oleh Andy Rustam
Sebelum menulis ini, saya iseng-iseng mengunjungi situs-situs warta dan menghitung jumlah judul-judul berita yang ditampilkan pada halaman pertama. Ada sekitar 20-an judul rata-rata. Lalu saya hitung lagi berapa jumlah judul berita yang cenderung negatif (misal berita korupsi; tawuran; kecelakaan; kriminal; penyakit; selingkuh / fitnah / bantah / menuduh / membuka aib dsb.) Ternyata 70% berita cenderung negatif. Itu baru situs berita di internet. Belum lagi kalau kita membaca koran atau melihat siaran televisi-televisi kita, terutama televisi yang siarannya mengkhususkan diri pada berita saja. Saya yakin persentase jumlah berita negatif-nya pasti juga lebih banyak daripada berita yang positif.
Memang faktanya, berita yang negatif selalu lebih menarik perhatian bagi pembaca, pemirsa, dan pendengar. Coba saja perhatikan, bukankah isi pesan dari e-mail beranting, atau pesan-pesan hasil forward di Blackberry Messenger selalu cenderung negatif juga?!
Di Indonesia, kalau mau populer, ber-negatif-lah.
Di Indonesia ini banyak banget artis yang prestasi-nya tidak bisa kita ingat, tapi berita negatif tentang dia malah yang lebih populer dan lebih nempel. Berita jelek tentang dirinya-lah yang membawanya populer, bukan prestasinya. Kalau artis Hollywood, prestasinya yang membuat ia populer dan diingat orang. Justru karena popularitasnya itulah, maka oleh paparazzi dicari-cari lalu dimunculkan berita-berita negatif yang nebeng popularitas si artis Hollywood, agar koran / acara tv-nya laris.
Dulu, sebuah koran lokal Jakarta, “Pos Kota”, adalah koran yang paling tinggi oplah-nya. Pada jaman itu, kalau kita perhatikan, halaman pertama koran tersebut, isinya didominasi oleh berita negatif (kriminal).
Saya kira hal yang sama terjadi dengan pemberitaan di stasiun televisi berita, yaitu: siapa yang lebih sering menyiarkan berita yang negatif, pasti lebih tinggi ratingnya.
Juga begitu di situs berita internet. Pada beberapa bulan yang lalu, tidak seorang pun tahu situs berita vivadotcom. Tapi karena isi beritanya fokus kepada yang negatif dan sensasi, lalu dipromosikan lewat Facebook, maka dalam waktu singkat banyak orang yang meng-klik situs tersebut. Jadi, tidak salah kalau saya katakan bahwa di Indonesia ini, rumusnya adalah: ”mau populer? ber-negatif-lah!”
Dampak Komunikasi Negatif
Seorang profesor dalam ilmu Psikiatri (penyakit kejiwaan) bernama James J. Lynch PhD, menulis buku berjudul ”Life Care Health”, pada tahun 1977. Ia juga telah melakukan penelitian tentang komunikasi dalam hubungannya dengan kesehatan. Inilah kutipannya sbb.
”Clearly, communication is an important part of connecting people in social life --but not just any communication. Lynch's most recent research indicates that the way people communicate among each other also affects their health. Talk is not cheap, but is instead a very powerful form of currency. "Talk that consistently hurts, controls, and manipulates leads to feelings of depression and loneliness, and puts children at substantial risk of becoming socially isolated and dying prematurely," he says.
Terjemahan:
“Jelas, komunikasi adalah bagian terpenting dalam menghubungkan individu masyarakat dalam kehidupan sosial – Tetapi bukan hanya sekedar segala bentuk komunikasi. Riset Lynch baru-baru ini mengindikasikan, bahwa cara setiap orang dalam berkomunikasi diantara mereka, juga berdampak pada kesehatannya. Berbicara bukanlah sesuatu yang tidak ada nilainya, bahkan sebaliknya ini merupakan alat yang ampuh yang sangat tinggi nilainya.
Omongan yang secara konsisten menyakitkan perasaan, menunjukkan kekuasaan (menekan), memanipulasi, akan menggiring ke arah munculnya rasa depressi dan kesepian, dan akan membuat anak-anak memiliki risiko untuk menjadi terisolasi secara sosial dan kematian dini ”. Demikian kata Prof. Lynch.-
Penelitian Prof. Lynch menyimpulkan bahwa komunikasi yang negatif akan membawa dampak negatif bagi kesehatan (jiwa dan fisik) seseorang. Seorang ibu, seorang ayah, seorang guru, yang selalu berbicara negatif dan menyakitkan perasaan terhadap anak-anak, secara tak sadar akan mendorong anak-anak itu menjadi orang yang tak sehat secara fisik dan secara kejiwaan (termasuk secara sosial), dan bahkan bisa membawa kematian dini.
Untuk diketahui, apabila seseorang menerima komunikasi negatif, hal ini akan mengaktifkan bahagian otak yang disebut area “amigdala / reptillian”, yaitu bahagian otak yang memerintahkan agresifitas / curiga / ancaman dsb. Keadaan seperti ini akan membuat jiwa seseorang dalam keadaan tegang. Kalau terjadi setiap hari, lama-kelamaan ia akan mengalami sakit jiwa (ringan sampai berat) yang akan berakibat pula pada kesehatan fisiknya.
Nah bayangkan kalau bahagian otak yang ini yang secara terus menerus menerima rangsangan, melalui berita / komunikasi negatif setiap hari (yang disiarkan oleh berbagai media), kira-kira apa yang akan terjadi Terlebih lagi, otak manusia tidak memiliki kemampuan atau hanya sedikit sekali kemampuan untuk multi-tasking. Artinya ketika bahagian otak ini sedang aktif, maka bahagian otak lain yang berfungsi utk berpikir bijaksana, problem-solving, kreatif dsb., tidak bisa aktif. Itulah sebabnya ketika seseorang sedang marah, ia tidak bisa berpikir bijaksana.
Dampak Negatif terhadap Masyarakat
Sekarang kita tahu, bagaimana berita-berita negatif yang menjadi formula sukses media massa (Broadcasting, Print & Digital) untuk menarik publik, yang hadir setiap malam di ruang keluarga, setiap siang di ruang anak-anak, setiap saat di ponsel kita, di balai desa dan di ruang tunggu puskesmas, ...cepat atau lambat pasti akan membuat masyarakat kita menjadi masyarakat yang depressif tenggelam dalam perasaan egois (masabodo dengan orang lain) karena merasa insecure, dan karenanya akan menjadi agresif.
Jadi tidak usah heran, mengapa kalau kita melihat disekeliling kita sekarang ini, kita merasa bahwa masyarakat Indonesia yang dulu dikenal sebagai masyarakat yang kompak, gotong-royong, ramah, dan tinggi budi-pekerti serta sopan-santunnya, kok sekarang seperti sudah berubah?
Jangan-jangan, dampak pemberitaan negatif, yang secara konsisten terus menerus dikumandangkan media ”atas-nama persaingan sehat” dalam merebut penonton, pendengar dan pembaca, kini sudah mulai terlihat gejala-gejala awalnya, pada sebahagian kalangan masyarakat kita. Kalau memang benar ini yang sedang terjadi, bagaimana 5 – 10 tahun ke depan? Hiii..seyeeemm.... (arm)
1 komentar:
Setuju, Pak Andy. That's why I stopped watching local news programs & (most of) local TV :(
Bukannya ignorant thd reality, tapi secara instinctive saya memang merasa berita2 negatif spt itu (meskipun ditonton sekilas saja) dpt menjadi sgt 'depressing'. It can really mess up our energy/mood. Dan ternyata secara akademis memang terbukti spt itu ya, pak. Your last 3 paragraphs really sums up what's happening in our society. Sad but true. -Ludi-
Posting Komentar