02 November 2009

Maksud Belajar Agar Mampu

oleh Andy Rustam

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya sebagai Pelatih & Pengajar adalah, “Pak, kalau saya ingin belajar anu itu berapa lama, ya?“ Terus terang agak sulit saya menjawabnya, walaupun barangkali untuk ancer-ancer berdasarkan pengalaman, tentu bisalah saya memberikan jawaban misalnya sekian kali datang @ 2 jam. Lalu biasanya, mungkin karena masalah biaya, mereka meminta agar waktunya dipersingkat. Barangkali di dalam pikirannya mereka beranggapan bahwa membayar saya saja sudah mahal lalu musti sekian kali datang bisa menghabiskan biaya besar. Padahal sama sekali bukan begitu.

Dalam pandangan saya, kalau seseorang sudah ingin belajar kepada saya, maka langsung timbul tekad dalam diri saya, agar setelah selesai masa belajarnya nanti, mereka bukan hanya harus jadi pintar sekarang ini saja, tapi juga berkemampuan untuk berkembang sendiri selanjutnya. Di lain sisi, kemampuan si murid untuk menyerap ilmu juga sangat berbeda-beda. Bahkan di banyak kasus yang memerlukan prasyarat perubahan cara berpikir, ataupun yang membutuhkan latihan fisik, kerajinan si murid untuk berlatih sendiri akan sangat menentukan apakah pembelajaran ini dapat selesai pada waktunya.

Cara Berpikir Konseptual

Sebagai mantan orang Radio & TV, wajar saja kalau murid-murid saya banyak dari kalangan Radio & TV. Tetapi cukup banyak juga yang datang dari majalah (media cetak), PR companies, Advertising Agencies, bahkan perusahaan Pertambangan, Asuransi, Departemen-Departemen Pemerintahan dlsb. Karena pada dasarnya dalam sektor industri apa saja, atau dalam bidang apapun, sebenarnya “komunikasi adalah kunci keberhasilan”. Apatah lagi kalau itu bidang Sales, Marketing, Management Umum. Bukan hanya itu, bahkan juga dalam hubungan harmonis rumah tangga dan keluarga, salah satu kunci keberhasilannya adalah komunikasi.

Nah, selama ini yang saya lihat, akar problema terbanyak yang dihadapi dalam berkomunikasi adalah pada cara berpikirnya. Malah lebih sering terjadi berkomunikasi tanpa dipikir alias tanpa konsep di dalam otaknya. Makanya tidak heran kita saksikan di televisi banyaknya penyiar TV (juga radio), presenter, reporter, pewawancara, artis sinetron, pejabat, yang tidak enak didengar karena kacau balau dalam berkomunikasi. Mereka berbicara seperti sedang menelpon temannya, dan yang begitu itu dianggap wajar. Sementara publik sudah sebel bener mendengarnya (kecuali orang yang dangkal intelektualitasnya).

Jadi sebelum saya melatih mereka dalam keterampilan berbicara di depan publik, makanya yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah cara berpikirnya. Cara berpikir yang diperlukan agar mampu berkomunikasi dengan baik adalah cara berpikir yang konseptual. Misalnya, kalau Anda ingin meminta sesuatu dari seseorang, bukanlah serta merta Anda berpikir untuk mengatakannya tetapi telah berpikir pula faktor-faktor apa yang dapat membuat orang tersebut tidak akan berkeberatan atas permintaan Anda.

Nah bayangkan sendiri, seseorang yang sudah semenjak lahir, hidup, dan besar di lingkungan yang adab komunikasinya sudah tidak benar, tiba-tiba kini menjadi pejabat, artis, presenter dsb., dan harus berbicara dihadapan publik... wah yaa..amburadul! Dan untuk merubahnya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Diperlukan latihan-latihan yang berkesinambungan dalam satu periode tertentu. Ibaratnya kalau Anda ingin belajar bermain piano klasik, maka masalah membaca not-balok itu cuma urusan dua jam saja. Tetapi bagaimana agar jari-jari Anda bisa memainkannya sesuai apa yang terbaca pada not-balok, itu yang memerlukan latihan jari setiap hari berkesinambungan dan bertahun-tahun secara konsisten agar tumbuh menjadi suatu “kebiasaan”.

Berbeda Antara Tahu, Paham, dan Mampu

Lihat saja bagaimana Taufik Kiemas (ketua MPR) begitu amburadulnya memberikan sambutan dalam upacara pelantikan Presiden (dan Wapres) minggu lalu, walaupun beliau hanya tinggal membacakan text/naskah yang sudah dipersiapkan. Apakah karena beliau “tidak mampu”? Jelas bukan, melainkan karena tidak biasa. Dalam halnya Training & Pelatihan, bukan hanya harus merubah cara berpikir dan keterampilan peserta, tetapi yang utama justru membuat kebiasaan-baru menggantikan kebiasaan-lama yang sudah mendarah-daging. Itu sebabnya saya selalu membutuhkan waktu yang agak panjang dalam konsistensi keteraturan.

Apabila ada permintaan Seminar atau Workshop, itu pun bukan berarti saya hanya sekedar berbicara serta memberikan hands-out kepada peserta, tetapi tetap saja harus ada sesuatu yang harus dicapai. Selama ini memang banyak orang mengadakan seminar tetapi sebenarnya dia “berjualan”. Apakah itu berjualan buku, berjualan software ataupun berjualan produk/jasa lainnya. Adalagi seminar dimana pembicaranya boleh jadi orang yang pintar/terkenal, namun ia hanya menyampaikan apa yang telah dialami dalam perjalanan hidup/karier alias sharing.

Dalam seminar type seperti ini, tentu saja hanya sedikit manfaat yang dapat diserap. Menurut saya seminar seperti ini hanya akan membuat pesertanya menjadi sekedar “Tahu” saja. Karena ketika sudah pulang mungkin sekali apa yang sudah dibicarakan tadi terlupakan. Kalau boleh jujur, sebagai seorang Pengajar & Pelatih, saya mangatakan bahwa seminar seperti itu sebagai sekedar mencari uang dari peserta. Halmana sangat bertentangan dengan idealisme profesi seorang pengajar.

Kalau saya diminta berbicara dan terlibat dalam suatu seminar atau workshop, pastilah saya akan tetapkan satu sasaran, yaitu misalnya, membuat peserta jadi “Paham”. Untuk itu terkadang saya akan meminta waktu berbicara yang disesuaikan sedemikian rupa, agar sasaran tersebut dapat tercapai. Paham artinya, sepulangnya dari pendidikan tersebut, setidak-tidaknya peserta sudah merasa timbul keyakinan bahwa ia bisa melakukan apa yang diajarkan walaupun masih dalam tingkat awal. Jadi, paling tidak, sudah terbuka cara berpikir baru, walaupun ia mungkin saja masih belum bisa melaksanakannya dengan baik.

Tahapan-Tahapan Sasaran Pembelajaran

Tahap pertama sebuah pembelajaran selalu bertujuan untuk membuat peserta “betul-betul tahu” perihal yang ingin dipelajarinya. Masalahnya, seringkali peserta selama ini merasa sudah tahu, sehingga dengan sendirinya tidak merasa perlu untuk belajar. Tahap kedua adalah membuat para peserta meningkat menjadi “paham sehingga merasa yakin” tentang ilmu atau pengetahuan tersebut. Dengan modal ini diharapkan peserta semakin bersemangat untuk masuk ke tahap lanjutannya, yang akan membawa peserta menjadi “mampu” untuk menggunakan ilmu/keterampilan tsb. Tahap keempat adalah tahap terakhir pembelajaran, yaitu bertujuan membuat peserta menjadi “mahir” dalam menggunakan ilmu yang dipelajarinya itu dengan segala variasi situasi dan kondisi di lapangan. Nah, mengingat untuk setiap tahapan ada sasaran yang harus dicapai, tentu sulit apabila tak didukung oleh para muridnya sendiri. Itu sebabnya sulit bagi saya untuk menetapkan jawaban secara pasti kalau ada yang melontarkan pertanyaan seperti tertera pada awal tulisan ini.

Tetapi ada juga yang merasa heran, karena bukankah sekolah pun sudah jelas ada kurikulum dan masa belajar? Ya betul, tetapi sekolah memiliki ujian dan pasti juga ada saja yang tidak naik kelas dan harus mengulang. Artinya sekolah pun menentukan bahwa pelajaran baru dianggap selesai apabila si murid dinilai mampu. Kalau belum mampu maka dia harus mengulang lagi setahun, bukan? Jadi sebenarnya sih sama juga. Tapi yang terpenting semua pasti sependapat bahwa maksud belajar itu agar kita mampu menjadi lebih baik dari apa yang telah kita capai sekarang ini. (arm)

5 komentar:

dian mengatakan...

Mantap bang Andy.
Jadi kangen masa-masa belajar di Gedung Kapal lagi...
Salam

Anonim mengatakan...

Saya sependapat dengan tulisan yang disampaikan Pak Andy bahwa pada prinsipnya kita harus punya kemauan untuk belajar dan tidak melulu hobby dengan proses instan. Kondisi ini pernah saya alami dulu - semua itu bisa karena biasa, ada kemauan dan rajin mempraktekkan apa yang akan kita jalani.

Pak, bilamana saya berminat untuk mengasah kembali kemampuan public speaking yang sempat dimiliki di mana saya bisa ikutan training/workshop yang Bapak berikan?

Secara tidak langsung saya sempat familiar dengan profil Bapak saat zaman SMP dulu saya gandrung mendengarkan 1368 Elshinta..bahkan main-main santai ke studio di Setiabudi 2 Lt. 4... :)

Bravo Pak Andy!

Thanks untuk pencerahannya.

Andy Rustam mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Andy Rustam mengatakan...

@Anonim:
Hallo.....,

Terima kasih sudah mau repot-repot memberikan komen di blog ini. Wuah ternyata pendengar Elshinta sejak masih belum FM ya?

Sekarang dimana?

Saya sendiri sekarang memang kegiatannya memberikan training terkait dgn Komunikasi, Broadcasting & Marketing.
Jadi nanti kalau pas ada jadual training yg "Public Speaking", informasinya akan saya berikan lewat email deh.

Terima kasih dan salam,
Andy RM

Andy Rustam mengatakan...

@dian:
Hallo ....,

Terima kasih sudah mampir di blog ini juga comment-nya. Lulusan Gedung Kapal ya? Apa kabarnya? Semoga dalam keadaan sehat walafiat.

Sekarang dimana ? Semoga terus sukses dan salam, Andy RM.