20 Maret 2010

Gonta-Ganti Manajemen

oleh Andy Rustam

Gonjang-ganjing yang paling menyebalkan bagi karyawan di perusahaan adalah gonta-ganti manajemen. Semua pemilik perusahaan ingin dapat profit, dan ini sah-sah saja, dan memang itulah maksudnya membuka usaha, bukan?

Ada type pemilik perusahaan (pemodal) yang mencari profit-nya melalui secara wajarnya, yaitu melalui operasional. Artinya, Pendapatan perusahaan dari Penjualan dipotong Biaya/Ongkos, menghasilkan Laba. Lalu Labanya dibagi berupa deviden, sehingga si pemilik perusahaan dapat meraih bagian keuntungan. Tetapi ada juga pemilik perusahaan (biasanya para konglomerat) yang mencari Profit-nya melalui cara aksi korporasi. Artinya, Saham Perusahaan ketika ia memulai bisnis, misal, bernilai Rp 10 juta, ketika sudah berjalan beberapa waktu Nilai Saham Perusahaan meningkat menjadi Rp 20 juta. Artinya, saat itu ia sudah mendapat margin keuntungan 100%, maka buru-buru saham perusahaan dia jual, dari sinilah ia memperoleh Laba. Walau perusahaanya barangkali masih merugi secara operasional.

Wajar Tetapi Sulit

Wajar maksudnya adalah ganti manajemen bertujuan agar kinerja operasional perusahaan membaik. Biasanya manajemen-baru datang dengan konsep baru yang diyakini akan membawa perbaikan bagi perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Semangatnya biasanya menggebu-gebu di awal. Gebrakan-gebrakan perubahan pun dilakukan. Tapi ada yang terlupakan, bahwa apapun konsep baru yang dibawanya, itu barulah konsep! Belum dioperasionalkan! Jadi belum bisa dikatakan pasti benar! Namun hal ini yang selalu dikesampingkan. Maka konsep baru terus harus terus berjalan, tanpa boleh diintervensi.

Maka karyawan yang sudah terbiasa dengan cara lama, pastilah memiliki sikap skeptis, selain juga keengganan karena harus belajar lagi. Butuh waktu bagi karyawan untuk yakin dan memulai operasionil dengan cara baru. Di sisi lain, manajemen-baru sudah terlanjur punya keyakinan yang terkadang sangat berlebihan bahwa konsepnya itu memang tepat. Maka ia merasa gerakan perubahan terlalu lambat. Setelah beberapa bulan ternyata kinerja perusahaan pun tak kunjung membaik diakibatkan adanya “gap” ini.

Apa yang terjadi kemudian? Dikarenakan keyakinan akan konsep-barunya yang menurut manajemen-baru pasti baik, maka penurunan kinerja sudah pasti bukan salah konsepnya atau bukan salah manajemen-barunya, melainkan salahnya... karyawan!

Maka untuk menyelamatkan perusahaan, karyawan pun di-PHK. Dengan demikian manajemen-baru akan dinilai hebat, karena berani melakukan langkah drastis perubahan, sekaligus menekan ongkos operasional perusahaan dengan berkurangnya karyawan. Sementara, sudah habislah waktu selama setahun untuk sampai disini saja, kinerja masih juga jeblog.

Lalu rekrutmen karyawan baru dilakukan. Apa yang terjadi? Suasana kerja, terutama di kalangan karyawan lama yang masih tersisa sudah kehilangan ruh-nya. Suasana tanpa semangat ini berakibat Pendapatan dari Penjualan perusahaan belum juga dapat meningkat. Karyawan baru yang awalnya bersemangat juga mulai kurang bersemangat. Untunglah ongkos operasional sudah lebih kecil (karena karyawan sudah lebih sedikit), maka walaupun Pendapatan dari Penjualan masih buruk, tapi ada perbaikan di “bottom-line”. Manajemen-baru bisa berkata bahwa kini perusahaan mulai membaik, walau Pendapatan belum meningkat.

Maka selanjutnya karyawanlah yang akan dikasih target-target tinggi supaya terjadi peningkatan Penjualan. Target-target ini tidak juga bakalan tercapai, karena karyawan sampai saat ini belum melihat dengan mata kepala sendiri, apalagi dari awal mereka juga tidak yakin, bahwa konsep baru si manajemen-baru memang konsep yang hebat. Semangat untuk berjuang tidak ada. Manajemen lalu memecat karyawan dan mengganti dengan karyawan baru.

Karyawan baru pun butuh waktu untuk penyesuaian-penyesuaian. Tetapi justru waktu-lah yang tidak lagi dimiliki manajemen. Karyawan baru pun akan ditekan-tekan target tanpa diberi waktu untuk belajar dan mempelajari dimana kesalahannya. (Karena konsep diyakini benar). Akhirnya karyawan baru pun tidak akan berhasil. Belum selesai masa percobaan, sudah dipecat atau mengundurkan diri. Maka dijamin, ujung-ujungnya, kinerja perusahaan akan terus menurun, sehingga akhirnya si pemilik perusahaan harus memilih: Menjual Perusahaan atau Mengganti Manajemen, lagi!

Apapun langkah yang diambil, pastilah membawa konsep baru lagi, yang akan membuat gonjang-ganjing baru lagi di karyawan. Perusahaan yang sudah kehilangan kepercayaan karyawannya sendiri, masa depannya dipastikan suram.

Tak Wajar Tapi Mudah

Tak wajar maksudnya adalah ganti manajemen dengan tujuan pencitraan untuk jangka pendek. Jadi bukan benar-benar untuk memperbaiki performa perusahaan secara jangka panjang. Misal, ada stasiun Tolol-TV. Si pemilik punya 10.000 lembar saham senilai @ Rp 10 juta. Setelah beberapa bulan siaran dengan manajemen sendiri, dan terus merugi, kemudian ia menandatangani kontrak kerjasama dengan televisi yang sudah punya nama besar International, misalnya: MTV. Ketika penandatangan kerjasama telah dilakukan, langsung hari itu juga, citra perusahaan naik (walaupun masih merugi). Karena masyarakat berharap pastilah sekarang Tolol-TV akan menjadi TV yang hebat setelah menggandeng MTV. Akibatnya harga per lembar saham perusahaan mau dihargai orang menjadi Rp 20 juta per lembar. Si Pemilik langsung hari itu juga untung 100% dari nilai sahamnya, padahal keadaan perusahaannya sih belum ada yang berubah sama sekali. Mudah bukan?

Maka manajemen-baru masuk biasanya hanya untuk jangka waktu pendek. Dalam hal begini, semangat karyawan lebih positif karena nama besar perusahaan Internasional mampu mengangkat kebanggaan karyawan. Padahal sesungguhnya, karyawan seperti juga masyarakat, tidak tahu niat/itikad pemilik Tolol-TV menggandeng MTV hanya untuk jangka pendek. Nanti akan terlihat bahwa ada peningkatan kinerja perusahaan dengan manajemen baru, tetapi ya untuk jangka pendek. Setelah itu perusahaan akan kembali nyungsep. MTV-pun kembali lepas. Sewaktu perusahaan nyungsep, maka harga sahamnya pun jatuh kembali menjadi, misalnya Rp 5 juta per lembar. Maka dengan uang Laba pada penjualan saham pertama kali dulu, si pemilik dengan mudah membeli kembali saham-saham itu dengan harga murah. Ia tinggal mencari gandengan baru lagi bagi Tolol-TV untuk membentuk citra baru lagi, agar mendapat keuntungan baru dari meningkatnya nilai saham yang kini sudah dimilikinya lagi. Begitu seterusnya.

Pola bisnis seperti ini akan membuat karyawan hanya sebagai alat bagi si pemodal. Dari sisi karir, sesungguhnya dalam perusahaan seperti begini, achievement dari si karyawan tidak akan pernah terlihat. Sebab boss manajemennya ganti terus. Pergantian manajemen dan konsep bisnisnya begitu cepat berubah. Indikatornya pun tidak konsisten. Tapi memang begitulah cara yang dipilih si pemilik untuk mencari profit, bukan dengan cara wajarnya perusahaan.

Kalau Anda sekarang sedang bekerja di perusahaan, amati pola bisnis si pemilik perusahaan. Kalau dia type jangka pendek, maka masa kerja karir Anda pun harus diniatkan untuk jangka pendek juga. Daripada Anda membuang waktu, tapi karir dan achievement Anda tidak akan ada, akibat seringnya gonta-ganti manajemen. (arm)

Tidak ada komentar: