30 Maret 2010

Kemalasan Model Baru

oleh Andy Rustam

Teman saya pernah bilang bahwa saya orang yang rajin. Saya katakan, “Itu tidak benar. Karena saya orang yang malas“. Sebenarnya saya suka sekali di rumah. Bangun tidur, tetap tidur-tiduran, baca buku/koran sampai siang. Abis itu tanpa mandi terlebih dahulu, terus makan siang. Setelah mandi, terus tidur lagi. Persis seperti lagunya (alm) mbah Surip. Tetapi memang orang sering melihat saya jarang sekali diam tanpa mengerjakan apa-apa. Itu karena, hati saya pasti merasa resah, tak bisa bersantai-santai seperti yang saya sukai itu, kalau ada “sesuatu” yang masih belum terselesaikan. Sesuatu yang membuat hati saya merasa resah itu, bisa berupa catatan/notulasi yang harus saya buat, bisa juga akuarium ikanku yang belum dibersihkan, bisa juga janji kepada seseorang baik untuk menelpon/bertemu/membuatkan sesuatu dll. yang belum saya penuhi.. Jadi agar aku bisa bermalas-malasan dengan hati yang tenang dan pikiran tenang, jadilah aku banyak mengerjakan macem-macem sekarang juga. Saya tak bisa menunda dan berleha-leha karena hati saya pasti resah, makanya keliatan seolah-olah rajin!

Kemalasan Model Baru

Kemalasan yang berupa tidak mau mengerjakan apa-apa, tidur-tiduran aja, itu saya sebut “kemalasan model jadul”. Kemalasan model masa kini, yang banyak kita temui dalam kehidupan sosial sekarang, adalah kemalasan untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi prioritas harus dikerjakan.

Contoh: Kalau dia seharusnya membuat bahan presentasi atau laporan mingguan atau persiapan bahan siaran, maka ini ditunda-tunda terus. Nanti kalau sudah sampai waktunya, maka dia sibuk kesana kemari meminta tolong orang lain untuk mengerjakan atau mengerjakan sendiri tapi asal-asalan aja. Tetapi kalau dia, diajak jalan-jalan ke mall atau melihat pemandangan alam, maka dia tidak menunda-nunda, langsung bangkit bergerak. Jadi tidak malas, toch?

Contoh lain lagi: Kalau sedang meeting dia bukannya turut aktif konsentrasi, berdiskusi dan memikirkan solusi atau antisipasi atas masalah-masalah yang dibicarakan dalam meeting, melainkan dia aktif ber-BBM (kalau ditegur, malah marah!). Jadi terlihat sibuk ikut meeting, tapi tak ikut berpikir karena aktif yang lain. Jadi tidak malas, toch?

Nah, coba lihat di sekeliling kita, memang kemalasan model itulah yang terjadi, terutama di kota-kota besar. Akibatnya sekarang kualitas kerja menurun. Menurut Anda kenapa sekarang muncul istilah “kejar setoran”, “kejar tayang”, “bagaimana nanti aja, deh”? Ini semua mencerminkan kualitas kerja yang asal-asalan. Terkesan, yang penting jadi! (kualitas mah belakangan!)

Maka bisa dibayangkan, bagaimana masa depan kita nanti. Tidak heran semakin banyak perusahaan bangkrut atau berganti pemilik, sementara gaji dan uang yang dikeluarkan oleh si pemilik perusahaan sudah banyak juga.

Mengembalikan Ruh Profesionalisme

Sering orang mengaitkan profesionalisme itu dengan besarnya gaji/honor yang diterima oleh si profesional. Yang dilupakan, bahwa masa kehidupan sebelumnya. Sebelum ia dibayar dengan nilai profesional, ia selalu berlatih, bekerja, berkorban dan mengasah diri, dalam bidangnya, walaupun tidak dibayar atau dibayar murah sekalipun. Makanya ia sekarang dibayar mahal sebagai seorang profesional.

Jadi, seorang profesional itu bukan dikaitkan dengan berapa besar bayarannya, melainkan dari berapa besar keseriusan diri, dedikasi, dan pengabdian, dan pengorbanannya pada bidang profesinya atau apa yang dikerjakannya. Nah, tentu saja kalau orang yang tidak serius, tidak dedicated, tidak mau berkorban dan bekerja asal-asalan, maka orang seperti ini bisa kita katakan sebagai tidak profesional. Orang profesional, adalah orang-orang yang mempunyai jiwa yang kuat, jujur pada dirinya, memulai segera proses action karena menghargai dirinya sendiri.

Contohnya, kalau ada kesalahan dia akan memeriksa dirinya sendiri terlebih dahulu, dan bukannya menyalahkan orang lain. Dengan demikian sifat self-correction-nya sangat besar. Kalau berjanji tapi tak bisa memenuhi, ia akan merasa malu dan berusaha keras (jihad) untuk tak mengulangi. Kalau ada sesuatu, ia langsung respon dan dirinyalah menjadi orang pertama yang mengerjakan, dan bukannya menyuruh orang lain.

Kalau kita baca buku kisah orang-orang profesional, seperti David Beckham, Oprah Winfrey, Bill Gates dlsb., akan kita temui banyak sifat-sifat jenis ini. Di Indonesia sekarang, justru sifat-sifat seperti ini telah semakin meluntur. Kita harus punya berupaya keras, paling tidak pada diri kita dulu, untuk mengembalikan sifat-sifat yang merupakan ruh dari profesionalisme ini.

Pilih Prioritas Aktivitas

Kalau Anda seorang penyiar (atau apapun), tentu saja Anda juga mempunyai kehidupan sosial lain selain penyiar yang itupun harus dijalankan. Tetapi profesi Anda seorang penyiar, bukan? Setiap kali akan bertugas buanglah kemalasan, persiapkan diri bahwa Anda akan menghibur ribuan pendengar Anda. Ingatlah selalu, bahwa ada aktivitas yang tujuannya jangka panjang untuk kebahagiaan nanti, tetapi ada juga aktivitas yang tujuannya untuk kesenangan saat ini. Selalu dahulukan aktivitas yang punya manfaat lebih permanen (jangka panjang). Untuk yang ini, konsentrasikan secara penuh. Baru kalau masih ada waktu, bisa gunakan untuk yang kesenangan sesaat. Tegas kepada diri sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang Anda tahu bukan pada tempatnya (misal: BBM selagi rapat, atau ketika lagi bercakap-cakap dengan seseorang/tamu).

Tentu saja Anda bisa menemukan 1001 alasan pembenaran untuk memprioritaskan kesenangan sesaat, tetapi jauh dilubuk-hati anda pasti ada suara nurani yang menolak. Kalau ini Anda tak pedulikan, maka ini akan menjadi sumber keresahan hati di bawah sadar, yang tidak bisa hilang dengan hypnoterapi, meditasi, retret, atau sholat tahajud sekalipun! Lama-kelamaan ini yang akan menjadi penyakit dalam tubuh. Makanya sifat orang profesional haruslah jujur pada diri sendiri. Dahulukan suara hati nurani, dan bukan suara kemalasan.

Kritik Positif dan Kritik Negatif

David Becham pun seorang pemain bola yang profesional, juga sering mendapat banyak kritikan, bahkan dijelek-jelekan oleh media dan masyarakat. Tetapi ia dapat memilah dan memilih, mana kritik yang benar (bertujuan positif) dan mana kritik buruk (bertujuan negatif). Ia tidak marah pada orang yang mengkritik dengan bertujuan positif, walau caranya mungkin kurang mengenakkan hatinya. Ia marah kepada kritik yang bertujuan negatif. Darimana ia mengetahui kritik ini bertujuan positif atau bertujuan negatif?

Caranya, lagi-lagi ia jujur terhadap diri sendiri. Dan memang seorang olahragawan harus berjiwa sportif (inti dari kegiatan sport). Kebanyakan dari kita, bangsa Indonesia, ketika dikritik malah marah-marah. Alasan yang dipakai biasanya, pencemaran nama baik atau cara penyampaian si pengkritik. Tidak heran, sulit sekali memperbaiki keadaan di Indonesia.

Gejala kemalasan model baru sudah mulai terlihat di kota-kota besar. Kalau kita tidak segera memperbaikinya, maka kemalasan model begini akan lebih merusak daripada kemalasan model jadul. Karena kemalasan model baru terlihat seolah-olah orang ini tak punya waktu, sibuk, bahkan sakit karena kelelahan. Padahal ia aktif tetapi untuk aktivitas tak produktif alias kesenangan dirinya sesaat. (arm)

Tidak ada komentar: