oleh Andy Rustam
Hari Selasa yang lalu, 13 November 2012, saya menjadi salah satu pembicara dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, yang intinya membahas pentingnya konten (content) sejalan dengan berkembangnya teknologi media. Tetapi apa yang disampaikan oleh berbagai pembicara, justru penekanannya terletak pada keunggulan teknologi dan kehebatan media-media baru tersebut.
Saya jadi teringat kejadian 6 tahun yang lalu, di Broadcast-Asia, Singapore, seorang International Manager dari Nokia, dengan menggebu-gebu mengatakan bahwa televisi nanti bukan lagi media keluarga yang ditonton di rumah, melainkan menjadi media personal, karena televisi sudah bisa ditonton dari smartphone, sehingga bisa ditonton di mana saja. Kenyataanya sampai saat ini, sudah 6 tahun berlalu, berapa banyak sih orang yang mengganti kebiasaannya, tidak lagi menonton siaran televisi dari TV-set di rumah, melainkan menonton dari smartphone-nya? Dari semua orang yang saya kenal, tidak ada seorang pun!
Teknologi Hanyalah Kemudahan Akses
Memang betul bahwa kemajuan teknologi menyebabkan segala sesuatunya kini bisa dinikmati dari genggaman tangan saja. Radio, Televisi, Koran, Majalah, Cinema, semua sudah bisa diakses melalui perangkat smartphone dan sejenisnya. Masalahnya, sekarang tinggal apakah “sensasi rasa“ dalam menikmati konten Radio, Televisi, Koran, Majalah, Cinema melalui genggaman tangan itu lebih baik / sama / lebih buruk, daripada ketika menikmati konten tersebut secara tradisonil?
Kehadiran sarana seperti iPad, mp4, iPhone, dsb. hanyalah untuk mempermudah akses terhadap konten. Tetapi bagaimana kualitas interaksi antara konten tersebut dengan pendengar / pembaca / pemirsa / penonton, tentu saja tidak serta merta menjadi lebih baik.
Sensasi yang kita rasakan ketika masuk ke dalam ruangan bioskop yang gelap dan kemudian menonton tayangan film di layar lebar, dengan sound system yang menggelegar, tentu tidak bisa kita peroleh ketika menonton film yang sama melalui iPad dalam sebuah taksi.
Siaran radio selalu saya dengarkan melalui radio mobil ketika sedang menyetir mobil menuju ke kantor. Tetapi ketika sudah sampai di kantor, saya tidak menyalakan BlackBerry saya dan earphones untuk melanjutkan mendengarkan siaran radio tersebut (walaupun aplikasinya sudah ter-install di smartphone saya). Tentu saja alasannya, karena kenikmatan mendengar melalui sound-system mobil dalam suasana sedang menyetir mobil sendirian, tidak bisa digantikan dengan suara radio dari smartphone+earphones dalam suasana lingkungan kantor tempat kerja saya.
Menurut teori ilmu komunikasi memang media sangat berperan penting untuk mengalirkan pesan dari komunikator. Namun yang sering terlupakan, bagaimana pesan tersebut harus dikemas dan disampaikan, agar cocok dengan karakter medianya, sehingga bisa efektif menghasilkan respon dari si komunikan.
Modifikasi Konten
Rekaman asli lagu-lagu The Beatles yang dibuat pada tahun 1960-an, direkam dengan teknologi “monophonic”, dan teknik rekamannya pun masih sangat sederhana. Sekarang ini, rekaman lagu The Beatles diproses ulang, digitalize remastered, sehingga kualitas rekamannya bisa dinikmati oleh telinga-telinga modern dengan nyaman, secara stereo-phonic atau surround, baik melalui CD maupun DVD. Inilah salah satu contoh modifikasi konten demi penyesuaian dengan media-media modern sekarang ini.
Majalah Tempo versi cetak juga mengalami modifikasi format ketika dijadikan versi digital, sehingga ketika diakses dan dibaca melalui BlackBerry, mata pembacanya tidak sakit dikarenakan huruf yang terlalu kecil, ataupun ulasannya juga dibuat tidak terlalu panjang.
Tetapi di televisi masih sering kita lihat film Indonesia yang dibuat pada tahun 70-80-an dengan teknologi layar super-lebar cinemascope, diputar begitu saja tanpa mengalami modifikasi. Maka penonton akan sangat terganggu dengan garis hitam sementara gambar yang paling pinggir tak terlihat, atau ketika dipersempit maka gambarnya menjadi jangkung-jangkung (kurus dan tinggi)... hahaha.
Sekarang kita menyadari bahwa sebenarnya setiap konten yang niat awalnya dibuat untuk disalurkan melalui sebuah media tertentu, tidak bisa begitu saja disalurkan melalui media lain tanpa melalui proses modifikasi (agar konten tersebut tetap dapat dinikmati sebagaimana seharusnya). Artinya, agar pesan dalam konten tersebut dapat tetap terkomunikasikan dengan baik, tanpa berkurang efektifitasnya, walaupun media yang digunakan sudah berbeda.
Contoh modifikasi konten yang saya sebutkan diatas, adalah modifikasi teknis saja, yang dapat dikatakan tak terlalu rumit. Tetapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa dimodifikasi. Misalnya, rasa kengerian hancurnya sebuah kota dalam film “2012” by Roland Emmerich, yang sangat melibatkan emosi penonton film di bioskop, hanya bisa dihasilkan bila film tersebut disaksikan dalam bioskop layar lebar dengan sound-system berkualitas tertentu. Bagaimanapun juga optimalnya modifikasi teknis yang dilakukan terhadap konten (film “2012”), tidak akan pernah bisa sama, sensasi emosi menonton film di bioskop dengan sensasi emosi ketika film yang sama kita saksikan di layar komputer atau androidphones.
Kesimpulan
Dengan terus berkembangnya kemajuan teknologi maka akan semakin banyaklah kemunculan media-media baru. Tetapi perlu diingat, apapun media-media modern tersebut, tetap saja itu semua hanyalah sarana untuk si komunikan mengakses konten. Yang terpenting tentulah konten dan pesan yang terkandung didalamnya. Kalau kita seorang komunikator, seharusnyalah kita berpikir, melalui media apa pesan tersebut akan disalurkan, maka konten haruslah dibuat dan dimodifikasi sesuai karakter media-nya, yaitu sesuai dengan cara bagaimana komunikan menggunakan media tersebut.
Ibaratnya, dimana-mana ada penjual mie-ayam dengan gerobaknya, bahkan di depan rumah saya. Tapi tetap saja kalau saya ingin makan mie-ayam, maka saya pasti membelinya dari penjual mie-ayam yang gerobaknya mangkal di jalan Cikajang (Kebayoran Baru, Jakarta), di seberang toko Adorama. Rasanya sangat enak kalau langsung dimakan disana. Tetapi waktu saya bilang kepada si penjual untuk dibungkus dan dibawa pulang, maka ada modifikasinya. Mie-nya akan dibungkus terpisah, begitu juga dengan racikan, saus dan bumbunya semua dibungkus terpisah. Sehingga ketika akan dimakan dirumah, tinggal dipanaskan saja dan disatukan kembali... dijamin rasanya tetap enak.
Si penjual mie ayam sudah mengerti bahwa agar “rasa”-nya tidak berubah, ia melakukan hal yang berbeda. Ia melakukan modifikasi, sesuai dengan cara si pelanggan mie-ayam menikmati mie tersebut. Kapan, dimana dan bagaimana. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar