oleh Andy Rustam
Organisasi persatuan para broadcaster di Amerika (NAB = National Association of Broadcasters) sering mengadakan event-event, baik itu untuk televisi (NAB-TV) maupun untuk radio (NAB-Radio). Dalam event seperti itu mereka membicarakan segala aspek tentang industri broadcasting. Bahkan dalam setahun sering dibuat lagi event-event yang lebih spesifik lagi, misalnya hanya untuk orang-orang teknik saja atau orang-orang programming saja dsb. dsb. Dalam NAB Radio Convention pada bulan Oktober 2004 di San diego, California, ada sebuah presentasi yang menampilkan daftar komentar dan komplain pendengar kepada stasiun radio. Macam-macam isinya, mulai dari keluhan soal kebanyakan iklan , sampai suara penyiar yang dikeluhkan bagai suara ringkikan kuda. Dari sebegitu banyak keluhan/komplain, maka dipilihlah lima cuplikan komplain pendengar yang ternyata ada di semua radio. TOP 5 Listeners Quotes ini ada baiknya kita ketahui, karena siapa tahu, komplain serupa juga ada di stasiun kita, dan ini bahan untuk mengoreksi diri. Inilah cuplikan (quotes) komentar tersebut:
Nomor 5
Pendengar: “Jangan sok lucu deh... kita nggak merasa itu lucu, kok? Malah kamu yang ketawa-ketawa sendiri... garing!”
Saya yakin hal seperti ini juga sering kita dengar pada siaran-siaran radio kita di Indonesia. Kita sebagai penyiar sering tidak sadar ketika melakukan ini, tetapi sebenarnya pendengar sangat tidak menyukai. Kita sering bercanda untuk hal-hal yang hanya menarik bagi lingkungan kita sendiri. Pendengar merasakan ini sebagai “gue dicuekin”. Dampak yang sama juga, kalau kita menyapa hanya beberapa gelintir orang yang itu-itu saja.
Nomor 4
Pendengar: “Kenapa kamu males banget sih menyebutkan judul lagu dan artisnya. Biarpun lagunya udah beken, tetapi kita ngga selalu inget, 'kan? Ingetin kita dong... ngga ada salahnya, 'kan? Jadi kita ngga usah mikir lagi.”
Memang sering saya mendengar siaran radio yang penyiarnya hampir selalu tak menyebutkan judul lagu dan penyanyinya. Mungkin karena lagunya bahasa Inggris, susah baca judulnya,’kali? Ya, belajar. Tanya teman bagaimana membacanya, terus tuliskan di catatan supaya nggak lupa lagi bagaimana cara ucapan yang benar dalam bahasa Inggris. Pendengar selalu senang apabila judul lagu dan artisnya disebutkan, sekalipun ia sudah tahu atau belum tahu lagu itu. Tetapi hati-hati kalau Anda menyebutkan judul dan artisnya secara "salah”, dan pendengar tahu bagaimana membaca yang benar, maka hilanglah respek mereka pada Anda (penyiar) dan juga stasiun radionya.
Nomor 3
Pendengar: “Yang paling saya suka itu, saya tidak tahu lagu seperti apa berikutnya yang akan dipasang oleh penyiar... Tetapi ketika lagu itu dipasang tiba-tiba memang itu yang saya suka... pas dengan apa yang diharapkan, tetapi tetap surprising.”
Jaman saya masih jadi penyiar, ada seorang penyiar dimana kalau dia siaran, lagu-lagu yang dipasang pasti lagu yang itu lagi itu lagi. Rekan-rekan penyiar yang lain menamakannya sebagai lagu “penyakit“. Terkadang ada juga penyiar yang lagunya cukup bervariasi tetapi genre-nya tetap sama. Ini juga disebut “penyakit”. Ingatlah, bahwa pendengar sangat menyukai unsur “suprise” alias tak terduga. Oleh karena itu, variasikan pilihan dan rangkaian lagu Anda.
Nomor 2
Pendengar: “Kamu senang banget sih ngomongin hal yang tidak saya perlukan, sementara yang saya perlukan saat ini malahan kamu sedikit pun tak menyinggungnya.“
Wah kalau yang seperti ini, rasanya banyak sekali terjadi di dunia broadcasting kita. Bukan cuma di radio tetapi juga di televisi. Kita sering berpikir selalu dari sisi kita. Sehingga apa yang kita pikirkan, otomatis kita proyeksikan ke orang lain dan menganggapnya bahwa itu jugalah yang diinginkan oleh pemirsa/pendengar. Dari sisi lain, kalau kita tanyakan kepada pendengar pembicaraan tentang apa yang dikehendakinya, jawabannya biasanya juga tidak jelas. Ini bisa dimaklumi karena pendengar sendiri tak bisa merumuskan dengan jelas apa yang sesungguhnya dia inginkan. Kitalah broadcaster yang harus peka sehingga mampu “memprediksi” apa yang ada di hati dan pikiran pendengar pada umumnya.
Nomor 1
Pendengar: “Kita paham kok bahwa radio membutuhkan iklan. Tetapi kenapa tidak dibuat iklan itu dalam berbagai macam versi? Kita bosen denger iklan yang sama dengan kata-kata yang sama diudarakan berulang-ulang berminggu-minggu. Malahan kita jadi muak.“
Ini memang keluhan semua pendengar di semua radio. Pendengar mungkin tidak tahu bahwa soal versi iklan ini dan itu adalah kewenangan atau memang permintaan client (pemasang iklan). Barangkali Account Executive (AE) dari stasiun radio harus sedikit banyak meng-edukasi si client, walau saya yakin itu akan memakan waktu. Nah biasanya, baik client maupun si AE radio, sama-sama tidak mau repot. Padahal baik si client maupun si stasiun radio sama-sama rugi di-sentimenin sama pendengarnya....tau gak siiyy..? (arm)
Organisasi persatuan para broadcaster di Amerika (NAB = National Association of Broadcasters) sering mengadakan event-event, baik itu untuk televisi (NAB-TV) maupun untuk radio (NAB-Radio). Dalam event seperti itu mereka membicarakan segala aspek tentang industri broadcasting. Bahkan dalam setahun sering dibuat lagi event-event yang lebih spesifik lagi, misalnya hanya untuk orang-orang teknik saja atau orang-orang programming saja dsb. dsb. Dalam NAB Radio Convention pada bulan Oktober 2004 di San diego, California, ada sebuah presentasi yang menampilkan daftar komentar dan komplain pendengar kepada stasiun radio. Macam-macam isinya, mulai dari keluhan soal kebanyakan iklan , sampai suara penyiar yang dikeluhkan bagai suara ringkikan kuda. Dari sebegitu banyak keluhan/komplain, maka dipilihlah lima cuplikan komplain pendengar yang ternyata ada di semua radio. TOP 5 Listeners Quotes ini ada baiknya kita ketahui, karena siapa tahu, komplain serupa juga ada di stasiun kita, dan ini bahan untuk mengoreksi diri. Inilah cuplikan (quotes) komentar tersebut:
Nomor 5
Pendengar: “Jangan sok lucu deh... kita nggak merasa itu lucu, kok? Malah kamu yang ketawa-ketawa sendiri... garing!”
Saya yakin hal seperti ini juga sering kita dengar pada siaran-siaran radio kita di Indonesia. Kita sebagai penyiar sering tidak sadar ketika melakukan ini, tetapi sebenarnya pendengar sangat tidak menyukai. Kita sering bercanda untuk hal-hal yang hanya menarik bagi lingkungan kita sendiri. Pendengar merasakan ini sebagai “gue dicuekin”. Dampak yang sama juga, kalau kita menyapa hanya beberapa gelintir orang yang itu-itu saja.
Nomor 4
Pendengar: “Kenapa kamu males banget sih menyebutkan judul lagu dan artisnya. Biarpun lagunya udah beken, tetapi kita ngga selalu inget, 'kan? Ingetin kita dong... ngga ada salahnya, 'kan? Jadi kita ngga usah mikir lagi.”
Memang sering saya mendengar siaran radio yang penyiarnya hampir selalu tak menyebutkan judul lagu dan penyanyinya. Mungkin karena lagunya bahasa Inggris, susah baca judulnya,’kali? Ya, belajar. Tanya teman bagaimana membacanya, terus tuliskan di catatan supaya nggak lupa lagi bagaimana cara ucapan yang benar dalam bahasa Inggris. Pendengar selalu senang apabila judul lagu dan artisnya disebutkan, sekalipun ia sudah tahu atau belum tahu lagu itu. Tetapi hati-hati kalau Anda menyebutkan judul dan artisnya secara "salah”, dan pendengar tahu bagaimana membaca yang benar, maka hilanglah respek mereka pada Anda (penyiar) dan juga stasiun radionya.
Nomor 3
Pendengar: “Yang paling saya suka itu, saya tidak tahu lagu seperti apa berikutnya yang akan dipasang oleh penyiar... Tetapi ketika lagu itu dipasang tiba-tiba memang itu yang saya suka... pas dengan apa yang diharapkan, tetapi tetap surprising.”
Jaman saya masih jadi penyiar, ada seorang penyiar dimana kalau dia siaran, lagu-lagu yang dipasang pasti lagu yang itu lagi itu lagi. Rekan-rekan penyiar yang lain menamakannya sebagai lagu “penyakit“. Terkadang ada juga penyiar yang lagunya cukup bervariasi tetapi genre-nya tetap sama. Ini juga disebut “penyakit”. Ingatlah, bahwa pendengar sangat menyukai unsur “suprise” alias tak terduga. Oleh karena itu, variasikan pilihan dan rangkaian lagu Anda.
Nomor 2
Pendengar: “Kamu senang banget sih ngomongin hal yang tidak saya perlukan, sementara yang saya perlukan saat ini malahan kamu sedikit pun tak menyinggungnya.“
Wah kalau yang seperti ini, rasanya banyak sekali terjadi di dunia broadcasting kita. Bukan cuma di radio tetapi juga di televisi. Kita sering berpikir selalu dari sisi kita. Sehingga apa yang kita pikirkan, otomatis kita proyeksikan ke orang lain dan menganggapnya bahwa itu jugalah yang diinginkan oleh pemirsa/pendengar. Dari sisi lain, kalau kita tanyakan kepada pendengar pembicaraan tentang apa yang dikehendakinya, jawabannya biasanya juga tidak jelas. Ini bisa dimaklumi karena pendengar sendiri tak bisa merumuskan dengan jelas apa yang sesungguhnya dia inginkan. Kitalah broadcaster yang harus peka sehingga mampu “memprediksi” apa yang ada di hati dan pikiran pendengar pada umumnya.
Nomor 1
Pendengar: “Kita paham kok bahwa radio membutuhkan iklan. Tetapi kenapa tidak dibuat iklan itu dalam berbagai macam versi? Kita bosen denger iklan yang sama dengan kata-kata yang sama diudarakan berulang-ulang berminggu-minggu. Malahan kita jadi muak.“
Ini memang keluhan semua pendengar di semua radio. Pendengar mungkin tidak tahu bahwa soal versi iklan ini dan itu adalah kewenangan atau memang permintaan client (pemasang iklan). Barangkali Account Executive (AE) dari stasiun radio harus sedikit banyak meng-edukasi si client, walau saya yakin itu akan memakan waktu. Nah biasanya, baik client maupun si AE radio, sama-sama tidak mau repot. Padahal baik si client maupun si stasiun radio sama-sama rugi di-sentimenin sama pendengarnya....tau gak siiyy..? (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar