oleh Andy Rustam
Pada suatu pagi, saya sedang menunggu teman saya untuk minum kopi bersama di sebuah cafe. Tidak sengaja saya duduk mengambil meja yang berhadapan dengan meja lain, dimana duduk seorang wanita cantik. Tak lama kemudian, teman saya datang. Setelah minum beberapa teguk, ia pun menoleh ke arah wanita tersebut, dan tiba-tiba ia berbisik kepada saya mengatakan bahwa wanita tersebut adalah si “anu”, seorang pemain sinetron kondang yang sering muncul di layar kaca. Sungguh mati, saya tidak tahu sama sekali, karena saya memang sudah 2 – 4 tahun ini jarang sekali menonton siaran televisi. Teman saya terheran-heran, karena katanya wajah si artis itu juga sering muncul di majalah. Sayapun bilang bahwa saya sudah lama sekali tidak pernah membeli atau membaca majalah. Waktu teman saya bertanya apa alasannya? Jawab saya, ”membosankan!”
Konsisten vs Bosan
Bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh media massa, termasuk juga siaran radio, adalah mulai ditinggalkan oleh publiknya. Salah satu alasan terbanyak dikemukakan mengapa sampai ditinggalkan, adalah akibat munculnya rasa bosan. Bagi kita orang media, ini tantangan yang tidak mudah. Karena konsistensi adalah kata penting dalam pengelolaan media. Lihat saja, bagaimana surat kabar yang kredibel seperti Kompas, sangat konsisten dalam isi dan peletakan rubrik-rubrik. Lihat pula bagaimana televisi konsisten dalam menyiarkan acara-acaranya. Film-film seri impor semacam “Heroes” atau “Lost”, juga konsisten dalam isi cerita dan karakter-karakter dalam setiap episode-nya. Tetapi akhirnya, bahkan serial asing itu pun, yang awalnya mendapat sambutan, kini mulai ditinggalkan karena, lama-lama kok membosankan, ya? Konsistensi sangat diperlukan untuk membangun kelompok audience. Tetapi konsistensi jugalah yang dapat menyebabkan ia ditinggalkan oleh audience-nya.
Kenapa Bosan?
Sesuatu yang menarik hati di awalnya, bisa jadi membosankan setelah beberapa waktu. Temanku dulu hampir setiap hari buka “facebook”, tapi sekarang mungkin hanya seminggu sekali. Berapa banyak juga pasangan suami-istri yang mengatakan sudah bosan dengan kehidupan pernikahannya. Walaupun kebosanan bisa melanda setiap orang, cara mengatasi kebosanan individual masih lebih mudah daripada kita-kita yang di media, dikarenakan adanya keharusan “wajib” konsisten tadi, alias rutin dan teratur.
Menurut para ahli, akar dari kebosanan itu berada pada otak kita. Otak manusia selalu membutuhkan “stimuli/rangsangan”. Oleh karena itu, apabila ada sesuatu hal baru, yang juga merupakan hal yang belum dikenali oleh otak, maka otak merasakan sensasi ini sebagai suatu stimuli yang kuat. Tetapi lama kelamaan, kalau hal tersebut sudah rutin dan menjadi seperti suatu kebiasaan, maka otak tidak lagi menganggapnya itu sebagai suatu stimuli. Nah di sinilah mulai timbul bibit-bibit kebosanan. Yang perlu diingat, tidak selamanya stimuli itu harus sesuatu hal yang baru. Keberhasilan mencapai suatu kemenangan pun juga merupakan stimuli yang baik bagi otak.
Kita di media seringkali menafsirkan kebosanan itu hanya sebagai sesuatu yang diakibatkan oleh sebuah rutinitas, sehingga jalan keluarnya seringkali pula kita berusaha membuat sesuatu yang berbeda, sebagai variasi pada satu atau dua bagian saja. Misalnya suatu acara Quiz biasanya diikuti peserta yang terdiri dari orang-orang / masyarakat umum. Kemudian agar tidak membosankan, pada hari-hari tertentu pesertanya diganti dari kalangan artis saja, atau pada minggu depannya diganti lagi menjadi dari kalangan pengusaha saja. Harapannya, karena sudah punya variasi, maka kebosanan pemirsa bisa teratasi.
Benar sekali itu merupakan variasi. Masalahnya apakah yang dikenali sebagai stimuli oleh otak kita selama ini adalah tentang peserta-nya ? Seandainya, yang selama ini dianggap sebagai stimuli oleh otak kita adalah “Host” / pembawa acaranya, maka mengganti peserta untuk menimbulkan stimuli baru pada otak kita, tidak akan membawa dampak seperti yang diinginkan.
Contohnya, jika yang selama ini menjadi stimuli bagi otak pemirsa dari acara “ Bukan 4 Mata” adalah si Tukul Arwana, maka ketika kebosanan itu timbul justru pada si Tukul-nya, maka walaupun tamu-tamunya ditampilkan variatif, tetap saja kebosanan dari pemirsa itu tidak akan teratasi.
Menghindari Kebosanan Audience
Salah satu kelebihan otak manusia adalah ia mampu menyimpan data, mengolah data, menganalisa dan memprosesnya dengan sangat cepat. Outputnya adalah kemampuan memprediksi. Kalau kita siaran di radio atau di televisi dan kalimat pembuka acara yang digunakan, misalnya seperti ini, “Hallo para pemirsa / pendengar di rumah atau di mana pun Anda berada, saya Kumis, senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda dalam acara: Satu Kumis, Dua Nona Manis“. Seperti itu misalnya. Lalu keesokan harinya, ketika acara ini muncul, si pembawa acara lagi-lagi membuka acara dengan kalimat seperti ini, "...senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda..”, dan begitu seterusnya pada hari-hari berikutnya.
Maka ketika bulan depan acara tersebut tampil, tentu saja otak audience langsung melakukan “prediksi / perkiraan” sbb., “Pasti deh nanti kalimat yang digunakan oleh pembawa acara dalam membuka acara: ...senang sekali bisa berjumpa dengan anda...“
Nah kalau prediksi selalu benar, alias pendengar / pemirsa sudah tahu duluan apa yang hendak dikatakan oleh si Kumis pembawa acara, maka ini akan menjadi bibit kebosanan. Stimuli yang selama ini dikenali oleh otak adalah: “..senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda..”. Jadi, supaya orang tidak bosan, bukanlah tamu-tamu dari acara tersebut yang harus divariasikan, melainkan kalimat pembuka yang dipakai oleh si host.
Hal ini yang sering terlupakan oleh para penyiar. Mereka siaran tiap hari, pada jam yang sama, membuka acara dengan cara yang sama, menggunakan opening-lines (kalimat pembuka) yang sama. Semuanya sudah sangat “predictable / sangat ketebak ” oleh audience.
Saya tidak katakan bahwa siaran kita harus berubah-berubah terus alias tidak konsisten. Maksud saya dalam keteraturan dan konsistensi sebagai sebuah format, jangan sampai bersiaran itu sudah seperti mesin. Unsur-unsur manusiawi yang menggelitik hati, dan tak terduga, itu pun akan menjadi stimuli yang baik bagi otak. Banyak hal yang tersimpan dalam memori otak, yang kalau disinggung sedikit akan merupakan stimuli yang baik. Misalnya, Anda akan memasang lagu dari Michael Buble - 'Crazy Little Thing Called Love'. Tapi sebelumnya Anda menginformasikan terlebih dahulu bahwa lagu ini, aslinya dibawakan oleh kelompok Queen di th 1980, kemudian Anda udarakan potongan lagu asli yang dibawakan oleh Queen tersebut, baru setelah itu disambungkan / dimixed / diputarkan versi Michael Buble-nya.
Maka jelas, ini akan merupakan suatu stimuli yang kuat bagi otak audience, karena mengungkit sejenak memori yg sudah tertanam dan yang paling penting.... hal itu sungguh tak disangka-sangka oleh audience.
Kunci mencegah kebosanan audience, adalah dengan menciptakan stimuli-baru bagi otak, dan bukan dengan sekedar membuat perbedaan pada tempat yang justru bukan stimuli awal yang dikenali otak. (arm)
Pada suatu pagi, saya sedang menunggu teman saya untuk minum kopi bersama di sebuah cafe. Tidak sengaja saya duduk mengambil meja yang berhadapan dengan meja lain, dimana duduk seorang wanita cantik. Tak lama kemudian, teman saya datang. Setelah minum beberapa teguk, ia pun menoleh ke arah wanita tersebut, dan tiba-tiba ia berbisik kepada saya mengatakan bahwa wanita tersebut adalah si “anu”, seorang pemain sinetron kondang yang sering muncul di layar kaca. Sungguh mati, saya tidak tahu sama sekali, karena saya memang sudah 2 – 4 tahun ini jarang sekali menonton siaran televisi. Teman saya terheran-heran, karena katanya wajah si artis itu juga sering muncul di majalah. Sayapun bilang bahwa saya sudah lama sekali tidak pernah membeli atau membaca majalah. Waktu teman saya bertanya apa alasannya? Jawab saya, ”membosankan!”
Konsisten vs Bosan
Bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh media massa, termasuk juga siaran radio, adalah mulai ditinggalkan oleh publiknya. Salah satu alasan terbanyak dikemukakan mengapa sampai ditinggalkan, adalah akibat munculnya rasa bosan. Bagi kita orang media, ini tantangan yang tidak mudah. Karena konsistensi adalah kata penting dalam pengelolaan media. Lihat saja, bagaimana surat kabar yang kredibel seperti Kompas, sangat konsisten dalam isi dan peletakan rubrik-rubrik. Lihat pula bagaimana televisi konsisten dalam menyiarkan acara-acaranya. Film-film seri impor semacam “Heroes” atau “Lost”, juga konsisten dalam isi cerita dan karakter-karakter dalam setiap episode-nya. Tetapi akhirnya, bahkan serial asing itu pun, yang awalnya mendapat sambutan, kini mulai ditinggalkan karena, lama-lama kok membosankan, ya? Konsistensi sangat diperlukan untuk membangun kelompok audience. Tetapi konsistensi jugalah yang dapat menyebabkan ia ditinggalkan oleh audience-nya.
Kenapa Bosan?
Sesuatu yang menarik hati di awalnya, bisa jadi membosankan setelah beberapa waktu. Temanku dulu hampir setiap hari buka “facebook”, tapi sekarang mungkin hanya seminggu sekali. Berapa banyak juga pasangan suami-istri yang mengatakan sudah bosan dengan kehidupan pernikahannya. Walaupun kebosanan bisa melanda setiap orang, cara mengatasi kebosanan individual masih lebih mudah daripada kita-kita yang di media, dikarenakan adanya keharusan “wajib” konsisten tadi, alias rutin dan teratur.
Menurut para ahli, akar dari kebosanan itu berada pada otak kita. Otak manusia selalu membutuhkan “stimuli/rangsangan”. Oleh karena itu, apabila ada sesuatu hal baru, yang juga merupakan hal yang belum dikenali oleh otak, maka otak merasakan sensasi ini sebagai suatu stimuli yang kuat. Tetapi lama kelamaan, kalau hal tersebut sudah rutin dan menjadi seperti suatu kebiasaan, maka otak tidak lagi menganggapnya itu sebagai suatu stimuli. Nah di sinilah mulai timbul bibit-bibit kebosanan. Yang perlu diingat, tidak selamanya stimuli itu harus sesuatu hal yang baru. Keberhasilan mencapai suatu kemenangan pun juga merupakan stimuli yang baik bagi otak.
Kita di media seringkali menafsirkan kebosanan itu hanya sebagai sesuatu yang diakibatkan oleh sebuah rutinitas, sehingga jalan keluarnya seringkali pula kita berusaha membuat sesuatu yang berbeda, sebagai variasi pada satu atau dua bagian saja. Misalnya suatu acara Quiz biasanya diikuti peserta yang terdiri dari orang-orang / masyarakat umum. Kemudian agar tidak membosankan, pada hari-hari tertentu pesertanya diganti dari kalangan artis saja, atau pada minggu depannya diganti lagi menjadi dari kalangan pengusaha saja. Harapannya, karena sudah punya variasi, maka kebosanan pemirsa bisa teratasi.
Benar sekali itu merupakan variasi. Masalahnya apakah yang dikenali sebagai stimuli oleh otak kita selama ini adalah tentang peserta-nya ? Seandainya, yang selama ini dianggap sebagai stimuli oleh otak kita adalah “Host” / pembawa acaranya, maka mengganti peserta untuk menimbulkan stimuli baru pada otak kita, tidak akan membawa dampak seperti yang diinginkan.
Contohnya, jika yang selama ini menjadi stimuli bagi otak pemirsa dari acara “ Bukan 4 Mata” adalah si Tukul Arwana, maka ketika kebosanan itu timbul justru pada si Tukul-nya, maka walaupun tamu-tamunya ditampilkan variatif, tetap saja kebosanan dari pemirsa itu tidak akan teratasi.
Menghindari Kebosanan Audience
Salah satu kelebihan otak manusia adalah ia mampu menyimpan data, mengolah data, menganalisa dan memprosesnya dengan sangat cepat. Outputnya adalah kemampuan memprediksi. Kalau kita siaran di radio atau di televisi dan kalimat pembuka acara yang digunakan, misalnya seperti ini, “Hallo para pemirsa / pendengar di rumah atau di mana pun Anda berada, saya Kumis, senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda dalam acara: Satu Kumis, Dua Nona Manis“. Seperti itu misalnya. Lalu keesokan harinya, ketika acara ini muncul, si pembawa acara lagi-lagi membuka acara dengan kalimat seperti ini, "...senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda..”, dan begitu seterusnya pada hari-hari berikutnya.
Maka ketika bulan depan acara tersebut tampil, tentu saja otak audience langsung melakukan “prediksi / perkiraan” sbb., “Pasti deh nanti kalimat yang digunakan oleh pembawa acara dalam membuka acara: ...senang sekali bisa berjumpa dengan anda...“
Nah kalau prediksi selalu benar, alias pendengar / pemirsa sudah tahu duluan apa yang hendak dikatakan oleh si Kumis pembawa acara, maka ini akan menjadi bibit kebosanan. Stimuli yang selama ini dikenali oleh otak adalah: “..senang sekali saya bisa berjumpa dengan anda..”. Jadi, supaya orang tidak bosan, bukanlah tamu-tamu dari acara tersebut yang harus divariasikan, melainkan kalimat pembuka yang dipakai oleh si host.
Hal ini yang sering terlupakan oleh para penyiar. Mereka siaran tiap hari, pada jam yang sama, membuka acara dengan cara yang sama, menggunakan opening-lines (kalimat pembuka) yang sama. Semuanya sudah sangat “predictable / sangat ketebak ” oleh audience.
Saya tidak katakan bahwa siaran kita harus berubah-berubah terus alias tidak konsisten. Maksud saya dalam keteraturan dan konsistensi sebagai sebuah format, jangan sampai bersiaran itu sudah seperti mesin. Unsur-unsur manusiawi yang menggelitik hati, dan tak terduga, itu pun akan menjadi stimuli yang baik bagi otak. Banyak hal yang tersimpan dalam memori otak, yang kalau disinggung sedikit akan merupakan stimuli yang baik. Misalnya, Anda akan memasang lagu dari Michael Buble - 'Crazy Little Thing Called Love'. Tapi sebelumnya Anda menginformasikan terlebih dahulu bahwa lagu ini, aslinya dibawakan oleh kelompok Queen di th 1980, kemudian Anda udarakan potongan lagu asli yang dibawakan oleh Queen tersebut, baru setelah itu disambungkan / dimixed / diputarkan versi Michael Buble-nya.
Maka jelas, ini akan merupakan suatu stimuli yang kuat bagi otak audience, karena mengungkit sejenak memori yg sudah tertanam dan yang paling penting.... hal itu sungguh tak disangka-sangka oleh audience.
Kunci mencegah kebosanan audience, adalah dengan menciptakan stimuli-baru bagi otak, dan bukan dengan sekedar membuat perbedaan pada tempat yang justru bukan stimuli awal yang dikenali otak. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar