu saja identitas logo dan namanya memiliki “nilai” sendiri. Logo menjadi “citra/image” perusahaan. Logo menjadi merk dagang yang nilainya sebagai aset bisa melebihi dari aset-aset lain yang dimiliki perusahaan.
Misalnya, logo dan merk Coca Cola sendiri nilainya mencapai milyaran dollar. Padahal harga mesin dan peralatan untuk membuat Coca Cola tak sebesar itu.
Orang-orang bisnis angkatan kuno antara tahun 50-an sampai tahun 70-an paham sekali bahwa logo lahir dari filosofi, dibesarkan oleh kualitas dan reputasi, sehingga menjadi lambang citra perusahaan, dan kemudian meningkat menjadi merk dagang (brand name) yang bernilai milyaran dollar.
Cara Berpikir Sekarang
Bubble Economy (Ekonomi Penggelembungan) adalah buah dari cara berpikir yang dikembangkan sekolah-sekolah bisnis di Amerika tahun-tahun 80-an, yang berujung pada krisis moneter dewasa ini. Perhitungan Net Present Value (nilai taksiran yang akan datang dilihat pada saat ini) adalah cara-cara potong kompas untuk mendapatkan uang cara cepat di depan, banyak dilakukan oleh para konglomerat untuk menumpuk kapital. Begini pula cara mereka mengoperasikan bisnisnya. Image (citra) perusahaan yang seharusnya dibangun melalui reputasi, sekarang cukup dibangun secara potong kompas pula. Caranya rubahlah logo, rubahlah kemasan, lalu lakukan kampanye promosi besar-besaran. Strategi yang sering disebut “branding” ini menyebabkan timbulnya “kualitas dan reputasi semu”. Persis seperti bubble economy. Tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa hasilnya dalam mendongkrak popularitas dan revenue memang ada. Tetapi harus diingat, ini semua hanya semu alias permainan persepsi saja. Sehingga kalaupun terjadi peningkatan bukanlah pertanda perbaikan, melainkan hanya fatamorgana yang harus dimanfaatkan secara cepat karena sebentar lagi akan hilang. Mengapa? Karena logo tersebut bukan dilahirkan dari filosofi perusahaan. Logo tersebut bukanlah “ruh” perusahaan. Disini logo hanyalah merupakan alat membangun persepsi.
Logo yang Lebih Baru
Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan yang melakukan perubahan logo dengan alasan merubah “image” (pada awal tulisan ini, si stasiun televisi ), akan tampak seolah-olah membaik. Dalam jangka pendek, jumlah konsumen, pemirsa dan pemasang iklan, akan kelihatan meningkat, popularitas pun meningkat. Tetapi bagi orang-orang yang sudah matang di dunia bisnis, sudah pasti tahu bahwa dalam waktu paling lama dua tahun kemudian, fatamorgana ini akan kembali ke bentuk aslinya. Mengapa dua tahun? Karena memang itulah siklus bisnis stasiun televisi. Setelah dua tahun promosi dilakukan, peningkatan semu akan berhenti dan Stasiun TV tersebut akan kembali merosot. Dua tahun berikut, pemiliknya akan mulai sibuk lagi memikirkan bagaimana rekayasa keuangan harus dilakukan agar dapat memperoleh dana baru. Sibuk memikirkan kembali untuk menciptakan logo yang lebih baru. Perusahaan seperti ini memang tanpa filosofi. Perusahaan hanyalah sebuah komoditas bagi aktivitas beli dan jual dari si pemilik.
Jadi menurut ramalan saya tersebut, pasti hal seperti ini akan terjadi sekitar tiga – empat tahun setelah logo baru itu diluncurkan. Kalau Anda tak percaya, silahkan Anda perhatikan logo yang sekarang masih dipakai oleh stasiun TV tersebut. Coba ingat-ingat lagi, baru berapa tahun yang lalukah logo tersebut diluncurkan? Sudah bisa ingat? Atau bisa dengan cara lain lagi. Kalau Anda ingat berapa usia stasiun TV tersebut, kemudian Anda bagi dengan sudah berapa-kali logo stasiun itu ganti, maka Anda akan mendapatkan jawaban bahwa ramalan saya mungkin saja akurat. (arm)
Sebuah stasiun televisi swasta nasional, semenjak kelahirannya hingga saat ini telah mengganti logonya sebanyak empat kali. Kata gosip, rencananya pada pertengahan tahun 2009 ini mereka akan mengganti lagi logonya untuk ke lima kalinya! Gara-gara adanya gosip saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan ini. Memang dalam perjalanan hidupnya selama belasan tahun, stasiun TV ini tidak pernah berhasil menjadi stasiun televisi utama. Dalam jumlah penonton rata-rata, stasiun ini selalu termasuk dalam urutan terbawah. Tarif iklannya pun sekarang sudah dibanting sangat-sangat murah. Bolak-balik setiap tahun selalu merugi. Akan tetapi dengan keahlian financial engineering, beberapa kali berhasil mendapat pendanaan baru.
Dengan pendanaan baru tentunya mereka membuat lagi program-program/acara baru. Seperti biasa, nanti akan dilakukan kampanye promosi besar-besaran, tentunya disertai dengan logo baru! Begitulah yang terjadi pada tahun-tahun yang silam dan begitu pula yang akan terjadi nanti. Menurut mereka, logo baru itu diterbitkan dalam rangka image baru. Harapannya tentu dengan logo baru dan acara baru, yang dipromosikan secara besar-besaran, akan dapat menarik perhatian pemirsa dan tentu saja pemasang iklan.
Logo
Kalau Anda melihat perusahaan-perusahaan ternama didunia, yang usianya sudah puluhan atau ratusan tahun seperti misalnya Coca Cola, IBM, atau Honda, tidak ada yang pernah mengganti logonya sesering ini. Karena buat perusahaan ini, logo adalah “ruh”-nya perusahaan. Logo perusahaan lahir dari sebuah filosofi yang melatarbelakangi berdirinya sebuah perusahaan. Dilihat dari sisi marketing, logo merupakan salah satu “identitas” perusahaan. Ketika perusahaan ini berkembang menjadi besar, dimana kualitas dan reputasinya telah begitu dikenal oleh pelanggannya diseluruh dunia, maka tentu saja identitas logo dan namanya memiliki “nilai” sendiri. Logo menjadi “citra/image” perusahaan. Logo menjadi merk dagang yang nilainya sebagai aset bisa melebihi dari aset-aset lain yang dimiliki perusahaan.
Misalnya, logo dan merk Coca Cola sendiri nilainya mencapai milyaran dollar. Padahal harga mesin dan peralatan untuk membuat Coca Cola tak sebesar itu.
Orang-orang bisnis angkatan kuno antara tahun 50-an sampai tahun 70-an paham sekali bahwa logo lahir dari filosofi, dibesarkan oleh kualitas dan reputasi, sehingga menjadi lambang citra perusahaan, dan kemudian meningkat menjadi merk dagang (brand name) yang bernilai milyaran dollar.
Cara Berpikir Sekarang
Bubble Economy (Ekonomi Penggelembungan) adalah buah dari cara berpikir yang dikembangkan sekolah-sekolah bisnis di Amerika tahun-tahun 80-an, yang berujung pada krisis moneter dewasa ini. Perhitungan Net Present Value (nilai taksiran yang akan datang dilihat pada saat ini) adalah cara-cara potong kompas untuk mendapatkan uang cara cepat di depan, banyak dilakukan oleh para konglomerat untuk menumpuk kapital. Begini pula cara mereka mengoperasikan bisnisnya. Image (citra) perusahaan yang seharusnya dibangun melalui reputasi, sekarang cukup dibangun secara potong kompas pula. Caranya rubahlah logo, rubahlah kemasan, lalu lakukan kampanye promosi besar-besaran. Strategi yang sering disebut “branding” ini menyebabkan timbulnya “kualitas dan reputasi semu”. Persis seperti bubble economy. Tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa hasilnya dalam mendongkrak popularitas dan revenue memang ada. Tetapi harus diingat, ini semua hanya semu alias permainan persepsi saja. Sehingga kalaupun terjadi peningkatan bukanlah pertanda perbaikan, melainkan hanya fatamorgana yang harus dimanfaatkan secara cepat karena sebentar lagi akan hilang. Mengapa? Karena logo tersebut bukan dilahirkan dari filosofi perusahaan. Logo tersebut bukanlah “ruh” perusahaan. Disini logo hanyalah merupakan alat membangun persepsi.
Logo yang Lebih Baru
Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan yang melakukan perubahan logo dengan alasan merubah “image” (pada awal tulisan ini, si stasiun televisi ), akan tampak seolah-olah membaik. Dalam jangka pendek, jumlah konsumen, pemirsa dan pemasang iklan, akan kelihatan meningkat, popularitas pun meningkat. Tetapi bagi orang-orang yang sudah matang di dunia bisnis, sudah pasti tahu bahwa dalam waktu paling lama dua tahun kemudian, fatamorgana ini akan kembali ke bentuk aslinya. Mengapa dua tahun? Karena memang itulah siklus bisnis stasiun televisi. Setelah dua tahun promosi dilakukan, peningkatan semu akan berhenti dan Stasiun TV tersebut akan kembali merosot. Dua tahun berikut, pemiliknya akan mulai sibuk lagi memikirkan bagaimana rekayasa keuangan harus dilakukan agar dapat memperoleh dana baru. Sibuk memikirkan kembali untuk menciptakan logo yang lebih baru. Perusahaan seperti ini memang tanpa filosofi. Perusahaan hanyalah sebuah komoditas bagi aktivitas beli dan jual dari si pemilik.
Jadi menurut ramalan saya tersebut, pasti hal seperti ini akan terjadi sekitar tiga – empat tahun setelah logo baru itu diluncurkan. Kalau Anda tak percaya, silahkan Anda perhatikan logo yang sekarang masih dipakai oleh stasiun TV tersebut. Coba ingat-ingat lagi, baru berapa tahun yang lalukah logo tersebut diluncurkan? Sudah bisa ingat? Atau bisa dengan cara lain lagi. Kalau Anda ingat berapa usia stasiun TV tersebut, kemudian Anda bagi dengan sudah berapa-kali logo stasiun itu ganti, maka Anda akan mendapatkan jawaban bahwa ramalan saya mungkin saja akurat. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar