14 April 2009

Kita Kira Dia Suka

oleh Andy Rustam

Misalkan, Anda seorang penggemar liga sepakbola Inggris yang tinggal di Yogyakarta, sudah barang tentu Anda akan mengikuti setiap pertandingan di televisi, membaca semua ulasan pertandingan di surat kabar dan membaca kisah hidup para bintangnya di tabloid atau majalah. Anda akan pergi/hang-out dengan teman-teman yang juga suka sepakbola liga Inggris dan dengan gembira mengobrol tentang itu. Ketika Anda datang ke Jakarta, lalu seseorang bertanya kepada Anda, apakah Sepakbola Liga Inggris sangat populer di Yogyakarta? Diakibatkan karena Anda selama ini memang menyukai Liga Inggris, dan membiarkan diri Anda untuk selalu berada di lingkungan yang juga menyukainya, serta melahap semua informasi mengenai liga Inggris, maka pastilah Anda akan menjawab, "Ya, tentu saja”.

Mis-persepsi seperti ini sering terjadi. Kalau kita suka musik Jazz, tentulah kita selalu mencari dan berada di seputar kalangan pengemar jazz music, kemudian kita menyangka bahwa semua orang menyukai musik Jazz.

Orang TV-Broadcaster Sering Terjebak

Hal seperti ini jugalah yang paling sering menggelincirkan para pembuat acara/produser dan para penyiar di televisi. Contoh yang paling baru adalah ketika hari penyontrengan dan penghitungan suara kemarin dimulai. TV One (atau Metro TV, saya lupa!) dari pagi ramai mengudarakan acara bercakap-cakap tentang penghitungan suara. Semua penyiarnya berwawancara membuka pembahasan dengan kata, “Seandainya...”. Sudah barang tentu menurut mereka, acara dengan pembahasan yang demikianlah yang diinginkan oleh para pemirsa. Padahal yang benar, acara seperti begitulah yang diinginkan oleh para jurnalis dan wartawan dari TV One (atau Metro TV). Namun mereka menganggap inilah yang diinginkan pemirsa. Mereka menyangka pemirsa itu seperti mereka juga.

Jadi, yang terjadi sebenarnya, para wartawan itulah yang menentukan “penting atau tidaknya” suatu berita bagi pemirsanya. Tanpa pernah tahu apakah benar-benar seperti itulah yang dikehendaki pemirsa.

Kenyataannya sih, kalau mengacu kepada diri saya, pada hari penghitungan suara, saya dan keluarga menonton TV berita itu dengan suara yang dimatikan. Mengapa? Karena adanya suara-suara reporter, penyiar, dan pengamat, (apalagi teknik ngomongnya begitu tergesa-gesa, tidak tenang dan tidak jelas), justru membuat ribut/berisik. Sementara hal yang diomongkan adalah hal yang tidak saya kehendaki dan menurut saya sangat tidak penting (tapi mungkin penting menurut para wartawan TV tsb.) Lalu mengapa tak dimatikan saja TV-nya? Itu karena saya memang membutuhkan informasi.

Sebenarnya informasi yang saya butuhkan hanya simple saja, yaitu: sampai pada saat ini, Partai Demokrat berapa %, PDIP berapa %, Golkar berapa % dll.? Untuk informasi ini bisa saya lihat pada running-text atau telop yang selalu muncul dilayar. Jadi dengan suara TV-nya dimatikan, sudah cukup bagi saya karena mendapatkan informasi yang saya butuhkan.

Siang itu saya habiskan dalam suasana tenang dengan membaca buku. Pesawat TV saya nyalakan tanpa suara, sehingga sesekali saya bisa melihat ke layar, bagaimana posisi perolehan suara partai-partai. Kasihan para wartawan televisi itu telah bersusah payah membuat acara tapi mubazir.

Orang Radio Broadcaster Juga Terjebak

Sebuah stasiun radio menebar reporter-reporternya ke berbagai TPS untuk melaporkan jalannya penyontrengan. Kemudian di studionya disediakan seorang narasumber untuk diajak bincang-bincang, sambil menunggu laporan-laporan dari para reporter. Gagasan acaranya menyebabkan semua reporter diterjunkan pada hari penyontrengan. Tetapi masalahnya, tidak ada seorang pun dari stasiun radio tersebut yang berpikir, apakah benar acara seperti ini yang diinginkan pendengar? Apakah benar, laporan bagaimana jalannya penyontrengan merupakan hal yang dianggap penting oleh pendengar? Bukankah pendengar sebenarnya hanya ingin tahu perkembangan perolehan suaranya saja?

Seperti juga di stasiun televisi, para staff tim pemberitaan di stasiun radio tersebut sudah menetapkan terlebih dahulu bahwa laporan reportase dari TPS , ditambah dengan ulasan para pengamat di studio adalah hal yang penting. Mereka mengandai-andai koalisi padahal hasil akhir belum ada. Omongan andai-andai jelas bukan informasi tetapi hanya omong-omong kosong. Pendengar radio jelas tak mau mendengar informasi yang cuma omong-omong kosong saja. Tetapi kalau Anda kebetulan seorang wartawan maka Anda pasti menganggap ini penting. Begitulah normalnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka, apakah pendengar mempunyai ketertarikan kepada hal/topik seperti yang wartawan tertarik?

Keluar dari Jebakan

Ingat lho. Wartawan adalah wartawan yang dikarenakan profesinya, mereka sudah tidak bisa lagi menempatkan diri sebagai pendengar atau pemirsa atau bahkan pembaca (kalau media cetak).

Yang paling awal harus dilakukan, kalau Anda bekerja di broadcasting adalah, Anda harus membuang pikiran tentang apa yang akan Anda perbuat sebagai broadcaster. Berpikir sebagai penyiar, wartawan, presenter, bisa menjebak! Broadcasting bukanlah tentang sesuatu apa yang kita buat, melainkan apa yang audience ingin dengar/saksikan. Oleh karena itu, Anda harus berpikir, apa yang sedang mereka lakukan atau apa aktivitas mereka ketika acara Anda sedang mengudara (nanti). Kalau Anda tahu apa yang sedang mereka lakukan, tentu Anda bisa memperkirakan apa pesan yang pas, yang mereka butuhkan dan bagaimana cara menyampaikannya.

Publik dari media broadcasting selalu berprinsip, mumpung saya lagi nonton/mendengarkan siaran radio, silahkan bicara tentang apa yang mau saya dengar sekarang. Karena kalau tidak maka saya akan pindah gelombang untuk memperoleh apa yang saya mau (dengar/lihat) sekarang. Berbeda dengan media cetak, dimana ia bisa menunda membacanya (= menunda diterimanya pesan) dengan menyimpan dulu koran atau majalah tersebut.

Jadi perhatikan keadaan audience Anda kalau mau siaran.

Misal, kalau ketika Anda sedang siaran di pagi hari, sedangkan audience Anda di pagi hari akan berangkat ke kantor. Maka, sudah barang tentu siaran acara TV yang memerlukan perhatian penuh atau menyita waktu banyak, harus dihindarkan (karena mereka tak punya cukup waktu untuk menonton).

Kesimpulan: Agar Anda tak terjebak dengan kesalahan seperti itu, maka sejak awal selalulah berpikir dari sisi audience dan bukan dari sisi diri anda. (arm)

Tidak ada komentar: