01 Maret 2010

Jazz di TV & Radio Kita

oleh Andy Rustam

Ironis. Sementara kita memiliki acara besar tahunan JAVA JAZZ dan JAK JAZZ, acara musik Jazz di radio & televisi justru semakin menghilang. Baik acara JAVA JAZZ maupun JAK JAZZ selalu penuh diminati pengunjung. Tetapi mengapa di TV & radio justru acara jazz semakin menghilang? Barangkali kalau mau disebut konsisten, cuma ada Radio KLCBS – Bandung yang tetap memilih Jazz sebagai format musiknya. Tinggal sedikit stasiun radio yang masih punya acara tetap musik Jazz seminggu sekali. Bahkan kalau di televisi, acara Jazz malah sudah tidak ada. Sesekali ada, bukan dalam acara tetapi cuma selingan musik berupa cuplikan. Alasan kenapa acara musik Jazz semakin menghilang dari stasiun-stasiun televisi dan radio kita? Tidak lain tidak bukan... 100 untuk pembaca! Rating-nya kecil, tidak laku dijual!!! Capek dee...

Apa yang Membuat Orang Suka atau Tidak Suka?

Ini pertanyaan mendasar yang seharusnya bisa dijawab oleh orang-orang produser dan broadcaster tulen. Sayangnya para boss stasiunnya pun tidak bisa menjawab pertanyaan ini, apalagi anak buahnya.

Sudahlah... pemilik stasiun biasanya hanya orang bermental pedagang atau berlatar-belakang pendidikan keuangan, yang cuma melihat segala sesuatunya linear saja. Misal, untuk acara “AZ” keluar uang Rp 100, melalui acara itu harus dihasilkan uang Rp 150 dong. Lalu ‘kan supaya bisa dijual, pemasang iklan menuntut acara yang memiliki pendengar/pemirsanya banyak. Oleh karena itu, acara Jazz, dikarenakan tidak menghasilkan pendengar/pemirsa yang banyak, maka kita hilangkan saja acaranya, ganti dengan acara yang pendengar/pemirsanya bisa banyak. Daripada bikin acara lagu Jazz, ‘kan lebih baik bikin acara lagu-lagu ST12 dan Ungu plus berhadiah BlackBerry!

Memang ini benar sekali kalau dilihat dari kacamata pedagang. Masyarakat lagi seneng Z ya kasih acara Z, logis ‘kan? Pasti banyak pendengar/pemirsanya. Pemikiran begini mah ngga usah sekolah tinggi-tinggi, siapapun bisa berlogika seperti ini.

Begitu pula kebanyakan pemilik stasiun. Maka tidak heran, semua berpikir begitu. Kalau Anda nonton TV Indonesia, semua acaranya mirip. Begitu pula kalau Anda tune-in pada frekuensi stasiun radio di kota mana saja di Indonesia, pasti terdengar siaran-siarannya mirip mirip saja. Semua lagu-lagunya hampir sama, cara siaran dan omongannya juga hampir sama. Istilah saya, “content”-nya sama. Tentu ada saja stasiun yang agak lebih menonjol dari yang lain, tetapi secara sekilas semuanya mirip/hampir sama.

Seorang anak kecil suka sekali makan permen. Kalau begitu untuk membuat anak kecil senang, berikan saja permen. Tetapi bagaimana kalau yang Anda berikan adalah permen dari Belanda yang rasanya seperti obat batuk (di Belanda disebut: zoutedrop)? Apakah anak kecil itu akan senang makan permen itu? Tentu saja tidak!

Jadi kesimpulan Anda salah, bahwa anak kecil suka permen. Anak kecil itu sebenarnya bukan suka permen, melainkan menyukai “rasa manis” dari permen. Artinya apapun yang akan Anda berikan, asalkan rasanya “rasa manis” seperti permen tersebut, pastilah ia akan suka. Beginilah seharusnya para broadcaster berpikir. Artinya, Anda bisa mengolah apa saja asalkan, memiliki rasa seperti yang disukai anak itu, maka pastilah anak itu akan suka. Tidak harus selalu permen!

Salah satu serial TV sitcom terlama di Amerika, “Friends”, pada 21 minggu pertama boleh dibilang tak berhasil meraih rating yang bagus. Tetapi para produsernya bukan mengganti acara sit-com menjadi acara sport baseball (baseball merupakan program yang rating-nya tinggi di Amerika Serikat), melainkan ia malah memanggil berbagai team penulis naskah dari kalangan orang-orang kebanyakan. Untuk setiap minggu naskah untuk sitcomFriends” dipakai berganti-gantian dari penulis yang berbeda-beda. Akhirnya sejarah mencatat, "Friends" menjadi salah satu serial sitcom yang paling digemari di AS.

Berbeda sekali dengan cara penanganan kita di sini, bukan? Mereka di AS memperbaiki “cara mengolah”-nya agar “rasa"-nya cocok seperti yang diinginkan publik, dan bukan mengganti acaranya!

Radio Jazz di Jakarta

Musik Jazz di Jakarta, terbukti memiliki cukup banyak penggemar. Bisa kita saksikan bagaimana ramainya pengunjung di Java Jazz dan Jak Jazz. Tetapi sebagaimana juga terjadi di seluruh dunia, jumlah penggemar musik Jazz tentu saja kalah banyak dibandingkan dengan penggemar musik pop. Jadi jangan bermimpi kalau stasiun Anda punya acara musik jazz, akan menghasilkan pendengar yang banyak mengalahkan stasiun dengan musik pop. Walau Anda cukup lihai mengolah acaranya sekalipun, tetap saja tidak akan mampu mengalahkan rating stasiun dengan acara musik pop. Tetapi yang pasti, kalau Anda mahir mengolah acara jazz tersebut, maka stasiun Anda akan memiliki pendengar/pemirsa yang cukup dan khas, sehingga mampu memenuhi syarat untuk “bisa dijual” kepada advertiser.

Tetapi tentu saja, cara menjualnya juga harus pakai ilmu juga. Bukan cara menjual dengan cara jualan rating. Ingatlah bahwa para advertisers itu memakai rating, karena mereka membutuhkan suatu indikator saja. Mereka berasumsi bahwa kalau iklannya dipasang di stasiun yang rating-nya tinggi, maka mereka merasa bahwa iklan mereka akan efektif. Artinya, kalau Anda bisa memiliki indikator lain, yang bisa mereka percayai bahwa stasiun Anda atau acara Anda memang efektif kalau dipasangi iklan mereka, maka pastilah mereka akan mau memasang iklannya di stasiun Anda (walau rating-nya barangkali tidak setinggi kalau musik pop). Got it?

Nah sekarang tinggal tugas Anda bilang kepada boss Anda, si pemilik stasiun, “Boss, acara Jazz dibikin lagi, dunk!“ (arm)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Salah satu radio di Jakarta yang konsisten dengan musik Jazz adalah DELTA 99.1 FM.

Setiap Selasa malam jam 21.00-23.00 ada blocking acara Rhythm of The Night dengan tema Jazz, sedangkan setiap Sabtu malam jam 20.00-24.00 ada Delta Smooth Jazz.

Satu lagi, playlist harianpun mayoritas lagu yang disajikan adalah Jazzy Tunes.

So, salam nge-Jazz.


Irwin Novianto
Music Director DELTA 99.1 FM