08 Juni 2010

Pentingnya Pengolahan Acara

oleh Andy Rustam

Kalau soal gagasan/ide, orang-orang kita sangat kreatif. Lihat saja berbagai ragam acara-acara televisi dan radio yang aneh-aneh sudah dibuat. Setiap kali ada saja acara baru yang mengudara. Menurut saya, ragam acara siaran di Indonesia jauh lebih banyak dari siaran di Eropa dan Amerika. Ini semakin membuktikan bahwa soal ide, kita tidak kalah.

Namun demikian, kelemahan terbesar yang kita miliki adalah justru pada pengolahan acara. Ideenya bagus tetapi eksekusinya parah, maka hasilnya acara tersebut tidak enak untuk diikuti. Terutama oleh kalangan masyarakat yang berpendidikan cukup.

Cara kita dalam mengolah acara boleh dibilang masih tradisonil sekali. Masih seperti pementasan Srimulat ataupun Lenong. Asal ada butir-butir pokok-pokoknya, kemudian ada bagian-bagiannya, maka selanjutnya tinggal gimana nanti aja deh... improvisasi... yang akhirnya terkesan asal-asalan tak disusun dan direncanakan dengan baik.

Pandangan yang Kurang Tepat

Ketika saya masih menjadi Direktur Operasi di Anteve (1993 – 2002), bos saya selalu berpatokan, kalau sebuah acara kurang berhasil menarik pemirsa, maka acara tersebut harus dihentikan dan diganti dengan acara baru dengan gagasan baru lagi. Gagasan baru yang dimaksud adalah isi-nya atau jenisnya musti berbeda. Misalnya, acara kuliner diganti dengan acara lawak. Atau acara variety music show (sekarang seperti gelegar BCA) diganti dengan acara variety talk show (sekarang seperti Tukul). Jadi, kalau ada acara yang kurang berhasil meraih penonton banyak yang menjadi kambing-hitam adalah materi isi (content) acara.
Kambing hitam kedua adalah host (pembawa acara) atau bintang (pemeran utama). Itu sebabnya, kalau ada “content” yang lagi laku, semua televisi menyiarkan “content yang mirip”. Demikian juga kalau ada artis yang lagi laku, maka hampir di semua sinetron ada si “doi ”.

Saya tidak mengatakan bahwa “isi/content “ itu tidak penting, tentu saja penting. Tetapi content yang bagus dengan cara pengolahan acara yang sembarangan, maka tetap saja acara itu tidak akan dapat dibilang baik.

Sebaliknya, walaupun materi/content tidak istimewa, tetapi karena mengolahnya bagus, akan jadi sebuah siaran yang menarik.

Mengapa kalau Buruk Banyak yang Suka?

Ketika sebuah stasiun ingin menarik pemirsa/pendengar, paling ngeselin kalau ada yang bilang, “ayo kita bikin acara yang lain dari yang lain... pokoknya yang beda ajah!“. Pikiran begini cenderung untuk mencari sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Akibatnya yang diupayakan adalah sesuatu yang barangkali dulu-dulu hal itu termasuk hal yang tak pantas disajikan di depan umum (taboo), eh sekarang dengan berani ditampilkan. Maka jadilah yang sekarang sering kita temui dalam acara-acara siaran: sesuatu yang gila / jorok / kasar / norak / memalukan / tidak punya perasaan / selera rendah / melanggar kesopanan / melanggar etika dsb dsb... Burok!

Lebih kasiannya lagi... si penyelenggara siaran merasa hebat, karena rating-nya naik, alias pemirsa/pendengarnya banyak.

Persoalannya sekarang, kenapa siaran yang burok alias mengekspose selera rendah begitu selalu berhasil menarik pemirsa? Belum ada penelitian yang saya ketahui, kenapa orang tertarik kepada tontonan yang burok. Tetapi perlu diketahui bahwa semakin tinggi tingkat intelektualitas seseorang maka semakin halus dan tinggi pula seleranya. Film yang ditonton, buku yang dibaca, musik yang didengar, semuanya selalu mempunyai “taste”. Sementara, jumlah orang yang mempunyai intelektualitas tinggi, sangat kecil persentase-nya kepada populasi. Jadi tak heran, kalau siaran kita terlalu “berkelas” maka pendengar / pemirsanya pasti sedikit pula. Jadi, justru acara yang baik hanya akan menarik jumlah pendengar / pemirsa yang sedikit. Maka sebenarnya pembuat materi yang jagoan, adalah orang yang kreatif dan pintar men-siasati situasi ini. Artinya, tetap berselera tinggi tetapi tetap dapat menarik banyak orang untuk melihatnya. Misal: film Laskar Pelangi. Ini merupakan contoh yang pas. Ceritanya / Content-nya biasa-biasa saja, bintangnya pun biasa-biasa saja, tetapi pengolahannya sangat menarik.

Prasyarat Pemahaman untuk Mengolah

Untuk dapat mengolah acara dengan baik, diperlukan beberapa pemahaman yang menjadi pokok, yaitu:

1. Pendengar / Pemirsa Anda adalah manusia, bukan benda mati yang tidak bereaksi apapun terhadap yang Anda sodorkan / siarkan. Manusia memiliki preferensi dan ekspektasi, dimana kalau apa yang Anda sodorkan itu tak sesuai dengan preferensi-nya dan tak memenuhi ekspektasinya, maka dapat dipastikan ia akan bereaksi negatif. Anda siaran kepada dan buat mereka, bukan buat diri anda sendiri.

2. Pendengar / Pemirsa memiliki kebebasan untuk melakukan pilihan atas apa yang akan dilakukannya. Oleh karena itu, reaksi positif atau reaksi negatif terhadap apa yang Anda sodorkan, akan memiliki konsekuensi tindakan yang akan dilakukannya. Misal, kalau ia bereaksi negatif, maka pilihan tindakannya bisa: (a) mematikan radio/tv ; (b) memindahkan saluran ; (c) mengecilkan volume lalu, lalu meninggalkan untuk melakukan aktifitas lain di tempat lain ; (d) memberi testimoni negatif kepada orang-orang disekitarnya ; (e) tidak akan pernah lagi mau mendengarkan siaran / acara / stasiun Anda.

3. Pendengar / Pemirsa mempunyai lingkungan sosial dimana mereka juga memiliki akses yang sama terhadap berbagai pilihan stasiun / media. Sebagai anggota dari komunitasnya, ia akan berinteraksi dan saling mempengaruhi. Apa-apa yang Anda sodorkan kepada dirinya, berpengaruh pula pada komunitasnya. Dalam aktivitas sosial, hasil dari apa yang Anda sodorkan haruslah dapat ia “pertanggung-jawabkan” kepada komunitasnya. Misalnya, ia menyukai siaran Anda, maka ia harus bisa “menjelaskan” kenapa ia menyukai siaran Anda dihadapan komunitasnya. Karena bisa saja komunitasnya lebih menyukai siaran dari stasiun lain. Artinya, Anda harus jelas menampilkan “pembedaan olahan” acara Anda. Sehingga ia dapat juga secara jelas menjelaskan kepada komunitasnya. Penjelasan darinya ini sangat penting artinya bagi pertambahan atau pengurangan pendengar / pemirsa stasiun anda.

4. Mengerti betul tentang karakteristik media yang Anda gunakan, sehingga Anda dapat meng-optimal-kan manfaatnya. Misal, kalau Anda membuat acara radio, tentulah soal “suara dan bunyi” akan menjadi yang paling menentukan dalam mengkomunikasikan pesan. Suara dan bunyi harus saling menjalin agar pesan dapat terkomunikasikan dengan effektif. Tetapi kalau anda membuat acara TV, maka “suara dan bunyi harus terillustrasi dengan gambar”, agar pesan dapat effektif. Kerjasama yang baik saling menunjang antara suara, bunyi dan gambar akan mengeffektif-kan sampainya pesan.

Kalau Anda sekarang diminta untuk membuat satu acara, lakukanlah dengan keempat pemahaman di atas, sebagai koridor kreatifitas Anda. Niscaya program siaran Anda akan lebih menarik untuk diikuti. (arm)

Tidak ada komentar: