oleh Andy Rustam
Seorang juru rawat yang bekerja di rumah sakit King Edward VII, bernama Jacintha Saldanha, ditemukan meninggal dan diduga bunuh diri setelah menjadi korban telpon hoax dari sebuah stasiun radio di Sydney - Australia, 2Day FM. Demikian berita yang mengejutkan yang saya kutip dari The Telegraph.
Kedua penyiar dari radio tersebut menelpon si perawat, yang satu berpura-pura sebagai Ratu Elizabeth II dan yang satu lagi berpura-pura sebagai Prince Charles, meminta disambungkan kepada Duchess Kate Middleton (istri Prince William) yang memang sedang dirawat di rumah sakit tersebut. Untuk diketahui, RS King Edwards VII adalah rumah sakit pribadi (private hospital) terbaik di London, Inggris, yang memang pelayanannya banyak dikhususkan bagi para bangsawan dan keluarga kerajaan Inggris. Jadi jelas, para tenaga medis di situ adalah orang-orang pilihan. Sialnya, perawat Jacintha Saldanha, seorang wanita berusia 46 th, tertipu masuk dalam perangkap telpon bercandaan (hoax atau prank call) dari kedua penyiar radio tersebut. Sehingga ia benar-benar menyambungkan telpon ke kamar pasien istimewa Duchess of Cambridge, Kate Middleton. Parahnya lagi, kebetulan kondisi beliau lagi sangat lemah. Mungkin akibat “keteledoran” ini, Jacintha tak kuat menanggung malu, dan secara tragis ia bunuh diri.
Untuk diketahui, kedua penyiar radio 2Day FM tersebut baru berusia 20-an.
Berkomunikasi Tanpa Berpikir
Sebuah radio di Jakarta dan juga sebuah stasiun televisi nasional mempunyai acara sejenis, menelpon seseorang, dimana si penyiar berpura-pura menjadi seorang lain. Walaupun saya sendiri secara pribadi tidak merasa acara itu lucu dan bahkan saya memandang acara begini sebagai (maaf!) norak, tetapi acara bercandaan ini cukup banyak penggemarnya di kalangan anak muda, dan dianggap sebagai acara yang sangat lucu.
Penekanan yang ingin saya kemukakan dalam tulisan ini, bukanlah khusus tentang acara tersebut saja, melainkan tentang, betapa semakin lama semakin banyak orang yang berbicara di depan publik, baik langsung ataupun melalui media massa dan juga media sosial, tanpa berpikir sebelumnya tentang dampak apa yang akan mungkin ditimbulkannya sebagai reaksi / respon atas perkataan atau kalimatnya itu. Semakin banyak stasiun televisi / radio yang mengangkat dan menyiarkan suatu berita tanpa berpikir akan dampak yang mungkin timbul. Beberapa pelawak dalam acara-acara humor-humor konyol sering terkena “tuntutan hukum” karena dianggap menghina seseorang.
Baru-baru ini anggota DPR, Sutan Batugana, dituntut oleh warga Nahdhatul Ulama (NU) untuk meminta maaf, karena dianggap telah menghina almarhum Gus Dur dalam suatu acara talk-show di televisi bersama Adhie Massardie.
Beberapa kali saya bertemu dengan seorang wartawan, lalu saya bertanya kepadanya, “Kenapa Anda mengangkat sebuah kasus X menjadi berita?“ Jawabannya, “Karena kasus ini menarik bagi masyarakat. Pasti masyarakat kepingin tahu“.
Nah memang banyak sekali para pekerja berita, terutama wartawan acara gosip, yang berpikirnya cuma, “berita ini menarik, pasti masyarakat ingin tahu“.
Hal yang sama terjadi juga dalam siaran humor. Mengapa Anda bicara begitu, hai pelawak? Karena “kalimat ini lucu, pasti penonton / pendengar akan tertawa“.
Hanya sebegitu pendek-nya otak mereka berpikir. Sebagai wartawan / reporter / penulis berita / pembaca berita / produser berita, kebanyakan mereka tidak biasa untuk berpikir lebih jauh lagi akan dampak dari sebuah berita, karena mereka menganggap itu bukan urusan mereka. Padahal yaa... kalau namanya media massa, tentu saja soal dampak dari sebuah berita, jelas menjadi tanggung jawab dari media doong... Karena, bukankah peran dan tanggung-jawab media bukan hanya menghibur dan bercanda saja, tetapi lebih dari itu. Melalui materi-materi yang disiarkan harus mampu mendidik masyarakat agar menjadi masyarakat yang lebih baik, maju, dan sejahtera.
Berpikir Panjang Sebelum Berkomunikasi
Sebenarnya berpikir panjang dan memperkirakan respon yang akan timbul, tidaklah sulit, kalau kita sering membiasakan diri kita dalam berkomunikasi sehari-hari.
Misalnya seperti begini:
Ceritanya, dulu Anda pernah memarahi supir Anda. Karena sewaktu sedang mengemudikan mobil bersama Anda, Anda lihat sendiri bahwa ia tidak mau mengalah terhadap para pengendara motor (note: Pengendara motor di jalan raya Jakarta sering berkelakuan bagaikan orang biadab masuk kota). Gara-gara begitu maka suatu hari terjadi serempetan dengan motor. Mobil Anda baret-baret / lecet bergaris-garis di bahagian pintu kanan. Anda marahi si supir dengan keras, bahwa lain kali berhati-hati dan mengalah saja kalau terhadap motor-motor itu. Sebulan kemudian, secara tak sengaja, Anda menemukan lagi adanya baret / lecet bergaris yang baru, kali ini di bahagian pintu kiri.
Lalu Anda bertanya kepada supir, “Ini kenapa? Kamu lagi yang kurang berhati-hati ya?“
Menurut Anda, bagaimana respon si supir?
a) “wah saya ngga tau, kemarin waktu saya mencuci belum begitu, Pak!"
b) “iya Pak, memang saya yang kurang berhati-hati“.
Tepat sekali. Yang pasti, kecil sekali kemungkinan jawaban dari si Supir adalah “b”, karena ia pernah mengalami dimarah-marahin oleh Anda sebelumnya, dan tentunya ia takut kena marah lagi.
Dengan demikian, kalau Anda ingin tahu mengapa atau bagaimana kejadiannya sampai timbul lagi baret / lecet yang baru di mobil Anda, maka cara Anda berkomunikasi seperti itu kepada si Supir, tidak akan menghasilkan respon sebagaimana yang Anda harapkan. Artinya, Anda sudah bisa membuat prakiraan bagaimana kira-kira respon yang akan muncul, sebelum Anda berkomunikasi dengan si supir, bukan?
Dalam kasus “Telpon Bercandaan” dari 2DayFM, Sydney, tentu tidak akan ada yang memperkirakan bahwa dampak dari telpon bercandaan itu sampai si juru rawat bunuh diri. Namun, saya yakin para penyiar muda itu tidak sampai berpikir jauh tentang dampak dari bercandaannya. Paling-paling mereka seperti host penyiar-penyiar muda yang suka terdengar berceloteh seenaknya dalam siaran radio dan televisi kita juga. Dalam pikiran mereka, “Yang penting ini lucu dan pendengar / penonton tertawa“. Mereka tidak berpikir, bahwa bagaimana seorang perawat yang bertugas melayani keluarga kerajaan Inggris, sangat serius dalam menjalankan tugasnya, karena tanggung-jawabnya lebih berat. Sehingga kalau sampai mereka berbuat kesalahan sedikit saja, pasti sanksinya sangat besar, setidak-tidaknya mereka mungkin bakal diberhentikan dari pekerjaannya.
Kedua penyiar radio tersebut, tentunya tak berpikir panjang, bagaimana kalau bercandaan kita ini nanti akan menyebabkan seorang juru rawat yang tak bersalah (seseorang yang akan kita permainkan) nanti akan kehilangan pekerjaan dan kariernya akibat ulah kita?
Eh ternyata... komunikasi bercandaan dua orang penyiar muda dalam siarannya ini, ternyata berdampak negatif. Jacintha Saldanha bukan hanya kehilangan karier dan pekerjaannya, tetapi juga nyawanya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar