oleh Andy Rustam
Waktu saya masih SMP, pulang dari sekolah, saya sering melihat tukang jual obat di pinggir jalan berteriak-teriak melalui loudspeaker (pengeras suara) menawarkan obat 1001 yang katanya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Si tukang obat dengan kepandaian bersilat lidah ditambah sedikit keahlian bermain sulap berhasil mengundang perhatian orang yang lalu lalang untuk berhenti sejenak. Tentu saja di antara kerumunan orang itu ada juga teman-temannya yang berpura-pura sakit datang untuk mencoba, dan setelah diteteskan obat 1001 ke dalam segelas air yang langsung diminum, maka kontan sembuh. Si teman tukang obat langsung membeli obat 1001 tanpa menawar dan ngeloyor pergi. Beberapa orang dari kerumunan rupanya terpengaruh, akhirnya juga membeli obat tersebut dan pergi. Mungkin dari sekitar 12 orang yang mengerumuni, saya melihat sekitar 5 orang membeli obat tersebut. Saya tidak tahu apakah ketika sampai di rumah nanti mereka akan kecewa atau gembira, tetapi yang jelas si tukang obat telah meraup sejumlah uang dan langsung mengemasi barang dagangannya dan pergi. Buat saya yang masih SMP hal itu biasa-biasa saja terjadi setiap hari.
Tapi sekarang saya berpikir, mengapa kok ada saja orang yang “termakan” oleh bualan si tukang obat, tanpa mempertimbangkan apakah yang dikatakannya itu masuk akal atau tidak, apakah claim khasiat obat itu memang bisa dibuktikan, siapa yang menjamin bahwa obat itu ampuh dan aman? Apa mereka tak berpikir?
Peniruan
Dalam sekumpulan kera yang diteliti, disimpulkan ternyata mereka memiliki istinct saling meniru yang sangat kuat. Instinct Meniru (Imitation Instinct) ini oleh Prof. J. Mark Baldwin, seorang pakar psikologi sosial abad 19, dinyatakan juga sebagai dimiliki oleh manusia. Teori ini menjadi salah satu dasar psikologi sosial modern. Jadi singkatnya, memang kebiasaan meniru tanpa berpikir panjang juga dimiliki oleh manusia dari dulu hingga sekarang. Maka tidak heran trik si tukang obat tadi untuk melariskan dagangannya cukup manjur. Dalam periklanan modern kita lihat sekarang trik ini juga banyak dipakai dengan istilah iklan “testimonial”.
Dari sisi negatif, kalau ada perbuatan yang “salah”, maka berdasarkan teori yang sama, tindakan salah ini pasti akan mengundang peniruan-peniruan. Itu sebabnya, belakangan ini kelihatan pembunuhan dengan mutilasi semakin marak. Salah satu faktornya, mungkin saja akibat penyebarluasan berita pembunuhan dengan mutilasi melalui media massa yang agak keterlaluan melewati batas, baik dari sisi pendalaman maupun dari sisi pengulangannya. Secara insting ini ditiru oleh pembunuh lainnya.
Kalau sekarang Anda banyak menonton siaran talk-show di televisi, lalu Anda sering melihat bagaimana gaya para pewawancara yang sok dan tak simpatik itu melontarkan pertanyaan kepada para tamu, maka jangan heran gaya yang buruk dan menyebalkan itu justru akan ditiru oleh penyiar-penyiar lain. Sampai-sampai kalau ada orang yang bukan begitu cara mewawancarai tamu, maka orang itu justru dianggap salah dan kuno.
Kenapa Hanya Hal Tertentu yang Ditiru?
Dalam buku Principles of Sosiology, Prof. Giddings yang mengembangkan teori Prof. Baldwin mengatakan bahwa Insting Peniruan memang ada, tetapi diperlukan beberapa latar belakang kesamaan lain (seperti misalnya, kesamaan moral maupun mental atau kesamaan wawasan atau intelektual) sebelum peniruan itu terjadi. Dengan perkataan lain, peniruan itu tidak otomatis terjadi. Artinya, kalau Anda seorang penyiar dengan mental yang lebih matang dan wawasan pengetahuan yang lebih luas, lalu setiap hari menonton gaya pewawancara yang menyebalkan tak berkelas dari sebuah stasiun televisi, maka kemungkinan besar Anda tidak akan menirunya. Mengapa? Karena tingkat mental dan wawasan intelektual Anda yang tidak sama dengan si penyiar TV tersebut.
Effek Peniruan di Penyiaran
Banyak penyiar (dan orang-orang urusan siaran di stasiun broadcasting) tidak tahu persis bagaimana sebenarnya audience mendengar atau menonton mereka. Mereka cuma mengira-ngira saja, bahwa kalau cara bicara saya atau gaya bicara aku seperti begini, pastilah pendengar/pemirsa saya akan senang atau terkagum-kagum. Padahal bisa saja yang terjadi justru kebalikannya, yang terjadi malah pendengar/pemirsa mual dengan cara dan gaya itu. Ini ada contohnya.
Misalnya: Dulu Sarah Sechan, Penyiar MTV Indonesia pada pertengahan tahun 90-an sangat populer di kalangan anak-anak remaja. Maka sampai sekarang pembawa-pembawa acara yang muda-muda (yang 10-15 tahun merupakan penonton MTV/Sarah Sechan) lalu secara insting (tak sadar), masih meniru gaya MTV/Sarah Sechan tersebut. Kebetulan Sarah Sechan memang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Inggris, kedengarannya sungguh pas di telinga. Tetapi penyiar-penyiar karbitan yang sekarang ini, ingin ikut-ikutan berbahasa Inggris padahal kemampuannya pun sangat tak memadai. Tentu saja pendengar/penonton yang kemampuan berbahasa Inggrisnya di atas para penyiar itu menjadi mual, dan segera mengganti saluran TV/radio-nya.
Tetapi sebaliknya, para penonton/pendengar yang pengetahuan dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga cuma so-so, akan menyukai dan bahkan meniru-niru gaya bahasa Inggris yang salah yang dilakukan oleh penyiar radio/TV kita tersebut. Karena ada kesamaan, penyiarnya berpengetahuan cuma so-so dan penontonnya juga pada tingkat intelektualitas yang cuma so-so.
Sayangnya, strata sosial masyarakat Indonesia masih berupa piramida. Artinya yang kurang berpendidikan masih lebih banyak daripada yang berpendidikan. Maka peniruan-peniruan atas hal yang salah dan kurang intelek akan lebih cepat meluas daripada hal yang benar dan berwawasan intelek. Itu tak bisa dihindari karena memang jumlahnya dalam populasi kita masih sangat besar. Itu pula sebabnya acara yang “agak bodoh”, selalu memiliki rating tinggi dan semakin tumbuh semakin membesar.
Gejala dalam masyarakat yang kini sedang terjadi dalam kaitannya dengan dunia broadcasting akan mudah dipahami dengan buku Professor Giddings sebagai acuannya. (arm)
Waktu saya masih SMP, pulang dari sekolah, saya sering melihat tukang jual obat di pinggir jalan berteriak-teriak melalui loudspeaker (pengeras suara) menawarkan obat 1001 yang katanya dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Si tukang obat dengan kepandaian bersilat lidah ditambah sedikit keahlian bermain sulap berhasil mengundang perhatian orang yang lalu lalang untuk berhenti sejenak. Tentu saja di antara kerumunan orang itu ada juga teman-temannya yang berpura-pura sakit datang untuk mencoba, dan setelah diteteskan obat 1001 ke dalam segelas air yang langsung diminum, maka kontan sembuh. Si teman tukang obat langsung membeli obat 1001 tanpa menawar dan ngeloyor pergi. Beberapa orang dari kerumunan rupanya terpengaruh, akhirnya juga membeli obat tersebut dan pergi. Mungkin dari sekitar 12 orang yang mengerumuni, saya melihat sekitar 5 orang membeli obat tersebut. Saya tidak tahu apakah ketika sampai di rumah nanti mereka akan kecewa atau gembira, tetapi yang jelas si tukang obat telah meraup sejumlah uang dan langsung mengemasi barang dagangannya dan pergi. Buat saya yang masih SMP hal itu biasa-biasa saja terjadi setiap hari.
Tapi sekarang saya berpikir, mengapa kok ada saja orang yang “termakan” oleh bualan si tukang obat, tanpa mempertimbangkan apakah yang dikatakannya itu masuk akal atau tidak, apakah claim khasiat obat itu memang bisa dibuktikan, siapa yang menjamin bahwa obat itu ampuh dan aman? Apa mereka tak berpikir?
Peniruan
Dalam sekumpulan kera yang diteliti, disimpulkan ternyata mereka memiliki istinct saling meniru yang sangat kuat. Instinct Meniru (Imitation Instinct) ini oleh Prof. J. Mark Baldwin, seorang pakar psikologi sosial abad 19, dinyatakan juga sebagai dimiliki oleh manusia. Teori ini menjadi salah satu dasar psikologi sosial modern. Jadi singkatnya, memang kebiasaan meniru tanpa berpikir panjang juga dimiliki oleh manusia dari dulu hingga sekarang. Maka tidak heran trik si tukang obat tadi untuk melariskan dagangannya cukup manjur. Dalam periklanan modern kita lihat sekarang trik ini juga banyak dipakai dengan istilah iklan “testimonial”.
Dari sisi negatif, kalau ada perbuatan yang “salah”, maka berdasarkan teori yang sama, tindakan salah ini pasti akan mengundang peniruan-peniruan. Itu sebabnya, belakangan ini kelihatan pembunuhan dengan mutilasi semakin marak. Salah satu faktornya, mungkin saja akibat penyebarluasan berita pembunuhan dengan mutilasi melalui media massa yang agak keterlaluan melewati batas, baik dari sisi pendalaman maupun dari sisi pengulangannya. Secara insting ini ditiru oleh pembunuh lainnya.
Kalau sekarang Anda banyak menonton siaran talk-show di televisi, lalu Anda sering melihat bagaimana gaya para pewawancara yang sok dan tak simpatik itu melontarkan pertanyaan kepada para tamu, maka jangan heran gaya yang buruk dan menyebalkan itu justru akan ditiru oleh penyiar-penyiar lain. Sampai-sampai kalau ada orang yang bukan begitu cara mewawancarai tamu, maka orang itu justru dianggap salah dan kuno.
Kenapa Hanya Hal Tertentu yang Ditiru?
Dalam buku Principles of Sosiology, Prof. Giddings yang mengembangkan teori Prof. Baldwin mengatakan bahwa Insting Peniruan memang ada, tetapi diperlukan beberapa latar belakang kesamaan lain (seperti misalnya, kesamaan moral maupun mental atau kesamaan wawasan atau intelektual) sebelum peniruan itu terjadi. Dengan perkataan lain, peniruan itu tidak otomatis terjadi. Artinya, kalau Anda seorang penyiar dengan mental yang lebih matang dan wawasan pengetahuan yang lebih luas, lalu setiap hari menonton gaya pewawancara yang menyebalkan tak berkelas dari sebuah stasiun televisi, maka kemungkinan besar Anda tidak akan menirunya. Mengapa? Karena tingkat mental dan wawasan intelektual Anda yang tidak sama dengan si penyiar TV tersebut.
Effek Peniruan di Penyiaran
Banyak penyiar (dan orang-orang urusan siaran di stasiun broadcasting) tidak tahu persis bagaimana sebenarnya audience mendengar atau menonton mereka. Mereka cuma mengira-ngira saja, bahwa kalau cara bicara saya atau gaya bicara aku seperti begini, pastilah pendengar/pemirsa saya akan senang atau terkagum-kagum. Padahal bisa saja yang terjadi justru kebalikannya, yang terjadi malah pendengar/pemirsa mual dengan cara dan gaya itu. Ini ada contohnya.
Misalnya: Dulu Sarah Sechan, Penyiar MTV Indonesia pada pertengahan tahun 90-an sangat populer di kalangan anak-anak remaja. Maka sampai sekarang pembawa-pembawa acara yang muda-muda (yang 10-15 tahun merupakan penonton MTV/Sarah Sechan) lalu secara insting (tak sadar), masih meniru gaya MTV/Sarah Sechan tersebut. Kebetulan Sarah Sechan memang sangat fasih berbahasa Inggris, sehingga ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Inggris, kedengarannya sungguh pas di telinga. Tetapi penyiar-penyiar karbitan yang sekarang ini, ingin ikut-ikutan berbahasa Inggris padahal kemampuannya pun sangat tak memadai. Tentu saja pendengar/penonton yang kemampuan berbahasa Inggrisnya di atas para penyiar itu menjadi mual, dan segera mengganti saluran TV/radio-nya.
Tetapi sebaliknya, para penonton/pendengar yang pengetahuan dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga cuma so-so, akan menyukai dan bahkan meniru-niru gaya bahasa Inggris yang salah yang dilakukan oleh penyiar radio/TV kita tersebut. Karena ada kesamaan, penyiarnya berpengetahuan cuma so-so dan penontonnya juga pada tingkat intelektualitas yang cuma so-so.
Sayangnya, strata sosial masyarakat Indonesia masih berupa piramida. Artinya yang kurang berpendidikan masih lebih banyak daripada yang berpendidikan. Maka peniruan-peniruan atas hal yang salah dan kurang intelek akan lebih cepat meluas daripada hal yang benar dan berwawasan intelek. Itu tak bisa dihindari karena memang jumlahnya dalam populasi kita masih sangat besar. Itu pula sebabnya acara yang “agak bodoh”, selalu memiliki rating tinggi dan semakin tumbuh semakin membesar.
Gejala dalam masyarakat yang kini sedang terjadi dalam kaitannya dengan dunia broadcasting akan mudah dipahami dengan buku Professor Giddings sebagai acuannya. (arm)
3 komentar:
enlighting article, sir :)
jadi kalo boleh menyimpulkan, correct me if i'm wrong, paling tidak kita harus bisa `ngobrol` selaras dengan pendengar/pemirsa yang sesuai dengan terget market/segmen media tuju.
Setuju sekali, kadangkala field of frame yang `gak konek` bisa bikin para broadcaster jadi tebak-tebak buah manggis dalam mengolah info.
jadi sebaiknya, dalam batas kadar sejauh mana ya mas, kita bisa `dihalalkan` meniru? Karena saya sendiri prefer menjadi diri sendiri daripada meniru :)
Ijin ngelink k blog ini ya boss ?
Hi Ita, terima kasih atas komentarnya.
Artikel "Insting Meniru" saya maksudkan agar pembaca mendapat sedikit gambaran untuk memahami fenomena "meniru" yang seolah-olah sudah mengepung segala aspek kehidupan kita, termasuk penyiaran. Bahkan setelah tulisan ini terbit, harian Kompas pada edisi hari Minggu 3 Mei 2009, membahas soal plagiatisme dalam dunia musik kita belakangan ini. Sudah sering pula dibahas bahwa peniruan (baca: penjiplakan) itu umumnya didorong oleh keinginan meraih sukses dengan cara mudah. Tetapi belum ada yang membahas, mengapa tidak semua orang mau menjiplak untuk meraih sukses? Padahal itu salah satu cara yang mudah.
Misalnya, lihat saja sukses GenFM di Jakarta. Bukankah tidak sulit sama sekali untuk menirunya. Lakukan seleksi lagu berdasarkan survey, lagu-lagu apa saja yang disenangi masyarakat, kemudian udarakan hanya lagu-lagu yang terbukti disukai (dalam survey). Mudah bukan? Lebih mudah lagi, cukup rekam siaran mereka, lalu tiru persis lagu-lagu yang mereka udarakan. Apa susahnya? Ada sebuah radio di kota lain yang meniru GenFM dengan cara ini, dan berhasil. Dalam satu tahun radio itu sudah menjadi radio dengan pendengar terbanyak di kotanya.
Pertanyaannya, mengapa tidak semua orang mau melakukan hal ini? Mengapa hanya orang-orang tertentu saja yang mau meniru ? Nah, dalam artikel "Insting Meniru" itulah kira-kira kita bisa mendapat sedikit jawabannya.
Sekarang menjawab pertanyaan anda:
(1) Betul sekali. Syarat keberhasilan komunikasi, anda selaku penyiar/komunikator harus mempunyai "kesamaan" dengan komunikan/pendengar anda. Asal kata "komunikasi" sendiri berangkat dari akar kata "commun (bhs. Greek) " atau common (bhs. Inggris) yang artinya kesamaan.
(2) Kalau kita ingin belajar sesuatu, maka tentu saja pada tahapan awalnya kita akan "meniru" guru kita. Tetapi kita belajar maksudnya bukan agar kita menjadi "copy" dari guru kita atau seseorang lain, melainkan hanya sebuah tahapan yang harus dilalui. Karena akhirnya, kita harus berkembang menjadi diri kita sendiri dengan keunikan tersendiri, walaupun teknik dasarnya mempunyai hulu yang sama.
Jadi menjadi diri sendiri memang tujuannya. Namun tidak benar juga kalau menjadi diri sendiri tetapi tidak berdasarkan ilmu.
Pelukis ternama Picasso yang lukisannya sangat aneh (seperti anak kecil yang menggambar), namun dalam pandangan para ahli lukisan, mereka tahu persis bahwa ilmu dan teknik melukis Picasso sudah sangat-sangat tinggi. Kita yang orang awam tentu tidak mengetahui hal tersebut. Itu sebabnya, lukisan-lukisan karya Picasso berharga jutaan dollar. Padahal secara selintas, seolah-seolah melukis ala Picasso bisa dilakukan oleh semua orang. Seandainya saya bilang, sekarang saya mau membuat lukisan semau saya sendiri, karena memang memang inilah saya, dan saya ingin menjadi diri sendiri. Barangkali tidak ada seorangpun yang mau menghargai lukisan saya, karena saya memang tidak tahu sama sekali teknik dan ilmu melukis yang benar.
Kesimpulannya, kalau anda ingin belajar, maka "meniru" adalah tahapan yang wajar dilalui. Tetapi jangan berhenti sampai disitu saja, kembangkanlah berdasarkan ilmu yang benar, sampai anda menjadi diri sendiri. Unik, tidak ada dua-nya, dan... bagi para ahli, anda melakukannya dengan teknik yang benar.
Demikan Ita, semoga terjawab pertanyaannya.
Salam,
Andy RM
Posting Komentar