08 Februari 2010

Musik Nonstop Radio-Baru

oleh Andy Rustam

Belakangan ini saya selalu menyetel radio mobil saya pada frekuensi dimana ada sebuah stasiun radio baru yang terus menerus hanya memasang lagu-lagu saja. Barangkali sudah satu bulan ini, kalau aku di mobil pasti mendengarkan lagu-lagu jadul jenis R&B yang tak putus-putus, paling-paling hanya sesekali diselingi jingle/station ID yang menyebut nama stasiun serta tag-line-nya.

Tetapi belakang ini sudah mulai terdengar sesekali suara penyiarnya ngomong.. Alamaaak... warna suara penyiarnya terkesan seperti suara anak remaja, tapi diupayakan berbicara sedemikian rupa agar terdengar se-level dengan orang-orang dewasa yang menjadi sasaran pendengar radio tersebut.

Aduh parah... Terus terang begitu suara penyiarnya muncul tak seimbang dengan seleksi musiknya, langsung deh saya switch ke frekuensi radio lain yang juga sudah saya preset di radio mobil.

Mendingan Musik Aja Deh!

Rupanya sudah menjadi semacam cara standar, bahwa kalau stasiun radio baru muncul, maka sepanjang hari hanya memainkan lagu-lagu saja. Lucunya ketika, mereka masih memainkan lagu-lagu saja, banyak orang yang manteng pada gelombang/frekuensi tersebut. Tetapi ketika sudah mulai siaran betulan, dimana ada acara, lalu ada penyiar/pembawa acara, lalu ada informasi dan iklan, maka mulai saat itulah para pendengar yang tadinya sudah manteng disana pada melarikan diri, pindah ke radio lain.

Ini yang saya heran. Seharusnya ‘kan ketika radio tersebut memainkan rangkaian seleksi musik, pendengar sudah suka. Lalu ketika sudah ada penyiar dan acara-acara seharusnya ‘kan tambah suka lagi. Tetapi ternyata tidak.

Teman lama saya, yang jadi boss di salah satu radio berjaringan, kemarin mengintrodusir website sebuah radio di New York yang menurutnya mempunyai seleksi lagu asik-asik, cocok buat orang se-usia saya. Dan memang benar, itu deretan lagu-lagu-nya jadul banget, dan saya suka.

Lalu saya tunggu radio NY tsb sampai penyiarnya bicara, dan... mantaap, man! Sangat nyaman di telinga ketika dia bicara tentang lagu yang baru saja dipasang. Isi pembicaraan pun tidak neko-neko dan semuanya informatif. Setelah itu ada wawancara mengenai “single mother” kira sepanjang 6 menit. Maksud dari wawancara tersebut sangat jelas, bahwa single mother asalkan bisa mengatur diri secara disiplin tetap dapat sukses sebagai ibu maupun sebagai carreer-woman. Ini pun dibawakan dengan cara yang menarik, sopan, dan tidak kebanyakan haha-hihi dan pembicaraan si narasumber pun tidak dipotong oleh si penyiar yang mewawancarainya. Si penyiar (wanita) terdengar dewasa, cerdas, menyenangkan dan sabar menunggu penjelasan narasumber hingga selesai, sebelum akhirnya ia melontarkan pertanyaan yang smart untuk menggali informasi lebih jauh.

Sehingga secara keseluruhan, acara tersebut enak diikuti, baik ketika si penyiar memutar lagu, maupun kalau si penyiar ngomong mem-present lagu dan menyampaikan info ataupun ketika sedang mewawancarai narasumber.

Menurut saya, memang hal-hal itulah yang menjadi kendala dunia broadcasting kita. Acara-acara radio & TV kita secara isi sebenarnya menarik, tetapi dikemas dan dibawakan secara salah. Mungkin karena ketidaktahuan bahwa semua itu ada “ilmu"-nya. Bisa juga dia sudah tahu ilmunya, tetapi memang level si penyiar belum sama dengan sasaran pendengarnya. Akibatnya ada “gap” antara penyiar dengan pendengar. Nah, kalau sudah begini, lebih baik pasang musik aja deh.

Seleksi Musik dan Identitas Stasiun

Kalau kita browsing radio-radio di Amerika, umumnya mereka menamakan radionya, atau motto radionya, disesuaikan dengan jenis musik tertentu yang mereka pilihkan untuk menyasar segmen audience tertentu pula. Misalnya, WACX Adult Contemporary. Maksudnya, pilihan musik yang diudarakan adalah dari jenis musik-musik pop kontemporer yang disukai oleh orang dewasa. Maka otomatis pendengar radio tersebut pastilah orang-orang dewasa. Ada lagi radio KSRR Soft Rock in The City. Maksudnya bahwa seleksi musik yang selalu diudarakan adalah dari jenis rock tetapi lembut. Otomatis kelompok pendengar yang terbentuk pastilah orang-orang yang menyukai jenis musik tersebut. Pendengar ini yang kemudian dikelompokkan berdasarkan kesamaan, apakah dalam usia maupun gaya hidupnya ataupun ciri-ciri lainnya.

Oleh karena itu yang mereka promosikan atau yang digembar-gemborkan justru jenis seleksi musik/format stasiun radio tersebut. Maksudnya tentu agar orang-orang yang menyukai jenis musik tertentu itu, (tapi belum aware akan adanya radio yang memainkan format musik tersebut), akan mencoba mencari dan tune-in pada frekuensi radio itu. Makanya stasiun-stasiun itu membangun identitas radio melalui gembar-gembor format musiknya, seperti contoh dua buah radio diatas: WACX Adult Contemporary dan KSSR Soft Rock. Itu di Amerika sih.

Identitas Stasiun di Indonesia

Sebuah radio biasanya didirikan dengan konsiderasi ingin mencapai kelompok masyarakat tertentu. Untuk itu dilakukanlah seleksi musik (menjadi format) yang diperkirakan akan menarik hati dan sesuai dengan selera musik segmen masyarakat yang menjadi sasaran pendengarnya. Sampai di sini masih sama seperti di Amerika. Tetapi di Indonesia berbeda, karena yang digembar-gemborkan bukanlah jenis musik/format, melainkan segmen masyarakat yang menjadi sasarannya (target audience). Itu yang ditonjolkan.

Misal, Radio Trijaya: “Radio para Profesional” ; Radio Prambors: “Tempat Anak Muda Mangkal” dsb. Gembar-gembor ini tentu dimaksudkan agar orang-orang yang merasa dirinya profesional, tapi belum mendengar Trijaya, lalu tertarik untuk mencoba mendengar siaran Trijaya. Atau maksudnya agar anak-anak muda yang belum mendengar siaran Prambors, akhirnya tahu dan mencoba untuk tune-in (mangkal) di frekuensi Prambors. Identitas radio di Indonesia penonjolannya justru dikaitkan dengan sasaran pendengarnya, bukan dengan format musik yang disajikannya.

Artinya, seorang penyiar radio harus dapat memposisikan dirinya sesuai dengan “claim” dari radio tersebut. Misalnya, radio anda meng-claim diri sebagai radio profesional, maka kalau penyiarnya tidak paham atau salah dalam wawasannya, dimana seorang professional tidak akan seperti itu, maka para profesional justru akan memandang sebelah mata. Atau kalau radio itu meng-claim diri sebagai radionya Ibu Rumah Tangga tetapi penyiarnya memiliki warna suara seperti remaja (teens) akibatnya justru radio tersebut bukannya populer dikalangan ibu rumah tangga, malah akan ditinggalkan baik oleh ibu rumah tangga maupun oleh para remaja. Jadi semakin tidak ringanlah tugas penyiar apabila “claim” radionya terlalu spesifik. Namun begitulah yang terjadi di Indonesia.

Tentu tak bisa dikatakan mana yang benar dan mana yang salah, seperti cara radio-radio di Amerika-kah atau seperti yang kebanyakan dilakukan di Indonesia?

Yang penting dan yang harus dijaga adalah, bagaimana claim Anda, maka begitu pulalah yang harus tercermin dalam siaran (termasuk musik, warna suara, gaya bicara penyiar, dll.). Jangan sampai apa yang digembar-gemborkan dalam claim, tidak tercermin di udara. Menyesuaikan lagu dengan target audience memang lebih mudah ketimbang penyiar. Kalau belum ketemu, lebih baik nggak usah pakai penyiar, musik aja terus 24 jam justru lebih comfortable buat pendengar. (arm)

Tidak ada komentar: