oleh Andy Rustam
Memang “mata” selalu merupakan indra utama yang dapat menggugah rasa tertarik. Apa-apa yang indah dipandang mata selalu akan lebih cepat membangkitkan minat seseorang. Seorang wanita yang cantik dengan dandanan trendy, yang melintas masuk di sebuah cafe, dapat dipastikan dalam seketika akan membuat semua mata pria memandanginya dengan penuh semangat. Bahkan wanita lain pun akan ikut memperhatikannya, karena penasaran apa sih yang membuat semua mata pria tertuju kepada gadis itu.
Tetapi kalau Anda perhatikan lebih lanjut, kejadian itu terjadi hanya dalam beberapa detik saja, dimulai sejak wanita itu memasuki ruangan. Setelah itu, beberapa detik kemudian, hanya tinggal beberapa pasang mata saja yang masih memperhatikan. Barangkali setelah wanita itu duduk memesan makanan atau nanti ketika dia keluar dari cafe, sudah tidak ada seorang pun lagi yang memperhatikan.
Kejutan Mata akan Ditindak-lanjuti
Memang begitulah karakter indera mata yang dapat secara cepat melemparkan sinyal informasi ke otak, reaksinya bisa instant membuat kita menaruh perhatian, tetapi durasinya hanya sebentar.
Lalu agar perhatian kita tetap terpana ke situ, dibutuhkan informasi lanjutan. Otak kita masing-masing sudah mempunyai stok sederetan kriteria apa saja yang termasuk kategori menarik atau tidak. Kalau informasi awal yang dikirim ke mata tidak memenuhi “kriteria menarik” si otak, maka otak tidak akan mencari informasi lanjutan.
Tetapi kalau informasi awal ini sesuai dengan kriteria menariknya otak, maka otak akan mencari informasi lanjutan. Informasi ini tentu akan dicari oleh panca-indera lainnya juga selain mata (misal: telinga, hidung, sentuhan dsb). Kalau ada informasi baru yang juga memenuhi kriteria lanjutan, maka perhatian/minat kita kepadanya akan semakin besar. Begitu seterusnya.
Dalam contoh, si gadis cantik berdandan trendy yang masuk ke cafe, lalu membuat mata Anda dan pria lainnya terpesona, maka Anda mungkin akan mengikutinya terus (dengan pandangan mata) ke arah mana ia duduk.
Sampai di sini, sebetulnya yang terjadi, si otak tetap menerima info dari mata dan mencocokan dengan stok kriteria menarik: “oh ternyata selain dandanan trendy, dan wajah cantik, body-nya juga bagus serta gaya berjalannya juga asik”.
Jadi, ini yang menyebabkan perhatian Anda masih tertuju kepada si gadis. Ingat, otak tetap mencari informasi lanjutan dari panca-indera lainnya juga.
Kemudian ternyata si gadis cantik mengambil posisi meja dan duduk di dekat meja Anda. Pada saat itu, terciumlah oleh Anda aroma yang menyengat hidung (bau keringat). Otak langsung merespon: “oh ini ada kriteria yang tidak cocok nih”. Minat Anda kepada si gadis pun mulai menurun.
Lalu ketika si gadis mulai bercakap-cakap dengan waiter akan memesan makanan, terdengarlah suaranya yang keras dan cempreng seperti suara kaleng krupuk yang dipukul-pukul anak balita. Si otak-pun berteriak-teriak, “OMG, jauh banget dengan kriteria menarik yang ada di stok aku. Nggak cocook.. nggak cocookk!!“ Maka buyar-lah sudah minat Anda kepada si gadis cantik trendy tadi. Bahkan ketika si cantik trendy mulai menelpon temannya dan berbicara dengan suara keras dan cempreng, diselingi samar-samar bau keringat yang menyengat hidung, Anda pun segera pindah duduknya mencari posisi meja yang lain agar jauh-jauh dari si gadis cantik tadi.
Presenter di TV
Belakangan ini di TV, pada acara sepakbola Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sering diselingi kuis-kuis sponsor yang menghadirkan presenter kuis, wanita-wanita muda yang penampilannya OK, cantik, dan karena masih muda, body-nya pun enak dipandang mata.
Dalam beberapa detik ketika mereka tampil, langsung mata saya terfokus kepada wanita cantik itu. Tetapi ketika mereka mulai berbicara suara mereka, waduuuh.. cempreng banget dan dengan gaya bicara teriak-teriak seperti pedagang kaki lima di pasar (Untungnya, saya tidak dapat mencium baunya, apakah barangkali bau pasar juga?). Suara presenter ini mengeluarkan nada “mid-range”, sebuah frekuensi yang menusuk tajam gendang telinga. Ini saja sudah membuat saya, menekan tombol volume untuk sedikit mengecilkan volume suara. Maksudnya supaya saya masih bisa mengikuti apa yang dikatakannya.
Tetapi saking cepatnya dia bicara (mungkin dikejar waktu), maka pronounsiasi (ucapan kata demi kata) serta artikulasi (bunyi-bunyi dari setiap huruf) menjadi tidak sempurna, menyebabkan saya sama sekali tidak dapat menangkap apa yang dikatakannya, ditambah lagi dengan gaya kecentilan seperti petasan injek. Pada saat itulah saya langsung memencet tombol “mute” dan bahkan pindah/switch saluran, ke channel lain. Saya baru kembali ke channel sepakbola ketika pertandingan sudah berjalan kembali. Ini terjadi hampir setiap malam!
Artinya, kerugian besar bagi si sponsor, bukan? Karena justru pada waktu segmen siarannya itulah, sebahagian penonton memindahkan saluran. Pernah pada suatu hari tertentu (kalau tidak salah 2 hari yang lalu, tgl 26 Juni 2010), malah tidak ada satu pun telpon masuk menjawab kuis, padahal tersedia hadiah besar. Ini membuktikan bahwa, walau sudah disediakan hadiah saja tidak ada yang mau menelpon, apalagi kalau tidak pakai hadiah dan kita hanya disodorkan agar melihat presenter cantik bersuara cempreng terkadang centil kegenitan itu. Waah.. tidak bakalan ada yang mau melihat pesan sponsor tersebut.
Maka,.. mbok ya sadaaar.. hei para orang yang berkecimpung di televisi.., bahwa penampilan cantik dan body asik saja tidaklah cukuuup. Lakukanlah seleksi yang benar kalau mau merekrut presenter TV, dan pelatihan yang benar sebelum mereka dinyatakan layak tampil. Jangan begitu mudahnyalah menampilkan orang di televisi, kalau ingin kualitas siaran televisi kita meningkat dan di-apresiasi sebagai baik oleh masyarakat. Kelakuan Anda yang dengan mudahnya menampilkan siapa saja asal cantik untuk tampil di televisi, justru merendahkan profesi kalian sendiri. Tidak ada lagi kebanggaan dan kemuliaan profesional orang televisi.
Belajarlah dari televisi negera lain. Belajar itu bukan menyontek. Kalau menyontek seperti yang banyak Anda lakukan sekarang ini, hasilnya hanyalah peniruan kulit luar saja. Anda tidak memahami prinsip utamanya. Makanya kesalahan terus saja terjadi. Misalnya, Anda meniru presenter luar negeri hanya dari dandanan rambut dan pakaian saja, karena Anda tidak tahu bahwa yang membuat presenter televisi luar negeri itu menarik bagi penonton, bukan hanya kecantikan dandanan dan penampilan saja, tetapi coba lihat teknik berbicaranya.., coba lihat bagaimana pilihan nada suara yang digunakan.., coba lihat otak mereka yang cerdas dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.., coba lihat gesture mereka yang anggun.., dan sebagainya.
Televisi Indonesia? ...haduuuuh ampuuun deh..! (arm)
Memang “mata” selalu merupakan indra utama yang dapat menggugah rasa tertarik. Apa-apa yang indah dipandang mata selalu akan lebih cepat membangkitkan minat seseorang. Seorang wanita yang cantik dengan dandanan trendy, yang melintas masuk di sebuah cafe, dapat dipastikan dalam seketika akan membuat semua mata pria memandanginya dengan penuh semangat. Bahkan wanita lain pun akan ikut memperhatikannya, karena penasaran apa sih yang membuat semua mata pria tertuju kepada gadis itu.
Tetapi kalau Anda perhatikan lebih lanjut, kejadian itu terjadi hanya dalam beberapa detik saja, dimulai sejak wanita itu memasuki ruangan. Setelah itu, beberapa detik kemudian, hanya tinggal beberapa pasang mata saja yang masih memperhatikan. Barangkali setelah wanita itu duduk memesan makanan atau nanti ketika dia keluar dari cafe, sudah tidak ada seorang pun lagi yang memperhatikan.
Kejutan Mata akan Ditindak-lanjuti
Memang begitulah karakter indera mata yang dapat secara cepat melemparkan sinyal informasi ke otak, reaksinya bisa instant membuat kita menaruh perhatian, tetapi durasinya hanya sebentar.
Lalu agar perhatian kita tetap terpana ke situ, dibutuhkan informasi lanjutan. Otak kita masing-masing sudah mempunyai stok sederetan kriteria apa saja yang termasuk kategori menarik atau tidak. Kalau informasi awal yang dikirim ke mata tidak memenuhi “kriteria menarik” si otak, maka otak tidak akan mencari informasi lanjutan.
Tetapi kalau informasi awal ini sesuai dengan kriteria menariknya otak, maka otak akan mencari informasi lanjutan. Informasi ini tentu akan dicari oleh panca-indera lainnya juga selain mata (misal: telinga, hidung, sentuhan dsb). Kalau ada informasi baru yang juga memenuhi kriteria lanjutan, maka perhatian/minat kita kepadanya akan semakin besar. Begitu seterusnya.
Dalam contoh, si gadis cantik berdandan trendy yang masuk ke cafe, lalu membuat mata Anda dan pria lainnya terpesona, maka Anda mungkin akan mengikutinya terus (dengan pandangan mata) ke arah mana ia duduk.
Sampai di sini, sebetulnya yang terjadi, si otak tetap menerima info dari mata dan mencocokan dengan stok kriteria menarik: “oh ternyata selain dandanan trendy, dan wajah cantik, body-nya juga bagus serta gaya berjalannya juga asik”.
Jadi, ini yang menyebabkan perhatian Anda masih tertuju kepada si gadis. Ingat, otak tetap mencari informasi lanjutan dari panca-indera lainnya juga.
Kemudian ternyata si gadis cantik mengambil posisi meja dan duduk di dekat meja Anda. Pada saat itu, terciumlah oleh Anda aroma yang menyengat hidung (bau keringat). Otak langsung merespon: “oh ini ada kriteria yang tidak cocok nih”. Minat Anda kepada si gadis pun mulai menurun.
Lalu ketika si gadis mulai bercakap-cakap dengan waiter akan memesan makanan, terdengarlah suaranya yang keras dan cempreng seperti suara kaleng krupuk yang dipukul-pukul anak balita. Si otak-pun berteriak-teriak, “OMG, jauh banget dengan kriteria menarik yang ada di stok aku. Nggak cocook.. nggak cocookk!!“ Maka buyar-lah sudah minat Anda kepada si gadis cantik trendy tadi. Bahkan ketika si cantik trendy mulai menelpon temannya dan berbicara dengan suara keras dan cempreng, diselingi samar-samar bau keringat yang menyengat hidung, Anda pun segera pindah duduknya mencari posisi meja yang lain agar jauh-jauh dari si gadis cantik tadi.
Presenter di TV
Belakangan ini di TV, pada acara sepakbola Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sering diselingi kuis-kuis sponsor yang menghadirkan presenter kuis, wanita-wanita muda yang penampilannya OK, cantik, dan karena masih muda, body-nya pun enak dipandang mata.
Dalam beberapa detik ketika mereka tampil, langsung mata saya terfokus kepada wanita cantik itu. Tetapi ketika mereka mulai berbicara suara mereka, waduuuh.. cempreng banget dan dengan gaya bicara teriak-teriak seperti pedagang kaki lima di pasar (Untungnya, saya tidak dapat mencium baunya, apakah barangkali bau pasar juga?). Suara presenter ini mengeluarkan nada “mid-range”, sebuah frekuensi yang menusuk tajam gendang telinga. Ini saja sudah membuat saya, menekan tombol volume untuk sedikit mengecilkan volume suara. Maksudnya supaya saya masih bisa mengikuti apa yang dikatakannya.
Tetapi saking cepatnya dia bicara (mungkin dikejar waktu), maka pronounsiasi (ucapan kata demi kata) serta artikulasi (bunyi-bunyi dari setiap huruf) menjadi tidak sempurna, menyebabkan saya sama sekali tidak dapat menangkap apa yang dikatakannya, ditambah lagi dengan gaya kecentilan seperti petasan injek. Pada saat itulah saya langsung memencet tombol “mute” dan bahkan pindah/switch saluran, ke channel lain. Saya baru kembali ke channel sepakbola ketika pertandingan sudah berjalan kembali. Ini terjadi hampir setiap malam!
Artinya, kerugian besar bagi si sponsor, bukan? Karena justru pada waktu segmen siarannya itulah, sebahagian penonton memindahkan saluran. Pernah pada suatu hari tertentu (kalau tidak salah 2 hari yang lalu, tgl 26 Juni 2010), malah tidak ada satu pun telpon masuk menjawab kuis, padahal tersedia hadiah besar. Ini membuktikan bahwa, walau sudah disediakan hadiah saja tidak ada yang mau menelpon, apalagi kalau tidak pakai hadiah dan kita hanya disodorkan agar melihat presenter cantik bersuara cempreng terkadang centil kegenitan itu. Waah.. tidak bakalan ada yang mau melihat pesan sponsor tersebut.
Maka,.. mbok ya sadaaar.. hei para orang yang berkecimpung di televisi.., bahwa penampilan cantik dan body asik saja tidaklah cukuuup. Lakukanlah seleksi yang benar kalau mau merekrut presenter TV, dan pelatihan yang benar sebelum mereka dinyatakan layak tampil. Jangan begitu mudahnyalah menampilkan orang di televisi, kalau ingin kualitas siaran televisi kita meningkat dan di-apresiasi sebagai baik oleh masyarakat. Kelakuan Anda yang dengan mudahnya menampilkan siapa saja asal cantik untuk tampil di televisi, justru merendahkan profesi kalian sendiri. Tidak ada lagi kebanggaan dan kemuliaan profesional orang televisi.
Belajarlah dari televisi negera lain. Belajar itu bukan menyontek. Kalau menyontek seperti yang banyak Anda lakukan sekarang ini, hasilnya hanyalah peniruan kulit luar saja. Anda tidak memahami prinsip utamanya. Makanya kesalahan terus saja terjadi. Misalnya, Anda meniru presenter luar negeri hanya dari dandanan rambut dan pakaian saja, karena Anda tidak tahu bahwa yang membuat presenter televisi luar negeri itu menarik bagi penonton, bukan hanya kecantikan dandanan dan penampilan saja, tetapi coba lihat teknik berbicaranya.., coba lihat bagaimana pilihan nada suara yang digunakan.., coba lihat otak mereka yang cerdas dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu.., coba lihat gesture mereka yang anggun.., dan sebagainya.
Televisi Indonesia? ...haduuuuh ampuuun deh..! (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar