oleh Andy Rustam
Dari empat aspek fungsi manajemen (Produksi; Keuangan; Pemasaran; Personalia), barangkali yang paling sering membuat saya sebel itu adalah sudut pandang orang keuangan. Saya sadar bahwa keuangan adalah aspek paling penting dalam bisnis. Tapi yang paling saya tidak “sreg” adalah, cara berpikir orang keuangan yang sangat khas sekali yaitu: selalu mengacu pada “indikator dan angka-angka“, dan tindakannya seringkali “drastis“ saja. Mungkin karena saya orang marketing yang selalu berpikir pada “effectiveness”, sedangkan orang keuangan selalu pada “efficiency”. Kedua-duanya sangat dibutuhkan oleh perusahaan.
Benar sekali bahwa “indikator” itu adalah hal yang perlu untuk memonitor sesuatu, namun yang seringkali terjadi dari kacamata orang keuangan adalah, “indikator” dianggap sebagai kebenaran, walau sebenarnya bisa saja angka-angka yang ditunjukan merupakan hasil manipulasi / rekayasa. Misal, kalau tidak ada bon maka uang kamu tidak akan di-reimbursed (diganti) oleh kantor. Bon dijadikan indikator. Kalau pakai bon barulah akan di-reimbursed. Maka ramailah supir-supir meminta bon kosong dari SPBU (stasiun pompa bensin) untuk ditulis seenaknya.
Menjelang akhir tahun, agar terlihat adanya peningkatan keuntungan, maka yang dilakukan oleh orang keuangan, sejak awal semester kedua mulai memotong semua pos anggaran pengeluaran uang. Akibatnya bagian marketing malah susah bergerak untuk bisa mengejar target pendapatan (revenue).
Radio yang Dimiliki Orang Keuangan
Ada stasiun radio besar yang mempunyai revenue (pendapatan) yang baik. Itu dikarenakan si radio memiliki kelompok pendengar yang mempunyai keunikan dan jumlahnya pun sangat banyak.
Menengok ke belakang pada lima tahun yang lalu, keadaan radio tersebut sangat berbeda. Tetapi kemudian datanglah pimpinan baru yang ditunjuk oleh pemilik baru. Si orang baru, yakni Pimpinan Manajemen Operasional radio, melakukan perubahan dan pembaharuan. Pimpinan ini bertekad untuk menjadikan dan menjalankan radio sebagaimana seharusnya sebuah radio siaran. Penyiar-penyiar dilatih, pekerja produksi siaran dididik, staf pemberitaan dilatih full, music director diajarkan, format siaran acara per acara dibenahi. Hasilnya, perlahan tapi pasti, rating pun akhirnya mulai tumbuh, harga jual pemasangan iklan juga membaik, dan pemasang iklan pun semakin banyak. “Brand-name” radio tersebut semakin menancap dalam benak pendengar dan pemasang iklan.
Sekarang si pemilik radio pun sangat gembira, dan memuji si Pimpinan Manajemen Operasional. Si pemilik memang bukan orang broadcasting. Latar belakang pendidikannya adalah “keuangan”. Dia seorang businessman yang cara mencari uangnya bukan dari operasional perusahaan, melainkan dari capital-gain di pasar modal. Perusahaannya memang banyak dan macem-macem bisnisnya.
Pada suatu hari si pimpinan manajemen dipanggil oleh sang pemilik. Dia ingin radio ini memiliki keuntungan, Rp X Milyar pada tahun ini juga. Sebuah lonjakan keuntungan yang besar. Tidak peduli bagaimana caranya, karena kenaikan keuntungan ini akan dipakai untuk menaikan nilai saham secara signifikan. Dengan demikian dia bisa “menjual saham atau menggadaikan saham” yang dimilikinya itu dengan harga tinggi pada tahun ini, untuk memenuhi kebutuhan pribadi sang pemilik.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh pimpinan manajemen operasional untuk memenuhi keinginan sang pemilik?
Atas perintah sang pemilik, ia melakukan tindakan-tindakan yang sangat berbeda dengan apa yang dilakukannya lima tahun yang lalu ketika membangun dan membuat radio ini sukses. Ia tidak lagi menjalankan manajemen radio sebagaimana memang seharusnya sebuah radio dijalankan, melainkan ia gunakan cara manajemen dengan kacamata orang keuangan sesuai maunya si boss.
Misal: anggaran yang ada untuk “membeli lagu / cd ” ditiadakan. Semua lagu diperoleh dari internet, download saja MP3 gratisan atau copy saja dari tempat lain. Penyiar dan staf pemberitaan yang sudah terlatih selama ini justru dikurangi jumlahnya (para penyiar kemudian pindah ke radio pesaing) karena radio tersebut mengganti format siarannya dengan banyak memasang musik dan mengurangi siaran kata. Dengan demikian biaya gaji karyawan bisa ditekan rendah. Pelatihan / training juga sudah dihilangkan dari program kerja. Berlangganan data rating dari Nielsen, juga dihentikan untuk menekan biaya. Sehingga sekarang radio tidak lagi dapat mengetahui apakah jumlah pendengarnya tetap / naik / turun. Peralatan studio dan kantor tak pernah lagi dirawat, sehingga mulai rusak dan jelas mengganggu jalannya siaran karena alasan kerusakan teknis.
Semua itu hanya dengan tujuan meningkatkan keuntungan perusahaan secara cepat, dengan cara mengurangi semua biaya. Revenue memang tidak turun, karena biasanya alokasi budget iklan sudah dirancang pada tahun sebelumnya, sehingga kalaupun ada perubahan pada sisi program (format siaran), maka dampaknya tidak segera tercermin pada angka pendapatan perusahaan.
Oleh karena itulah saya yakin, di akhir tahun nanti, apa yang ditargetkan oleh si pemilik radio untuk keuntungan perusahaan sebesar Rp X miliar pasti akan tercapai.
Effesiensi di Tempat yang Salah
Masalah yang pasti akan terjadi dengan radio tersebut pada tahun-tahun selanjutnya adalah, turunnya jumlah pendengar yang akan berdampak pada turunnya jumlah pendapatan dari iklan. Pendengar sudah pasti turun, karena kebiasaannya mendengar dirubah. Penyiar kesayangan sudah tidak ada, koleksi lagu tidak lengkap, peralatan studio yang tak dirawat berpengaruh pada bunyi dan penyajian acara sehingga telinga pendengar akan merasa tak nyaman.
Efisiensi adalah langkah yang memang seharusnya dijalankan oleh perusahaan mana pun. Herannya kok ya yang ikut dipotong itu justru pos anggaran yang terkait langsung dengan “nyawa” dari sebuah stasiun radio? Kalau saja yang dikurangi misalnya pos bensin untuk mobil operasional, kemudian sekarang mobil dijual lalu dialihkan menggunakan sepeda-motor... ya begitu masih bener-laaah... Orang keuangan yang benar dan pandai, pastilah tidak akan berpikir sempit.
Tapi, memang begitulah kacamata orang keuangan yang sering saya temui. Mereka cuma melihat indikator angka-angka di pembukuan mereka. Kalau angka itu masih besar atau tidak cocok dengan standar industrinya ya potong saja anggarannya (sangat drastis!) Apalagi dalam kasus di radio ini, orang keuangan tersebut adalah si boss pemilik radio (pemilik perusahaan). Dia pikir, toch yang akan repot khan si Pimpinan Manajemen Operasional dengan karyawan-karyawannya, bukan aku ini yang repot.
Saya sudah bisa menduga, nanti... di akhir tahun depannya lagi, Pimpinan Manajemen Operasional akan kena damprat oleh sang Pemilik, “Bagaimana ini kok bisa jumlah pendengarnya turun, pendapatan dari iklan juga turun??? Akibatnya ini nih... keuntungan perusahaan turun jauh. Kamu ini ngga becus ya menjalankan perusahaan?“
Tinggallah si Pimpinan Manajemen Operasional terbengong-bengong menjawab, “Loh boss... khan boss yang nyuruh untuk begitu... potong anggaran ini... cut itu?“ Tapi ingatlah pepatah bilang, “Boss is always right“ (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar