25 Oktober 2009

Dibutuhkan tapi Sedikit yang Memberikan

oleh Andy Rustam

Berapa banyak informasi yang kita terima setiap hari? Lihat saja berapa banyak iklan yang kita saksikan, baca, dengar, dan temukan setiap hari. Berapa banyak berita dalam sebuah koran di pagi hari yang kita baca, berapa banyak berita yang kita tonton di televisi hari ini. Belum lagi percakapan teman dan rekan lewat telpon, sms, facebook, surat-menyurat dsb., semuanya membanjiri kita dengan informasi. Pertanyaannya, berapa banyak dari informasi-informasi itu yang berhasil memberikan manfaat bagi kita, yang masuk ke dalam otak kita dan menempel di sana untuk kita gunakan dalam menjalani kehidupan. Berapa informasikah yang datang dengan membawa manfaat? Adakah informasi hari ini yang dilayangkan kepada kita, yang berhasil merubah perilaku kita menjadi orang yang lebih baik? Kalau kita hitung rasionya antara berapa banyak informasi yang menghantam kita diperbandingkan dengan informasi yang akhirnya berhasil merubah dan membawa manfaat bagi kita, maka hasilnya hanyalah 0,000X %. Ini menurut penelitian sebuah universitas di Eropa. Artinya, kecil sekali mendekati nol.

Banjirnya informasi yang melanda masyarakat tidak membuat masyarakat kita menjadi lebih baik?!? ..gawaaat. Ini sama juga dengan masyarakat dibanjiri dengan informasi sampah!

Mari Kita Test Siaran Radio

Coba minta bantuan salah seorang teman atau istri/suami yang punya sedikit waktu luang (bisa juga siapa saja, asalkan jangan orang yang bekerja di radio supaya penilaiannya bisa fair). Pertama, siapkan dulu kertas dan pensil. Buat dua buah kolom, kolom informasi di sebelah kiri dan kolom informasi yg berguna di sebelah kanan . Kemudian niatkan untuk mulai mendengarkan 1 stasiun radio saja (silahkan pilih sendiri) selama 1 jam. Setiap kali penyiarnya bicara, langsung Anda catat sebagai 1 informasi. Begitu pula kalau ada 1 iklan, itu juga dicatat sebagai 1 informasi. Beri angka 1, catat di kolom sebelah kiri. Tetapi ketika ada informasi yang menurut dia (teman Anda) merasa bahwa informasi ini cukup penting dan bisa berguna baginya dalam menjalankan kehidupan, baik sekarang atau nanti, maka berikan 1 angka di kolom sebelah kanan. Nah setelah tepat 60 menit, silahkan teman Anda itu menjumlahkan angka-angka di kolom sebelah kiri. Begitu pula angka-angka di kolom sebelah kanan. Maka akan diketahui, bahwa ketika seorang pendengar (yang diwakili oleh teman Anda) sudah menghabiskan waktu selama 60 menit mendengarkan siaran radio tersebut, sebenarnya hanya sedikit sekali memperoleh informasi yang menurutnya dirasakan berguna atau penting.

Mari Kita Test Siaran TV

Cara yang sama bisa kita lakukan pula dengan siaran TV. Tak perlu dikhawatirkan tentang acaranya. Terserah mau acara Berita, Sinetron, acara Aneka Musik atau acara Talk Show. Yang penting setiap kali ada kalimat yang diucapkan dan diselesaikan (tidak termasuk lirik lagu), itu harus dicatat sebagai sebuah/1 pesan informasi. Kalau informasinya dirasakan berguna/penting bagi kehidupan Anda, itu dicatat dalam kolom sebelah kanan, dan kalau tak berguna (kurang penting) itu Anda catatkan dalam kolom sebelah kiri. Maka saya berani jamin, bahwa hasilnya akan diketahui bahwa jumlah angka di sebelah kiri akan jauh lebih besar daripada jumlah angka disebelah kanan. Artinya jauh lebih banyak informasi yang tidak berguna yang dilayangkan kepada pemirsa daripada yang berguna.

Penelitian seperti ini secara lebih meluas dengan observasi yang detil sudah pernah dilakukan oleh Universitas Helsinksi di Finlandia, dengan hasil kesimpulan yang sama.

Menambah Bobot Siaran

Dari hasil test, sebenarnya kita sebagai seorang broadcaster mulai sekarang dapat lebih menambahkan “bobot” agar informasi yang berguna mendapat porsi yang dominan dalam siaran-siaran kita. Jelas bahwa menambah bobot siaran bukanlah berarti isi siaran kita harus “njlimet” atau “pembicaraannya memeras otak”, melainkan agar setiapkali kalau kita berbicara harus ada “isi”-nya.

Setiap kali kalau kita ngomong, maka si pendengar bertambah pintar. Ada kemajuan dalam pengetahuan praktisnya, ada kemajuan dalam cara memecahkan masalah, ada kemajuan dalam berpikir, ada kemajuan dalam cara bersikap menghadapi persoalan, dsb. dsb.

Kalaulah masyarakat kita semuanya sudah mampu mengenyam pendidikan formal yang memadai, dapatlah kita katakan bahwa harapan kemajuan negara dan bangsa kita terletak pada sekolah atau dunia pendidikan formal. Masalahnya justru pendidikan semakin mahal, dan tenaga pendidiknya pun menurun baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh karena itu, sulit menggantungkan sepenuhnya masa depan anak cucu kita hanya melalui dunia pendidikan.

Siaran-siaran radio & TV yang selama ini menjadi sarana hiburan gratis, seharusnya dapat berperan menjadi semacam “ sarana pendidikan“ gratis bagi masyarakat. Tetapi jangan bayangkan bahwa acara radio & TV yang mendidik itu bentuknya harus seperti ibarat Pak Guru berada di depan kelas lalu berbicara kepada murid-muridnya. Sungguh membosankan! Juga bukan sinetron dengan dialog-dialog menggurui seperti: “Makanya engkau harus mengikuti apa yang dikatakan oleh orang tuamu”. Garink!

Jadi apa dong siaran yang mendidik itu? Mudah saja. Siaran yang mendidik adalah siaran yang biasa saja seperti yang selama ini kita lakukan, tetapi porsi informasi yang berguna yang kita layangkan jumlahnya harus jauh lebih dominan. Usahakan agar angka di kolom kanan lebih tinggi dibandingkan angka di kolom kiri, menurut cara test kita. Dalam bahasa sekarang, “mendingan jangan ngomong deh lo daripada ngomong tapi asal”. (arm)

Tidak ada komentar: