05 November 2012

Kecepatan Bicara Bagi Penyiar


oleh Andy Rustam

Kesadaran bahwa berbicara dalam sebuah siaran radio / TV memerlukan teknik tersendiri kelihatannya belum cukup meluas. Berbicara dianggap sebagai hal yang semua orang bisa. Bukankah sejak kecil kita sudah diajar berbicara?! Jadi, tidak perlu ada yang harus dipelajari lagi.

Sesungguhnya pandangan tersebut tidak tepat, karena media radio / TV adalah media komunikasi satu arah. Berbeda kalau kita berbicara melalui telpon atau berhadapan langsung dengan lawan bicara (komunikan) kita. Ketika kita berbicara berhadapan langsung, kalau ada kalimat kita yang kurang jelas atau tak dimengerti atau tertangkap sebagai salah pengertian, dengan cepat komunikan bisa meminta untuk diulang dan memohon penjelasan. Hal ini tak mungkin dilakukan apabila si komunikator berbicara melalui media seperti TV / radio. Oleh karena itulah, setiap penyiar harus menyadari, bahwa ketika sedang mengudara dan ia berbicara, maka setiap kalimat yang dilontarkannya melalui microphone, hanya dengan sekali jalan haruslah “mudah ditangkap dan mudah dipahami”. Salah satu faktor teknis yang menjadi masalah adalah kecepatan-bicara.

Proses Mendengar

Seperti juga berbicara, banyak yang mengira bahwa mendengar adalah hal yang biasa saja. Perlu diketahui bahwa “mendengarkan seseorang berbicara” bukanlah sebuah proses yang mudah.

Pertama sekali, telinga kita menangkap adanya bunyi-bunyi dari huruf-huruf yang diucapkan. Kedua, setiap bunyi-bunyi tadi, oleh otak dirangkai sehingga menjadi satu kata dan kemudian satu kalimat. Ketiga, kata & kalimat tadi harus diproses dan diterjemahkan lagi oleh otak menjadi suatu makna.

Itu sebabnya seorang penyiar haruslah mengatur kecepatan-bicara-nya agar memberi kesempatan bagi otak si pendengar untuk mengolah bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh mulutnya penyiar, menjadi makna yang dipahami oleh si pendengar.

Apabila penyiar berbicara terlalu cepat, maka suara atau bunyi-bunyi dari mulutnya tetap bisa terdengar, tapi makna dari bunyi atau rangkaian kata yang dikeluarkannya, tidak dapat dimengerti oleh pendengar.

Ketambahan lagi, ketika si penyiar berbicara masih banyak lagi gangguan yang biasanya muncul, seperti: situasi ruangan tempat si penyiar berada, atau letak microphone yang tidak tepat, maupun kualitas sound-system pada peralatan yang tersedia. Ini semua gangguan yang dihadapi, sebelum suara si penyiar bisa sampai kepada pendengar di rumah.

Kecepatan Bicara

Ada orang-orang tertentu yang sudah sejak kecil bawaannya mempunyai kecepatan bicara yang sangat tinggi. Tapi ada juga orang yang kecepatannya sangat rendah.

Kalau Anda bicara dengan kecepatan yang terlalu tinggi, sebenarnya Anda secara mental telah membanjiri si pendengar. Ia jelas tidak dapat mengikuti pembicaraan Anda, tidak mengerti apa maksudnya dan akhirnya lalu malas untuk mengikuti pembicaraan selanjutnya. Otaknya terjejali pekerjaan yang mendadak banyak. Itu dikarenakan si otaknya pendengar tidak punya waktu untuk memproses bunyi-bunyian yang terdengar oleh telinga.

Sebaliknya, kalau Anda berbicara dengan kecepatan yang terlalu rendah, si otak pendengar mempunyai terlalu banyak waktu untuk memproses bunyi-bunyian tadi. Si otak bekerja jauh lebih cepat, dan ia lalu “menagih” untuk memproses bunyi-bunyian yang berikutnya, yang sayangnya tidak datang-datang karena Anda berbicara terlalu lambat. Akibatnya si otak menjadi lelah menagih, kemudian jadi buntu dan malas untuk memproses bunyi-bunyian yang datang berikutnya. Si otak menjadi bosan dan berpikir untuk beralih ke hal lain. Artinya, si pendengar menjadi kehilangan minat pada apa yang disampaikan oleh si penyiar.

Sebagai catatan saja, kecepatan bicara seseorang banyak juga ditentukan oleh keadaan mentalnya. Apabila seseorang sedang gugup atau stress biasanya kecepatan bicaranya menjadi naik. Sedangkan ketika hatinya tenang, kecepatan bicaranya pun lebih lambat. Penyiar atau reporter yang masih baru kelihatan sekali kecepatan-bicaranya sangat tinggi. Itu dikarenakan ia dalam keadaan gugup / tegang.

Kecepatan Bicara Ideal

Kecepatan-bicara yang ideal bagi penyiar dalam bahasa Inggris, adalah 150 – 180 kata per menit. Tetapi ini tidak bisa dijadikan rumus umum yang cocok bagi bahasa lain di luar bahasa Inggris. Menurut saya, kecepatan-bicara penyiar dalam bahasa Indonesia, harus lebih lambat mengingat “panjang bunyi” dalam bahasa Indonesia rata-rata lebih daripada dalam bahasa Inggris. Misal: “Saya hendak makan”, 1 kalimat dengan 3 kata ini terdiri dari 6 suku-kata. Sedangkan dalam bahasa Inggris: “I want to eat“, 1 kalimat dengan 4 kata ini terdiri dari 4 suku-kata.

Sayangnya saya belum pernah mengetahui ada peneliti atau ahli komunikasi bahasa Indonesia yang memiliki rumus: “Berapa sih kecepatan bicara yang ideal untuk seorang penyiar, agar pendengar tidak kehilangan minat untuk mendengarkan siarannya?“

Berdasarkan pengalaman saya dalam melatih penyiar-penyiar, kecepatan bicara yang ideal bagi seorang penyiar dalam bahasa Indonesia adalah sekitar 120 – 150 kata per menit. Ini sudah termasuk dengan jeda di antara kata dan kalimat, termasuk koma dan titik.

Banyak penyiar atau reporter yang “takut” kalau sampai ada jeda / kosong ketika sedang berbicara. Sehingga mereka cenderung untuk “ngisi” terus, alias merepet atau mengisi jeda dengan suara “eeee..” Mereka takut, kalau ada jeda terkesan seolah-olah kehilangan pembicaraan.

Padahal mereka lupa bahwa otak pendengar perlu memiliki jeda (waktu kosong yang tidak diganggu oleh bunyi apapun), maksudnya agar otak bisa berkonsentrasi memproses bunyi-bunyian yang telah masuk sebelumnya. Karena memang otak manusia tidak di-designed untuk multi-tasking (memproses banyak dalam waktu yang bersamaan), terlebih lagi otak pria. Otak wanita sedikit lebih mampu ber-multi-tasking. Artinya, pendengar pria lebih membutuhkan penyiar dengan kecepatan bicara yang tepat ketimbang pendengar wanita.

Maka kalau kebetulan si penyiar TV adalah seorang wanita cantik yang bicara dengan kecepatan tinggi (merepet), sementara pendengarnya kebanyakan para pria, pastilah si pria merasa sangat terganggu sekali dengan suaranya, walaupun masih tetap ingin menikmati wajah si penyiar cantik ini.

Jadi, yang sering kali terjadi... lebih baik volume suara TV-nya aja deh yang dimatiin... (arm)

Tidak ada komentar: