31 Oktober 2010

Komplain Masyarakat pada Siaran / Tayangan Televisi

oleh Andy Rustam

Semua orang yang berkecimpung di bidang broadcasting pasti tahu bahwa fungsi media penyiaran adalah sebagai media Informasi, Pendidikan dan Hiburan. Kata-kata ini tercantum dalam pasal-pasal undang-undang dan peraturan terkait dengan isi siaran.

Sekarang ini komplain masyarakat tentang media penyiaran, apalagi televisi, kebanyakan tentang tayangan siarannya yang tidak mendidik. Dalam tayangan apapun, ada saja bagian siaran media televisi dinilai tidak mendidik. Ada tayangan iklannya tidak mendidik. Ada tayangan lawakannya tidak mendidik. Ada tayangan beritanya tidak mendidik. Ada tayangan sinetronnya tidak mendidik. Ada acara game/reality-show juga tidak mendidik. Pendek kata, sangat terlihat adanya kesenjangan nilai-nilai kebajikan & moral (virtues & values) antara apa yang dimiliki di hati orang-orang stasiun televisi, dengan apa yang tertanam di hati dan benak masyarakat Indonesia.

Keluhan Umum Masyarakat

Televisi itu mbok ya jangan terlalu komersiel, cuma mengejar rating demi iklan. Jangan cuma mengejar selama mau bayar, iklan seperti apapun bisa ditayangkan. Apa ngga disensor dulu?! Pikirkan juga dong tentang masa depan anak-anak kita, yang juga anak-anak mereka kalau dijejali dengan siaran-siaran / tayangan-tayangan yang tidak mendidik itu. Pemerintah juga bagaimana sih ini? Kok KemKominfo diam saja? Mengapa KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) tidak gencar melakukan langkah-langkah dan mengambil tindakan terhadap hal-hal yang bisa berdampak negatif. Surat pembaca di koran ataupun komentar-komentar di internet penuh dengan komplain-komplain seperti ini. Bahkan Komisi I di DPR-pun tidak luput didatangi untuk curhat hal yang sama.

Argumen Standar Orang Televisi

Biasanya orang TV (swasta) kalau ditanyain, jawabnya begini: (1) Kami sudah menjalankan fungsi kami sebagai media pendidikan. Buktinya kami mengalokasikan acara kuliah agama sekian jam per minggu. Kami sudah menjalankan pula fungsi kami sebagai media informasi. Buktinya kami memiliki acara berita dan acara-acara liputan lainnya. Sedangkan acara hiburan tentu saja sebagai yang utama karena disinilah memang bisnis kami.

(2) Masyarakat bisa saja protes apapun, tetapi kenyataannya masyarakat justru menyukai acara-acara yang mereka protes sendiri. Buktinya rating-nya (indikator jumlah pemirsa) malah tinggi di acara-acara tersebut. Para pemasang iklan menghendaki acara-acara dengan rating yang tinggi. (Maka boss kami selalu mengevaluasi hasil kerja kami dari rating-nya). Karena perusahaan TV minim rating berarti akan minim iklan. Tanpa iklan, kami pun tidak akan hidup.

Hasilnya

Sebenarnya argumen-argumen orang TV yang disebutkan di atas hanyalah justru menunjukkan kurangnya pengetahuan mereka tentang broadcasting itu sendiri, berikut duduk persoalan yang sebenarnya. Makanya, argumentasi ini tidak memberi solusi apapun. Tentu saja tidak ada perbaikan, tidak ada perubahan sama sekali. Televisi tetap aja begituu..., bodo amat-lah... Pemerintah & KPI tetap aja begituuu..., ya kami sudah menghimbau,...Masyarakat juga tetap aja begituuu.., protes terus percuma akhirnya males deh komplain.
Hasilnya, tatanan sosial masyarakat semakin rusak. Tawuran, ketidak-disiplinan, ketidak-santunan, dan perilaku yang negatif seperti kebanci-bancian, kegenitan serta sifat hedonistis, sebagaimana dicontohkan oleh TV, semakin meluas.

Akhirnya kita semua sudah dapat melihat “ujung-nya”, apa yang bakal terjadi dengan Indonesia dan masyarakatnya di masa depan.

Perilaku para Pemodal Binatang Ekonomi

Umumnya televisi kita dimiliki oleh para pemodal kuat. Para pemodal / konglomerat / pebisnis binatang ekonomi (terutama di Indonesia), tujuannya cuma satu, bagaimana menumpuk kekayaan / asset yang terus meningkat dalam waktu singkat. Mereka tidak pernah berpikir tentang Values & Virtues. Buat mereka perwujudan dari Values & Virtues adalah berbisnis dengan cara apapun asalkan tidak terjerat oleh Hukum. Jadi selama tidak melanggar Hukum, walaupun dengan cara memanipulasi Hukum itu sendiri, hal itu bagi mereka sah-sah saja. Sepandai-pandainya hukum itu dibuat, selalu ada saja celah bagi mereka untuk dimanfaatkan. Itu sebabnya mengapa Pemerintah / DPR /KPI tidak mudah untuk bergerak. Dalam era reformasi sekarang ini, Hukum-lah selalu yang dikedepankan. Sedangkan hukum itu sendiri selalu mempunyai celah, dengan cara memanipulasi indikatornya. Ini bisa dilakukan dengan uang. Itu sebabnya para konglomerat dengan dana yang besar selalu lolos dari jeratan hukum, namun tetap sesuai / berdasarkan hukum pula. Maka masyarakat pun, sambil mengelus dada hanya berkata: “kok bisa, ya?”.

Kita bisa lihat bagaimana pemerintahan presiden Amerika Serikat, Barack Obama berjuang mati-matian meng-goal-kan undang-undang yang membatasi monster gurita bisnis para kapitalis, demi kesejahteraan rakyat. Walau akhirnya berhasil goal, Ia pun masih terus diserang, dituduh membawa negara ke arah sosialisme.

Artinya, bagi kita di Indonesia, kalau di negara tua dalam berdemokrasi, Amerika saja sudah seperti itu, seandainya-pun pemerintah demokratis negeri kita ini memiliki kemauan,.. jangan terlalu mengharap bahwa pemerintah kita akan sanggup “berperang” demi masyarakat dan rakyatnya, melawan nafsu para pemodal / konglomerat / pebisnis binatang ekonomi.

Pengetahuan & Ketrampilan

Kalau saja “nafsu” itu bisa dikendalikan, sebenarnya bisnis broadcasting (TV & Radio) dapat tetap menguntungkan dan berkembang secara wajar. Nafsu takut kuenya direbut orang, takut orang lain akan menguasai pasar, menyebabkan mereka tidak mau tumbuh secara wajar. Belajar dari alam, sesuatu yang tumbuh secara tidak wajar pastilah akan berdampak negatif. Sayangnya hal ini justru yang dikesampingkan demi nafsu, menghalalkan segala cara.

Kalaulah mereka mau tumbuh secara wajar, tentulah mereka akan punya waktu untuk mengevaluasi diri dan mempelajari bagaimana caranya membuat dan memproduksi acara yang mendidik dan bermanfaat bagi masyarakat, namun tetap diminati oleh khalayak, sehingga rating-nyapun baik. Bagaimana caranya menyiarkan berita buruk tapi berdampak positif. Begitu pula para pemasang iklanpun bisa belajar atau “diajarkan”, bagaimana caranya mengatur strategi iklan dan secara kreatif membuat iklan tersebut, sehingga hasilnya efektif tanpa dampak negatif. Bagaimana caranya mengoptimalkan efektifitas pesan iklan walaupun rating acaranya tidak terlalu tinggi. Ini tentu saja bisa.

Semua itu ada ilmunya, semua itu ada ketrampilan yang bisa dipelajari. Asalkan punya kemauan mau belajar dan mau menyisihkan waktu. Artinya, mau juga untuk menahan diri menahan nafsu, agar tidak mengeksploitasi selera rendah atau cara-cara mudah, untuk cepat mendapat rating atau untuk cepat terjual.

Sebuah TV yang berkembang dan meraup keuntungan dengan cara ini akan lebih langgeng dan bisa bertahan puluhan tahun, karena masyarakat sendiri merasakan manfaat dan dampak positifnya terhadap keharmonisan tatanan sosial kemasyarakatan. Bukankah contohnya sudah banyak di negara-negara lain ? Mengapa kita tak mau belajar ? Jawab: karena nafsu para binatang ekonomi sampai saat ini mampu mengendalikan para profesional dan birokrat kita. (arm)

2 komentar:

yolanda octavia mengatakan...

untuk alasan2 inilah maka dibentuklah KPI/KPID sebagai pemantau,pengawas dan eksekutor...tapi toh masih muncul juga keluhan2 dan problem2 serupa...

Anonim mengatakan...

Pak Andy yang sedang gelisah campur gregetan.
Begini Pak Any. Disatu sisi "dewa"nya orang TV (pemodal) adalah rating. Rating TV diperoleh dari peoplemeter yang dipasang disejumlah pesawat tv di rumah.
Jadi kita tahulah siapa sebenarnya penonton tv tersebut (ibu-ibu, pembantu, baby sitter dan pengangguran. Jadi kita tahu hasilnya, acara-acara berselera rendahlah yang menjadi pilihan mereka.
Coba kalau surveynya terkoneksi dengan HP yang ada vitur TV-nya, hasilnya KAN JAUH BERBEDA.
Dis sisi lain; masyarakat yang komplain adalah mewakili orang-orang berpendidikan, yang masih punya idealisme dsb. yang TV dirumahnya tidak terkoneksi dengan peopel metter. Jadi ya begitulah.
Sementara KPI rasanya sih sdh tidak kurang memberikan peringatan kepada beberapa stasiun TV terkait dengan komplain masyarakat tersebut. Kuncinya keberanian penegakan hukum, hanya saja, resikonya menjadi sorotan dan tidak populer bahkan dimusuhi.
Semoga Pak Andy tetap semangat
Slamet M
Jaktim