oleh Andy Rustam
Ketika mengobrol dengan seorang teman, katakanlah si A, kadang-kadang tak terasa kita sudah menghabiskan waktu lebih dari dua jam namun masih saja ada keinginan untuk mengobrol lebih lama lagi. Tetapi pernah juga kita mengobrol dengan seseorang, si B, baru saja menghabiskan waktu kurang dari 15 menit, rasanya sudah lama sekali. Apa sebabnya? Kasus sederhana tersebut sebenarnya suatu hal yang amat prinsip bagi kita yang berkecimpung di dunia penyiaran (radio dan TV).
Bukankah kita ingin acara-acara siaran kita berhasil meraih banyak pemirsa atau pendengar? Karena latar belakang saya bukanlah ilmu komunikasi, maka tentu saja saya mencoba mencari jawabannya kepada teman-teman yang memang mengambil spesialisasi di bidang studi komunikasi. Kesimpulannya, menurut mereka, yang menyebabkan seseorang betah terlarut dalam pembicaraan adalah “isi pembicaraannya menarik”.
Karena Topiknya Menarik
Barangkali jawaban ini mengecewakan Anda, bukan? Saya sendiri juga kecewa. Karena kalau ini sih... kita semua juga sudah tahu. Bukankah selama ini siaran-siaran TV (dan juga radio) dipenuhi oleh hal-hal yang isinya dianggap menarik. Misalnya, sekarang yang lagi “in” adalah kasus pembunuhan dimana Antasari Azhar menjadi tersangka. Cobalah lihat sendiri, bagaimana isi pembicaraan bergeser dari masalah pembunuhan kepada isi yang lebih menarik, yaitu: seks dan perselingkuhan. Adalagi media yang melebarkan isinya menjadi topik-topik politis, padahal kasusnya adalah kriminal. Mengapa? Jawabannya, karena “isi yang seperti itulah yang lebih menarik”.
Acara gosip (yang istilahnya hanya ada di Indonesia: infotainment) selalu menjadi mata acara yang dimiliki oleh semua stasiun televisi. Acara banyolan/humor juga banyak menjadi mata acara yang selalu ada di setiap stasiun penyiaran (radio dan TV). Mengapa begitu? Jawabannya, karena para program manager/director berpendapat bahwa “isi yang begitulah yang lebih menarik”.
Terus terang saya tidak puas, dan mencoba lebih mencerna lagi apa yang dikatakan oleh teman-teman saya ahli ilmu komunikasi: “isi yang menarik”. Rupanya istilah “isi” inilah yang sering disalah-artikan oleh kita para broadcaster sebagai “perihal” , “topik”, atau “tema”. Misalnya, perihal perselingkuhan lebih menarik daripada perihal pembunuhan. Contoh lain: acara bertema komedi lebih menarik dibandingkan acara bertema drama rumah tangga. Topik kriminal bergeser menjadi topik politik dan ekonomi (korupsi). Padahal yang dimaksudkan dengan “isi/content yang menarik” bukan hanya harus diartikan sebagai perihal, topik, dan tema, melainkan yang justru paling penting adalah bagaimana itu semua disajikan oleh komunikator (penyiar/broadcaster) kepada komunikan (pendengar/pemirsa).
Mengapa Menarik?
Kalau Anda ingin membuat sesuatu yang menarik, tentulah Anda harus mengetahui terlebih dahulu, apa yang membuat orang tertarik? Kalau Anda hari ini kebetulan sedang mengalami “sakit perut”, lalu ada seseorang datang kepada Anda dan membicarakan tentang sebuah handphone yang canggih. Maka sudah pastilah Anda tak akan tertarik untuk mendengarkannya. Padahal biasanya Anda selalu tertarik bila topik pembicaraan tentang gadget terbaru. Tapi kali ini, Anda akan tertarik untuk mendengarkan, apabila isi pembicaraannya mengenai apa penyebab sakit perut dan bagaimana mencegah serta mengatasinya. Dengan demikian bisa disimpulkan, orang akan tertarik pada pembicaraan kita apabila isi pembicaraan kita sesuai dengan kebutuhan mereka pada saat itu.
Ceritanya orang yang datang kepada Anda dan membicarakan tentang sakit perut ada dua orang, yang satu berpakaian lusuh dan yang seorang lagi berpakaian rapih dan bersih. Maka sudah barang tentu Anda lebih tertarik kepada orang yang berpenampilan rapih.
Misalnya lagi, kedua orang yang datang kepada Anda, yang satu belum Anda kenal, sedangkan yang satu lagi merupakan sahabat lama Anda. Maka pastilah Anda lebih tertarik mendengarkan cerita tentang sakit perut dari sahabat Anda.
Seandainya, gaya bicara yang seorang cenderung kurang sopan, dan yang satu lagi berbicara dengan gaya yang menghormati Anda. Maka sudah pasti Anda lebih tertarik untuk mendengarkan orang yang gaya bicaranya santun serta menunjukkan rasa hormatnya kepada Anda.
Anda kemudian merasa bahwa yang satu berbicara agak membual, sedangkan yang seorang lagi berbicara berdasarkan data dan fakta yang ada. Maka sudah pasti akan lebih tertarik mendengarkan orang yang berbicara berdasarkan fakta.
Untuk memahami apa yang diucapkan oleh orang yang satu, Anda harus mendengarkan dengan extra pasang kuping karena suaranya sangat lemah dan kalimat-kalimatnya tak jelas. Tetapi orang yang satu lagi berbicara dengan suara yang pas volumenya serta kalimat-kalimatnya mudah dimengerti, dan jernih ucapan-ucapannya. Maka sudah pasti Anda akan lebih tertarik mendengarkan orang yang disebutkan terakhir.
Orang yang pertama berbicara kepada Anda dengan cara yang kaku dan monoton, sedangkan orang yang kedua berbicara dengan santai terkadang serius terkadang sedikit humor. Sudah pasti Anda lebih senang berbicara dengan orang yang kedua, karena tidak membosankan.
Kesimpulan
Semuanya itu kalau saya rangkum, rasanya ini bisa menjawab pertanyaan kita di awal tulisan. Kita betah mendengarkan orang yang berbicara kepada kita apabila isi yang dibicarakan sesuai dengan apa yang kita butuhkan pada saat kita membutuhkannya. Selain itu orang yang berbicara kepada kita haruslah orang yang sudah kita “kenal” cukup dekat dengan kita, dengan penampilan yang baik, serta memiliki gaya bicara yang menghargai/menghormati kita, dan apa yang dikatakannya bisa dipercaya disertai cara penyampaian yang santai dan variatif, dengan ucapan-ucapan yang mudah dimengerti.
Sekarang coba deh Anda pikir-pikir atau mengingat-ingat, pernahkah Anda bercakap-cakap dengan seseorang begitu serunya sampai lupa waktu? Nah sekarang Anda sudah tahu penyebabnya, bukan? ......eh ternyata ngobrol sama si A asik lho, pantesan betah sampai berjam-jam. (arm)
Ketika mengobrol dengan seorang teman, katakanlah si A, kadang-kadang tak terasa kita sudah menghabiskan waktu lebih dari dua jam namun masih saja ada keinginan untuk mengobrol lebih lama lagi. Tetapi pernah juga kita mengobrol dengan seseorang, si B, baru saja menghabiskan waktu kurang dari 15 menit, rasanya sudah lama sekali. Apa sebabnya? Kasus sederhana tersebut sebenarnya suatu hal yang amat prinsip bagi kita yang berkecimpung di dunia penyiaran (radio dan TV).
Bukankah kita ingin acara-acara siaran kita berhasil meraih banyak pemirsa atau pendengar? Karena latar belakang saya bukanlah ilmu komunikasi, maka tentu saja saya mencoba mencari jawabannya kepada teman-teman yang memang mengambil spesialisasi di bidang studi komunikasi. Kesimpulannya, menurut mereka, yang menyebabkan seseorang betah terlarut dalam pembicaraan adalah “isi pembicaraannya menarik”.
Karena Topiknya Menarik
Barangkali jawaban ini mengecewakan Anda, bukan? Saya sendiri juga kecewa. Karena kalau ini sih... kita semua juga sudah tahu. Bukankah selama ini siaran-siaran TV (dan juga radio) dipenuhi oleh hal-hal yang isinya dianggap menarik. Misalnya, sekarang yang lagi “in” adalah kasus pembunuhan dimana Antasari Azhar menjadi tersangka. Cobalah lihat sendiri, bagaimana isi pembicaraan bergeser dari masalah pembunuhan kepada isi yang lebih menarik, yaitu: seks dan perselingkuhan. Adalagi media yang melebarkan isinya menjadi topik-topik politis, padahal kasusnya adalah kriminal. Mengapa? Jawabannya, karena “isi yang seperti itulah yang lebih menarik”.
Acara gosip (yang istilahnya hanya ada di Indonesia: infotainment) selalu menjadi mata acara yang dimiliki oleh semua stasiun televisi. Acara banyolan/humor juga banyak menjadi mata acara yang selalu ada di setiap stasiun penyiaran (radio dan TV). Mengapa begitu? Jawabannya, karena para program manager/director berpendapat bahwa “isi yang begitulah yang lebih menarik”.
Terus terang saya tidak puas, dan mencoba lebih mencerna lagi apa yang dikatakan oleh teman-teman saya ahli ilmu komunikasi: “isi yang menarik”. Rupanya istilah “isi” inilah yang sering disalah-artikan oleh kita para broadcaster sebagai “perihal” , “topik”, atau “tema”. Misalnya, perihal perselingkuhan lebih menarik daripada perihal pembunuhan. Contoh lain: acara bertema komedi lebih menarik dibandingkan acara bertema drama rumah tangga. Topik kriminal bergeser menjadi topik politik dan ekonomi (korupsi). Padahal yang dimaksudkan dengan “isi/content yang menarik” bukan hanya harus diartikan sebagai perihal, topik, dan tema, melainkan yang justru paling penting adalah bagaimana itu semua disajikan oleh komunikator (penyiar/broadcaster) kepada komunikan (pendengar/pemirsa).
Mengapa Menarik?
Kalau Anda ingin membuat sesuatu yang menarik, tentulah Anda harus mengetahui terlebih dahulu, apa yang membuat orang tertarik? Kalau Anda hari ini kebetulan sedang mengalami “sakit perut”, lalu ada seseorang datang kepada Anda dan membicarakan tentang sebuah handphone yang canggih. Maka sudah pastilah Anda tak akan tertarik untuk mendengarkannya. Padahal biasanya Anda selalu tertarik bila topik pembicaraan tentang gadget terbaru. Tapi kali ini, Anda akan tertarik untuk mendengarkan, apabila isi pembicaraannya mengenai apa penyebab sakit perut dan bagaimana mencegah serta mengatasinya. Dengan demikian bisa disimpulkan, orang akan tertarik pada pembicaraan kita apabila isi pembicaraan kita sesuai dengan kebutuhan mereka pada saat itu.
Ceritanya orang yang datang kepada Anda dan membicarakan tentang sakit perut ada dua orang, yang satu berpakaian lusuh dan yang seorang lagi berpakaian rapih dan bersih. Maka sudah barang tentu Anda lebih tertarik kepada orang yang berpenampilan rapih.
Misalnya lagi, kedua orang yang datang kepada Anda, yang satu belum Anda kenal, sedangkan yang satu lagi merupakan sahabat lama Anda. Maka pastilah Anda lebih tertarik mendengarkan cerita tentang sakit perut dari sahabat Anda.
Seandainya, gaya bicara yang seorang cenderung kurang sopan, dan yang satu lagi berbicara dengan gaya yang menghormati Anda. Maka sudah pasti Anda lebih tertarik untuk mendengarkan orang yang gaya bicaranya santun serta menunjukkan rasa hormatnya kepada Anda.
Anda kemudian merasa bahwa yang satu berbicara agak membual, sedangkan yang seorang lagi berbicara berdasarkan data dan fakta yang ada. Maka sudah pasti akan lebih tertarik mendengarkan orang yang berbicara berdasarkan fakta.
Untuk memahami apa yang diucapkan oleh orang yang satu, Anda harus mendengarkan dengan extra pasang kuping karena suaranya sangat lemah dan kalimat-kalimatnya tak jelas. Tetapi orang yang satu lagi berbicara dengan suara yang pas volumenya serta kalimat-kalimatnya mudah dimengerti, dan jernih ucapan-ucapannya. Maka sudah pasti Anda akan lebih tertarik mendengarkan orang yang disebutkan terakhir.
Orang yang pertama berbicara kepada Anda dengan cara yang kaku dan monoton, sedangkan orang yang kedua berbicara dengan santai terkadang serius terkadang sedikit humor. Sudah pasti Anda lebih senang berbicara dengan orang yang kedua, karena tidak membosankan.
Kesimpulan
Semuanya itu kalau saya rangkum, rasanya ini bisa menjawab pertanyaan kita di awal tulisan. Kita betah mendengarkan orang yang berbicara kepada kita apabila isi yang dibicarakan sesuai dengan apa yang kita butuhkan pada saat kita membutuhkannya. Selain itu orang yang berbicara kepada kita haruslah orang yang sudah kita “kenal” cukup dekat dengan kita, dengan penampilan yang baik, serta memiliki gaya bicara yang menghargai/menghormati kita, dan apa yang dikatakannya bisa dipercaya disertai cara penyampaian yang santai dan variatif, dengan ucapan-ucapan yang mudah dimengerti.
Sekarang coba deh Anda pikir-pikir atau mengingat-ingat, pernahkah Anda bercakap-cakap dengan seseorang begitu serunya sampai lupa waktu? Nah sekarang Anda sudah tahu penyebabnya, bukan? ......eh ternyata ngobrol sama si A asik lho, pantesan betah sampai berjam-jam. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar