oleh Andy RM
Sudah lama sekali aku tidak menulis untuk blog www.broadcastsukses.com. Alasannya bukan malas menulis, tetapi justru karena bingung, begitu banyak yang ingin aku tulis. Kenapa? Aku prihatin melihat dunia penyiaran kita.
Karena aku melihat para penyiar dan para pelaku komunikasi yang sering tampil di media televisi / radio semakin lama semakin jauh dari cara berkomunikasi yang baik, benar, dan sehat. Tidak ada kelihatan usaha dari mereka untuk meningkatkan diri supaya semakin hari bisa semakin berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Padahal melalui blog ini, telah banyak tulisanku yang menampilkan hal-hal yang aku maksudkan bisa menjadi sebagai “pemicu” bagi mereka untuk mau dan berupaya meningkatkan diri. Terus terang aku sendiri heran, mengapa mereka sudah berpuas diri? Karena ketika aku masih muda dan mulai merintis karier di bidang broadcasting di tahun 1976 / 77, aku selalu merasa “kurang” dan punya keinginan untuk terus belajar dan meningkatkan diri. Sampai-sampai akhirnya tidak ada lagi bidang dalam dunia broadcasting yang tidak pernah aku lakukan: Radio / TV Production; Programming; Sales & Marketing; News; Finance; Engineering; Management. Walaupun awalnya mungkin melalui trial & error, tetapi untuk ke tingkat yang lebih tinggi, selanjutnya, aku selalu mengacu pada ilmu-ilmu baku. Salah satu pakem yang utama adalah ilmu dasar Komunikasi. Ilmu prinsip ini saja sekarang seolah-olah sudah diabaikan.
Komunikasi yang Baik dan Benar
Salah satu definisi dalam ilmu komunikasi sbb. Proses Komunikasi adalah: “Proses transmisi pesan dari Komunikator kepada Komunikan dalam rangka memodifikasi Komunikan sejalan dengan maksud / tujuan dari Komunikator.”
Kita langsung ambil contoh saja: di Jakarta, dimana-mana terpasang papan peringatan dengan tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, bahkan stasiun televisi berkali-kali menayangkan timbulnya banjir yang diakibatkan karena terjadinya pendangkalan sungai atau mampetnya saluran air dikarenakan sampah. Pesan sejenis ini sudah disebarluaskan selama berpuluh-puluh tahun.
Jadi bisa dikatakan, barangkali tidak ada satu orang dewasa pun di Jakarta ini yang tidak mengetahui pesan: “Dilarang Buang Sampah sembarangan”.
Tetapi kenyataannya... tetap saja orang Jakarta masih “hobby” membuang sampah mereka secara sembarangan. Nah, apabila ditinjau dari definisi komunikasi tersebut diatas, sebenarnya tidak terjadi modifikasi perilaku dari Komunikan (warga Jakarta), walaupun mereka semua sudah tahu pesan itu. Dengan demikian, secara ilmu komunikasi, pesan ini bisa dikatakan telah gagal!
Karena komunikasi yang baik dan benar, seyogyanya harus menghasilkan respon (dari komunikan) yang sejalan dengan maksud dari komunikator.
Menyampaikan & Meng-komunikasi-kan
Persoalannya, sekarang ini banyak para penyiar kita, termasuk pembawa acara, pembaca berita, reporter dsj., dalam berbicara (melalui media) kepada publik, seringkali bukan meng-komunikasi-kan, melainkan hanya sekedar menyampaikan berita / pesan. Kemungkinan besar kekeliruan ini bukan terletak pada penyiarnya saja, melainkan sudah sejak peliputan / shooting dan penulisan script / text-nya, termasuk juga dalam pengambilan gambarnya (pada siaran televisi). Akibatnya pesan / info / berita tersebut memang sampai kepada publik (pendengar atau pemirsa), namun tidak menghasilkan respon atau modifikasi yang diharapkan atau bahkan tidak ada respon sama sekali dari publik. Pesannya sampai, tetapi modifikasinya tidak terjadi. Istilah jaman dulu, masuk lewat kuping kiri langsung keluar lagi lewat kuping kanan. Untuk bisa membedakan, dapat dilihat pada contoh dibawah ini:
Contoh I, pesan yang tidak berkomunikasi, alias sulit diharapkan bisa menghasilkan respon/modifikasi dari komunikan, sbb: “Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) akan mulai direalisasikan oleh Pemerintah pada tanggal 1 Agustus 2013“.
Contoh II, pesan yang berkomunikasi, alias lebih dapat mengundang respon, sbb: “Masyarakat miskin sudah dapat mengambil uang Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dari Pemerintah, melalui kantor kelurahan masing-masing, mulai tanggal 1 Agustus 2013”.
Pesan tanpa Tujuan
Dalam berbagai acara “talk-show”, salah satu penyebab kenapa materi-materi yang disajikan oleh siaran televisi atau siaran radio itu tidak mampu berkomunikasi dengan publiknya, bukan terletak pada “Topik“ yang disajikannya, melainkan terletak pada bagaimana cara si penyiar ataupun pembawa acara tersebut menyajikan topik-topik yang umumnya sudah menarik karena memang sedang “in”. Kesalahan fatal (karena sangat mendasar) yang paling sering terjadi, si pembawa acara sendiri tidak tahu persis (atau lupa) apa tujuannya ia mengadakan acara “talk-show” dengan mengangkat “topik” tersebut.
Mereka terpaku hanya dikarenakan memang topik tersebut sedang “in”, makanya wawancara ini dilakukan. Karena terpaku pada “in”-nya, lupalah tujuan (atau barangkali memang tidak punya tujuan sejak awal). Itu sebabnya si pembawa acara justru langsung terseret kepada “heboh”-nya. Jadi yang diutamakan adalah yang penting bisa “heboh”. Kalau bisa dalam mewawancarai si nara-sumber dibuat terpancing emosinya sampai akhirnya marah dan menyiramkan air ke muka lawan bicaranya. Nah ini pasti akan menghebohkan.
Dikarenakan Pesan Tanpa Tujuan, inilah yang membuat penyiar terjebak pada sekedar menyiarkan sesuatu yang “heboh”. Ini menjadi semacam pakem baru, dalam era keterbukaan informasi. Era ini menjadi lebih tepat aku sebut sebagai era “komersialisasi informasi”. Artinya, para penyelenggara dan pekerja media menganut prinsip, selama informasi itu menghebohkan, akan mendatangkan penonton / pendengar yang lebih banyak, pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dari siaran iklan / sponsor. Pakem baru dengan prinsip yang penting “heboh” ini juga sudah melanda situs-situs berita di internet kita. Lihat saja bagaimana kalimat headlines di situs: merdeka.com; viva; inilah; detik dsb. dibuat. Semuanya terkesan mengundang heboh, bukan? Sinyalemen era “komersialisasi informasi” sudah semakin nyata dan mudah kita temui sehari-hari dalam kehidupan kita.
Komunikasi tidak Mudah
Seorang peneliti Komunikasi Antar Manusia dari Finlandia, Prof. Osmo Wiio pada tahun 1978 mengatakan bahwa: "Communication usually fails, except by accident (Komunikasi biasanya gagal, kecuali kebetulan)”. Ini sudah cukup menjelaskan bahwa berkomunikasi atau melakukan komunikasi tidaklah mudah. Apalagi menyebarkan pesan / informasi / berita / acara melalui media massa broadcasting yang sifatnya satu arah, tentulah akan lebih sulit lagi...
Tetapi selama kita menyadari kekurangan kita, dan punya keinginan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan profesionalisme kita sebagai broadcaster, tentulah hal ini akan dapat diatasi. Karena menurut aku, hal yang paling mengkhawatirkan bagi perkembangan masyarakat dan bangsa, adalah kalau orang-orang medianya sudah tidak ambil pusing lagi terhadap materi apa yang baik dan sehat bagi masyarakat, dan harus mampu disajikan secara menarik. (arm)
Sudah lama sekali aku tidak menulis untuk blog www.broadcastsukses.com. Alasannya bukan malas menulis, tetapi justru karena bingung, begitu banyak yang ingin aku tulis. Kenapa? Aku prihatin melihat dunia penyiaran kita.
Karena aku melihat para penyiar dan para pelaku komunikasi yang sering tampil di media televisi / radio semakin lama semakin jauh dari cara berkomunikasi yang baik, benar, dan sehat. Tidak ada kelihatan usaha dari mereka untuk meningkatkan diri supaya semakin hari bisa semakin berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Padahal melalui blog ini, telah banyak tulisanku yang menampilkan hal-hal yang aku maksudkan bisa menjadi sebagai “pemicu” bagi mereka untuk mau dan berupaya meningkatkan diri. Terus terang aku sendiri heran, mengapa mereka sudah berpuas diri? Karena ketika aku masih muda dan mulai merintis karier di bidang broadcasting di tahun 1976 / 77, aku selalu merasa “kurang” dan punya keinginan untuk terus belajar dan meningkatkan diri. Sampai-sampai akhirnya tidak ada lagi bidang dalam dunia broadcasting yang tidak pernah aku lakukan: Radio / TV Production; Programming; Sales & Marketing; News; Finance; Engineering; Management. Walaupun awalnya mungkin melalui trial & error, tetapi untuk ke tingkat yang lebih tinggi, selanjutnya, aku selalu mengacu pada ilmu-ilmu baku. Salah satu pakem yang utama adalah ilmu dasar Komunikasi. Ilmu prinsip ini saja sekarang seolah-olah sudah diabaikan.
Komunikasi yang Baik dan Benar
Salah satu definisi dalam ilmu komunikasi sbb. Proses Komunikasi adalah: “Proses transmisi pesan dari Komunikator kepada Komunikan dalam rangka memodifikasi Komunikan sejalan dengan maksud / tujuan dari Komunikator.”
Kita langsung ambil contoh saja: di Jakarta, dimana-mana terpasang papan peringatan dengan tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, bahkan stasiun televisi berkali-kali menayangkan timbulnya banjir yang diakibatkan karena terjadinya pendangkalan sungai atau mampetnya saluran air dikarenakan sampah. Pesan sejenis ini sudah disebarluaskan selama berpuluh-puluh tahun.
Jadi bisa dikatakan, barangkali tidak ada satu orang dewasa pun di Jakarta ini yang tidak mengetahui pesan: “Dilarang Buang Sampah sembarangan”.
Tetapi kenyataannya... tetap saja orang Jakarta masih “hobby” membuang sampah mereka secara sembarangan. Nah, apabila ditinjau dari definisi komunikasi tersebut diatas, sebenarnya tidak terjadi modifikasi perilaku dari Komunikan (warga Jakarta), walaupun mereka semua sudah tahu pesan itu. Dengan demikian, secara ilmu komunikasi, pesan ini bisa dikatakan telah gagal!
Karena komunikasi yang baik dan benar, seyogyanya harus menghasilkan respon (dari komunikan) yang sejalan dengan maksud dari komunikator.
Menyampaikan & Meng-komunikasi-kan
Persoalannya, sekarang ini banyak para penyiar kita, termasuk pembawa acara, pembaca berita, reporter dsj., dalam berbicara (melalui media) kepada publik, seringkali bukan meng-komunikasi-kan, melainkan hanya sekedar menyampaikan berita / pesan. Kemungkinan besar kekeliruan ini bukan terletak pada penyiarnya saja, melainkan sudah sejak peliputan / shooting dan penulisan script / text-nya, termasuk juga dalam pengambilan gambarnya (pada siaran televisi). Akibatnya pesan / info / berita tersebut memang sampai kepada publik (pendengar atau pemirsa), namun tidak menghasilkan respon atau modifikasi yang diharapkan atau bahkan tidak ada respon sama sekali dari publik. Pesannya sampai, tetapi modifikasinya tidak terjadi. Istilah jaman dulu, masuk lewat kuping kiri langsung keluar lagi lewat kuping kanan. Untuk bisa membedakan, dapat dilihat pada contoh dibawah ini:
Contoh I, pesan yang tidak berkomunikasi, alias sulit diharapkan bisa menghasilkan respon/modifikasi dari komunikan, sbb: “Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) akan mulai direalisasikan oleh Pemerintah pada tanggal 1 Agustus 2013“.
Contoh II, pesan yang berkomunikasi, alias lebih dapat mengundang respon, sbb: “Masyarakat miskin sudah dapat mengambil uang Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dari Pemerintah, melalui kantor kelurahan masing-masing, mulai tanggal 1 Agustus 2013”.
Pesan tanpa Tujuan
Dalam berbagai acara “talk-show”, salah satu penyebab kenapa materi-materi yang disajikan oleh siaran televisi atau siaran radio itu tidak mampu berkomunikasi dengan publiknya, bukan terletak pada “Topik“ yang disajikannya, melainkan terletak pada bagaimana cara si penyiar ataupun pembawa acara tersebut menyajikan topik-topik yang umumnya sudah menarik karena memang sedang “in”. Kesalahan fatal (karena sangat mendasar) yang paling sering terjadi, si pembawa acara sendiri tidak tahu persis (atau lupa) apa tujuannya ia mengadakan acara “talk-show” dengan mengangkat “topik” tersebut.
Mereka terpaku hanya dikarenakan memang topik tersebut sedang “in”, makanya wawancara ini dilakukan. Karena terpaku pada “in”-nya, lupalah tujuan (atau barangkali memang tidak punya tujuan sejak awal). Itu sebabnya si pembawa acara justru langsung terseret kepada “heboh”-nya. Jadi yang diutamakan adalah yang penting bisa “heboh”. Kalau bisa dalam mewawancarai si nara-sumber dibuat terpancing emosinya sampai akhirnya marah dan menyiramkan air ke muka lawan bicaranya. Nah ini pasti akan menghebohkan.
Dikarenakan Pesan Tanpa Tujuan, inilah yang membuat penyiar terjebak pada sekedar menyiarkan sesuatu yang “heboh”. Ini menjadi semacam pakem baru, dalam era keterbukaan informasi. Era ini menjadi lebih tepat aku sebut sebagai era “komersialisasi informasi”. Artinya, para penyelenggara dan pekerja media menganut prinsip, selama informasi itu menghebohkan, akan mendatangkan penonton / pendengar yang lebih banyak, pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dari siaran iklan / sponsor. Pakem baru dengan prinsip yang penting “heboh” ini juga sudah melanda situs-situs berita di internet kita. Lihat saja bagaimana kalimat headlines di situs: merdeka.com; viva; inilah; detik dsb. dibuat. Semuanya terkesan mengundang heboh, bukan? Sinyalemen era “komersialisasi informasi” sudah semakin nyata dan mudah kita temui sehari-hari dalam kehidupan kita.
Komunikasi tidak Mudah
Seorang peneliti Komunikasi Antar Manusia dari Finlandia, Prof. Osmo Wiio pada tahun 1978 mengatakan bahwa: "Communication usually fails, except by accident (Komunikasi biasanya gagal, kecuali kebetulan)”. Ini sudah cukup menjelaskan bahwa berkomunikasi atau melakukan komunikasi tidaklah mudah. Apalagi menyebarkan pesan / informasi / berita / acara melalui media massa broadcasting yang sifatnya satu arah, tentulah akan lebih sulit lagi...
Tetapi selama kita menyadari kekurangan kita, dan punya keinginan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan profesionalisme kita sebagai broadcaster, tentulah hal ini akan dapat diatasi. Karena menurut aku, hal yang paling mengkhawatirkan bagi perkembangan masyarakat dan bangsa, adalah kalau orang-orang medianya sudah tidak ambil pusing lagi terhadap materi apa yang baik dan sehat bagi masyarakat, dan harus mampu disajikan secara menarik. (arm)
1 komentar:
AssWrWB Pak Andi Rustam
Pakabar...? , dapat salam dari Jama'ah Miftahul Falahnya Bpk. H. A. Muhadjir Gresik.
Cucuk Mas, aku sangat setuju sekali klo sekarang ini di era " KOMERSIALISASI INFORMASI"
Dan rasanya sekarang ini memang harus sperti yang Pak Andi sampaikan yang penting Heboh, yang penting acara itu naik ratingnya walaupun maksud yng dikomunikasikan ta tersampaikan , yang penting pemirsa atau pendengar suka.
Intinya bahwa Komunikator sekarang ini lebih mementingkan laris manis daripada upaya meningkatkan mutu komunikasi. Dan ini tidak perlu ada yang disalahkan
Beberapa hal menurut saya yang mendorong, e maksud saya lebih tepat saya katakan memaksa komunikator kurang berminat belajar guna meningkatkan mutu komunikasi itu diantaranya adalah; 1) Padatnya acara (para presenter/hots) di acara2 Radio/TV sehingga kelelahan, 2) Persepsi bahwa suksesnya komunikator baik itu presenter, host dan sejenisnya tidak diukur dari kualitas komunikasi (penyampaian maksud) melainkan di ukur dari jumlah/besarnya honor (kekayaan) dan jumlah program yang mereka ikuti, sehingga mereka mengejar lebih banyak terlibat di acara TV/radio.
Tapi rasanya yang komunikator lakukan itu juga "Deferensiasi" agar produknya lebih terjual, karna manusia yang punya nilai jual kan produk juga. ya..walaupun mutu ta terlalu baik tp dengan pembeda penyampaian itu konsumennya suka atau dengan kata lain memenuhi harapan dan keinginan konsumen, maka konsumen itu rasanya lbh menerima komunikasi itu.
Coba yang Pak Andi sampaikan di atas "larangan membuang sampah" padahal itu sudah jelas tp dirasakan komunikasi itu gagal karena tak memenuhi harapan & keinginan masyarakat , Tapi pengumuman "Pencairan BLSM" walaupun toh tanpa dijelaskan kepanjangan dari BLSM rasanya komunikasi it lebih sukses karena lebih memenuhi harapan dan keinginan masyarakat
Sekian Pak Andi, semoga komentar yang sangat sederhana dan kampungan ini mendapat respon yang baik dari para pembaca khusunya Pak Andi
Wassalam Wr, Wb dan salam untuk keluarga
Hudi Suyanto
Gresik
Posting Komentar