oleh Andy Rustam.
Pak Jono baru saja pindah ke rumah barunya, yang terbilang cukup mentereng dibandingkan dengan lingkungan sekitar dan rumah-rumah tetangganya. Keluarga Pak Miskun, salah satu tetangganya, hidupnya serba kekurangan. Pada suatu hari pak Jono datang ke rumah Pak Miskun untuk memperkenalkan dirinya sekaligus membawa buah-tangan makanan dan pakaian-pakaian bagus bagi anak-anak tetangganya itu. Di luar dugaan, “kebaikan hati” pak Jono malah memancing kemarahan pak Miskun. Pak Miskun menganggap bahwa tindakan Pak Jono memberikan hadiah pakaian-pakaian kepada anak-anaknya itu, sebagai telah merendahkan dirinya. Tindakan pak Jono dipersepsikan bagai sebuah pesan yang mengatakan bahwa Pak Miskun adalah orang yang tak mampu untuk membelikan pakaian bagi anak-anaknya sendiri. Pak Jono-pun hanya bisa terpana melihat persepsi Pak Miskun terhadap maksud baik dirinya.
Interpretasi Kita, Realita Kita
Dalam bidang komunikasi, para ahli selalu mengatakan bahwa, “noise” yang paling sering mengganggu salah satunya adalah “interpretasi yang dilakukan berdasarkan persepsi yang salah”. Memang dalam segala hal atau dalam berbagai peristiwa, bagaimana cara kita memandang (persepsi) dan mengartikannya (interpretasi) maka itulah yang selalu kita anggap sebagai suatu realita atau suatu kebenaran bagi diri kita. Dalam kasus di atas, bagi orang yang situasi dirinya (psikologis, fisik dan ekonomi) berada dalam kondisi yang “normal dan stabil”, tentu saja tidak akan mungkin menganggap bahwa tindakan pak Jono sebagai bentuk tindakan yang merendahkan atau tidak menghargai pak Miskun, bukan? Itulah realitanya. Tetapi tidak demikian bagi Pak Miskun. Ia memang selama ini punya “keinginan” untuk membelikan pakaian bagus bagi anak-anaknya, tetapi tidak mampu dikarenakan situasi ekonomi-nya, maka tindakan pak Jono ia pandang sebagai “tindakan yang melecehkan” dirinya. Itulah realita bagi pak Miskun. Belum tentu bagi orang lain.
Dalam sebuah situasi, dimana baik si Komunikator maupun si Komunikan sudah memiliki “realita”-nya masing-masing, maka dapat dipastikan akan terjadi perselisihan, dimana keduanya tidak ada yang mau mengalah karena masing-masing merasa dirinya telah berpijak pada “realita”.
Kalimat yang Ditulis
Salah satu kesulitan dalam berkomunikasi adalah bagaimana si Komunikator dapat memilih kata, menyusun kata dan menetapkan cara penyampaiannya, agar pesan yang keluar tidak dapat di-interpretasikan lain oleh si Komunikan selain sebagaimana yang dimaksud oleh si Komunikator. Maksudnya tentu agar dapat menghindarkan salah persepsi dan salah interpretasi.
Keadaan semakin rentan, apabila pesan tersebut akan disampaikan melalui media tertentu. Setiap media selalu memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri-sendiri dalam membawakan pesan. Baik itu, telpon, sms, bbm, twitter, internet, majalah, koran , radio, maupun televisi.
Kesalahan yang paling sering terjadi pada setiap orang, adalah menganggap bahwa semua media sama saja. Misalnya, media cetak atau media tulis-menulis lainnya (sms / bbm / twitter) yang tidak memiliki suara, biasanya memiliki kelemahan (weakness) pada sisi emosional. Berbeda sekali dengan media elektronik (radio & tv).
Katakanlah, misal, seorang tamu menulis melalui sms: “saya suka kopi”. Tuan rumah yang membaca sms itu kebetulan tak memiliki kopi untuk disuguhkan kepada tamunya. Lalu dengan agak ragu ia mempersiapkan teh manis. Ternyata ketika si tamu datang, ia-pun meminum teh tersebut, lalu berkata kepada tuan rumah bahwa tehnya nikmat.
Ketika ditanya, “ Bukankah tadi katanya Anda suka kopi”. Si Tamu menjawab: “ Ya saya suka kopi, tetapi teh manis ya boleh juga.“
Rupanya si Tuan rumah sempat meng-interpretasikan tulisan sms: “Saya suka kopi”, dengan emosional sebagai: “saya tidak suka teh, maunya hanya kopi saja”. Padahal jelas-jelas tidak ada kalimat tersebut dalam sms si Tamu kepada Tuan Rumah. Interpretasi negatif itu muncul karena Tuan Rumah ingin memuaskan Tamunya tapi tak bisa, karena tak punya kopi. Barangkali kalau saja komunikasi antara si Tamu dan Tuan Rumah tadi tidak menggunakan sms, melainkan pembicaraan langsung melalui telpon, “noise” seperti ini dapat dihindari.
Kalimat yang Diucapkan
Karena kita setiap hari selalu ngomong atau ngobrol bersama teman, maka kita tidak pernah lagi merasa bahwa ngomong / berbicara itu seharusnya juga “mikir” dooong. Maka tidak heran kita sering merasa ada yang kurang pas, ketika seorang penyiar (TV atau Radio) yang sedang mewawancarai seorang narasumber, menggunakan cara bertanya atau cara berbicara seperti layaknya ia bertanya kepada temannya di warung / cafe tempat mereka nongkrong.
Contoh:
Reporter: “Bapak tadi sempat kaget ya ketika mendengar bunyi ledakan?“
Saksi Mata: “iya, betul saya kaget”. (selesai terjawab)
Dengan model pertanyaan seperti yang dilakukan reporter ini, otomatis si saksi mata merasa (ia meng-interpretasikan pertanyaan tersebut) bahwa yang ingin diketahui oleh si reporter adalah bagaimana reaksi dirinya ketika mendengar ledakan. Padahal maksud si reporter adalah ingin menggali informasi lebih dalam.
Barangkali kalau Anda sedang ngobrol dengan teman, dialog seperti ini biasa-biasa saja, bukan? Tetapi kalau ini dilakukan di acara siaran berita (radio atau tv), dimana pendengar / pemirsa menantikan informasi dari setiap jawaban, maka cara bertanyanya seharusnya seperti ini:
Reporter: “Coba bapak ceritakan, bagaimana kejadiannya ketika bapak mendengar bunyi ledakan?“
Saksi Mata: “Saya ketika itu sedang duduk dengan seorang teman, tiba-tiba saya kaget mendengar ledakan yang sangat keras. Saya langsung tiarap. Asap dimana-mana. Tidak lama kemudian kedengaran orang-orang mulai berteriak, dan mayat bergelimpangan dimana-mana... dst. dst.“
Jelas sekali bahwa cara bertanya yang “komunikatif” (efektif dan efisien), sesuai dengan karakter media (bukan seperti obrolan di warung), akan menghasilkan jawaban yang informatif pula dan bisa diikuti dengan nikmat oleh publik.
Tentu saja untuk mampu berkomunikasi dengan baik, dibutuhkan sedikit waktu untuk berpikir sebelum berbicara / bertanya. Hal ini biasanya yang tidak dilakukan. Karena ketika kita berkomunikasi, kita hanyalah “ngomong” tanpa berpikir sebelumnya untuk menata omongan tersebut, dimana ini sudah merupakan kebiasaannya hampir semua reporter / penyiar.
Artinya kalau ingin memperbaiki kualitas komunikasi kita, maka perlu untuk kita melatih diri menanamkan “kebiasaan” baru. Latihlah untuk menata pilihan kata kita. Kalau mau bertanya, gunakanlah kata-tanya. Latihlah untuk memilih dan menyusun kata menjadi kalimat yang memiliki 1 interpretasi saja.
Mungkin awalnya akan terkesan, sulit dan terdengar kaku serta sedikit memakan waktu sebelum kalimat itu keluar dari mulut kita. Namun setelah beberapa minggu saja, akan lahirlah kebiasaan baru berupa mengalirnya kalimat-kalimat yang tertata, nikmat diikuti. Sebuah komunikasi yang sesungguhnya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar