04 April 2011

Acara Apa yang Disukai

oleh Andy Rustam

Lembaga survey untuk media penyiaran “Nielsen”, sekarang semakin canggih memberikan layanan rating. Sebuah stasiun televisi yang sedang menyiarkan acara A, dalam rentang waktu selama acara itu sedang berlangsung, segera bisa diketahui berapa banyak penonton acara tersebut dari menit pertama hingga akhir acara.

Jadi, soal berapa banyak dan siapa pemirsa, bukanlah lagi suatu persoalan besar. Yang selalu menjadi persoalan besar bagi stasiun penyiaran televisi (juga radio), bagaimana sih caranya meningkatkan publik/audience dari stasiunnya?

Logika Pendek

Logika pendek maksudnya adalah logika sederhana, yang logikanya kelihatan bener tapi sebenarnya salah. Contoh: BMW adalah mobilnya orang-orang kaya. Saya juga punya mobil BMW. Maka Logika Pendek bilang: Saya adalah orang kaya.

Secara logika pendek, kalau kita memberikan materi apa yang disukai oleh audience, maka pastilah audience akan manteng di channel kita. Maka, misalnya, setelah menganalisa hasil survey, ternyata acara “Reality Show - Hantu” memperoleh rating tinggi, lalu buru-burulah bagian Program mengadakan acara-acara “reality show – Horor sejenis” lebih banyak lagi.

Stasiun lainnya pun ikut-ikutan. Itu contoh logika pendek juga: Acara Reality Show - Hantu ini menghasilkan rating tinggi alias banyak penontonnya. Reality Show – Hantu adalah sebuah acara televisi berthema horor. Logika Pendek bilang: Penonton Televisi menyukai thema Horor. Begitulah cara berpikirnya sebahagian besar orang-orang di broadcasting.

Menurut bapak psikologi, Sigmund Freud, cara predicate thinking seperti ini merupakan kesalahan, atau sesuatu yang justru illogical.

Masakan Isteri buat Suami

Kalau itu masih kurang maka diadakanlah survey lagi dengan tujuan mendapat jawaban dari pertanyaan besar: “apakah yang disukai oleh audience?”

Hasil survey mengatakan bahwa untuk audience segment dengan demografis tertentu, hasil survey menunjukkan bahwa acara yang disukai adalah: Acara A. Maka mari sekarang kita siarkan acara A sebanyak mungkin.

Entah sudah beberapa kali saya menulis di blog ini bahwa, kalaulah cara untuk meningkatkan audience hanya semudah itu, maka tidak akan ada stasiun televisi dan stasiun radio yang beralih kepemilikannya di Indonesia alias merugi terus.

Pernah pada suatu hari Minggu, isteri saya bertanya kepada saya di pagi hari, “hari ini mau dimasakin apa untuk makan siang?” Saya menjawab, “Kepingin semur ayam”. Isteri saya pun kemudian membuat semur ayam untuk makan siang. Ternyata ketika sudah hampir waktu makan siang, saya meminta pembantu saya untuk membelikan gado-gado di pojok jalan. Alhasil, isteri saya marah-marah karena semur ayam sudah dimasakin, tetapi tidak jadi saya makan, malah makan gado-gado.

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kejadian ini? Tepat. Bahwa sebenarnya jawaban yang saya berikan di pagi hari, sangat dipengaruhi situasi dan kondisi saya (termasuk lingkungan) pada waktu itu. Selanjutnya ketika sudah benar-benar mau makan siang, situasi dan kondisinya sudah berbeda dan itu mempengaruhi selera makan apa yang saya inginkan. Tetapi tentu tidak bisa disimpulkan bahwa saya menyukai gado-gado dan tak menyukai semur ayam, atau sebaliknya. Yang benar adalah saya menyukai kedua-duanya, masing-masing dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

Pada hari-hari yang lain (hari kerja) , isteri saya tidak bertanya. Ia membuatkan saja masakan dengan memperkirakan apa keinginan saya. Ia berpikir bahwa saya pasti lelah nanti sepulangnya dari kantor. Ia juga berpikir bahwa saya ingin jaga berat badan, maka ia menyediakan makan malam yang tidak berat, sayur-sayur saja. Ia berpikir bahwa kemarin ia memasak sayur lodeh yang saya sukai, kalau begitu hari ini ia harus masak sayur lain yang berbeda sebagai variasi, tetapi tetap sayur dengan cara masak yang benar yang saya sukai (misal, garamnya jangan banyak-banyak).

Nah lucunya, setiap malam saya selalu cocok saja memakan sajian yang diberikannya ketika sepulang dari kantor. Padahal istri saya tak bertanya sebelumnya, “mau dimasakin apa nanti malam?”

Dari kedua contoh tersebut diatas, kita ketahui bahwa ketika dilakukan survey, dan kepada responden ditanyakan: “apa yang Anda sukai?”, maka sebenarnya jawaban yang diberikannya adalah jawaban yang “bias”. Audience sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang disukainya secara pasti. Kalaupun ia menjawab bahwa ia menyukai “A”, itupun bukan jawabannya yang tepat, karena jawaban tersebut ia berikan pada situasi diri dan kondisi diri serta lingkungan yang berbeda, yang tidak sama dengan ketika ia sedang akan menyalakan televisi ataupun radionya.

Apa yang Disukai?

Sebenarnya kita tidak perlu mengetahui jawaban dari “apa yang disukai” oleh audience dengan tujuan agar kita bisa mengudarakan acara yang disukai pemirsa / pendengar, dengan maksud agar audience kita bertambah. Karena memang tidak akan pernah didapat jawaban yang benar.
Yang perlu kita lakukan adalah mempelajari dengan seksama, bagaimana masyarakat, para pemirsa dan para pendengar (sasaran audience kita), menjalani kehidupannya. Kemudian pikirkan peran apa yang bisa kita lakukan agar mereka bisa lebih gembira, lebih mudah dan lebih nyaman menjalankan kehidupan mereka. Lalu berkreasilah dari sini, dengan mempertimbangkan keadaan audience ketika acara tersebut disajikan.

40 tahun yang lalu minuman dalam botol yang ada di Indonesia, semuanya berupa soda limun, sirup dan juice buah. Ketika mula-mula Air Putih minuman dalam botol “Aqua” akan diproduksi, mereka tidak mengadakan survey menanyakan, “Minuman botol apakah yang disukai? “ Karena sudah pasti jawabannya tidak akan ada yang bilang, “Air putih“. Setiap orang bisa memasak air putih untuk minum di rumah masing-masing, bukan? Jadi buat apa beli kemasan dalam botol? Begitu kira pemikiran jaman itu.

Yang mereka lakukan adalah mempelajari bagaimana kondisi masyarakat. Diketahui semakin lama masyarakat semakin sibuk sehingga kekurangan waktu. Mereka juga melihat, bagaimana air bersih instant yang di luar negeri bisa diperoleh langsung diminum oleh setiap orang dari kran saluran pipa air di kotanya, di Indonesia sulit bahkan diproyeksikan tidak akan pernah terjadi hal seperti itu.

Dari hasil mempelajari situasi, keadaan, serta perilaku masyarakat, maka lahirlah Air Putih Minum instant dalam kemasan, yang sekarang ini tersedia berbagai merk, telah menjadi kebutuhan hampir seluruh lapisan masyarakat.

Ibarat isteri yang sangat memperhatikan suami dan mengenali kebiasaan-kebiasaannya, tanpa perlu bertanya ia sudah bisa memasakkan berbagai masakan kreasinya sendiri tapi pas cocok dengan selera suami.

Begitulah seharusnya sikap para broadcasters dalam melayani masyarakatnya. Tanpe perlu bertanya, tanpa perlu diminta, tapi cocok teruus. (arm)

2 komentar:

Ade Agung Rachmadi mengatakan...

Assalamualaikum pa Andy.
Langsung aja nih pa... (hehehe napsu)
Kalau misalnya radio tempat saya bekerja terlalu "basi" dan membosankan, padahal kami penyiar yakin tau bgm cara menarik pendengar, gimana ya kasitau produser2 yang kadang masih bergaya penyiaran "kaku".
maklum, pemerintah punya.

Pa Andy di blog ini ada klinik broadcast suksesnya ga?

Trimakasih banyak pak :)

Andy Rustam mengatakan...

Asslm'alykm Ade,

Terima kasih untuk tanggapannya. Memang yang paling sulit itu meyakinkan boss. Mungkin bisa dicoba cara ini. Dengan alasan meningkatkan kinerja siaran, barangkali anda harus buatkan rekaman contoh, dengan cara siaran yang menurut anda lebih bagus. Lalu anda rekam juga siaran yang biasanya selama ini. Kemudian dibuatkan survey kecil bersama si boss untuk diperbandingkan yang mana yang lebih disukai (respondennya haruslah target audience radio anda, dengan sample ngga perlu banyak-banyak mungkin 10 orang saja). Hasilnya bisa diajukan kepada boss. Tapi anda musti fair juga..kalau ternyata si boss yang bener ya harus diakui doong..hehehe.
BTW apa sih maksudnya klinik broadcast sukses ? Kalau maksudnya berupa pelatihan, yaa.. tidak ada yang lewat blog, kaena memang tidak bisa, tetapi harus ketemuan dan biasanya dilakukan di dalam .ruangan /kelas. Ok Ade, semoga terjawab ya.-

Wasslm'alykm wrwb.