oleh Andy Rustam
Sepak Bola Inggris
Liga sepak bola di Inggris memang paling hiruk-pikuk di dunia. Tetapi ironisnya, negara Inggris sendiri selalu terpuruk dalam Piala Dunia. Pelatih top dunia asal Portugal, yang pernah melatih di Inggris untuk klub Chelsea, Jose Mourinho berkata, “Di Inggris para tunas muda pemain bola dilatih untuk menang, sedangkan di Spanyol mereka dilatih untuk bermain sepak bola yang baik dan benar. Beberapa puluh tahun kemudian, hasilnya, Inggris terpuruk dan Spanyol juara dunia“.
Saya tertarik dengan kata-kata Jose Mourinho yang artinya, belajarlah bermain sepakbola yang benar, otomatis kemenanganlah hasilnya. Sebaliknya kalau bermain sepakbolanya salah, tapi penekanannya pada bagaimana melakukan trik-trik untuk menang, maka hasilnya adalah kekalahan.
Tinju Amatir Indonesia
Menjelang Kongres Pertina (Persatuan Tinju Nasional) tanggal 13-14 Januari 2012, telah diadakan sarasehan “Mengembalikan Kejayaan Tinju Amatir Indonesia”, dimana salah stau pembicaranya adalah seorang legenda petinju amatir Indonesia, Frans Van Bronkhorst (dikenal sbg Frans VB). Ia berkata, “Bertanding tinju itu semuanya hanyalah pengulangan teknik dasar yang dilakukan secara reflex dan otomatis. Petinju muda Indonesia saat ini sangat kurang dalam teknik dasar bertinju. Dikasih tahu hari ini besoknya sudah salah lagi. Apabila dikasih tahu karena salah, ia tidak mau menurut karena merasa bahwa ia benar. Mereka maunya cuma yang penting pokonya bisa menang.”
”Waktu saya belajar tinju, saya ikuti teknik apapun yang diajarkan pelatih saya dengan penuh disiplin. Tetapi petinju muda sekarang, ketika diajarkan malah membangkang, malah pelatihnya yang dipukul seperti yang dialami Syamsul Anwar pada Oktober 2009”, demikian Frans VB.
Kalimat dari Frans VB yang mengatakan bahwa bertanding tinju sepenuhnya hanyalah pengulangan teknik dasar yang dilakukan dengan reflex dan otomatis, sangatlah menarik. Artinya, memperkuat teknik dasar bertinju yang benar sehingga sudah menjadi reflex dan otomatis pada diri sang petinju, adalah kunci kemenangan seorang petinju.
Kesamaan Jose Mourinho & Frans VB
Informasi di atas saya peroleh dari harian Kompas tanggal 10 & 11 Januari 2012. Kedua pelatih yang berbeda bidang ini, sama-sama berkesimpulan bahwa mental mencari jalan pintas untuk menjadi juara, yang sedang melanda banyak generasi muda ini adalah penyebab keterpurukan. Untuk menjadi juara sejati tidak ada jalan pintas, melainkan harus kerja keras melatih dan menguasai teknik-teknik dasarnya. Tentu saja latihannya harus berulang-ulang dan bertahun-tahun, tidak ada hasil yang instant. Prinsipnya kalau main sepakbolanya sudah baik dan benar, maka jadi juara hanyalah dampak saja. Begitu pula dalam bertinju.
Kalau teknik dasarnya sudah baik dan benar, maka jadi juara hanyalah soal waktu saja. Tetapi saya yakin pendapat yang benar dan keluar dari mulutnya para pelatih kawakan ini adalah pendapat yang tidak populer. Tidak populer dilihat dari kacamata siapapun, baik dimata para pimpinan klub / pimpinan olah raga / konglomerat / pemodal dlsb.
Karena kepentingan mereka sangat berbeda. Seandainya mereka itu pimpinan organisasi / kementerian, tentu saja mereka semua inginnya agar dapat ”nama” ketika di jaman / periode jabatan mereka yang cuma 3-5 tahun. Kalau mereka para pemodal, tuntutannya jelas supaya cepat balik modal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sedangkan bagi si atlit sendiri juga menginginkan jalan pintas pula agar cepat populer, dapat nama dsb.
Jadi, program kerja dan cara-cara latihan yang memakan waktu lama seperti penguasaan teknik dasar yang benar, yang butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dan pastinya membosankan itu, pasti tidak atau sulit sekali untuk diterima dan mau dilaksanakan.
Hanya orang-orang dengan idealisme-lah yang mau melaksanakan apa yang benar, dan tentu saja membutuhkan pula komitmen dan konsistensi dalam pelaksanaannya.
Pendidikan dan Pelatihan Sebagai Kunci
Hampir semua bank di Indonesia, pada tingkat pimpinan ada saja orang “lulusan” ex Citibank. Walaupun begitu, tetap saja posisi Citibank sebagai Bank papan atas tak tergoyahkan, karena mereka terus memproduksi orang-orang baru yang sama atau bahkan lebih kualitasnya. Citibank sadar, bahwa penting untuk mendidik karyawannya, sesuai jenjang, bagaimana ”cara ber-banking yang baik”, itu kunci memenangkan persaingan hari ini dan di masa depan.
Sementara banyak Bank lain yang mengejar gelar terbaik dengan memanipulasi indikatornya (misal, memperbaiki rasio kecukupan modal dengan menambah modal pinjaman dari luar), dan bukannya cara pengelolaan yang baik dengan mendidik bagaimana ber-banking yang benar, memberikan service yang excellent. Apa yang dilakukan Citibank ini mirip seperti apa yang dikatakan Jose Mourinho tentang persepakbolaan Spanyol.
Nah sekarang coba tanyakan pada konglomerat di bidang televisi dan radio di Indonesia, apakah mereka mempunyai program terstruktur pendidikan broadcasting bagi para pimpinan, manajer dan karyawannya? Sudah pasti jawabannya tidak ada. Mengapa? Karena yang penting bagi mereka bukanlah bagaimana melakukan manajemen dan bersiaran yang baik dan benar, melainkan bagaimana caranya acara tersebut segera menghasilkan popularitas (rating) dan dapat langsung terjual kepada pemasang iklan (sponsor). Ini kalau dianalogikan mirip seperti yang dikatakan Jose Mourinho, ibarat persepakbolaan Inggris.
Club sepakbola di Inggris (pemiliknya juga belum tentu orang Inggris) boleh saja meraih keuntungan besar, tetapi sebagai negara, Inggris tidak dapat berbicara apa-apa dalam Piala Dunia.
Tentu saja secara individual, perusahaan dan pemilik stasiun televisi dan radio di Indonesia itu meraih keuntungan besar, tetapi point-nya adalah: ”Apakah kehadiran broadcast stations yang banyak bermunculan sekarang ini memang membawa kebaikan bagi masyarakat, bangsa dan negara, ataukah malah lebih besar mudharat-nya?”
Alasan kenapa saya melontarkan point ini, karena menurut pengamatan saya, siaran-siaran yang hanya mengejar rating dengan cara mengekspos emosi vulgar dan sensasi ala koran kuning, justru sangat banyak dipakai dalam siaran-siaran televisi / radio kita. Mereka tidak pernah diajarkan, atau tidak pernah belajar bahwa banyak cara lain agar sebuah acara siaran bisa menarik agar ditonton / didengar orang. Ini adalah salah satu pelajaran teknik dasar broadcasting.
Ingatlah kembali apa kata Frans VB tentang tinju nasional, ataupun Jose Mourinho tentang persepakbolaan Inggris yang penekanan pelatihannya bagaimana mengejar kemenangan dan bukannya memperkuat teknik dasar, hasilnya justru membuat Inggris sebagai negara semakin terpuruk dalam ranking Piala Dunia, sedangkan Spanyol yang penekanannya pada bagaimana bersepakbola yang baik dan benar, justru berdampak membawa Spanyol menjadi Juara Dunia. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar