Oleh Andy Rustam
Perusahaan asuransi tempat dimana dulu saya pernah bekerja, seringkali berinvestasi jangka panjang dengan membeli sebidang tanah. Tapi tanah-tanah yang sudah dibeli dan dipagari itu seringkali sudah lama sekali tidak ditengok-tengok. Ketika pada suatu hari saya menugaskan orang untuk memeriksa, ternyata tanah tersebut pagarnya sudah dirobohkan dan sudah diserobot dan ditempati secara tidak sah oleh warga. Kalau ditinjau dari taraf ekonominya, relatif memang mereka adalah warga kurang mampu. Ketika disuruh keluar dari tanah tersebut mereka tidak mau dan bersikeras serta membenarkan diri mereka. Akhirnya perusahaan harus keluar uang lagi untuk ganti rugi kepindahan mereka keluar dari tanah yang notabene sah milik perusahaan. Tetapi cobalah kalau perusahaan kemudian menggunakan paksaan dengan bantuan aparat, maka pasti muncul issue Pelanggaran HAM dsb.
Terlepas dari apakah itu warga kurang mampu atau bukan tetapi context-nya adalah seperti analogi berikut ini: barang kita yang dicuri oleh orang, tapi ketika kita menuntut untuk dikembalikan kepada kita, bukannya si pencuri yang dihukum, malah kita yang harus membayar kepada si pencuri. Nggak bener khan?
Keberpihakan Kepada Orang Kecil
Berita-berita akhir-akhir ini penuh dengan cercaan kepada polisi yang dianggap bertindak sewenang-wenang dan kejam kepada para petani di Lampung (Mesuji) dalam konflik tanah, demikian juga dalam kasus di Bima dimana polisi melepaskan tembakan kepada warga yang menduduki pelabuhan dalam aksi protes, berakibat empat orang tewas.
Tanpa bermaksud membela atau menyalahkan siapa-siapa: polisi, atau satpam ataupun warga, saya melihatnya bahwa jauh-jauh hari sebelum diketahui duduk persoalannya, media telah mempunyai tendensi untuk berpihak dengan mengambil asumsi bahwa Polisi-lah yang si Jahat dan Rakyat Kecil-lah yang si Baik. Massa beringas mengayunkan parang kepada orang lain sehingga orang lain terluka, tidak apa-apa. Polisi mengayunkan pentungan kepada demonstran, melanggar HAM.
Kalau ada tabrakan antara mobil Mercedes Benz dengan pengendara sepeda motor yang sedang membonceng istri dan tiga orang anaknya, maka headline yang akan ditampilkan oleh media adalah sbb.
“Satu keluarga naik motor tewas ditabrak mobil mewah“
Belum tahu secara pasti, siapa yang salah dan bagaimana duduk persoalannya yang sebenarnya, media sudah cenderung menyalahkan si Mercedes Benz, hanya disebabkan karena Mercedez Bens adalah orang kaya, sedangkan yang tewas adalah orang kecil. Orang kaya pasti si Jahat, Orang kecil pasti si Baik.
Padahal kita semua tahu bagaimana brengseknya sebahagian besar para pengendara motor itu dalam mengendarai sepeda motornya. Bukan karena mereka tak tahu aturan, tetapi karena memang mau seenaknya saja. Membawa anak-anak bisa 2-3 orang, tanpa helm, diletakkan di depan sehingga kalau berhenti mendadak si anak bisa terjatuh ke stang stir atau terlempar keluar.
Orang Kecil juga Banyak yang Brengsek
Ketika terjadi keributan dalam area pelabuhan peti kemas di Tanjung Priok (Jakarta Utara), dengan jelas kita saksikan di televisi, bagaimana “rakyat kecil” dengan ganasnya menginjak-injak seorang Satpol PP yang sudah jatuh tak berdaya, sampai si Satpol nyawanya tak tertolong lagi.
Bagaimana media menampilkannya ? “..Itu sebagai bentuk kemarahan rakyat yang tertekan selama ini terhadap sikap arogan Satpol PP”, kata seorang komentator di televisi. Lagi-lagi media mengambil posisi bahwa Petugas Penertiban / Satpol PP adalah si Jahat dan kelompok orang-kecil yang telah membunuh petugas malah diposisikan sebagai si Baik.
Supir-supir bis maupun angkot yang secara ekonomi relatif juga orang kecil, sudah sangat dikenal sebagai raja jalanan, karena boleh berhenti seenaknya, kapan saja dan di mana saja. Kalau kita pengendara mobil yang pagi-pagi ingin mengantar anak sekolah, dan mengalami kemacetan gara-gara mereka, jangan coba-coba menegur mereka. Salah-salah mobil kita sudah baret-baret akibat dikerok oleh si kenek dengan obeng ditangan. Sungguh sebuah pertunjukan tirani orang kecil yang banyak kita saksikan sehari-hari di Jakarta ini.
Media Harus Berpihak Kepada Kebenaran
Keberpihakan media kepada rakyat kecil tentulah bukan hal yang salah, mengingat rakyat kecil memang harus kita bantu dan dukung agar mereka bisa meningkat kesejahteraan dan kehidupannya. Tapi satu hal yang harus diingat, bahwa Orang-Kecil juga bukanlah malaikat suci. Mereka juga pasti tahu bahwa berjualan di trotoir itu dilarang, tetap saja mereka berjualan disana. Mereka juga tahu menduduki tanah orang itu salah, tapi tetap saja mereka menyerobot dan minta ”uang” untuk pergi dari tanah tersebut.
Oleh karena itu seharusnya keberpihakan media bukanlah berpihak kepada orang kecil, tetapi media harus selalu berpihak kepada Kebenaran. Faktanya, bukan hanya Pejabat, DPR, Aparat dan oknum-oknum di pemerintahan yang brengsek, tapi orang kecil-pun banyak yang brengsek. Orang kecil-pun bisa menjadi seorang tiran. Ini saya alami sendiri. Sepasang sandal butut yang saya pakai untuk sholat jum’at di sebuah mesjid sederhana di satu kecamatan di Jakarta Selatan, itu pun dicuri. Apalagi yang kurang brengseknya!
Pernah saya baca di koran, ketika seorang supir angkot ditangkap polisi, maka siang harinya segerombolan supir angkot mendatangi kantor polisi dengan bersenjatakan parang dan rantai menuntut teman mereka untuk dilepaskan. Ketika tuntutannya tak dipenuhi, gerombolan supir angkot yang berdemonstrasi itu kemudian merusak fasilitas umum, dan merampok beberapa pedagang minuman yang sedang berjualan. Padahal fasilitas umum sangat dibutuhkan oleh orang kecil seperti mereka, dan para pedagang minuman pun adalah orang kecil juga seperti mereka. Tetap saja disikat terus.
Jadi kalau kebetulan Anda adalah orang media (reporter / wartawan / penulis) janganlah buru-buru mengambil posisi ketika melihat sebuah peristiwa. Jangan dulu berasumsi berdasarkan preferensi sendiri.
Karena, Polisi bisa saja dalam situasi kali ini jadi si Jahat tetapi bisa juga dalam situasi yang berbeda ia menjadi si Baik. Pejabat negara terkadang bisa menjadi si Jahat tetapi bisa juga menjadi si Baik dalam peristiwa lain. Orang kecil bisa menjadi si Baik tapi bisa juga jadi si Jahat dalam kasus berbeda. Kalau ada buruh berdemo belum tentu buruh-lah yang terzalimi, dan pemilik pabrik-lah yang zalim, malah seringkali yang terjadi justru sebaliknya, namun sayangnya tak pernah ter-expose.
Ketika Petugas KPK menangkap Nunun, tentu saja dia menjadi si Baik. Tetapi jangan berasumsi bahwa petugas KPK adalah selalu si Baik. Masalahnya, bisa saja dalam situasi lain merekalah yang jadi si Jahat. Misalnya, ketika petugas KPK menjalin hubungan cinta dengan si tersangka yang cantik, Angelina Jolie... eh salah ya... itu khan istrinya Brad Pitt....ha.ha.ha. (arm)
2 komentar:
Mas Andy Rustam, khusus tulisan ini saya sangat yakin bahwa ini diluar kompetensi mas Andy dan saya sangat tidak sependapat dg isinya. Mestinya asumsinya harus berangkat bahwa manusia pasti menyetujui pemanfaat "Common Sense" atau akal sehat dalam hidup dan kehidupannya. Sikap dan perilaku tidak sehat dari simiskin atau sekelompok orang itu pasti ada akar masalahnya. Selama mas Andy tidak memahami atau mencari akar madalahnya maka semakin lama mas Andy akan sulit memahami kehidupan. Salam hangat. Hemat Dwi Nuryanto
Ketika saya akan menulis ini, saya sudah memperkirakan akan mengundang tanggapan ketidak-setujuan. Karena terkesan tidak membela kaum yang termarjinalkan. Padahal konteks saya sebenarnya hanya mau mengatakan bahwa jadilah Pers yang benar (sesuai dengan ketentuan dalam ilmu dasar jurnalistik) bahwa Pers haruslah mengambil posisi yang tidak memihak apalagi sampai terkesan menghasut. Pers harus melaporkan apa yang sedang terjadi dan bukannya sudah mengambil pre-asumsi sebelumnya. Seperti kita ketahui sekarang, media kita sudah banyak dikuasai/dimiliki oleh para Politisi / Konglomerat / Golongan yang memiliki banyak kepentingannya sendiri. Opini publik sering termanipulasi oleh pemberitaan-pemberitaan media, sehingga menjadi tidak objektif, termasuk pemberitaan yang seolah-olah membela rakyat kecil padahal ada kepentingan lain dibalik itu. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang pendidikan media (broadcasting), saya berkewajiban memberitahukan agar media tidak berperilaku seperti itu. Kalau tidak ada yang memberitahu nanti generasi berikut akan menganggap bahwa itulah yang benar. Apapun / Siapapun subjek yang akan diberitakan seyogyanyalah mendapatkan keadilan yang sama di mata Pers. Bukanlah karena dia rakyat kecil maka selalu dianggap benar, ataupun kalau dia pejabat harus selalu dianggap salah atau sebaliknya. Sekali lagi, menurut ilmu dasar Jurnalistik, Pers haruslah tidak memihak. Terima kasih banyak buat anda yang telah membaca blog ini dan ikut menanggapinya. Salam persahabatan!
Posting Komentar