oleh Andy Rustam
Di Jakarta, kalau terjadi kecelakaan antar sepeda motor, banyak orang yang justru bilang, “Rasain lu!“ Seolah-olah memang diharapkan agar para pengendara sepeda motor yang tak pernah mematuhi aturan itu, celaka. Dan kalau sampai akhirnya harapan itu terwujud, benar-benar terjadi kecelakaan, maka tidak ada satu orang pun bersimpati pada si pengendara sepeda motor yang sedang kesakitan atau luka-luka itu. Sepertinya mereka bilang, memang sudah sepantasnya celaka, akibat cara mengendarai sepeda motornya seperti itu sih. Apa artinya ini semua? Artinya kalau akan terjadi sebuah “kecelakaan” atau sebuah “kejatuhan” atau “sesuatu tidak enak”, maka sebenarnya, bagi beberapa orang yang mau membuka hati dan mau berpikir, sebelum itu terjadi, sudah dapat melihat tanda-tandanya bahwa itu pasti akan terjadi, Hanya tinggal soal waktu saja.
Perusahaan yang Pantas untuk Jatuh
Perusahaan yang sudah berjalan baik berpuluh tahun tiba-tiba bisa “jatuh”. Contoh yang terakhir adalah , “Dubai World” dan “Japan Airlines”. Mengapa bisa demikian? Ternyata, apakah itu urusan kecelakaan lalu-lintas ataupun kejatuhan perusahaan, tanda-tandanya tetap sama, yaitu:
1. Expansi yang terlalu berani.
Seperti para pengendara sepeda motor, yang ngebut terlalu berani, nge-gas terus, sampai nyaris menyenggol/menabrak sesuatu, begitu pula dengan perusahaan yang terlalu berani melakukan pertumbuhan dengan sangat cepat. Istilahnya yang dipakai oleh para boss itu adalah “stretching” atau gencot terus sampai batas yang maksimal. Investasi jor-joran, lalu para manajer diberi target yang tinggi sembari diberi sangsi berat pula kalau tak mencapai target. Akibatnya, para manajer bukan hanya berusaha keras, melainkan terpaksa mengambil jalan pintas melalui segala cara, yang sebenarnya tak boleh menjadi boleh. Haram pun dihalalkan asalkan target tercapai. Hal seperti ini akan mengundang masalah. Misalnya, belum-belum semangat karyawan akan hilang melihat target yang tak biasa dan impossible. Seandainya kalau toch target bisa juga dicapai dikarenakan “cara-cara potong kompas”, maka hasilnya pasti bersifat jangka pendek. Dan biasanya, akan lebih menyulitkan perusahaan dalam jangka panjang. Seandainya ternyata hasil yang dicapai dibawah target, maka si karyawan kecewa, pimpinan management juga kecewa. Suasana kerja menjadi unhappy, yang dapat berakibat menjadi dismotivasi. Jadi jelas stretching out sangat tidak baik bagi perusahaan, dari sisi manapun Anda mau memandangnya.
2. Efisiensi salah tempat.
Jalan raya memiliki trotoar pemisah jalan (meridian tengah). Para pengendara sepeda motor dengan alasan menghemat waktu dan bensin, kalau ingin berputar arah, menaikkan saja motornya melanggar trotoar meridian tengah. Akibatnya motornya terguncang keras, walau telah diredam oleh shockbreaker. Kalau ia menjadikannya ini sebagai kebiasaan maka dapat dipastikan, pada suatu hari nanti, motornya akan patah atau ia sendiri akan celaka ditabrak mobil dari arah sebaliknya.
Perusahaan pun begitu. Dalam alasan penghematan, sering melakukan pemotongan biaya pada tempat-tempat yang salah. Misal, sebuah hotel yang dulunya terkenal sebagai sebuah tempat bertemunya (meeting-point) orang-orang bisnis di Jakarta, mengurangi penerangan restoran dan coffee-shop-nya dalam rangka menghemat biaya listrik, serta mengurangi pula jumlah pelayan/waiter-nya. Akibatnya suasana hotel tersebut terkesan kusam/redup, ditambah pelayanan coffee-shop-nya menjadi payah. Kedua hal ini saja sudah langsung membuat para pebisnis memindahkan meeting-point-nya ke hotel lain.
3. Kesombongan
Mengendarai sepeda motor bertujuan untuk lebih cepat sampai, tetapi dengan cara menantang bahaya. Ia pun bangga karena terbukti sampai hari ini ia tidak pernah mengalami kecelakaan. Ini dapat membuat seorang pengendara motor menjadi sombong. Nasehat yang baik dari orang lain tidak akan dituruti, karena merasa yakin kalau ia benar dan yang menasehati itulah yang salah atau kurang berpengalaman.
Para pimpinan atau pemilik perusahaan sering merasa hebat karena merasa ia telah berpengalaman puluhan tahun melakukan apa yang biasa ia lakukan dan berhasil. Ia juga merasa yakin dengan cara berpikirnya berdasarkan pengetahuan yang ia ketahui. Sehingga ketika ada orang lain memberikan nasehat yang baik, ia tidak akan mau mendengarnya. Ia telah dibutakan oleh pengalaman dan pengetahuannya sendiri. Ia lupa bahwa sangat besar kemungkinan di dunia ini, adanya sisi lain yang belum ia ketahui dan belum pernah ia alami, namun menjadi keahlian dari orang lain dan pesaingnya.
Lalu ketika sudah terbukti dari kenyataan, dimana terlihat adanya gejala bahwa hasil pemikiran dan tindakannya itu salah, tetap saja ia tidak mau mengoreksi diri malah mencari hal lain lagi untuk dijadikan alasan pembenaran.
Menurut analisa para ahli management & keuangan di Inggris, Hongkong dan Jepang, ketiga butir diatas: (1) Expansi yang terlalu berani; (2) Efisiensi yang salah tempat; (3) Kesombongan, adalah akar persoalan yang menyebabkan merosotnya kinerja perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah mapan sekaliber Dubai World; Japan Airlines; Toyota; Sony, dsb.
Kita yang sekarang berkecimpung dalam dunia broadcasting bisa segera mengambil pelajaran. (1) Kita harus mengevaluasi lagi, apakah stretching untuk tumbuh dan berkembang sudah mencapai ambang keterlaluan sehingga bisa membahayakan masa depan? Contoh di broadcasting sering ditetapkan target Sales yang tinggi, dan untuk memenuhi itu, maka bagian sales “rela” melakukan pemberian discount besar-besaran, nyaris gratis, sampai-sampai air-time penuh dengan iklan yang (kalau dihitung) harga per-unitnya sudah sangat tak masuk akal.
(2) Coba lihat lagi, penghematan di sisi mana yang dilakukan. Misal, siaran stasiun radio Anda mengandalkan musik. Penghematan dilakukan dengan cara tidak membeli lagi lagu/CD baru, melainkan cukup mengharapkan supply dari perusahaan rekaman atau download gratisan dari internet. Pastilah ini menjadikan siaran musik stasiun radio Anda tak akan bisa optimal. Padahal itu yang menjadi “main business” Anda. Jangan berhemat ditempat yang salah!
(3) Perhatikan sekarang. Barangkali pimpinan stasiun radio Anda pernah sukses di radio lain sebelumnya? Lalu apakah ia hanya menduplikasi apa yang pernah dilakukannya dulu? Kalau “ya”, biasanya orang seperti ini agak susah menerima pemikiran di luar dari apa yang ia yakini sejak dulu, yaitu jaman sukses dirinya pada stasiun radio sebelum ini. Itu merupakan salah satu bentuk kesombongan yang dimaksud dalam butir 3 sebagai tanda-tanda kejatuhan.
Jadi, memang tanda-tanda/ciri-ciri selalu ada. Kalau tanda-tanda ini tetap dibiarkan saja, maka seperti judul diatas: “Anda memang pantas untuk jatuh ”. (arm)
Di Jakarta, kalau terjadi kecelakaan antar sepeda motor, banyak orang yang justru bilang, “Rasain lu!“ Seolah-olah memang diharapkan agar para pengendara sepeda motor yang tak pernah mematuhi aturan itu, celaka. Dan kalau sampai akhirnya harapan itu terwujud, benar-benar terjadi kecelakaan, maka tidak ada satu orang pun bersimpati pada si pengendara sepeda motor yang sedang kesakitan atau luka-luka itu. Sepertinya mereka bilang, memang sudah sepantasnya celaka, akibat cara mengendarai sepeda motornya seperti itu sih. Apa artinya ini semua? Artinya kalau akan terjadi sebuah “kecelakaan” atau sebuah “kejatuhan” atau “sesuatu tidak enak”, maka sebenarnya, bagi beberapa orang yang mau membuka hati dan mau berpikir, sebelum itu terjadi, sudah dapat melihat tanda-tandanya bahwa itu pasti akan terjadi, Hanya tinggal soal waktu saja.
Perusahaan yang Pantas untuk Jatuh
Perusahaan yang sudah berjalan baik berpuluh tahun tiba-tiba bisa “jatuh”. Contoh yang terakhir adalah , “Dubai World” dan “Japan Airlines”. Mengapa bisa demikian? Ternyata, apakah itu urusan kecelakaan lalu-lintas ataupun kejatuhan perusahaan, tanda-tandanya tetap sama, yaitu:
1. Expansi yang terlalu berani.
Seperti para pengendara sepeda motor, yang ngebut terlalu berani, nge-gas terus, sampai nyaris menyenggol/menabrak sesuatu, begitu pula dengan perusahaan yang terlalu berani melakukan pertumbuhan dengan sangat cepat. Istilahnya yang dipakai oleh para boss itu adalah “stretching” atau gencot terus sampai batas yang maksimal. Investasi jor-joran, lalu para manajer diberi target yang tinggi sembari diberi sangsi berat pula kalau tak mencapai target. Akibatnya, para manajer bukan hanya berusaha keras, melainkan terpaksa mengambil jalan pintas melalui segala cara, yang sebenarnya tak boleh menjadi boleh. Haram pun dihalalkan asalkan target tercapai. Hal seperti ini akan mengundang masalah. Misalnya, belum-belum semangat karyawan akan hilang melihat target yang tak biasa dan impossible. Seandainya kalau toch target bisa juga dicapai dikarenakan “cara-cara potong kompas”, maka hasilnya pasti bersifat jangka pendek. Dan biasanya, akan lebih menyulitkan perusahaan dalam jangka panjang. Seandainya ternyata hasil yang dicapai dibawah target, maka si karyawan kecewa, pimpinan management juga kecewa. Suasana kerja menjadi unhappy, yang dapat berakibat menjadi dismotivasi. Jadi jelas stretching out sangat tidak baik bagi perusahaan, dari sisi manapun Anda mau memandangnya.
2. Efisiensi salah tempat.
Jalan raya memiliki trotoar pemisah jalan (meridian tengah). Para pengendara sepeda motor dengan alasan menghemat waktu dan bensin, kalau ingin berputar arah, menaikkan saja motornya melanggar trotoar meridian tengah. Akibatnya motornya terguncang keras, walau telah diredam oleh shockbreaker. Kalau ia menjadikannya ini sebagai kebiasaan maka dapat dipastikan, pada suatu hari nanti, motornya akan patah atau ia sendiri akan celaka ditabrak mobil dari arah sebaliknya.
Perusahaan pun begitu. Dalam alasan penghematan, sering melakukan pemotongan biaya pada tempat-tempat yang salah. Misal, sebuah hotel yang dulunya terkenal sebagai sebuah tempat bertemunya (meeting-point) orang-orang bisnis di Jakarta, mengurangi penerangan restoran dan coffee-shop-nya dalam rangka menghemat biaya listrik, serta mengurangi pula jumlah pelayan/waiter-nya. Akibatnya suasana hotel tersebut terkesan kusam/redup, ditambah pelayanan coffee-shop-nya menjadi payah. Kedua hal ini saja sudah langsung membuat para pebisnis memindahkan meeting-point-nya ke hotel lain.
3. Kesombongan
Mengendarai sepeda motor bertujuan untuk lebih cepat sampai, tetapi dengan cara menantang bahaya. Ia pun bangga karena terbukti sampai hari ini ia tidak pernah mengalami kecelakaan. Ini dapat membuat seorang pengendara motor menjadi sombong. Nasehat yang baik dari orang lain tidak akan dituruti, karena merasa yakin kalau ia benar dan yang menasehati itulah yang salah atau kurang berpengalaman.
Para pimpinan atau pemilik perusahaan sering merasa hebat karena merasa ia telah berpengalaman puluhan tahun melakukan apa yang biasa ia lakukan dan berhasil. Ia juga merasa yakin dengan cara berpikirnya berdasarkan pengetahuan yang ia ketahui. Sehingga ketika ada orang lain memberikan nasehat yang baik, ia tidak akan mau mendengarnya. Ia telah dibutakan oleh pengalaman dan pengetahuannya sendiri. Ia lupa bahwa sangat besar kemungkinan di dunia ini, adanya sisi lain yang belum ia ketahui dan belum pernah ia alami, namun menjadi keahlian dari orang lain dan pesaingnya.
Lalu ketika sudah terbukti dari kenyataan, dimana terlihat adanya gejala bahwa hasil pemikiran dan tindakannya itu salah, tetap saja ia tidak mau mengoreksi diri malah mencari hal lain lagi untuk dijadikan alasan pembenaran.
Menurut analisa para ahli management & keuangan di Inggris, Hongkong dan Jepang, ketiga butir diatas: (1) Expansi yang terlalu berani; (2) Efisiensi yang salah tempat; (3) Kesombongan, adalah akar persoalan yang menyebabkan merosotnya kinerja perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah mapan sekaliber Dubai World; Japan Airlines; Toyota; Sony, dsb.
Kita yang sekarang berkecimpung dalam dunia broadcasting bisa segera mengambil pelajaran. (1) Kita harus mengevaluasi lagi, apakah stretching untuk tumbuh dan berkembang sudah mencapai ambang keterlaluan sehingga bisa membahayakan masa depan? Contoh di broadcasting sering ditetapkan target Sales yang tinggi, dan untuk memenuhi itu, maka bagian sales “rela” melakukan pemberian discount besar-besaran, nyaris gratis, sampai-sampai air-time penuh dengan iklan yang (kalau dihitung) harga per-unitnya sudah sangat tak masuk akal.
(2) Coba lihat lagi, penghematan di sisi mana yang dilakukan. Misal, siaran stasiun radio Anda mengandalkan musik. Penghematan dilakukan dengan cara tidak membeli lagi lagu/CD baru, melainkan cukup mengharapkan supply dari perusahaan rekaman atau download gratisan dari internet. Pastilah ini menjadikan siaran musik stasiun radio Anda tak akan bisa optimal. Padahal itu yang menjadi “main business” Anda. Jangan berhemat ditempat yang salah!
(3) Perhatikan sekarang. Barangkali pimpinan stasiun radio Anda pernah sukses di radio lain sebelumnya? Lalu apakah ia hanya menduplikasi apa yang pernah dilakukannya dulu? Kalau “ya”, biasanya orang seperti ini agak susah menerima pemikiran di luar dari apa yang ia yakini sejak dulu, yaitu jaman sukses dirinya pada stasiun radio sebelum ini. Itu merupakan salah satu bentuk kesombongan yang dimaksud dalam butir 3 sebagai tanda-tanda kejatuhan.
Jadi, memang tanda-tanda/ciri-ciri selalu ada. Kalau tanda-tanda ini tetap dibiarkan saja, maka seperti judul diatas: “Anda memang pantas untuk jatuh ”. (arm)
1 komentar:
Trs pak kalo kita dah liat tanda2 itu dan udah memberi masukan k "penguasa" tp g dtrima, wajar ya kalo karyawan banyak yg minta mundur.
Terima kasih n salam kenal
Posting Komentar