15 Januari 2013

Bosan


oleh Andy Rustam

Teman saya kemarin menelpon saya, “Lihat ngga tadi wawancara Menpora Roy Suryo di televisi?“ Saya jawab, “waah... sorry boss. Sudah lama saya tidak menonton siaran televisi kita“. Temen saya kaget, “Lhoo... kenapa?“ Saya jawab pendek, “Bosan“. Memang kebosanan menonton siaran televisi kita ini sudah melanda seluruh anggota keluarga yang masih tinggal seatap di rumah saya. Bukan hanya siaran beritanya saja tetapi ya hampir semuanya: siaran lawakannya, siaran musik panggungnya, siaran sinetronnya, dsb.

Kalau siaran sepakbola Liga Indonesia (LSI atau LPI), walau senang sepakbola tetep aja malas nantonnya. Mungkin satu-satunya yang kami di rumah masih kompak menonton siaran televisi nasional itu, kalau televisi tersebut menyiarkan langsung pertandingan sepakbola Liga Inggris.

Saya sendiri belum tahu jawabnya kenapa kita serumah tanpa dikomando bisa kompak begitu ya? Kalau saya tanya mereka, jawabannya mirip, kalau ngga bosen ya males, katanya. Sebagai gantinya, kalau toch mau mencari hiburan di televisi, pastilah menonton saluran-saluran asing yang tersedia melalui saluran televisi berlangganan. Di bawah ini sederet alasan kenapa saya merasa bosan menonton siaran televisi kita.

Tidak Menarik Buat Saya

Mungkin sekali memang siaran-siaran televisi kita itu tidak ditujukan buat orang-orang seperti saya. Artinya, televisi kita memandang bahwa berdasarkan audience-segment (segmentasi khalayak), kelompok masyarakat seperti saya ini tidak terlalu menguntungkan secara komersiel karena jumlahnya dalam masyarakat Indonesia hanya sedikit. Mungkin perbandingannya ibarat kelompok penggemar Jazz / Classic (sedikit) dengan kelompok penggemar Dangdut Koplo / Pop Melayu (banyak). Artinya kalau pemirsanya sedikit nanti bakalan susah dijualnya, tidak akan ada pemasang iklan (advertiser maupun advertising agency) yang mau memasang iklan di televisi tersebut. Jadi tinggalkan sajalah kebutuhan kelompok orang-orang seperti saya ini.

Sudah Ketebak

Menonton acara apa saja di televisi bagi saya sudah tidak ada unsur “surprise”-nya lagi. Hampir semua sinetron kita, isi dan jalan ceritanya sudah ketebak, pasti yang jahat terus jahat yang menderita terus menderita... capek deeh... Kemudian kalau presenter membuka acara, ini juga sudah bisa ditebak, pasti kalimatnya, “Selamat sore pemirsa, SENANG SEKALI saya berjumpa dengan anda... dst.“ Lalu kalau acara banyolan, juga sudah bisa diduga, sudah pasti leluconnya lari ke arah ngeledek fisik atau slapsticks (perilaku kasar seperti: kepala disiram terigu, kursi kakinya patah orangnya jatuh, wajah orang dipukul dsb.) Dalam wawancara dengan seorang narasumber, ini juga pasti sudah bisa kita tebak, kebanyakan pewawancara dari stasiun televisi pasti...... ya betul mereka pasti akan memotong jawaban si narasumber ketika penjelasannya belum selesai. Tinggal kita para penonton dibuat kesal setengah mati. Entah siapa sih yang ngajarin bahwa cara begitu itu bagus? Malah bangga lagiih... Buat saya yang begitu itu jelek... OMG!

Tidak Nyaman

Pernahkah Anda melihat siaran berita televisi kita sepenuhnya (dari awal sampai akhir)? Silahkan Anda hitung sendiri perbandingan jumlah berita yang negatif dengan jumlah berita yang positif. Kalau Anda setiap hari dijejali dengan berita-berita yang negatif melulu, maka secara psikologis anda akan merasa depresif. Hal inilah yang membuat saya merasa tidak nyaman. Karena stasiun televisi kita tidak pernah berpikir sebelumnya dampak dari suatu berita kalau disiarkan, karena yang penting buat mereka adalah “sensasi” dari berita tersebut.

Pentas Kebodohan

Terus terang kalau yang ini memang yang paling banyak saya lihat di televisi. Kebodohan yang terus berulang. Hampir setiap hari dalam siaran berita ada: kecelakaan motor karena motor masuk jalur busway atau menerobos rambu, kebakaran karena kompor / tabung-gas / korslet-listrik, anak kecil / bayi tewas karena kelalaian orang tua, antrean yang berdesakan sampai ada yang tewas, buruh atau mahasiswa demo sambil merusak sarananya sendiri, pelajar atau desa tawuran karena hal yang sepele atau prasangka, banjir karena sampah, laporan polisi Traffic Management Control yang cuman memberitahu tapi tidak ada solusi, pejabat negara atau anggota DPR yang dipanggil KPK berbohong tapi dengan cara yang semua orang tahu bohongnya, reporter yang melontarkan pertanyaan yang tidak perlu karena kita semua sudah pasti tahu jawabannya, cara penyelesaian masalah dengan membuat surat perjanjian / kesepakatan atau dengan membuat peraturan padahal masalah utamanya tak pernah dilihat dan diselesaikan,  perusakan / provokasi oleh ormas terhadap anggota masyarakat lain, atau demo buruh yang menutup jalan-raya dan dilakukan di hadapan aparat kepolisian tapi tidak ada tindakan hukum apapun, orang-orang yang membuat sensasi ala: Ruhut Sitompul, Rhoma Irama, Farhat Abbas, malah mendapat porsi banyak di media sementara orang-orang mengharumkan nama bangsa seperti: Christian Lesmana; Paul Amron Yuwono; Sherina Munaf; Sri Mulyani; tak ter-exposed di televisi... dan banyak lagi mungkin Anda bisa menambahkannya sendiri.

Diulang-ulang

Nah ini juga yang paling sering dilakukan oleh televisi kita. Satu kejadian, misalnya gambar kerusuhan yang terjadi pagi ini, akan terus bermunculan ditayangkan setiap jam selama 2-3 hari ke depan dengan gambar yang sama itu-itu juga. Belum lagi di stasiun televisi lain, gambar yang sama juga muncul. Sungguh membosankan dan amat mengesalkan!

Sudah Terlalu Tahu

Yang kasihan di sini masyarakat dengan tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi, karena mereka menyangka bahwa reality show (baca: Rekayasa Show) buatan production house (rumah produksi) yang ditayangkan televisi kita sebagai benar-benar realita. Padahal bagi orang yang pendidikannya agak tinggi, tentu cukup bisa menganalisa bahwa itu semua hanya rekayasa. Ibarat kisah sinetron, tetapi pemainnya masyarakat biasa yang memang ada di sana. Mereka dibayar untuk ber-acting seperti itu.  Kebetulan saya sendiri banyak kenal dengan teman-teman dari production house dan televisi swasta jadi tentu “tahu”-lah.

Sudah terlalu tahu yang lainnya adalah tentang “kebenaran” ala pemilik stasiun televisi. Kalau pemilik stasiun televisinya adalah pimpinan partai / kelompok X, maka segala sesuatu terkait partai X pasti diusahakan tampil bagus, dan yang terkait partai / kelompok lawannya pasti ditiup-tiupkan keburukannya. Coba perhatikan, kalau di TV-One pastilah yang selalu disiarkan pertandingan sepakbola LPI (Liga Primer Indonesia), bukannya LSI (Liga Super Indonesia), dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) pastilah pihak yang benar dan bukannya KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia). (arm)

Tidak ada komentar: