10 Oktober 2010

Sindroma B&B di TV

oleh Andy Rustam

Rasanya kita setiap hari hanya mendengar berita jelek melulu. Sebab apa yang terjadi di negeri kita ini memang banyak sekali yang jelek. Banyak dari kita yang sudah sebel kepada televisi karena setiap hari menyiarkan berita jelek dengan cara yang jelek pula. Masyarakat penonton TV merasa muak dengan siaran pemberitaan televisi swasta kita. Susahnya lagi para broadcaster televisi itu merasa bangga dengan apa yang mereka lakukan. Mereka merasa mendapatkan hal yang “seru” dan merasa menyiarkan sesuatu yang sensasional. Cara menyajikan dan melaporkannya pun sering sangat tidak pantas dan vulgar, sehingga dampaknya justru negatif bagi perkembangan jiwa dan sosial bagi masyarakat.

Tetapi kenyataan, siaran berita dengan gaya siaran berita seperti itu justru menarik penonton. Sehingga mau seperti apapun kritik yang dilontarkan, tidak pernah mereka mau memperhatikannya. Hal begini inilah yang saya katakan bahwa para pimpinan dan penyelenggara siaran pemberitaan di televisi swasta dihinggapi sindroma B&B, alias Bodoh & Bangga.

Kenapa Menyiarkan Berita Buruk?

Sebenarnya menyiarkan berita buruk itu maksudnya baik. Diharapkan dengan menyiarkannya pada masyarakat luas, maka masyarakat akan bereaksi yang positif. Misal, memantapkan diri agar diri dan keluarganya tidak menjadi seperti begitu, menekan pemerintah agar bertindak, menjadi lebih waspada, berpikir, dan melakukan langkah pencegahan agar tak terulang lagi, dsb. dsb.

Begitulah yang ada di benak para penyelenggara penyiaran berita di televisi. Tetapi itu benar apabila berita seperti itu hanya terjadi dan disiarkan sekali-sekali. Apalagi sering sekali apa yang dilaporkan oleh berita di TV, tidak sempat ditindak-lanjuti oleh aparat saking sudah terlalu banyak kasus/situasi buruk yang terjadi dan harus ditangani, ataupun dikarenakan satu dan lain hal. Ini terjadi setiap hari disiarkan setiap hari.

Kalau mereka tahu barang sedikit tentang “psikologi”, pastilah mereka akan menyadari bagaimana efek buruknya.

Psikologi

Ketika kita melihat untuk pertama kali berita pembunuhan di TV, kita akan bereaksi positif sebagaimana tersebut diatas. Kita akan bereaksi, “wah jangan sampai anak kita seperti itu”; “Polisi harus lebih sering patroli dong” dsb. dsb. Tetapi kalau setiap hari kita menonton berita pembunuhan di TV, maka lama kelamaan berita itu sudah tak ada impact-nya lagi kepada kita. Kita sudah tidak akan bereaksi lagi, atau bahkan bereaksi yang negatif. Justru masyarakat akhirnya berpendapat bahwa pembunuhan adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Pembunuhan bukan lagi menjadi hal yang tidak wajar, bukan lagi suatu kejahatan besar. Nah bukankah ini merupakan hal yang buruk secara kejiwaan dan secara sosial???

Dalam psikologi, sebuah “kebiasaan” akan terbentuk dikarenakan seseorang mengalami pengulangan kejadian terus menerus, sehingga lama kelamaan akan terekam di bawah sadar (subconscious) dan menjadi sebuah sikap / karakter dirinya (Wood W, Neal DT - 2007. "A new look at habits and the habit-goal interface." Psychological Review, 114: 843–863) Begitu pula dengan kisah selingkuh yang setiap hari disiarkan dalam infotainment dan acara gosip. Lama kelamaan masyarakat akan berpendapat bahwa selingkuh adalah hal yang biasa-biasa saja, sebuah hal yang wajar berlaku.

Oleh karena itulah seharusnya para penyelenggara siaran berita di televisi menyadari dampak buruknya bagi individu dan masyarakat. Sehingga tidak pada tempatnya untuk merasa hebat dan berbangga diri, karena sesungguhnya Anda telah melakukan suatu kebodohan yang akan merugikan keluarga dan anak-anak Anda sendiri nanti.

Pertanyaannya lalu, kalau memang tayangan berita seperti itu akan berdampak buruk bagi masyarakat, tetapi mengapa masyarakat sendiri menyukai tayangan seperti itu, terbukti dengan rating-nya yang cukup tinggi?

Kalau sampai terlontar pertanyaan seperti ini, justru makin mempertontonkan kebodohan Anda. Bukankah anak kita suka sekali makan permen manis setiap hari, walaupun itu akan berdampak pada kerusakan giginya? Lalu apakah dengan demikian kita akan terus memberikan permen manis setiap hari dengan alasan anak kita menyukainya??? Don’t be so stupid, man!

Memperoleh Rating secara Positif

Alasan bahwa penonton TV menyukai siaran-siaran banci, demo/protes, kekerasan /pengrusakan, kecelakaan, sex, dan gosip, dan materi-materi negatif seperti ini, bukan berarti Anda harus memberikan content / isi hal-hal seperti itu setiap hari. Kembali ke teori psikologi di atas, content seperti itu hanya pada awalnya saja mempunyai dampak yang besar menarik perhatian penonton. Tetapi setelah diberikan begitu terus menerus setiap hari, mereka semakin kehilangan minat (Law of Diminishing Return). Karena sebenarnya penonton bukanlah mencari tontonan banci, kekerasan/pengrusakan/demo serta gosip, melainkan penonton televisi mencari sesuatu tontonan yang “unique (aneh, tidak biasa dsj)” sehingga mampu menciptakan “excitement (membangkitkan minat, bergairah, bersemangat dsj)” untuk ditonton.

Maka sebenarnya, semua penyelenggara siaran yang terlibat harus menyadari ini dan akhirnya secara kreatif dapat menciptakan hal lain (selain banci, demo/protes, kekerasan/pengrusakan, sex dan gosip), tetapi tetap mampu menampilkan sebuah “uniqueness” sehingga mampu menghasilkan “excitement”, apapun isi acara atau beritanya.

Beginilah cara Anda menghasilkan rating. Bukan mengandalkan content / isi tapi mengandalkan cara mengolah content dengan cara yang sangat variatif.

Kalaupun berita itu sebuah berita buruk, tak harus hanya dengan ke-vulgar-an untuk menimbulkan excitement, tetapi bisa saja dengan misalnya, menampilkan tayangan dan penjelasan berbeda yang merangsang ke-ingin-tahu-an para penonton. Dengan begitu tuntutan adanya persyaratan uniqueness yang mampu membangkitkan excitement pada penonton, akan dapat terpenuhi. Kalau ini terpenuhi, pastilah rating akan tetap meningkat.

Jadi, motto: Bad news is a good news, harus diganti dengan:
News in a good positive presentation is a good news, even if it’s a bad news”.

Tapi hal ini tak akan terjadi selama B&B masih bersemayam di dada para penyelenggara siaran pemberitaan TV swasta. Hilangkan sifat berbangga diri, gantikan dengan sifat rendah hati. Sebuah sikap untuk mau belajar dan memperbaiki diri. (arm)

Tidak ada komentar: